Langsung ke konten utama

Kasihan Uus Yaa...

Disclaimer: tulisan ini saya buat berdasarkan pendapat saya pribadi. Saya yakin akan ada yang tidak setuju dengan pendapat saya ini. Tapi, bukankah kita selayaknya memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang? 


Beberapa hari terakhir, berita tentang Uus, komika bertubuh jangkung itu, memenuhi halaman lambe turah. (Iya, saya follower lambe turah, hiks... Cuma buat update koq, dan saya mah bukan golongan fans atau hater yang doyan berdebat disana. Saya mah suka kalah kalau berdebat, jadi mending diem, hehe...). Penyebabnya adalah cuitan Uus yang dianggap menghina Habib Rizieq hingga berujung pada pemecatannya di beberapa program televisi, misalnya Inbox dan OVJ. 

Saya menyayangkan cuitan Uus itu. Bagaimanapun, mengolok-olok seseorang, tidak peduli dia manusia biasa ataupun ulama, tetap tidak bisa dibenarkan.

Nah, sebelum kasus ujaran menghina Habib Rizieq kemarin, sebenarnya Uus juga sudah pernah masuk lambe turah. *duh, emak nggosip ya begini nih... Waktu itu kasusnya adalah karena dia diduga MBA gitu, married by accident. Tapi saya sedih loh, yang salah kan ortunya yaa, tapi kenapa anaknya dibawa-bawa juga. :(



Tapi, meski saya menyayangkan status-status Uus, saya juga merasa mesti elus dada ketika baca komentar-komentar netizen yang menyudutkan Uus dan istrinya. Ya sudahlah, wong mereka sudah dewasa, sudah ngerti dosa. Kita yang "merasa masih suci", jangan lalu menceburkan diri menanggapi "dosa Uus".

Saya sebenarnya juga kesel waktu dia bawa-bawa perempuan berhijab yang clubbing atau teriak-teriak sambil nangis waktu nonton konser K-POP. Tapiii, kalau diperiksa lagi, bener juga sih kata-kata Uus ini. Meskipun, perempuan berhijab bukanlah malaikat yang tanpa dosa ya.. Tapi memang selayaknya kita yang sudah berhijab ini bercermin, lebih sering menangisi drama K-POP yang mengaduk-aduk emosi, atau lebih sering menangisi kesalahan diri? (ngga nyalahin pecinta drakor loh yaaa, wong saya juga suka drakor, cuma ngga bisa nonton karena ngga punya tv dan eman-eman sama kuota. :D)

Jangan sampai; kamu doyan banget menguliti dosa si Uus, tapi giliran ditunjuki dosa sendiri, malah ngga terima. Ini macam peribahasa: gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Uus manusia, kita juga. Uus, katakanlah banyak dosa, apa lantas kita lebih mulia darinya?

Dan tentang video yang dia bilang, "Aku kalau adzan shubuh berkumandang, suka kepanasan. Aku kan syetan, hahaha..." itu, sebenarnya itu (kalau saya lihat) adalah caranya menutupi ketidakpercayaan diri. Jangan-jangan, ini karena tiap hari dia dibully?

Ini sama koq dengan orang-orang gendut yang biasa kita "kata-katai". Atau orang kurus yang biasa kamu sebut kurang gizi. Saking sebelnya mereka dibully dengan kalimat yang sama tiap hari, mereka jadi seperti ini. Saya misalnya, saking seringnya dibilang kurang gizi, saya akan bilang, "iya nih, transfer uang sini, biar aku bisa makan enak kayak kamu..." atau kalau udah kesel banget, aku akan bilang, "kamu iri yaa, karena aku lebih sexy?" hahaha...glodak.

Oya, saya dapat tulisan ini dari sebuah grup. Kalau tidak salah ditulis oleh Sarra Risman.



Nah, Uus juga tampaknya seperti itu. Cuitan-cuitannya, status-status instagramnya, balasan komentarnya pada netizen yang membencinya, itu untuk "menjatuhkan diri sendiri". Biar pembullynya puas, gitu. 

So, kalau niat kita pengen Uus sadar, doakan. Atau nasehati dia secara sembunyi-sembunyi. Kita juga ngga mau kan kalau aib kita diumbar dan jadi bahan olok-olokan? Dan nasehat itu, akan lebih "masuk" kalau disampaikan dengan kata-kata yang baik. iya kan?

Iman itu naik turun loh, jangan sampai suatu saat nanti kitalah yang berada di posisi Uus saat ini. Sudahi bullyan-bullyan itu, tak hanya pada Uus, tapi pada semua orang di dunia ini. 



Dan buat Uus, buat saya juga tentunya, mari lebih hati-hati menggunakan mulut dan jari. :)

Komentar

  1. Aku jarang sekali menanggapi yang seperti ini mba, kalau sudah lihat sekali. Oh gini toh. Udah lah doain aja aga yg salah jadi benar dan bisa lebih baik lagi. Benar kata Mba Arinta, toh mereka sudah besar. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini buat pengingat diri Mas.. Kadang suka ngomentarin "dosa" orang lain, padahal dosa sendiri juga buanyak sekali. :)

      Hapus
  2. Aku uda unfol lamtur mb rin semenjak suka ngekspose foto orang sakit keras tanpa blur, huhuuu

    Tapi klo kasusnya uus ini aku taunya dari mana ya, keknya dari ig deh..,cuma aku juga nda tau tuh awal mulanya kek gimana, mungkin juga yes saking gwdegnya dibully akhirnya mengerahkan sikap sesuai teori yang mb rin sebut di atas. Tang jelas aku mah jadi ngambil pelajaran kalo udah jadi sorotan sebisa mungkin menyaring apa yang bakal kita share ke public ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tante.. Yang ngga public figure pun mesti begitu. Kan ada UU ITE juga..

      Aku masih follow lamtur tanteee.. :(

      Hapus
  3. Terlepas dari komen-komennya Uus yang memicu kontroversi, iya bener, saya setuju sama pendapat Mbaknya. nggak usah bully anaknya ya to. Kasian rek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kasihan anaknya dihujat sana sini padahal masih bayii..ngga ngerti apa2..

      Hapus
  4. Saya jarang nonton tv apalagi tv lokal, saya malah baru tahu ada sosok orang ini hehhehee kyk dr dunia laen ya saya ini

    BalasHapus
  5. Uus kadang omongannya ada benernya , kadang ada salahnya juga... Emang kudu hati bener nulis status, sekali dilepas langsung blaaar bisa dihapus dari dinding, tapi ngga bisa dihapus dari ingatan orang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba.. manusia kan ngga ada yang sempurna. tapi aku sih selalu ingat, perhatikan apa yang dibicarakan, bukan siapa yang bicara. kalau itu sebuah kebenaran, sekalipun itu "hanya" dari Uus, kenapa ngga kita amini?

      Hapus
  6. Wah saya malah nggak ngikutin yang beginian... kalau aku lihat statusnya si UUS sih, no komen aja mbak... Mending nungguin rilis hape baru hihiihih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, bener Mas.. lebih baik melakukan hal yang produktif. :)

      Hapus
  7. Lambe turah tu opo to mbak Arin? Ku pikir lambe turah tu yang dulu rame sama si om Super itu lho... tapi kalau dari tulisan mbak arin, kok sepretinya aku gosip gtu kah?

    aku baru tahu lho kalau dia sampe diusir dari OVJ. kasihan memang, semoga cepet diberi hidayah, dan malah balik jadi pembela agama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa akun hosip di instagram, haha...

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …