Langsung ke konten utama

Ketika Saya Menjadi Seorang Ibu; Antara Ekspektasi dengan Realita

Dulu, waktu Amay masih dalam penantian, saya pernah bikin status seperti ini di Facebook.


Idealis banget ngga sih? Hihihi...

Idealis banget sepertinya, jika melihat kenyataan yang ada sekarang. Dulu, waktu  belum ada anak-anak, bayangan saya, saya akan menjadi seperti ini:

1. Bangun paling pagi, lalu beres-beres, dan ketika anak-anak bangun, saya tinggal menyediakan energi full buat mereka

Itu ekspektasi, realitinya?

Bangun kadang-kadang kalah pagi sama Amay. Wahaha, emak macam apaaa saya ini? Jadi, waktu yang "dalam bayangan saya" seharusnya bisa buat main, nemenin mereka belajar atau apalah, malah jadi buat ngelarin pekerjaan rumah tangga yang seolah tidak ada hentinya.

Hari Rabu yang lalu, saya bahkan sampai buat status di facebook.  *wakaka, status lagi. *biarin, kerjaan emak kan emang curhat di status. Statusnya panjaaaang lho, menandakan bahwa saya sedang pengen curhat banget, hahaha...
Pagi ini. Aga teriak-teriak minta makan. Padahal bangun tidur tadi udah disuapin sama tantenya, makan sepiring berdua sama Mas Amay yang sudah 3 hari ngga sekolah karena terkena cacar air.
Mama yang lagi cuci piring dan berbagai perkakas bekas memasak, terpaksa mendiamkan, karena kalimat, "Sabar, nasinya belum matang.." udah ngga mempan. Karena merasa dicuekin, Aga sakit hati, lalu masuk ke kamar. Nangis dia.
Mama minta Mas Amay temani adeknya, ajak main kek, ajak nggambar kek, tapi Mas Amay sibuk sendiri membuat gambar Pancasila di laptop. Dia memang lagi suka nggambar di sana.
Selesai cuci piring, Mama ke kamar. Peluk si baby yg nangis, gendong. Setelah Aga agak tenang, Mama mulai ngomong. Amay, entah dapat wangsit darimana, dia ke kamar, nyusul Mamanya.
"Mas Amay, adek Aga, lapar ya?" Keduanya kompak mengangguk. "Tapi tadi kan sudah makan, sekarang sabar dulu sebentar tunggu nasinya matang."
"Tangan Mama kan cuma dua, Mama masih harus nyapu, ngepel, beresin tudung saji yang dikasih bantal terus tadi kalian jadiin mobil-mobilan, benerin kasur papa yg tadi kalian jadiin perosotan, nyetrika, ambil cucian di jemuran, belum nyuci baju juga.. Kira-kira Mama harus mulai dari mana nih? Ada ide ngga?" Dua-duanya diam.
"Tolong ya, bantu Mama. Jangan pada rewel dulu. Mainnya bareng-bareng." Tambah saya, sambil bergegas menuju tumpukan buku yang udah jadi entah apa.
Tiba-tiba Amay nongol. "Mama sapu tebah dimana?"
"Mau buat apa?" Mama udah positive thinking dong, wah kayaknya dia mau rapiin kasur deh.
"Mau buat pukulin lalat." Jawabnya dengan muka lempeng. Yaaah, kirain mau bantuin. Mama kuciwa.
*Karena nasehat ngga selalu didengar saat itu juga.
*Akhirnya Mama putuskan untuk nulis status dulu aja. 😝😝😝😝
Tuh, dibaca lagi yaa, xixixi... Ini biasanya saya teriak-teriak lho, tapi karena kebetulan hari itu saya warasbanget, jadi cuma didiemin. *astaghfirullah

2. Nggak Mau Marah-Marah, Harus Penuh dengan Kelembutan, Biar Dikenang Tutur Katanya

Itu ekspektasi. Realitinya? 

Seperti yang saya tulis di poin pertama, kalau lagi warasbanget, saya bisa becandain mereka yang sedang in bad mood. Tapi seringnya Mama kelepasan, dan teriakannya ngalahin Nicky Astria. Hahaha...

Maafkan Mama ya Mas Amay dan Dek Aga, Mama bukan ibu peri yang senyumnya selalu berseri-seri, juga bukan malaikat yang bisa bertahan dengan tumpukan penat. *meweklagiiii

when mommy is screaming. picture taken from chilldad.com


3. Ingin Dikenang Masakannya

Ekspektasinya begitu, realitinya, saya ngga pinter masak. Saya memang jarang beli, tapi masakan saya buat keluarga, terus terang selalu amat sangat sederhana. Entahlah apakah masakan saya bisa dikenang sebagai masakan terlezat di dunia oleh anak-anak saya, seperti ketika saya mengenang masakan almarhumah ibu saya.

4. Ingin Dikenang Belaiannya

Saya sering sih membelai-belai mereka. Menciumi mereka pun bisa puluhan, bahkan ratusan kali sehari. Meski untuk Amay, karena dia sudah agak besar, laki-laki pula kan, jadi intensitasnya sudah agak berkurang. 

Tapi kalau kelelahan, Amay biasanya cari saya, koq. Dia akan minta dipijit kakinya. Yah, semoga yang begini begini dikenangnya juga yaa.. Semoga yang diingatnya dari saya bukan hanya marah-marahnya saja. Karena sedih ih, Amay pernah bilang gini, "Kalau Mas Amay kan hobinya 2,  membaca sama menggambar, kalau Mama hobinya ada 3; nyanyi, nulis, sama marah-marah."

Kejujuran terkadang memang menyakitkan, ya kan?


Kayaknya ekspektasi Vs realiti versi saya  itu dulu deh ya, sama kayak Mbak Rani R Tyas, ntar kalau ingat tak tambahin lagi. Hahaha... Kalo soal ingin melahirkan secara normal tapi malah harus Caesar, saya anggap itu bagian dari takdir. Hehe..

Baca Ekspektasi Vs Realiti punya Mbak Ran di sini dan punya Mbak Widut di sini yaa..

Komentar

  1. Dulu blm punya anak aku pernah membatin orang, ih anaknya cm numpahin makanan aja kok marahnya segitu amat, giliran aku ngerasain sendiri....wkwkwk...ternyata ngadepin makanan2 berserakan kalau pas mood nggak bagus itu, bisa bikin emak jd monster

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya kalau ada yang bilang, emak butuh me time biar tetap waras, tuh, ada benarnya juga ya Mak..xixixi

      Hapus
  2. Aku juga banyak yg failed, haha

    Yang penting kita udah berusaha menjadi Ibu yang baik buat anak-anak.
    Semoga anak-anak mengenang yang baik-baik saja tentang kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. kalo masakanmu kan enak bund..huhu..

      Hapus
  3. aq juga banyak mbak yang ekspektasi apa, realitanya jauhh banget.. di syukuri saja sekarang sudah jadi ibu dari anak-anak dan tetap selalu belajar jadi ibu yang lebih baik lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, yang penting kita nggak berhenti belajar ya Mba.. 😊

      Hapus
  4. Berusaha semaksimal mungkin, sisanya tinggal tawakkal

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …