Jumat, 11 Desember 2015

Padang Bulan, Sebuah Novel Karya Andrea Hirata

Novel Padang Bulan, karya Andrea Hirata

Kalau guru-guru menulis saya mengatakan, karya fiksi yang bagus adalah yang membuat orang terkesan sejak kalimat pertamanya, maka novel ini sudah bisa dikatakan novel yang bagus karena saya terkesan sejak kalimat pertama, dan mata saya lekat hingga tak terasa habis satu bab.

Novel ini diawali dengan kisah yang mengharu biru, hingga air mata menitik. Namun saya bersyukur, meski dua tokoh central dalam novel ini memperjuangkan hidupnya mati-matian hingga jungkir balik, kisahnya berakhir dengan bahagia. Ini membuat saya makin percaya, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Enong, diceritakan terlahir dari keluarga yang amat miskin. Takdir menempanya, hingga ia menjadi sekuat besi baja. Jika engkau merasa hidupmu tak pernah bahagia, lihatlah Enong ini, kehidupannya jauh, jauh lebih sulit dari yang mungkin engkau rasa.

Kisah sedih Enong bermula ketika ayahnya, tulang punggung di keluarganya, meninggal karena tertimbun tanah di tambang timah. Padahal saat itu, Ayahnya tengah memberikan kejutan kepada ibunya, Syalimah, sebuah sepeda, yang rencananya akan dipakai untuk bersama-sama pergi ke pasar malam, malam harinya. Betapa kebahagiaan itu bisa terenggut dalam beberapa detik saja.

Dan saya pun semakin mengimani ke-Mahakuasa-an Allah Ta’ala. Apa yang Allah kehendaki, tak ada yang tak mungkin terjadi.

Enong, gadis cilik yang baru duduk di kelas 6 SD itu, mesti merelakan pendidikannya. Ia harus mengubur mimpinya menjadi guru bahasa Inggris, pelajaran yang amat disukainya. Ia harus ikhlas keluar sekolah tanpa ijazah, karena sebagai anak sulung ia memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung.

Dan tahukah, ada yang lebih perih mengiris-iris. Jika ibunda Enong dihadiahi sepeda tanpa bisa menikmatinya dengan suaminya – sang lelaki penyayang – maka Enong, telah cukup bahagia dengan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar: 1.000.000.000 Kata pemberian almarhum ayahnya. Jika sedang dilanda rindu dan sendu, ia membaca pesan yang dituliskan sang ayah di halaman depan.
Buku ini untuk anakku, Enong.
Kamus satu miliar kata.
Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam.
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.
Tertanda,
Ayahmu

Suatu hari di Kantor Pos, Enong dewasa berjumpa dengan Ikal (Andrea Hirata). Tidak, kelanjutan kisah mereka tak seperti cerita kebanyakan, yang biasanya membuat sebuah pertemuan berakhir dengan percintaan. Karena sebuah kata dalam bahasa Inggris, Enong dan Ikal akhirnya dekat dan menjadi sahabat. Enong memang selalu kagum dengan orang yang pandai berbahasa Inggris. Dan kata yang mendekatkan mereka itu adalah; wound. Luka.

"Time heals every wound, waktu akan menyembuhkan setiap luka."

Saat bertemu dengan Enong ini, sesungguhnya Ikal juga sedang terluka. Bagaimana tidak? Satu-satunya perempuan yang dicintainya, A Ling, dikabarkan akan dilamar oleh seorang pria yang tinggi, tampan, dan multi talenta. Zinar, nama pria yang beruntung itu. Setidaknya, kabar inilah yang disampaikan oleh M. Nur, detektif di kampungnya.

Andrea Hirata pun berusaha menemui A Ling, namun yang dinanti-nanti tak pernah ada di rumah. Ia semakin pupus harapan. Rasa cemburu merasuki hatinya. Kalau cinta itu buta, rasanya memang benar adanya.

Entah, apakah kisah Ikal disini adalah kisah nyata yang dialami Andrea Hirata. Yang jelas, seperti di novelnya terdahulu – Tetralogi Laskar Pelangi – Andrea Hirata mengemas kepedihan dengan jenaka. Seperti di halaman 258, saya dibuat terpingkal-pingkal ketika membaca kisah Ikal yang dibonceng dua sahabatnya, M. Nur dan Enong, pasca peristiwa yang hampir merenggut nyawanya karena ia terobsesi menambah tinggi badannya barang empat senti.

Patah hati membuat Ikal semakin terpuruk. “Dan andai kata kesedihan karena putus cinta dapat dibasuh air hujan, aku mau berdiri di bawah hujan dan halilintar, sepuluh musim sekalipun.” – Hlm. 283

Di halaman berikutnya, memasuki mozaik (bab) ke-40, kepedihan Ikal terurai. Ternyata informasi yang diberikan detektif M. Nur selama ini salah. Nah, inilah yang saya maksud dengan happy ending itu. Pada akhirnya, setelah jungkir balik berusaha mengalahkan Nizar, hingga nyawa yang satu-satunya itu hampir melayang, Ikal kembali bisa tersenyum dan tidur dengan tenang.

Melalui Jose Rizal – Merpati pos yang telah dilatih M. Nur – detektif itu menyampaikan permohonan maafnya pada Ikal. Kasus antara Ikal vs A Ling telah usai. Namun Ikal masih harus menyelesaikan sebuah pe er dengan sang ayah. Akankah kemudian ayahanda Ikal menyetujui hubungannya dengan perempuan Tionghoa itu?

Ayah, pulanglah saja sendirian
Tinggalkan aku
Tinggalkan aku di Padang Bulan
Biarkan aku kasmaran”
(penggalan puisi Ada Komidi Putar di Padang Bulan)


Novel ini komplit. Kisah pilunya membuat menangis, dan kisah bahagianya membuat saya tertawa hingga mengeluarkan air mata. Kini saya penasaran dengan Novel Kedua Dwilogi Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas. 

18 komentar :

  1. Andrea hirata selalu mampu menyihir pembaca dengan segala macam alur cerita di karyanya;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba.. Akhir ceritanya bener2 ga ketebak lho..:)

      Hapus
  2. Aduh jadi penasaran. Tapi kalo Andrea Hirata sih aku percaya kisahnya pasti menarik dan mengejutkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba bener, endingnya bikin terkejut-kejut, hihi...

      Hapus
  3. Kalau di score dapet berapa dari 10 poin mba?
    Cara nulis ulasannya mba rinta bagus banget ih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mm..berapa ya? 8 mungkin yaa..hehe.. Bagi saya recto verso-nya Dee masih jd juara mba..

      Hihi..makasih mba.. Saya masih harus banyak belajar. :)

      Hapus
  4. Wah,sudah lama nggak pernah baca novelnya Andrea Hirata. Saya sih suka novel-novel yang syarat hikmah begini. Sayangnya meskipun suka baca novel, belum satupun karya fiksi berhasil ditulis. qeqeqe, kasian deh saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah, sama kalo gitu sih.. toss dulu ah, wkwk.. *nangis di pojokan

      Hapus
  5. Salah satu temanku ada yang terkesan sekali sama kisah di buku ini. Sampai2 pakai nama Enong. Hihihiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya? memang Enong ini pantang menyerah bgt Mba, ga pernah ngeluh juga..

      Hapus
  6. suka banget sama karakter tokoh Enong ini, rasanya semua yang ada pada dirinya adalah hal positif :)

    yang cinta dalam gelas juga bagus banget Mak, tentang perjuangan Enong (Maryamah Zamzani/Maryamah Karpov) bermain catur mengalahkan mantan suami dan orang-orang yang pernah menyakitinya di masa lalu.. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooh..jd yang ke 2 tentang Enong jg ya? Baru tau kalau Enong itu Maryamah namanya. Iya Zamzani itu nama ayahnya yg meninggal itu. Dan baru tau jg kalau Maryamah Karpov di tetralogi laskar pelangi itu si Enong. Wow... Makin penasaraaann. Makasih Mak..:)

      Hapus
  7. Jd penasaran jg nih. Resensi yg justru bikin org tambah penasaran...

    BalasHapus
  8. aku buku buku andrea suka mb rinta..tapi yang ini blm baca, cuma kadang klo memperhatikan isinya, apa bener itu kisah nyata andrea...kok kayaknya hoki banget dia hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya yaa..hoki banget, walaupun dia selalu bilang kalo ayahnya cuma buruh tambang kelas apalah...
      tapi jadi mikir juga, Allah itu memang Maha Adil, hehe

      Hapus
  9. Waah jadi pengin baca karyanya si Andrea Hirata yang Padang Bulan ini tapi mau pinjem siapa ya...hahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...