Rabu, 04 November 2015

4 Alasan Mengapa Berjualan dengan Sistem Dropship Sebaiknya Mulai Ditinggalkan? (Updated)




Jaman sekarang, saat kecanggihan teknologi sudah berada dalam genggaman, apapun bisa kita lakukan untuk mendapatkan uang. Berbisnis tak lagi membutuhkan banyak modal, asal ada kemauan, kita sudah bisa menjadi penjual. Kita bahkan bisa "save" banyak uang dengan berjualan online, karena kita tak perlu menyewa tempat untuk berjualan. "Sewa tempat", bisa jadi merupakan modal terbesar saat memulai bisnis.

Dalam dunia online-shopping, ada istilah re-seller dan drop-shipper. Kali ini saya mau mengulas tentang dua istilah itu.

Reseller bisa diartikan sebagai orang yang menjual kembali. Ia berasal dari dua kata; "re" dan "seller". Sedangkan dropshipper adalah istilah lain dari makelar. Dropshipper bertugas mencarikan pembeli untuk produsen, dan nantinya dia akan mendapatkan komisi dari usahanya tersebut. Komisi itu bisa berupa imbalan langsung dari produsen, bisa juga dari selisih antara harga beli dari produsen dengan harga jual ke konsumen.

Perbedaan lain antara reseller dengan dropshipper adalah; reseller harus membeli atau mempunyai stok barang yang dijualnya, sedangkan dropshipper tidak perlu. Jika reseller harus mengepak sendiri pesanan pelanggan-pelanggannya, dropshipper tak perlu melakukan itu semua. Yang dilakukan seorang dropshipper hanyalah mempromosikan barang dagangan milik produsen, mencari pembeli, sedangkan pengiriman barang akan dilakukan oleh produsen.

Sepintas memang menjadi seorang dropshipper terlihat enak, juga tanpa beban karena tak perlu takut akan mengalami kerugian. Kerjanya sama-sama memainkan hape. Pun, seorang dropshipper tak perlu mengeluarkan modal untuk menjadi penjual. Hanya pulsa internet yang tetap dibeli meskipun tidak jadi seorang dropshipper sekalipun.

Tapiii...ada yang harus diperhatikan oleh para dropshipper.

Ada yang menganggap bahwa menjadi dropshipper hukumnya tidak boleh. Ini mengacu pada sebuah hadits yang berbunyi; "Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki." (HR. Tirmidzi, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud)

Tapi menurut sumber lain yang saya baca, menjadi dropshipper masih dibolehkan. Intinya, dalam hukum jual beli, tidak ada syarat yang melarang seseorang menjual barang milik orang lain. Juga tidak ada keharusan untuk memiliki barang terlebih dahulu untuk dijual. Contoh kasus adalah pada penjualan dengan sistem pesanan (made by order), barang belum ada, namun transaksi bisa terjadi. Contoh lain lagi adalah menjual dengan bantuan katalog, barang belum dimiliki oleh si penjual, namun calon pembeli sudah bisa melihat barang yang akan dia beli. Tentu yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa masing-masing pihak harus melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan pada saat akad.

Saya tidak akan membahas lebih panjang soal hukum ini karena ilmu saya belum cukup untuk mengupasnya. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya tentang berjualan dengan sistem dropship ini.

Saya hobi berjualan. Beberapa barang pernah saya jual, seperti; kosmetik, mukena, gamis, hingga makanan seperti cilok dan siomay. Hobi saya ini mungkin diwariskan oleh ibu saya yang dahulunya memang berdagang di pasar. Tentang hobi ini, saya bahkan pernah mencandai suami, "Enak ya kalau punya warung atau toko, tiap hari kita dapat uang, haha," kata saya sambil membayangkan asiknya menunggu pembeli sambil membaca koran. Melayani pembeli dengan mengambilkan barang kemudian menerima uang lalu memberikan kembalian. ^^

Namun karena saya sadar bahwa saya tak punya modal, maka saya buru-buru bangun dari mimpi. :D

Saya pun melewati beberapa proses. Saya pernah menjalani peran sebagai dropshipper. Iya, seperti yang saya tuliskan di atas, menjadi dropshipper itu enak. Tinggal posting barang, pelanggan datang, bayar ke produsen. Sudah. Tidak perlu repot packing, pergi ke ekspedisi, juga tidak perlu memikirkan stok barang hingga kerugian. Berapa jumlah barang yang bisa kita jual, kalikan dengan komisi dari produsen, maka itulah keuntungan bersih yang kita dapatkan.

Tapi, suatu hari seseorang menyadarkan saya. Katanya, kalau ingin mendapatkan hasil yang banyak, jangan puas dengan hanya menjadi seorang dropshipper. Jadilah setidaknya seorang reseller, jika kamu belum mampu menjadi produsen. Mengapa? Ini dia alasannya;

1. Menjadi dropshipper itu tidak dikenai target. Karena tidak ada target itulah, kita menjadi semaunya sendiri. --> Lagi mood ya jualan, nggak ya diem. Kalau kita lebih sering bad mood, gimana mau dapat hasil banyak, hayo?
Jika kita menjadi reseller, kita keluar modal, maka kita akan berupaya agar barang yang kita miliki lekas habis supaya modal bisa kembali. Perputaran uang menjadi lebih cepat, hasil yang didapat pun lebih banyak.
Asaaall, cara ngabisin stoknya bukan dengan diobral. :p


2. Tidak fokus. Mentang-mentang cuma modal pulsa, semua barang dagangan teman kita jualkan. Produk yang kita tawarkan jadi bermacam-macam. Ini membuat calon pembeli bingung, "Sebenarnya dia jualan apa sih ya? Sekarang posting baju, sejam kemudian jual pempek palembang, dua jam kemudian jual parfum, besoknya lagi jual coklat."
(Ini benar-benar nampar saya, hehe...)
Lagipula kalau kita fokus, orang-orang akan tahu apa yang kita jual. Keuntungannya adalah, jika mereka membutuhkan barang yang kita jual (mukena misalnya), mereka akan langsung menghubungi kita.

3. Jika pahit-pahitnya kita merugi, setidaknya kita sudah belajar menjadi pengusaha. Katanya, kerugian yang dialami seorang pengusaha itu ibarat vitamin. Jadi kalau kita sudah pernah mencicipi "vitamin" itu, insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang hebat. Sehebat apa seorang pengusaha, tergantung dari vitamin dan dosis yang sudah dia cicipi.


4. Ini alasan terbaru yaa..
Cerita dulu; Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluhkan online shop tempat ia membeli barang. Masalah bermula ketika ia menanyakan nomor resi, namun pemilik online shop tidak juga memberikannya hingga hari ke-3. Teman saya, karena khawatir ini olshop tipu-tipu, akhirnya mengancam pemblokiran. Masalah semakin runyam karena olshop ini tersinggung dan mengancam akan menuntut balik. 
Pusing 'kan?



Padahal inti dari masalah ini adalah: kemungkinan olshop ini adalah dropshipper, sehingga, karena bukan dia yang mengirimkan barangnya, ia tidak bisa segera meng-info-kan nomor resi pada pembelinya. Ia terlebih dulu harus menanyakannya pada si pengirim (supplier olshop ini). Muter-muter 'kan ya? Iya.. Dan disinilah, bukti bahwa menjadi dropshipper pun ada kendalanya tersendiri. 

Jadi setelah tulisan ini, kamu masih mau jadi dropshipper, Rin? :p

43 komentar :

  1. Saya juga sudah insyaf jadi dropshiper, lebih pede jual produk sendiri. Lebih repot tapi hasil lebih banyak juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba ety..saya juga insyaf. :D
      Mba ety skrg jadi pengusaha euy..hihi..sukses ya mba.. ;)

      Hapus
  2. Temenku ada jd dropshipper sekaligus reseller juga Mbak -nah lo, py kui. Jadi, kalo konsumennya dkt bisa dijangkau motor (sekitar kota) dia reselling soale srg COD, tp kalo konsumennya luar kota, dia berubah jd dropshipper biar ga capek ngepak kayae hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa sih mba.. Kalau luar kota jg biar ga dobel ongkir juga kan? Jd harga bisa ditekan. Tp harus ingat poin ke 2, fokus. Jgn terlalu macam2 jualannya..hehe

      Hapus
  3. Kalo aku jera beli psda pedagang dropship. Pernah aku beli crocs, eh, kekecilan. Karena perjanjiannya boleh tukar jika kecil jadi aku tuker dong. Tapi ternyata aku harus ngembaliin sepatunya ke luar kota yg ongkirnya jauh lebih mahal. Padahal aku milih penjual itu krn perhitungan biar ongkir irit. Sebel banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba..memang lebih baik beli lgsg ke supplier atau reseller yang punya stok barang.

      Hapus
  4. Aku berpikir utk reseller. Tapi aku punya produk sendiri yg harus bikin dulu. Ternyata capek juga, hihihi. Memang lbh bangga punya produk sendiri mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah..produk apakah itu mba? Pakai karyawan aja mba..

      Hapus
  5. aku pernah jadi reseller tapi blm pernah jadi dropsip mba. sayangnya cuma bertahan sebentar banget karena barang yang aku jual kurang laku... jadi sisa stok dipake sendiri n dikasih2in orang, daripada expired, abis itu agak kapok mulai dagang lagi.. hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan kapok mba..hehe.. Jadi pelajaran utk menebak keinginan pasar. *halah, sok tau bgt saya

      Hapus
  6. Sy msh jd dropshipper. Pengen bgt jd reseller, terkendala modal yg minim

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo Mak nabung produk dikit-dikit. cari produk yang ga ada kadaluarsanya, dan usahakan produk itu kita suka. jadi kalau gak laku, bisa kita pakai sendiri. :)

      Hapus
  7. Dilema mba.. pengennya jd reseller tp modalnya blm cukup. Pengennya sih jd produsen. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin..semoga diberi keluasan rezeki ya mba..:)

      Hapus
  8. Aku....aku...aku piye ya? hiihi...

    BalasHapus
  9. Inspiratif..tp utk berniaga pun dibutuhkan tekad kuat. Siap menerima kegagalan yg kerap kali datang

    BalasHapus
  10. sy juga jualan online mak,nyetok barang dirmh emang ribet ya nge-pak n ngirim,apalagi kemana2 bw anak.alasan anak juga yg bikin sy kadang semangat kdg ga utk jualan ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iya mba.. saya juga anaknya 2 masih balita. :D

      Hapus
  11. Oh yang begitu namanya dropshipper ya? Kemarin dari toko distributor bilangnya itu reseller jadi kukira reseller. Ok ok nambah ilmu lagi. Thanks yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau reseller itu punya stok barang mba.. Hehe.. Terima kasih kembali mba..:)

      Hapus
  12. aku reseller dan kadang dropship.kenapa? karna pengiriman barang paling cepat dilakukan oleh agen. soalnya yg saya jual frozen food..:) jadi saya reseller untuk daerah sekitar saya saya. nice post mak..^_^

    BalasHapus
  13. Saya pernah beberapa kali jadi reseller dan minum vitamin terus. Tapi ya gak berlanjut lg..hihihi. Kurang sabar dan ulet :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk..dosis vitaminnya belum maksimal kali mak.. :D
      Siapa tau kalo pake ilmu kepepet jd bisa. :D

      Hapus
  14. Pernah jd reseller dan dropshipper. Saat itu jd reseller jilbab, blm musim socmed jd yg g laku dipakai sendiri. Klo dropship tergantung agenny mb, ada yg pke target ada yg engga. Yg penting brngny asli jd tdk menipu cust. Tp emg enak klo stok sendiri :)

    BalasHapus
  15. Saya pernah jadi reseller. Pernah sih tergiur jadi dropshipper karena lebih aman secara finansial, dan nggak repot ngepak barang. Tapi pertimbangan saya lebih pada nama baik saya sendiri. Bahkan waktu beli barang untuk dijual lagi saja, barang yg saya terima pernah rusak atau tidak sesuai gambar. Dengan sistim reseller, setidaknya saya bisa.melindungi nama baik saya dengan mengecek dan memastikan barang yg dijual berkualitas baik dan sesuai deskripsi. Makanya walaupun susah modal, barang susah laku, dan kendala perniagaan lain, tapi saya lebih memilih jadi reseller kecil2an. Kepercayaan adalah yg utama di bisnis online.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iiih..bener.. nama baik jangan sampai dipertaruhkan ya mba..

      Hapus
  16. Dulu pernah jalanin dua2nya nih mbak..tp memang jd dropshipper itu kalo aku kurang nyaman saat ada barang yang tidaks esuai dengan ekspektasi kita dan ekspektasi pembeli. Duuuh rasanya gimana gitu.
    sekarang sebisa mungkin (walopun sudah jarang banget nge-ol shop), sy tahu barang yang saya tawarkan dan jual. rasanya lebih nyaman juga di hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Mbak, kurang nyaman karena kita belum lihat sendiri barangnya seperti apa. Foto mah mudah menipu ya..hehe

      Hapus
  17. Pernah baca tentang ini, mbak. Saya belum pernah. Memang tdk bakat berjualan, sih ya, meski berprofesi sebagai pedagang. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, mbak kan udah jadi produseeen.. kereen..:D

      Hapus
  18. ternyata begitu ya mb...aku baru tau tentang ini...tadinya pengen jadi reseller juga, jadi mikir lagi heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo reseller gapapa mba, kalo jd dropshipper mesti dipikir lagi. :)

      Hapus
  19. Hi Mba Arinta, salam kenal, iyah mba tahun 2011 saya pernah jadi reseller dan dropshipper sampai tahun 2012 saya menyadari kok gak tenang ya jualan droshipper karena kita gak tau ketersediaan barang belum lagi kalau ada yang mau COD an jadi bingung mau jawab gimana apalagi kalau supplier kita nun jauh disana. Jadi tahun 2012 saya memutuskan buat jualan dengan stok walau sedikit-sedikit, tapi lebih berasa keuntungan dan puas yang didapat, lebih greget juga jualannya. Tapi sempet mulai sibuk sama kerjaan kantor yang super duper padet akhirnya berhenti juga jualannya, mudah-mudah an nanti bisa merintis lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya mba, jadi ngga tenang kan ya?

      aamiin, semoga nanti ada waktu menjalankan hobi bisnisnya lagi ya Mba.. sukses terus mbaa.. :)

      Hapus
  20. Nah..ini mewakilkan apa yg saya khawatirkan tentang sistem berjualan secara dropshipper
    Nice post mba

    BalasHapus
  21. Tulisan bagus mba (y) selama ini aku juga agak gimana gitu sama sistem dropship.
    Alhamdulillah usaha yg saya & suami jalanin gak ngeribetin, tanpa modal malah, soalnya ada DP dari konsumen. Keuntungannya diambil pas barang pesanan udah jadi deh. Hehehehe.... Seneng juga sekarang dibantuin beberapa reseller, kebanyakan sahabat/teman yang ikutan usaha ini.

    BalasHapus
  22. Kadang ada DropShip yang jual Barang orang jadi bikin ribet pas minta resi . lha yang ngirim juga bukan dropship yang di kontak
    Hipnoterapi Semarang

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...