Langsung ke konten utama

Duet Fenomenal yang Mungkin Pernah Jadi Teman Tumbuhmu

Hampir semua orang menyukai musik. Musik seolah menjadi bagian dari hidup, tak hanya sebagai hiburan, tapi bisa juga jadi ajang untuk mewakilkan perasaan.

Ada beragam genre musik, meski mungkin di telinga kita tak semuanya terdengar asik. Tapi, nggak harus suka dulu untuk kemudian hafal seluruh isi lagu. Biasanya, kita bisa tahu isi lagu karena sekeliling kita memutarnya setiap waktu. Jadi mau nggak mau jadi tahu.

Omong-omong, waktu kecil dulu saya sering mendengar lagu-lagu almarhumah Nike Ardilla, karena Mbak Ita is a big fan of her. Witing tresno jalaran saka kulino, dan dari seringnya mendengar lagu-lagunya Nike Ardilla itulah, saya jadi suka hampir semua lagunya.

Tapi kali ini, saya tak hendak membahas tentang lagu-lagu lady rocker kesayangan itu. Saya mau mendata *duuh, mendata, macam sensus aja* lagu-lagu yang dibawakan secara duet, yang telah menemani masa tumbuh saya dari kecil hingga remaja. Sampai remaja saja yaa, karena pasca SMA, saya jarang mendengarkan musik lewat radio. Menonton acara musik di televisi pun jarang. Jadi lagu-lagu setelah masa SMA, nggak benar-benar merasuk hingga ke jiwa.

Okey, langsung saja ya... Ini dia duet fenomenal yang menemani masa tumbuh saya dari kecil hingga remaja;

1. Inka Christie – Amy Search

"Bulan madu di awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita tak kan terpisah..."

Zaman dulu antara musisi Indonesia dan Malaysia memang akur ya. Lagu-lagu Indonesia pun punya warna yang senada dengan lagu-lagu Malaysia. Slow rock, dengan range nada yang panjang.

Nah, duet Inka Christie dan Amy Search di lagu yang berjudul “Cinta Kita”, terdengar di telinga saya entah di umur saya yang ke berapa. Pokoknya saya masih piyik deh, dan waktu itu TV rumah hanya bisa menangkap dua stasiun TV, apa lagi kalau bukan TPI dan TVRI? Dan lagu ini kayaknya sering banget diputar di acara “Album Minggu Kita”.

Sebenarnya mereka berdua berduet tak hanya di lagu ini saja, tapi yang paling fenomenal ya lagu “Cinta Kita” ini. Sampai sekarang saya masih sering mendengarnya, terutama kalau sedang di Majalengka, haha.. Soalnya Ayah dan Mamah mertua sukanya mutar lagu ini di mobil. Asik sih, meski suami saya suka pusing dengarnya. Yah, seleranya emang beda.

2. Ruth Sahanaya – Katon Bagaskara

Mereka berdua membawakan lagu berjudul “Usah Kau Lara Sendiri”. Waktu pertama kali melihat video klipnya, saya takut. Asli. Saya ngeri melihat wajah si model video klip yang kurus kering dan di tangannya terpasang selang infus. Lagu itu memang berisi dukungan pada sahabat yang terkena AIDS.

Saya dulu sempat bertanya pada ibu, AIDS itu apa? Tapi apa tepatnya jawaban ibu saat itu, saya tak mampu mengingatnya. Pokoknya intinya, kalau sudah terkena AIDS, maka sakitnya ngga akan bisa disembuhkan. Kan, makin seram.

Tapi setelah besar, lagu itu saya dengarkan kembali, dan saya jadi menyukainya. Musikalitas Ruth Sahanaya dan Katon Bagaskara, siapa sih yang akan meragukannya? Suara keduanya berpadu sempurna, meski berbeda warna.

Dan lagu cinta, tak harus melulu berkisah tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran, kan? Pada sahabat pun, cinta bisa dengan apik dilagukan.


3. Broery Marantika – Dewi Yull

Diantara dua duet sebelumnya, mungkin pasangan ini yang paling awet jadi teman duet. Ada beberapa lagu yang mereka bawakan bersama-sama, diantaranya: Jangan Ada Dusta Diantara Kita, Rindu Yang Terlarang, dan Kharisma Cinta.

Kalau lagu “Jangan Ada Dusta Diantara Kita” di-recycle oleh Rossa dengan tetap berduet bersama Almarhum Broery Marantika, lagu “Kharisma Cinta” dinyanyikan ulang oleh Rio Febrian dan Margareth.

4. Ari Lasso – Melly Goeslaw

Siapa yang nggak suka lagu berjudul “Jika”? Itu lagu easy listening banget. Rugi kalau nggak suka, hihi.. Lagu ini jadi lagu pertama yang dibawakan Ari Lasso pasca keluar dari grup band Dewa 19. Di lagu itu, Melly Goeslaw belum "sebesar" sekarang, hihi... Besar dalam artian sebenarnya lho yaa, haha...


5. Reza Artamevia - Masaki Ueda

Lagu "Biar Menjadi Kenangan" yang dibawakan Reza Artamevia dan Masaki Ueda ini ada saat saya masih SMP. Reza yang terkenal lewat lagu "Pertama" yang juga lekat dengan tarian seksi di dinding ini, menorehkan sejarah karena berduet dengan penyanyi senior kerkebangsaan Jepang.

Lagu ini juga dibuat dalam versi Jepang dengan judul "Forever Peace" dan versi Inggris dengan judul "The Last Kiss". Keren ya?


6. Shanty - Marcell

Ada yang ingat lagu berjudul "Hanya Memuji"? Lagu ini juga menemani masa-masa galau SMP saya dan sering banget diputar di radio.


7. Melly Goeslaw - Eric

Melly Goeslaw saat itu memang lagi hobi duet dengan penyanyi cowok. Setelah berduet dengan Ari Lasso, ia pun menggandeng penyanyi baru bernama Eric untuk membawakan lagu "Ada Apa Dengan Cinta" sebagai OST film AADC.

Setelah itu, ia kembali berduet dengan penyanyi cowok bernama Jimmo, untuk soundtrack film "Eiffel I'm in Love" dengan judul "Pujaanku". Tak berhenti disitu, Melly Goeslaw kembali membuat soundtrack film dan berduet dengan Andhika Pratama dengan lagunya "Butterfly".

Melly Goeslaw juga sempat berduet dengan Opick untuk menyanyikan lagu religi berjudul "Takdir". Duh, lagu-lagunya Melly emang bagus-bagus deh. Setidaknya, untuk telinga saya.


8. Agnes Monica - Ahmad Dhani

Agnes Monica dan Ahmad Dhani berkolaborasi dalam lagu berjudul "Cinta Mati". Karena lagu ini, mereka pernah digosipkan menjalin sebuah hubungan. Lagu ini menemani saya saat SMA.

Selain lagu duet dengan Ahmad Dhani, lagu duet Agnes Mo yang juga menemani masa remaja saya adalah lagu duetnya dengan Yana Julio dalam lagu "Awan dan Ombak" dan Titi DJ dalam lagu "Hanya Cinta yang Bisa".

Dan yang paling nggak bisa dilupakan adalah duetnya bareng Eza Yayang. Inget banget sama video klipnya, mereka terbang pakai baju putih gitu. Sayangnya, saya cari videonya nggak ketemu, cuma lagu aja. Tapi kalau teman-teman kangen, bisa dengerin di sini nih.



9. Anang - Krisdayanti

Terus terang saya sendiri bingung kenapa sampai lupa dengan mereka. Padahal "Makin Aku Cinta" dan "Jangan Tak Setia" tuh masuk dalam playlist saya di JOOX. Kalau bukan Mak Carolina Ratri yang mengingatkan, mungkin hanya ada 8 list duet di artikel ini. Makasiiiih Mak Carra, makasih juga karena udah jadi komentator pertama, padahal belum juga saya share kemana-mana. Duh, jadi terharu. :* :*

Lanjuut..

Oh ya, sebelum dua lagu yang saya sebut di atas, mereka telah dengan mesranya membawakan lagu "Berartinya Dirimu". Itu lho, yang liriknya begini;

Cintailah diriku untuk selamanya
Milikilah diriku untuk selamanya

Gituuu.. Tapi tetep buat saya pribadi, yang benar-benar menemani masa tumbuh saya ya "Makin Aku Cinta" dan "Jangan Tak Setia". Lagu-lagu ciptaan Anang jaman dulu memang asik-asik. Kalau lagu-lagunya yang sekarang, menurut saya agak menurun kualitasnya, hehe... Menurut saya loh ya, nggak tau kalau menurut Mas Anang. LOL



Kayaknya cuma itu saja yang bisa saya ingat. Teman-teman mungkin ada duet favorit juga?

Komentar

  1. Balasan
    1. Oh iya ya Mba.. kelupaan, ntar ditambahkan. Makasiiiih.. 😘😘

      Hapus
  2. Semuanya aku suka, terutama yang Amy sama Inka Cristie, haha

    Itu lagu jaman aku SD

    BalasHapus
  3. Huwaa..iadi kangen lagu2 lawas. Toss mba.. aku juga suka lagu2 itu. Liatnya ya TVRI. Video Musik Indonesia, host nya dian Nitami. Ingat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ini aku nggak tau Mbak.. xixixi.. kalo acara musik yang aku tau malah Clear Top 10 Dewi Sandra sama Bertrand Antolin, jaman SMP

      Hapus
  4. Aku ingetnya Melly sama temen2 duetnya.. duuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lalu aku merasa seleraku amat tua..huhuhu

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Tulisan ini bisa menyebabkan darah tinggi dan emosi yang tak terkendali. Ini murni pendapat saya pribadi. Silakan pergi sebelum kalian sakit hati. :D

Sengaja saya nulis tentang Rina Nose setelah berita tentangnya agak mereda. Karena kalau pas lagi panas-panasnya, takutnya dikira saya mendompleng ketenaran, atau sengaja nyari pageview aja. Haha.. Padahal alasan sebenarnya adalah karena saya baru sempat nulis aja. Harapan saya sih, kalau situasinya sudah agak kondusif, tulisan saya ini bisa diterima dan ditelaah dengan kepala dingin. Nggak pakai emosi lagi.
Emang mau nulis apa sih? Kayak penting aja..haha..
Bukannya mau ngaku-ngaku atau apa, tapi saya dan Rina Nose memiliki beberapa persamaan. Apa sajakah itu?
1. Hidung Pesek
Kata ibu, waktu kecil hidung saya pesek parah. Tapi terus tiap hari ditarik-tarik biar mancung, dan katanya sekarang agak mendingan. Padahal semendingan-mendingannya saya sekarang, ya tetep hidungnya tak bertulang. Dan itu nurun ke Amay.

Jadi, misalnya hidung saya a…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …