Langsung ke konten utama

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan. 

Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.

Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani seperti telur dan susu. Ini disebut ovo-lacto vegetarian. Ovo-lacto vegetarian juga terbagi menjadi 2 golongan, yaitu: Ovo-vegetarian, yang masih mengonsumsi telur tetapi tidak mengonsumsi susu (dan produk turunannya seperti yogurt dan kefir), dan Lacto-vegetarian, yang masih mengonsumsi susu (dan produk turunannya seperti yogurt dan kefir), tetapi tidak mengonsumsi telur.  

Ada beberapa jenis vegetarian, berdasarkan makanan yang dikonsumsinya:
1. Vegetarian Buddha. Tradisi Buddha memiliki ajaran yang berbeda-beda. Ada yang menafsirkan ajaran “tidak membunuh” sebagai larangan mengonsumsi daging, meski tidak semua. Di Taiwan, su vegetarian tidak hanya menghindari produk hewani, tetapi juga sayuran dalam keluarga allium (yang memiliki aroma khas bawang, seperti; bawang putih, bawang merah, dan daun bawang)
2. Fruitarianisme, vegetarian yang hanya mengonsumsi buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan tanaman lainnya yang dapat dikumpulkan tanpa merugikan tanaman. Jadi, misal ingin mengonsumsi bayam atau kangkung, maka mereka tidak akan memilih bayam atau kangkung cabut, akan tetapi yang dipilih adalah tanaman bayam atau kangkung petik, sehingga induk tanaman tersebut masih hidup dan bisa tumbuh.
3. Jain vegetarian, masih mengonsumsi susu tetapi tidak termasuk telur dan madu, serta sayuran akar.
4.  Diet makrobiotik sebagian besar terdiri dari biji-bijian dan kacang-kacangan.
5.  Lacto vegetarian, mengonsumsi produk susu tetapi tidak mengonsumsi telur.
6. Ovo vegetarian, mengonsumsi telur tapi tidak mengonsumsi produk susu.
7. Ovo-lacto vegetarian (atau lacto-ovo vegetarian) tidak mengonsumsi daging, tetapi masih mengonsumsi produk hewani, seperti telur, susu, dan madu.
8. Diet Sattvic (juga dikenal sebagai diet yoga), diet berbasis tanaman yang masih mengonsumsi susu (tidak mengonsumsi telur) dan madu, tetapi tidak mengonsumsi apa pun dari bawang atau keluarga daun bawang, kacang merah, buah durian, jamur, keju biru, makanan fermentasi atau saus, minuman beralkohol dan sering juga tidak termasuk kopi, teh hitam atau hijau, coklat, pala atau jenis lain dari stimulan seperti rempah-rempah yang tajam kelebihan.
9. Veganisme menghindari semua daging dan produk hewani, seperti susu, madu (tidak selalu), dan telur. Raw-veganisme hanya mengonsumsi buah segar dan mentah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran. Sayuran hanya dapat dimasak sampai suhu tertentu, misalnya menggunakan dehidrator.

Selain tidak mengonsumsi daging, juga telur atau susu, beberapa vegan bahkan menghindari produk hewani lainnya seperti madu, kulit atau pakaian sutra, atau produk lainnya yang mengeksploitasi hewan.

Lalu, apa manfaat menjadi vegetarian bagi kesehatan? Ternyata, sebuah studi menemukan bahwa menjadi vegetarian dapat mengurangi resiko kematian, mencegah kanker (kecuali kanker payudara), mengurangi resiko terserang diabetes tipe 2, dan mengurangi resiko terkena serangan jantung. Pria yang melakukan diet vegetarian, memiliki resiko terkena penyakit jantung 30% lebih rendah dibanding mereka yang tidak menjalani diet vegetarian. Dan bagi wanita vegetarian, resikonya 20% lebih rendah dibanding wanita non-vegetarian.

Setahun lebih menjalani diet vegetarian, Mbak Esther mengaku berat badannya naik. Ini menjadi indikator bahwa diet itu bukan hanya untuk mengurangi berat badan, tetapi lebih bertujuan untuk memiliki berat badan ideal. Duh, saya jadi mendapat pencerahan. Barangkali saya mesti memperbanyak konsumsi sayuran dibanding daging-dagingan, supaya badan lebih terasa segar, dan berat badan saya menjadi ideal. Tidak terlalu kurus seperti sekarang. Habisnya, kadang bingung dengan sayuran yang itu-itu saja, jadi pasti pilihan masakannya kalau nggak telur, ayam, ya ikan.



Untuk teman-teman yang barangkali ingin berkenalan dengan Mbak Esther, bisa kunjungi social medianya berikut ini:

Facebook: Esther Ariesta-Rantanen
Twitter: @EstherAriesta
Instagram: @estherariesta


    

Komentar

  1. Well.. well.. saya belum menjadi vegetarian sih tapi karena sudah terbiasa menghindari daging merah sejak kecil karena selain harganya tidak murah juga menghindari yang namanya penyakit orang kaya kayak jantung, kolesterol, darah tinggi dkk.. Tetapi aku pernah denger nih iparku rada ngejek orang vegetarian yg nggak doyan daging, lha tak batin "daripada penyakiten kayak gitu" phuuufftt..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ran ga doyan daging merah to? Iya sih.. Aku puas makan daging ya kalo dapet bagian kurban..hihi

      Hapus
  2. Bahas vegetarian gini inget ibuk mertua hihihi, kadang kalo pas di rumah mertua keikut jg maemnya sayur melulu. Enak sih ya segerrrr :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jadi pengen nyoba Mba..wkwkwk.. Semoga istiqomah. :D

      Hapus
  3. Aku belum kenal sama mb Esther, harus kenalan nih :)
    Btw di sekolahku jg ada 3 murid yg vegetarian mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow.. Kecil-kecil udah memutuskan yaa.. Keren..

      Hapus
  4. Wah sering lihat2 foto Mba Esther dan suami di IG. Ternyata seorang vegetarian ya. Badannya pun jadi bagus karena nggak makan lemak hewani :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Nita.. Yang lebih penting sih jadi sehat. :)

      Hapus
  5. aku karnivora sejati... haahahah... tp kan sekarang udah kepala 4 yg bentar lagi tau2 kepala 5. jd ya nyadar sendiri lah dikurangin konsumsi daging. Demi kesehatan diri sendiri juga lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga mau ngurangi Mba.. mungkin ngga 100% vegan sih..

      Hapus
  6. Lama nggak mampir ke sini, ternyata template sudah berubah hihihihih... kayaknya menantang tuh jadi vegetarian :D Saya sih Omnivora level dewa, kalau lapar apa saja dimakan hihihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaassss...bantuin bagusin template napaaa..

      Hapus
  7. kalo saya dari dulu memang gak terlalu suka daging Mbaa, daging yang saya makan itu hanya ayam (gak semua olahan ayam saya suka). Lebih suka makan olahan hasil laut seperti ikan, kepiting, udang dan kawan-kawannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya alergi udang Mbaa.. Tapi di Makassar memang ikannya seger-seger ya Mbaa.. Ngga kayak di Solo. :)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Menikmati Olahan Jamur dan Tumpengan di La Taverna Solo

Rabu 16 Agustus yang lalu, saya dan beberapa teman Blogger Solo, makan siang di sebuah tempat bernama La Taverna. Kami sempat bertanya-tanya, La Taverna artinya apa sih? Dan setelah tanya Mbah Google, ketemu deh jawabannya. La Taverna berasal dari bahasa Italia, yang memiliki arti Kedai.
Tapi jangan bayangkan La Taverna ini seperti kedai-kedai biasanya yaa.. Tidak sama sekali!
Lalu menu apa yang kita santap dan nikmati? Lihatlah foto paling atas. Ada sate jamur, nasi goreng jamur, tongseng jamur, dan masih banyak lagi. Olahan jamur memang jadi menu andalan di sini. Meski begitu, La Taverna menyediakan aneka olahan pasta dan steak juga, yang tak kalah istimewanya.
Jujur, menyantap menu serba jamur, saya jadi teringat masa-masa masih berdua saja dengan suami. Waktu itu, kami masih pengantin baru dan masih tinggal di Jogja. Belum ada Amay, apalagi Aga. Suatu hari suami mengajak saya mencicipi menu serba jamur di salah satu resto di Jogja, dan saya ketagihan. Sejak pindah ke Solo, saya b…