Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Amay, Cita-Cita dan Morinaga Chil-Go!

Bicara tentang Amay, berarti bicara tentang anak berumur 5 tahun. Tentang kegiatannya, tentang sekolahnya, juga tentang cita-citanya.
Kegiatan rutin Amay setiap Senin hingga Jum'at, adalah pergi ke sekolah. Hari Senin sampai Kamis, ia akan pulang pukul 12:30, sementara di hari Jum'at, sekolah berakhir pukul 11:00 siang. Sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah. Saya sengaja memilih yang dekat dengan rumah, agar tak terlalu repot saat mengantar dan menjemputnya, mengingat saya masih punya bayi yang beranjak gede, yaitu Aga yang berumur 20 bulan. Beruntungnya, di dekat tempat tinggal saya ada TK Islam Terpadu yang insya Allah bagus dan sesuai dengan keinginan saya.

Pulang sekolah, biasanya Amay akan bermain di rumah dengan saya dan adiknya. Ia hampir tak pernah tidur siang. Entahlah, susah sekali diajak tidur siang. Jam 4 sore, adalah saatnya bermain dengan teman-teman kecil di sekitar rumah.
Tentang cita-cita, beberapa kali Amay berganti keinginan. Pernah dia berkata, "Ma…

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …

Cilok Setengah Juta, Dimuat di Gado-Gado Majalah Femina

Sebut saya norak. Hehe... Tapi saya memang sedang norak-norak bergembira. Apa pasal? Setelah perjuangan yang paaannnjjaaannggg dan laaammmmaaaa, akhirnya saya bisa menakhlukkan satu media besar itu. Iyap, tulisan saya akhirnya bisa nangkring di rubrik Gado-Gado Majalah Femina.


Selama ini saya hanya bisa iri, melihat tulisan teman-teman muncul di rubrik itu. Ini bukan soal honor yang memang cukup besar dibanding media yang lainnya ya, tapi ini soal mengukur kemampuan diri. Bisakah saya seperti teman-teman lain?

Memang, tulisan saya sebelumnya sudah pernah nangkring di beberapa media cetak seperti Jawa Pos dan Solo Pos. Ada yang mau baca? Ini tulisan saya di Jawa Pos untuk rubrik Gagasan: Bersahabat dengan Bumbu Dapur, dan ini salah satu cerita lucu saya yang dimuat di Rubrik Ah Tenane, Solo Pos, yang menggunakan tokoh utama bernama Jon Koplo.

Tak hanya itu, cerita lucu tentang Amay pun pernah saya kirimkan ke Majalah Reader's Digest Indonesia, yang masih satu grup dengan Majalah F…