Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Gizi Super Cream; Karena Kulit pun Perlu Nutrisi

Pada 2003, saat saya beranjak remaja, terjadilah sebuah obrolan antara seorang ibu dan anak gadisnya. Ini beneran, enggak bohong. :D “Kamu coba pake itu, Rin.” Kata beliau dalam bahasa Jawa, bahasa yang kami pakai sehari-hari, ketika melihat sebuah iklan di tivi. “Emang bagus ya?” tanya saya. “Gizi Super Cream? Bagus, ibu pernah pake.” Jawab beliau singkat. “Trus, kenapa sekarang yang ibu pake beda?” tanya saya menyelidik. “Ya kan ibu nggak pernah kemana-mana, jadi nggak perlu dandan. Sabun muka juga ndompleng kamu.” Jawab beliau. “Oh, hahaha... Itu juga kayaknya dipake Mbak Ita sama Mbak Ifah.” Kata saya, “Waktu aku ke Semarang aku lihat mereka pake Gizi juga.” Kebetulan kakak sulung saya tinggal di Semarang pasca menikah.
Nah, sejak saat itu, saya memakai Gizi Super Cream sebelum saya menaburkan bedak ke wajah. Bisa dibilang, Gizi Super Cream lah yang “memerawani” kulit wajah saya karena sebelumnya saya belum pernah memakai pelembab apapun. Memang, baunya sedikit berbau jamu. Tapi kata ibu…

Do'a yang Dinantikan

Pagi itu saya terburu-buru menyiapkan si sulung yang akan berangkat sekolah di TKIT dekat rumah. Jam dinding sudah menunjuk angka tujuh lewat dua puluh menit, padahal pelajaran akan dimulai sepuluh menit kemudian. Si bungsu yang baru berusia satu tahun saya serahkan pada suami, dan biasanya setelah itu kami akan beralih posisi. Suami mengantarkan si sulung ke sekolah, dan saya akan kembali memegang si bungsu. Hari itu, karena suami ada tugas tambahan di kantor, saya menjadi tergesa-gesa menyiapkan semuanya. Setelah menyuapi dan memandikan si sulung, saya pun segera memakaikannya seragam. Karena terburu-buru, saya pun melupakan sebuah "ritual". Saya baru mengingatnya setelah si sulung mengingatkan, "Mas Amay kok nggak dido'akan?" "Ah iya, Mama lupa," jawab saya, dan sejurus kemudian saya pun melakukan hal yang saya sebut ritual itu. Bibir saya kemudian mengucap do'a-do'a untuk kebaikannya dan kebaikan adiknya. Saya kemudian iseng bertanya, "…

Berkat Geget Sang Kurir Motor, Bisnis Saya Lancar, Pelanggan pun Senang

Sejak beberapa bulan lalu, saya mulai menjalankan bisnis di bidang kuliner. Memang, posisi saya disini hanya sebagai agen, bukan produsen. Produk yang saya jual ini termasuk memiliki banyak penggemar. Cilok, Siomay dan Puding Susu, siapa yang tidak suka? Makanya, ketika ada kesempatan menjadi agen, saya langsung mengambilnya. Apalagi kebijakan supplier dengan membuat aturan bahwa 1 kota hanya boleh diisi dengan 1 agen memang cukup menguntungkan.



Saya menjalani bisnis ini bukan tanpa kendala. Bukan, kendalanya bukan pada produknya, namun pada sistem pengirimannya.
Cilok dan Siomay yang saya jual, insya Allah tahan setidaknya 3 hari di perjalanan. Produk frozen food ini sudah teruji. Alhamdulillah, selama ini belum ada pelanggan yang komplain atau mengabarkan bahwa produk ini diterima dalam keadaan basi. Untuk informasi, saya pernah mengirim Cilok dan Siomay hingga ke Madiun, Salatiga, Purworejo, Purwodadi, Semarang, bahkan Madura.
Dan untuk puding susu, sedari awal berpromosi memang s…

Pawon Omahkoe, Tempat Kuliner Lezat di Solo

Haloo..
Siapa yang minggu lalu nge-trip alias piknik?
Saya enggak dong... :(
Tidak seperti kebanyakan orang yang menikmati long weekend dengan pergi ke tempat-tempat wisata, atau pergi ke luar kota untuk mencari suasana yang berbeda dari biasanya, saya (bersama suami dan anak-anak), hanya menikmatinya di rumah saja. Tiga hari looh...yakin betah?
Hehe..ternyata ngga sampe tiga hari, kami udah bingung mau ngapain. Ya sudah, agak memaksakan diri memang, mengingat kondisi suami dan De'Aga yang kurang fit. Tapi daripada bosan, akhirnya kami memutuskan untuk keluar, sekedar untuk jajan.
Akhirnya kami menuju sebuah rumah makan, Pawon Omahkoe namanya. Ini pertama kalinya kami kesini. Letaknya di Jalan Adi Sucipto, Solo. Ancer-ancernya; dari Hotel Lor In, masih ke barat lagi, sebelum IHS. 
Sayangnya, saya lupa mem-foto tampak depan rumah makan ini, hehe.. Maaaafff...
Begitu masuk, saya bingung mau pilih tempat duduk dimana. Di dalam memang tidak terlalu ramai sih, karena memang pengunjung…

Cafe Tiga Tjeret; Cafe Bercitarasa Angkringan

Hai Hai... Memasuki hari ke 6 di bulan Februari, sepertinya hujan sehari-hari sudah bukan di Januari lagi ya? Hehe, secara sudah seminggu ini hujan turun membasahi kota ini. Alhamdulillah... :)
Hujan-hujan memang enaknya makan, hihi... Nah, hari minggu lalu, di penghujung Januari kami pergi ke sebuah tempat makan yang cukup terkenal di Solo.
Solo itu terkenal dengan angkringannya. Jadi, pilihan paling gampang kalau ingin mengajak teman atau keluarga untuk makan, ya Angkringan. Beberapa tahun terakhir, Angkringan yang menjual "suasana" mulai menjamur di kota bengawan ini. Salah satunya adalah Cafe Tiga Tjeret.

Maka dari itu, ketika sahabat saya dari Bogor datang, kami langsung terpikir untuk mengajak kesana. Selain menyediakan tempat yang luas dan nyaman, makanan yang ditawarkan pun enak-enak. 
Baca juga: Momen Manis di Eskrim Tentrem Solo

Berbeda dengan angkringan pada umumnya, Cafe Tiga Tjeret menyediakan tempat yang luas, nyaman dan terkonsep. Gaya "nyentrik" su…

Momen Manis di Es Krim Tentrem Solo

Di penghujung Januari, kami kedatangan tamu istimewa. Teman sejak jaman perjuangan, Miss Fety namanya. Dia datang ke Solo bersama suaminya, yang biasa dipanggil Aa', setelah sebelumnya menghadiri acara di Jogja. Oiya, sebelum semuanya saya tulis, saya informasikan bahwa semua foto dalam postingan ini adalah milik Mas Wahyudi, suami Miss Fety.
Ketika beberapa hari sebelumnya Miss Fety mengabari akan pergi ke Jogja, saya sudah wanti-wanti, "Pokoknya harus mampir Solo!" Dan Alhamdulillah, kedatangannya adalah rezeki yang dinanti-nanti.
Awalnya, kami berencana pergi ke "Grebeg Sudiro". Tapi karena Grebeg Sudiro dimulai jam 2 siang, sementara Miss Fety baru sampai di rumah jam 3, akhirnya rencana itu kami urungkan. Ya masa' baru datang langsung diajak keluar, hehehe... 

Akhirnya, jam 5 sore kami meluncur dengan taxi, ke angkringan modern, Cafe Tiga Tjeret. Cafe Tiga Tjeret memang jadi andalan kami untuk menjamu tamu. :)

Disana, kami shalat maghrib sekalian.

Set…

Popular posts from this blog

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Jawa Timur Park 2 (Batu Secret Zoo)

Beberapa waktu lalu, alhamdulillah keluarga kecil kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Malang. Awalnya saya dan Amay hanya ingin menemani suami bertemu dengan kliennya, namun kemudian terpikir untuk sekaligus berwisata ke Batu. Mumpung ada waktu :)

Karena budget kami terbatas, kami memilih hotel yang ramah di kantong. Hanya dengan 200 ribu rupiah per malam, kami sudah bisa menikmati kamar yang nyaman, fan, televisi, juga air hangat untuk mandi. Tak perlu kamar ber-AC lah, karena Malang sudah cukup sejuk :). Kami juga memilih hotel yang tak terlalu jauh dengan stasiun, tentunya agar menghemat ongkos transportasi. 

Keesokan harinya, kami mengunjungi Jawa Timur Park. Lagi-lagi, untuk menghemat pengeluaran kami menyewa sepeda motor untuk pergi kesana. Biaya sewa motor rata-rata 50 ribu - 60 ribu, atau 75 ribu untuk layanan antar jemput. Jadi kita tak perlu mengambil dan mengembalikan sendiri sepeda motor sewaan kita. (Sudah bisa disebut backpacker belum? :p) 
Oya, tentang Jatim Park, …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …