Langsung ke konten utama

Resep Cakalang Bumbu Rujak a la Opik dan Arin

3 April lalu, tante Opik (adik bungsu saya), telah berumur 18 tahun. Kami tidak biasa merayakan pesta ulang tahun, namun untuk mengungkapkan rasa syukur, hari itu kami memasak masakan yang berbeda dari biasanya.

Ikan bumbu rujak, pasti semua sudah sering membuatnya kan? Karena kami jarang sekali memasak olahan ikan, maka memasak ikan termasuk momen yang istimewa. :)

Pagi itu, kami mencari ikan kakap merah. Tapi karena stok di tempat langganan sudah habis, ibu penjual ikan menawarkan beberapa jenis ikan yang tersisa, seperti; ikan tuna, cakalang, juga udang dan cumi. Ketika kami mengatakan ingin memasak ikan bumbu rujak, beliau langsung menyarankan untuk menggunakan ikan cakalang. Alasannya, daging ikan cakalang itu tebal.

ikan cakalang. diambil dari cakalang1(dot)blogspot(dot)com
Dan benar saja, saat ibu penjual ikan tadi membersihkan dan mengiriskannya sekalian, kami lihat daging ikan ini memang tebal. Lebih tebal dari ikan kakap. Wow... Baru kali ini kami melihat ikan ini, hihi.. Maklum, tempat tinggal kami jauh dari laut, dan kami sekeluarga juga bukan "pecandu" ikan.

Sampai di rumah, kami segera bersiap memasak. Ikan cakalang yang telah diiris itu kami bersihkan. Kami juga mempersiapkan bumbu-bumbu untuk mengolahnya.

Apa saja bumbu yang diperlukan untuk membuat ikan cakalang bumbu rujak ala kami?
Ini dia:
- 3 siung bawang putih
- 3 butir kemiri
- merica secukupnya
- ketumbar secukupnya
- kunyit, seruas jari
- cabe rawit dan cabe keriting, sesuai selera
- sebatang sereh
- dua lembar daun salam
- dua lembar daun jeruk
- lengkuas
- air asam jawa
- 1 bungkus kecil santan instan
- bawang merah goreng untuk taburan
- 3 sdm minyak untuk menumis

Caranya mudah:
- haluskan bawang putih, kemiri, merica, ketumbar, kunyit dan cabe.
- tumis bumbu halus dengan tiga sendok makan minyak goreng.
- masukkan sereh, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas.
- beri air secukupnya. (kira-kira bisa membuat ikan terendam seluruhnya, karena saya menggunakan santan instan).
- masukkan ikan yang telah diiris tadi, masak hingga terlihat empuk. (ada opsi lain, ikan digoreng terlebih dulu).
- masukkan santan instan dan air asam jawa.
- beri garam, sedikit gula merah (atau bisa juga dengan gula pasir, tapi saya lebih suka gula merah), dan bumbu penyedap.
- aduk-aduk hingga matang.
- masukkan ke mangkuk saji, taburi bawang merah goreng dan irisan tomat.
- ikan cakalang bumbu rujak ala saya dan Opik siap disantap.




Alhamdulillah, hari itu kami makan dengan lahap. :)

Komentar

  1. Wih menggoda selera. Aku belum pernah masak ikan ini. Durinya banyak gak?

    BalasHapus
  2. kunyit biasanya pakai ukuran cm, atau seruas jari, mbak Arin pakai istilah sesiung ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahaha...makasiih mba.. ini efek nulis disambi nonton film sama bocah.. :D

      Hapus
  3. Iki sekeluarga do pinter masak... Aku suka ikan mba. Mau diolah dengan bumbu apapun suka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pinter masak mbaa.. Tuh kata mba ita salah bumbunya. :D

      Hapus
  4. Bumbu rujak kok nganggo bumbu kuning? hahaha..
    salah resep po ra iki? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan ala opik dan arin :p

      Lha biyen masak kakap dibumbu iki, jare Diba iki jenenge bumbu rujak oq.. :p

      Hapus
  5. Boleh neh resepnya aku cobain mba. Makasih

    BalasHapus
  6. boleh ini dicoba resepnya, ikan cakalang enak sepertinya untuk temen makan siang2 bgtu sambil ngeblog dikala wekend :D

    BalasHapus
  7. Hi mbak Arinta.. di keluargaku sudah dibilang jarang dan gak pernah masak ikan karena nggak ada yang suka makan ikan termasuk aku hehe padahal ikan itu ada vitaminnya yang baik untuk tubuh ya hihi.
    Salam kenal sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal balik mbaa...:)

      keluarga saya juga jarang banget masak ikan mba, hehe.. makanya gak begitu paham bumbu-bumbu olahan ikan.. :D

      Hapus
  8. wah, saya kalau disuruh milih ikan atau ayam, saya lebih milih ikan mbak. kecuali kalau ayamnya ayam kampung, saya bakal pilih ayam kampung :)

    tapi jangan ditanya masalah bumbu menu ikan juga mbak, karena saya masih ngekos dan makan terbang (makan diluar) :)

    btw, jadi kepengen masak ikan cakalang bumbu rujak kalau nanti pulang kampung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ternyata ikan enak ya mbaa.. dan buat anak-anak pun seratnya lebih lembut jadi lebih mudah ditelan. :)

      Hapus
  9. Aaa tsadeeesttt ikannya kliatan lejat bener
    #mbul mau nyiduk sepiring bole ya
    Btw happy bday buat opik, samaaa ni adekku juga masi brlasan tahun ahihihu

    BalasHapus
    Balasan
    1. selisihnya berapa tahun tante mbul? aku sama si tante beda 10 tahun euy.. :D

      Hapus
  10. Ikan cakalang ada di Solo mak? err kayaknya gak ada hehehe sepertinya itu ikan tongkol.
    Cakalang sama tongkol memang satu famili yaitu famili tuna. Tapi bedanya, cakalang itu bergaris-garis memanjang dan khas banget. Biasanya itu terdapat di Indonesia timur.
    Nah, di sini lebih dikenal ikan tongkol. Heheh maaf mak soale saya dari Indo timur dan sering banget makan ikan cakalang :D. Ikan cakalang itu gede-gede dan dagingnya memang tebal sekitaran 3-4 cm ada tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya katanya memang mirip ikan tongkol mba.. aduh, saya mah pasrah lah..haha..ngga ngerti ikan apa ini. tapi bentuknya sih mirip dengan yg di gambar ituuu :D

      Hapus
  11. Hmm, di rumahku gak ada yang hobi makan ikan, jadi bingung mau nyoba bikiin buat siapa, padahal penasaran, huhuhu.

    Salam,
    Shera.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Tulisan ini bisa menyebabkan darah tinggi dan emosi yang tak terkendali. Ini murni pendapat saya pribadi. Silakan pergi sebelum kalian sakit hati. :D

Sengaja saya nulis tentang Rina Nose setelah berita tentangnya agak mereda. Karena kalau pas lagi panas-panasnya, takutnya dikira saya mendompleng ketenaran, atau sengaja nyari pageview aja. Haha.. Padahal alasan sebenarnya adalah karena saya baru sempat nulis aja. Harapan saya sih, kalau situasinya sudah agak kondusif, tulisan saya ini bisa diterima dan ditelaah dengan kepala dingin. Nggak pakai emosi lagi.
Emang mau nulis apa sih? Kayak penting aja..haha..
Bukannya mau ngaku-ngaku atau apa, tapi saya dan Rina Nose memiliki beberapa persamaan. Apa sajakah itu?
1. Hidung Pesek
Kata ibu, waktu kecil hidung saya pesek parah. Tapi terus tiap hari ditarik-tarik biar mancung, dan katanya sekarang agak mendingan. Padahal semendingan-mendingannya saya sekarang, ya tetep hidungnya tak bertulang. Dan itu nurun ke Amay.

Jadi, misalnya hidung saya a…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …