Senin, 08 April 2013

Kandas







Selamat ya ukh, akhirnya mengudara juga, katanya sambil menatap gadis itu.
Kalau bukan karena bantuan kakak, saya mungkin belum jadi penyiar sekarang. Saya sangat berterima kasih atas pertolongan kakak. Jawab Hilma malu.
Ah, itu cuma kebetulan, koq. Coba saya tahu dari dulu kalau anti punya cita-cita jadi penyiar, pasti sudah dari dulu juga saya kenalkan pada Pak Fatah. Saya kenal beliau sudah lama, sejak beliau mulai dakwah ke sekolah-sekolah, kemudian berlanjut ketika beliau mendirikan radio dakwah ini.
Oh..
Ya sudah, anti mau pulang kan? Yuk kuantar.
Ah, terima kasih kak sebelumnya. Saya pulang sendiri saja.
Baiklah. Fadil tahu mengapa gadis cantik itu tak mau ia antar. Ia adalah gadis sholikhah, yang mengerti batasan-batasan dalam pergaulan dengan lawan jenis. Fadil mengaguminya sejak pertama kali bertemu, di sebuah acara di kampus mereka. Dia mengenalnya sebagai adik angkatan yang cerdas, namun selalu rendah hati. Bicaranya sopan, hanya bersuara jika diperlukan. Tak seperti kebanyakan gadis jaman sekarang.

Waktu pun berlalu, hubungan mereka kian dekat. Selalu ada cerita untuk dibicarakan dan dibahas bersama. Istilah kerennya, sudah ada chemistry. Hilma, gadis cantik itu kini memendam rasa yang tak sama pada lelaki di hadapannya. Namun, rasa itu hanya mampu dipendamnya hingga batas waktu yang ia sendiri tak tahu. Ia berharap dalam do'a agar Kak Fadilnya segera mengetahui isi hatinya.
Aku tak mungkin mengungkapkannya duluan, begitu katanya pada Rani, sahabatnya di radio.
Di tempat lain, Fadil, yang selama ini menaruh rasa yang sama, sedang memikirkan cara yang paling berkesan untuk meminang gadis pujaannya itu. Ia tak mau pinangan yang biasa-biasa saja untuk gadis teristimewa.

Di tengah pengharapan akan cinta sucinya, handphone Hilma berdering. Bapak di seberang sana bertanya Nduk, kapan kamu bisa pulang?
Memangnya ada apa, Pak?
Gini, bapak sama ibu mau kedatangan tamu. Keluarga Bayu. Kamu ingat kan, teman baik bapak, Pak Waluyo? Beliau kemarin mengutarakan keinginannya untuk meminangmu menjadi menantunya, menjadi pendamping Bayu. Kamu setuju kan, Nduk?
Masya Allah, kabar dari Bapak bagai petir di siang bolong yang menyambar dan merobohkan pohon impiannya. Tak mungkin ia menolak. Keluarga Bayu adalah keluarga baik-baik, Bayu pun begitu. Dia teman kecil Hilma. Sholih, cerdas, aaahhh, tak ada alasan untuk tidak menerimanya. Namun demi orang tuanya, Hilma merelakan semua. Hilma pulang dengan penantian yang tlah usai.
Esoknya, Fadil mencari Hilma di radio tematnya bekerja. Hilma mana Ran? Hari ini dia siaran kan? tanyanya pada Rani.
Hilma cuti mendadak, Kak. Dia akan segera menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Dia menitipkan salam takzim untukmu Kak.Jawab Rani yang telah mengetahui kisah mereka. Ada rasa haru ketika ia menyampaikan salam dari Hilma untuk Fadil. Tak tega rasanya, melihat dua insan yang saling menyayangi harus berpisah, namun bukan karena keinginan mereka sendiri.
Fadil terduduk dengan lunglai. Lama ia terdiam. Matanya mulai mengembun. ”Kandas sudah,” ucapnya dalam hati, kemudian melangkah pergi.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...