Langsung ke konten utama

#FlashFiction : Korban Mitos Tentang Jodoh

Related image


Sebut saja dia Bunga, perempuan lajang berusia tiga lima. Dia sulung dari tiga bersaudara. Dia sedang frustrasi karena dua adiknya mau melangkahi. 

"Tahun lalu kami disuruh menunggu. Oke, kami tunggu. Nyatanya, setahun ini kakak belum dapat pendamping juga. Sampai kapan kami harus menunda?" Protes sang adik, tak mau menanti yang tak pasti.

Bunga pun meminta bantuan pada para sahabatnya untuk mencarikan jodoh yang sesuai dengan kriterianya. Nggak harus mapan, tapi dia harus smart, dan yang paling penting harus berzodiak Scorpio, atau Pisces, atau Taurus. 

"Kenapa harus Scorpio? Atau Pisces? Atau Taurus?" tanya salah seorang temannya. 

"Soalnya, dari yang aku baca di Primbon, cuma Scorpio, Pisces dan Taurus yang cocok dengan kepribadian aku. Aku suka cowok yang perhatian, teduh, dan juga romantis." jawab Bunga.

"Yakali kita harus nanya satu-satu, siapa yang zodiaknya Scorpio, Pisces atau Taurus dan mau sama kamu?" Hindun, sobat baik sejak SMA yang juga jadi rekan kerjanya, tapi sudah beranak lima, ikut menanggapi. Bunga melirik tajam ke arahnya.

"Aku nggak mau tahu. Pokoknya bawa laki-laki yang sesuai dengan kriteriaku itu. Satu lagi, rajin shalat dan tidak merokok!" Cerocos Bunga.

"Itu sih bukan satu, tapi dua!" timpal Jaelani, laki-laki tambun yang hobinya nongkrong sama emak-emak. "Lagian kenapa sih, kamu nggak nyari di Biro Jodoh aja?" tanyanya lagi.

"Ssssttt!" Hindun meletakkan telunjuk ke bibirnya. Hindun lupa menceritakan sesuatu pada Jaelani. Bunga, sohib mereka ini, sudah berkali-kali mencari pendamping lewat Biro Jodoh, namun entah karena syarat zodiak itu atau karena hal lain, sampai kini ia belum berhasil.


Dan suatu hari... 

"Mbakyu, mau aku kenalin sama seseorang? Zodiaknya Scorpio, rajin shalat, dan bukan perokok. Impian kamu banget deh..." Jaelani memberikan sebuah informasi.

"Wah, menarik nih..." Senyum terkembang di bibir Bunga. Ia langsung membayangkan dirinya mengenakan gaun pernikahan, membina rumah tangga dengan orang yang selama ini ia cari. Fisik dan materi, baginya memang sudah tak penting lagi.

"Jadi kapan mau ketemuan? Orangnya sih, ingin secepatnya menikah juga, karena sama dengan kamu, adik-adiknya juga sudah menunggu." ujar Jaelani.

Hindun menambahi dengan semangat, "Tuh, buruaaaan!"

Tapi demi mendengar penjelasan terakhir dari Jaelani, Bunga mengerutkan dahi. "Wait! Tadi apa kamu bilang? Adik-adiknya sudah menunggu? Berarti dia sulung juga dong kayak aku?"

"Yoiiiih..." jawab Jaelani.

"Hadeuh, menurut orang Jawa, anak sulung nggak boleh menikah sama anak sulung juga, karena katanya bisa berantem melulu. Gimana dong?" 

"Terserah lo deh!" Hindun dan Jaelani kesal. Mereka pergi meninggalkan Bunga sendiri.




---------------------------------------------------------------


Arin tumben ngefiksi, haha... Iya, ini challenge dari Mbak Ran buat ngisi postingan kolaborasi bulanan kita. Dimaklumin aja ya kalau masih banyak kurangnya. Nulis fiksi itu nggak mudah lho... Oya, intip Ceret Merah Kekinian punya Mbak Widut, dan Ibu Hajah nya Mbak Ran. Kasih nilai yaa, wkwkwk... *tutup muka


Komentar

  1. Hwhahah, semua gara gara primbon endinge

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya Judulnya kuganti "gara-gara primbon" ya? Kayaknya lebih bagus.. Hihi..

      Hapus
  2. Good, tp ending e perlu diolsh lg mungkin

    BalasHapus
  3. menurutku ini bukan flash fict mbak-e. Alure masih lurus.

    BalasHapus
  4. Suamiku dan aku sama-sama anak sulung lho, dulu pernah diingetin Pak Yai kalau dalam pernikahan kami harus berhati-hati karena kami akan sama-sama egois, begitu katanya.. tapi nyatanya Pak Yai belum tahu kalau dalam diriku ini ada bungsu yang sedang bersembunyi dalam tubuh si sulung. Iki opo sih?!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. oya ya, ah..tapi itu cuma mitos kan yaa..

      Hapus
  5. mbak endingnya kurang greget... tapi aq suka kok

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iya nih masih harus belajar lagi.. susah juga ternyata..

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Menikmati Olahan Jamur dan Tumpengan di La Taverna Solo

Rabu 16 Agustus yang lalu, saya dan beberapa teman Blogger Solo, makan siang di sebuah tempat bernama La Taverna. Kami sempat bertanya-tanya, La Taverna artinya apa sih? Dan setelah tanya Mbah Google, ketemu deh jawabannya. La Taverna berasal dari bahasa Italia, yang memiliki arti Kedai.
Tapi jangan bayangkan La Taverna ini seperti kedai-kedai biasanya yaa.. Tidak sama sekali!
Lalu menu apa yang kita santap dan nikmati? Lihatlah foto paling atas. Ada sate jamur, nasi goreng jamur, tongseng jamur, dan masih banyak lagi. Olahan jamur memang jadi menu andalan di sini. Meski begitu, La Taverna menyediakan aneka olahan pasta dan steak juga, yang tak kalah istimewanya.
Jujur, menyantap menu serba jamur, saya jadi teringat masa-masa masih berdua saja dengan suami. Waktu itu, kami masih pengantin baru dan masih tinggal di Jogja. Belum ada Amay, apalagi Aga. Suatu hari suami mengajak saya mencicipi menu serba jamur di salah satu resto di Jogja, dan saya ketagihan. Sejak pindah ke Solo, saya b…