Selasa, 22 Maret 2016

8 Hal yang Akan Kulakukan Jika Aku Tahu Ajalku Telah Dekat


Ada satu hal yang pasti terjadi, tapi kita tidak pernah tahu kapan ia akan menghampiri. Iya, mati.

Kematian tak pernah memandang usia. Datangnya pun tak harus dengan pertanda. Ada yang menderita sakit bertahun-tahun, tapi malaikat maut tak juga menjemput. Akan tetapi, ada juga yang di pagi hari masih berhaha-hihi, siangnya telah terbujur kaku menghadap Illahi.

Dalam ingatan saya, ada tiga kematian yang tak akan terlupa:

1.       2 Oktober ‘98
Hari itu Jum’at, setengah 3 sore. Saya yang baru pulang ke rumah seusai bermain, terkejut dengan banyaknya orang di depan rumah. Saya langsung berlari ke kamar belakang. Tangis tak terbendung, hingga tangan saya mengalami kram. Mbah, ibunda bapak, sedang ditalqinkan.
Sebelumnya, Mbah, yang mengajari saya dan anak-anak sekampung membaca al-qur’an, memang sakit. Ini adalah sakit yang cukup lama dan paling parah bagi Mbah, karena seingat saya, Mbah selalu sehat meski usianya sudah senja. Meskipun begitu, ibu merawat Mbah di rumah saja.
Dan di Jum’at sore itu, Mbah pergi untuk selama-lamanya.

2.       3 Oktober  2003
Jum’at. Pagi itu hujan. Saya bersiap ke sekolah. Sebelum berangkat, saya berpamitan pada Uti, ibunda ibu. Memang sejak saya SD, saya tidur di rumah Uti untuk menemani beliau yang tinggal sendiri. Rumah Uti ada di sebelah rumah saya.
Saat saya hendak berangkat ke sekolah, Uti masih berdzikir di Musholla rumah. Kegiatan ini memang rutin dilakukannya seusai shalat shubuh.

Bel tanda masuk sekolah berbunyi di jam 6:45. Memang sekolah saya masuk 15 menit lebih awal dari sekolah lain, karena adanya “Pengayaan”.
Saat bel tanda jam “Pengayaan” usai, atau tepatnya pukul 7:30, seorang guru Bimbingan Konseling memanggil saya ke kantor. “Ada tamu”, kata beliau. Rupanya, tetangga saya datang untuk menjemput. Dia bilang Uti sakit, dan menanyakan saya.
Saya sudah curiga ada sesuatu yang terjadi. Telebih lagi, di ruang piket, saya melihat dua orang tetangga saya yang lain yang sedang menunggu. Mereka sedang berbincang dengan Pak Is, guru karawitan.
Kecurigaan saya terbukti ketika sampai di rumah, tenda sudah didirikan. Beberapa orang menyambut saya yang bercucuran air mata. Dan di ruang tamu, saya menatap pilu pada Uti yang sudah dibaringkan di atas meja.

3.       17 Oktober 2008
16 Oktober malam, pulang kuliah, Mbak Ita SMS. “Nduk, ibu udah ngga sadar.” Deg, air mata pun menitik. Saya berusaha mengendalikan kesedihan, karena malam itu saya sedang berada di stasiun Tanjung Barat, menunggu KRL untuk pulang ke Bogor. Saya sudah berencana untuk pulang keesokan harinya. Setelah selesai mengajar, saya akan membeli tiket bus tujuan Purworejo.
Tapi rencana hanya sebatas rencana. Selesai mengajar, saya ditelepon Fira, sepupu saya. “Mbak, Bude Tutik meninggal,” katanya. Tangis tak terbendung lagi. Menyesal, itu pasti. Kenapa saya tidak menemani beliau di saat terakhirnya?

Ibu pergi di bulan Syawal. Dan memang baru beberapa hari sebelumnya saya kembali merantau setelah sebelumnya mudik lebaran. Saat kami akan berpisah, ibu masih bisa berbicara. Beliau mengatakan sesuatu yang selalu saya ingat, “Sabar. Roda pasti berputar.” Semoga sakit yang ibu derita selama berbulan-bulan, menjadi pencuci dosanya. Aamiin.

Akhirnya, saya hanya bisa berdo’a, semoga mereka bertiga menjadi bidadari di Jannah-Nya. Karena mereka meninggal di hari Jum’at, hari yang istimewa.

Nah, karena hari kematian kita adalah sesuatu yang misteri, sebaiknya kita mempersiapkannya jauh-jauh hari. Nasehat ini yang sering saya lupa. 

Jika tak punya uang, mengeluhnya dari pagi sampai petang. Tapi jika mengingat kematian, kenapa saya malah tenang, padahal saya masih miskin amalan?

Seandainya, setiap orang diberi tahu kapan dia akan meninggalkan dunia ini, tentu mereka berlomba-lomba menjadi orang yang paling baik sedunia.

Begitupun saya. Jika saya tahu ajal saya tinggal 8 hari lagi, saya akan melakukan hal ini:

1.       Sejak hari pertama, saya akan memperbanyak dzikir, istighfar, makin mengkhusyu’kan shalat, juga memperbanyak tilawah qur’an.

2.       Saya akan meminta maaf pada suami, jika selama menjadi istri, saya tak cakap dalam melayani. Tak lupa pada anak-anak, saya akan meminta maaf atas ketidaksempurnaan dalam mengasuh mereka.
Saya akan meminta maaf pada bapak, jika selama menjadi anak, ada yang membuat batinnya sesak. Hal ini juga akan saya lakukan pada Ayah dan Mamah mertua, jika selama menjadi menantu, ada tindakan saya yang membuat mereka terluka.

3.       Saya akan bersilaturrahmi ke rumah tetangga, sanak saudara, handai taulan, sahabat dan teman-teman dekat yang masih mungkin saya datangi. Orang-orang yang paling banyak berinteraksi pada kita, tentu memiliki potensi yang paling besar untuk kita sakiti.

4.       Meminta maaf melalui sosial media yang saya punya. Ini juga akan saya lakukan. Saya akan meminta maaf secara massal, karena sebagai pengguna media sosial, kemungkinan saya melakukan dosa secara massal pun semakin besar.
Jaman sekarang, bergosip tak hanya butuh telinga dan mulut saja. Tapi mata dan jari juga bisa bicara.
Ahh..jadi ingat lagu Chrisye. 
“Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi... 
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita...” 
Dan bersaksilah jari-jemari kita, tentang dosa yang dilakukannya. Tak ada yang berdusta.
Setelah itu, semua akun media sosial, akan saya tutup.

5.       Saya akan berusaha membayar hutang-hutang saya. Jika saya tak punya harta, maka saya akan menggunakan tenaga saya untuk menebusnya. Sungguh, saya tidak ingin perjalanan saya di akhirat tersendat oleh hutang yang tak terbayar. Semoga Allah mengambil nyawa saya jika saya telah menyelesaikan urusan muamalah ini.

6.       Saya ingin memperbanyak amal jariyah, yang bisa dijadikan tabungan pahala disana. Pergi ke masjid-masjid, juga panti asuhan untuk menyumbangkan mukena, al-qur’an, juga pakaian-pakaian atau gamis dan jilbab, yang akan saya tinggalkan sebentar lagi.

7.       Saya akan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang sayangi. Membiarkan mereka memandangi saya, yang sebentar lagi akan pergi. Di H-1 menjelang kematian saya, saya akan membuat sesuatu yang akan selalu diingat oleh mereka. Mungkin, masakan terlezat di dunia. Mungkin juga, sapu tangan yang saya jahit sendiri dengan kedua tangan saya. Mengapa sapu tangan? Supaya mereka ingat, bahwa saya selalu ada untuk menyeka air mata mereka, sekalipun saya telah tiada. Saya ingin, saya dan mereka sama-sama ikhlas, sama-sama puas. :’(

8.       Saya akan membersihkan diri, dari ujung rambut hingga ujung kaki, agar tak banyak kotoran yang keluar saat saya dimandikan. Saya akan memperbanyak bersujud, sambil menanti Malaikat Izroil datang memanggil.

Bila waktu t’lah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu t’lah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi...




33 komentar :

  1. 3 perempuan yang kita cintai meninggal di bulan Oktober, di hari Jum'at dan memiliki selisih masing2 5 tahun...
    Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama kalo tahu 8 hari lagi aku akan mati. Semoga Allah panggil kita dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin ;)

    BalasHapus
  2. Kehilangan orang2 tercinta memang menyedihkan ya Mbak. Di keluarga sy pernah kehilangan beberapa orang sekaligus dgn jarak hanya beda bulan. Jadi setahun itu serasa tahun duka karena ditinggalkan oleh kerabat2 dekat.
    Semoga kita bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk 'dijemput' ya Mbak.

    BalasHapus
  3. Ya Allah, mak deg aku bacanya Mbak Arin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas nulis poin 7 dan 8, tangis sy menderas mba..:'(

      Hapus
  4. Banyak orang yang takut dengan kematian termasuk aku... apa berarti itu karena kita belum siap ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga termasuk yg belum siap mba..

      Hapus
  5. Ya Allah, hati saya sediih bacanya..saya ikut merasakan apa yang mbak rasakan..
    :')

    salam kenal ya mbak dari Banjar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak.. :)
      Salam kenal dari Solo. ;)

      Hapus
  6. Sedih bacanya.. :') Sukses GAnya ya Mak :')

    BalasHapus
  7. semoga kita semua meninggal dalam keadaan khusnul khotimah yah Mbak, amin..

    BalasHapus
  8. Kehilangan itu memang beraaat banget ya mbak, Saya dulu kehilangan calon anak sama nenek cuma selisih 2 bulan aja. Move on nya sampai berbulan bulan

    Sukses GA nya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga butuh waktu lama utk move on waktu ibu meninggal Mba.. Pas awal2 malah saya sering menangis, mau di angkot, di KRL, asal ingat beliau pasti air mata menitik. Saya menguatkan diri dg mengingat bahwa ibu sudah tdk sakit lg. Tinggal saya yg harus berdo'a selalu agar Allah menempatkan beliau di tempat terbaik.
      Sampai skrg pun saya sering menangis, terutama kalau lg rindu. Karena rindu ini ngga bs terobati lewat telepon kan? :)

      Hapus
  9. Semoga ibu serta mbah dan utinya mbak.e khusnul khotimah ya mbak, aminn
    Mengisnpirasi bnget mbk, salam kenal ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin mbaa.. Terima kasih utk doanya. Salam kenal.. ;)

      Hapus
  10. 3 kisah kepergian yg tdk terlupa ya mb
    sukses buat GAnya

    BalasHapus
  11. Kehilangan keluarga itu emang berat. Banyak kenangan indah atau bahkan hal-hal yang belum sempat kita lakukan. Semoga khusnul khotimah.

    BalasHapus
  12. Kepergian tanpa pamit memang menyedihkan, smg kita sllu siap menghadapinya

    BalasHapus
  13. Andai kita bisa tau :), dan kenapa harus nunggu kalau mau mati saja.. Itulah kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sifat manusia ya mba.. entar entar yaa..

      Hapus
  14. Terimakasih tulisannya, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus
  15. Nice post mbak, semoga kita selalu berada di jalan yang diRidhoi Allah SWT hingga akhir nanti...Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin aamiin Yaa Robbal 'aalamiin...

      Hapus
  16. Terimakasih sudah berbagi dan mengingatkan Mba.

    Salam kenal sari saya :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...