Langsung ke konten utama

Sayangi Jantungmu, Sekarang!


 Giveaway Terapi Ozon


Meninggalnya beberapa artis terkenal Indonesia secara mendadak, membangkitkan ingatan saya pada kisah belasan tahun silam, ketika nenek saya pergi untuk selama-lamanya. Uti, begitu saya memanggilnya, meninggalkan kami begitu cepat tanpa firasat.

Jumat pagi itu, saya yang masih duduk di bangku 2 SMA, menghampiri Uti yang sedang berdzikir di musholla rumah untuk pamit pergi ke sekolah. Uti memang sosok yang rajin beribadah. Keningnya yang menghitam, menjadi saksi bahwa beliau adalah seorang ahli sujud. Beliau telah terbiasa bangun malam untuk menunaikan qiyamul lail, dilanjutkan shalat shubuh berjamaah di masjid, dan sepulang dari masjid beliau melanjutkan dzikir hingga waktu dhuha tiba.

Bel penanda jam pertama telah usai baru saja berbunyi. Seorang guru piket masuk ke kelas dan memanggil saya ke kantor. Dalam perjalanan menuju kantor guru, beliau menggandeng saya dan berkata bahwa seseorang ingin bertemu. Sesampai di kantor, seorang yang saya kenal telah duduk menanti. Dia adalah tetangga saya. Katanya, "Uti sakit dan ingin ketemu kamu!" Saat itu, perasaan saya mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi pada Uti, seseorang yang sehari-harinya hidup seatap dengan saya. Iya, saya memang tinggal bersama beliau sejak kecil untuk menemani beliau yang tinggal sendirian. Meski begitu, saya tetap dekat dengan kedua orang tua karena rumah Uti dan rumah orang tua saya berdampingan.

Dan benar, sesuatu yang buruk telah terjadi. Uti yang beberapa menit lalu saya lihat masih mengenakan mukena putih sembari memegang tasbih, telah terbaring di sebuah sudut rumah. Beliau tidur untuk selamanya. Rasanya tak percaya, karena uang jajan pemberiannya tadi pagi saja masih utuh di saku saya.

Banyak yang mengatakan bahwa Uti meninggal karena angin duduk. Saya pun bertanya-tanya, angin duduk itu penyakit apa? Dan ternyata, angin duduk sebenarnya merupakan sebuah penyakit yang mengarah pada penyakit jantung koroner. Penyakit ini adalah penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian. Banyak yang tak menyadari datangnya penyakit ini, oleh sebab itu penyakit ini mendapat julukan sebagai "the silent killer".

Gejala serangan jantung memang bervariasi. Tetapi secara umum tanda utama yang perlu diwaspadai adalah rasa sakit yang hebat pada bagian dada, diiringi dengan napas yang terasa sesak. Ini dikarenakan pembuluh darah atau arteri jantung mengalami penyempitan sehingga pasokan darah dan oksigen ke jantung semakin sedikit.

Maka dari itu, ada baiknya kita mewaspadai penyakit ini. Apalagi, kini penyakit jantung banyak menyerang usia produktif. Malas bergerak, stress, pola makan dan gaya hidup tak sehat seperti merokok dan minum minuman beralkohol adalah beberapa penyebab serangan jantung. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, bukan? Salah satu tindakan preventif yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan "Terapi Jantung".

Mungkin ada yang bertanya-tanya, dimana kita bisa melakukan "Terapi Jantung" ini. Kini di Jakarta sudah ada "Klinik Terapi Jantung" yang bisa membantu kita untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit ini. Di STANMED CENTER, ada terapi yang dilakukan untuk mengatasi penyakit jantung, yaitu Terapi Ozon Apheresis. Terapi ini dikenal sebagai salah satu terapi Ozon terbaik di dunia, dan merupakan terapi yang paling efektif karena langsung bekerja melalui darah.

Cara kerja Terapi Ozon Apheresis ini kira-kira seperti gambar di bawah ini;


Untuk mendapatkan hasil terbaik, pasien dianjurkan melakukan terapi ini sebanyak 8 kali dengan jeda seminggu, sedangkan untuk perawatan cukup dilakukan sebulan sekali.

Memahami resiko penyakit jantung perlu dilakukan untuk mencegah keterlambatan penanganan, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko tinggi, seperti penderita obesitas, diabetes, juga pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Terapi Ozon yang disponsori oleh 'Stanmed Center' Klinik Kesehatan dan Kecantikan"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Gara-Gara Upin dan Ipin

Siapa tak kenal Upin Ipin? Serial animasi yang diimpor dari negeri tetangga ini setiap hari menghiasi layar kaca. Meskipun tak sedikit yang mengkritik acara ini, terutama karena adanya tokoh Bang Sally yang sedikit melambai, tapi jujur saja saya tetap suka dan tetap menyuguhkannya untuk anak-anak.
Memangnya, nggak khawatir anak-anak akan jadi gagap bahasa? Hehe, terus terang, tidak. Malah, anak-anak (Amay khususnya, karena Aga belum bisa bicara), jadi makin bertambah kosa-katanya. Amay jadi tahu bahwa di Malaysia, sepatu disebut kasut, dan sepeda disebut basikal. 
Tentu, sebelumnya saya jelaskan juga bahwa bahasa Melayu sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya pada kata seronok, jika di Indonesia kata ini berkonotasi negatif (meskipun di KBBI, seronok memiliki arti; menyenangkan hati, sedap dilihat), maka di Malaysia sana, kata seronok berarti bahagia. 
Lalu, apa saja sih, pengaruh positif yang saya (dan anak-anak) dapat setelah (ikut) menonton Upin Ipin?
1. Gara-gara Upin Ipin, …