Langsung ke konten utama

Berjalanlah di Atas Kekuranganmu, Maka Kamu Akan Unggul Disitu


Belajar dari kakak Fina, ponakan tersayang...
Dulu ia begitu diragukan. Banyak yang khawatir padanya, akankah ia bisa melalui UN SD dengan baik?
Bagaimana tidak? Ia lemah dalam hitung-menghitung. Matematikanya pernah dalam kondisi sekarat. Merah pernah menghiasi raportnya karena pelajaran itu.

Bulan lalu, dalam perjalanan menuju rumah, aku bertanya pada Bapak di atas sepeda motor yang sedang melaju. "Fina gimana ya, Pak? Ujian kan bentar lagi..." (tapi dengan bahasa Jawa yaa...)
"Oh, Fina pinter koq sekarang. Prihatin dia. Tiap hari bangun jam setengah 4, belajar." kata Bapak.
Dalam hati aku bersyukur dan berdo'a, semoga Allah memudahkannya dalam menuntut ilmu.

Minggu lalu saat pulang lagi ke Purworejo, Fina dengan senyumnya yang terkembang berkata, "Ne (panggilannya padaku), prediksi nilai matematikaku, aku salah 3." Terlihat sekali ia sangat bahagia.
"Wah, yang bener, Kak?" tanyaku tak percaya. "Wah, siap-siap dana nih..ehehe" ujarku yang memang menjanjikan hadiah jika ia lulus dengan nilai di atas 25.
Bundanya, yang merupakan kakak perempuanku, lantas bicara. "Kemarin soal UN-nya dibahas sama Bu Gurunya. Anak-anak kan disuruh nyatet jawabannya. Katanya Fina salah 3."
"Tapi IPA aku salah 7..." kata Fina lagi.
"Bearti nilainya berapa?" tanyaku.
"Soalnya kan 40, berarti bener 33." Jawabnya
"Wah, 8,25 dong, Kak?"

Dan kemarin, hari yang ditunggu telah tiba. Nilai UN-nya sudah keluar.
Jumlahnya 26,90
Nilai Bahasa Indonesia, 9,40
Matematika 9,25
IPA 8,25
Mungkin bagi sebagian orang, nilai ini tergolong biasa saja. Tapi bagiku, bagi Fina, bagi keluarga, nilai ini sungguh luar biasa jika mengingat performanya di bulan-bulan, semester-semester dan tahun-tahun lalu.

Walaupun pengetahuan tak hanya dilihat dari nilai yang kamu dapat.
Tapi pelajaran, bahwa tak ada yang tak mungkin jika kamu mau, mengingatkan aku untuk tidak pernah menyerah.

Selamat ya, Kakak... Ane bangga sama Kakak... :)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …