Bacaan Gharib: Saktah, Tashil, Imalah, Isymam, dan Naql

Friday, May 29, 2020


Assalamu'alaikum, teman-teman... Bagaimana Ramadhan kemarin? Target khatamnya bisa terpenuhi? Bisa dong ya, insya Allah. Omong-omong, pasti saat tadarus secara intens di Ramadhan kemarin, teman-teman sempat ketemu dengan Saktah, Tashil, dan kawan-kawannya kan? Kali ini saya mau bahas tentang tata cara membaca bacaan Gharib pada Al-Qur'an ini.

Sebelum ke Saktah, Tashil, dkk, saya mau cerita dulu nih.

Jadi belasan tahun silam, saat ngaji bareng ibu-ibu kompleks di Cilebut, Bogor, oleh ustadz Na'im saya diminta untuk membaca potongan Surah Yasin. Ketika sampai di sebuah ayat, guru saya yang saya panggil Ummi, memotong,

"Arin, itu Saktah." Kata beliau.

Saya bingung. Saktah? Baru denger, Ya Allah.

Tahu saya kebingungan, Ummi pun menjelaskan, "Kalau ketemu Saktah, berhenti 2-4 harakat, tapi jangan nafas."

Setelah itu, saya pun melanjutkan bacaan sesuai dengan arahan beliau. Oya, ayat yang saya maksud adalah ini;

Bacaan Saktah
Waktu itu saya malu banget, merasa bodoh karena ilmu saya ngga sebanding dengan jilbab yang saya kenakan. Namun, sekarang saya malah bersyukur. Alhamdulillah, saat itu saya tidak menolak saat disuruh membaca, sehingga saya tahu di mana letak kesalahan saya. Alhamdulillah lagi, guru saya langsung memberi penjelasan tentang Saktah saat itu juga, dan itu melekat pada saya sampai hari ini. :)

Nah, sekarang kita bahas tentang Saktah, Tashil, dkk, yuk! Sebenarnya, Saktah dan Tashil merupakan salah dua dari 5 jenis bacaan Gharib. Bacaan Gharib itu apa saja?


1. Saktah


Saktah artinya diam atau tidak bergerak. Pada saat menemui bacaan Saktah, yang kita lakukan adalah berhenti sejenak sebelum membaca bacaan berikutnya, tanpa mengambil nafas selama 2 sampai 4 harakat.

Bacaan Saktah contohnya ada di Surat Yasin di atas. Ada juga di Q.S. Al-Muthaffifiin ayat 14. 

Bacaan Saktah
Setelah mengetahui tata cara membaca bacaan Saktah, semoga nanti ketika teman-teman tadarus, teman-teman bisa mempraktikkannya, yaa.. 😊


2. Tashil


Tashil secara bahasa berarti memberikan kemudahan atau keringanan, atau dengan kata lain menyederhanakan. Secara istilah, Tashil adalah membaca antara hamzah dan alif. Tashil dibaca dengan meringankan bacaan hamzah yang kedua.

Bacaan Tashil ada di Q.S. Fussilat ayat 44. 

Tashil


Mengutip pontren.com, mengapa bisa ada bacaan tashil, karena apabila ada dua hamzah qatha' bertemu dan berurutan pada satu lafadz, bagi lisan orang Arab akan terasa berat melafadzkannya, sehingga lafadz tersebut ditashilkan atau diringankan.


3. Imalah


Selanjutnya adalah Imalah. Imalah artinya memiringkan. Bacaan Imalah ada pada Q.S. Hud ayat 41.

Bacaan Imalah
Pada bagian ini, lafadz "majroha" dibaca "majreha".

Mengapa lafadz "majroha" diimalahkan? Mengutip pontren.com, salah satu alasannya adalah sebagai pembeda, sebab "majroha" berarti berjalan di darat, sedangkan di ayat tersebut, konteksnya adalah perjalanan di permukaan air. Kecenderungan perjalanan di permukaan air adalah tidak stabil (terkadang diterjang ombak kecil, ombak besar, atau terhempas angin), tidak seperti perjalanan darat. Sehingga, lafadz "majroha" pun diimalahkan.


4. Isymam


Isymam secara bahasa, memiliki arti menggabungkan, memadukan atau mencampurkan. Secara istilah, isymam adalah menghimpun dua bibir untuk mengiringi huruf yang sukun sebagai isyarat dhammah dengan tanpa suara atau nafas. 

Bacaan isymam ada di Q.S. Yusuf ayat 11. 

Bacaan Gharib

Lafadz "manna" dibaca seolah bibir mengucapkan "manuna", namun "nu"nya hanya sekadar diisyaratkan dengan memanyunkan/memajukan bibir.


5. Naql


Naql artinya memindah. Secara istilah, Naql berarti memindahkan harakat ke huruf sebelumnya. Naql terdapat di Q.S. Al-Hujurat ayat 11. 

Naql

Pada lafadz yang saya lingkari, "bi' sal ismu" dibaca "bi'salismu". Jadi, hamzah washal yang mengapit huruf lam tidak perlu dibaca. Sehingga, benar bila tujuan bacaan Naql adalah untuk memudahkan dalam membacanya.


Nah, teman-teman, kita sudah belajar tentang bacaan Gharib hari ini. Nanti pada saat mengajari anak-anak mengaji, insya Allah kita bisa ajarkan pada anak-anak juga ilmunya. Oya, tulisan di atas saya rangkum dari beberapa sumber, terutama pontren.com, yaa.. Tulisan ini juga sekaligus menjadi motivasi bagi saya, supaya saya semakin rajin mempelajari Al-Qur'an setiap harinya. Semoga bermanfaat, yaa.. Kalau ada yang mau menambahkan, jangan ragu untuk berkomentar, yaa.. 😊



Read More

Suka Duka Menjadi Seorang Perantau

Tuesday, May 19, 2020


'Merantau' dalam KBBI berarti berlayar, karena sesungguhnya kata 'rantau' artinya adalah pantai sepanjang teluk (sungai) atau pesisir. Namun, seiring dengan berkembangnya sebuah bahasa, kata 'merantau' mengalami perluasan makna. Setiap orang yang keluar dari daerahnya lalu tinggal di daerah lain (jauh atau tak seberapa jauh) untuk mencari penghidupan, ilmu, dan sebagainya, ia disebut perantau.

Saya sendiri sudah merantau sejak lulus SMA. Sebelum akhirnya menikah dan menetap di Solo hingga saat ini, saya mengajar dan belajar di Bogor selama kurang lebih 4 tahun.

Seperti yang sudah saya ceritakan di instagram @arinta.adiningtyas beberapa waktu lalu, saya meninggalkan Kota Hujan itu tepat saat libur kenaikan kelas 10 tahun lalu. Mengapa mengambil waktu di libur kenaikan kelas? Karena saat itu saya masih mengajar, sehingga saya harus menyelesaikan kewajiban saya hingga rapor anak didik saya selesai dibagikan.

Nah, sebelum pindah ke Solo, setiap hari saya selalu pergi ke tempat di bawah ini. Yap, ini adalah Stasiun Cilebut. Dari Stasiun Cilebut, saya menumpang KRL menuju Stasiun Bogor. Setelah itu saya menyambung perjalanan dengan menggunakan angkot menuju Kecamatan Ciomas. TK tempat saya mengajar tak jauh dari situ.


Stasiun Cilebut
Stasiun Cilebut, Bogor


Menjadi perantau memang tak mudah. Banyak suka dukanya. Dalam kondisi apapun, seorang perantau harus pandai menata hati, pandai bersabar, dan pandai menerima kenyataan. Meski begitu, pengalaman merantau mengajarkan saya banyak hal;


1. Kesempatan untuk Mengembangkan Diri


Ketika kita sudah sampai di tanah rantau, artinya perjuangan untuk bertahan hidup telah dimulai. Ngga bisa lagi bermanja-manja, karena kita tinggal jauh dari orang tua. Untuk itu, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan segala "tuntutan peran". Kemampuan kita saat menjalani tuntutan peran itu akan menentukan kualitas kita selanjutnya. Maka dari itu, tak salah jika merantau menjadi momen pengembangan diri, bukan?

2. Menambah Pengalaman


Tentu akan berbeda, pengalaman antara orang yang tidak pernah ke mana-mana dengan orang yang sering menjelajah ke berbagai tempat. Benar, kita memang bisa mengetahui banyak hal dengan membaca. Namun, merantau memberikan pengalaman yang bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga melingkupi apa yang dilihat dan apa yang dirasa.

3. Memupuk Toleransi


Tentu kita sudah sering mendengar peribahasa "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya" yang artinya setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda. Nah, semakin banyak daerah yang pernah kita kunjungi, kita jadi lebih mudah untuk menghargai dan menghormati setiap perbedaan. Maka, jika ada orang yang sulit sekali menerima perbedaan, mungkin memang "mainnya kurang jauh".

4. Memperluas Pergaulan


Manusia adalah makhluk sosial. Di mana pun manusia akan selalu membutuhkan orang lain, meski hanya sekadar teman bicara. Nah, saat merantau entah untuk menempuh pendidikan atau untuk mencari penghidupan, kita "dipaksa" untuk mendapatkan lingkungan pergaulan yang baru. Dengan kata lain, dengan merantau jumlah teman pun akan bertambah dengan sendirinya.

5. Semakin Menghargai Keberadaan Keluarga


Memang benar, saat jarak memisahkan, kita baru akan sadar pentingnya kehadiran seseorang. Termasuk kehadiran keluarga, yang kadang tidak kita sadari dukungannya selama ini. Dengan merantau, kelak kita akan semakin menghargai setiap pertemuan. Kita juga akan lebih mudah berterima kasih untuk setiap hal yang telah orang tua kita berikan.


Nah, seperti halnya orang berpuasa yang senantiasa menantikan saat berbuka, perantau pun selalu menantikan saat-saat bisa pulang ke kampung halaman. Biasanya, itu terjadi di momen mendekati lebaran seperti hari ini. Namun, tahun ini ada banyak jiwa yang harus pasrah dengan keadaan. Kita semua harus mengikhlaskan kenyataan tak bisa mudik seperti tahun-tahun sebelumnya, karena wabah yang melanda di seluruh dunia.

Untuk menghadapinya, hanya ada satu kata untuk melipur lara. Sabar. Insya Allah akan ada waktunya kita bisa kembali berkumpul bersama. Tetap semangat, jaga kesehatan, jaga kewarasan, jangan ke mana-mana. Yuk, kita di rumah aja.



Read More

Hal-Hal yang Saya Syukuri Saat Berpuasa di Tengah Pandemi

Thursday, May 7, 2020


Puasa kali ini amat sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ya... Tidak tarawih di masjid, tidak bisa mudik, banyak yang kehilangan pekerjaan, ada yang dirumahkan, gaji dipotong, ngga dapat THR. Banyak cerita sedih pokoknya. Namun, di tengah "kesengsaraan" ini, insya Allah masih ada hal-hal yang patut kita syukuri. Ya, memang harus membuka mata lebar-lebar untuk bisa melihat hikmah dari setiap musibah, karena hikmah itu letaknya tersembunyi.

Yuk, coba lihat lagi, apa saja yang tidak ada di puasa tahun lalu, tapi bisa kita temukan di tahun ini? Sejauh ini, inilah yang saya dapati:

1. Tidak ada mercon

Mercon atau petasan biasanya menjadi salah satu hal yang mewarnai Ramadhan. Namun, seseru-serunya main mercon, tetap saja banyak mudharatnya. Di antaranya adalah;
  • Berbahaya. Sudah banyak cerita kecelakaan karena petasan. Salah satu saudara saya bahkan harus kehilangan tangannya karena benda ini.
  • Berisik.
  • Mubazir. Iyaa, kalian bisa bilang, membeli petasan sama dengan membeli kebahagiaan. Tapi masa ngga ada cara berbahagia yang lain sih? Yang lebih aman dan ngga merugikan orang lain?
Alhamdulillah, berkah pandemi covid 19, bulan Ramadhan ini terasa lebih tenang. Mungkin karena kondisi saat ini yang memang mengharuskan kita untuk lebih berhemat, mungkin juga karena anjuran untuk #dirumahaja. Apapun itu, alhamdulillah. :)

2. Jadi Lebih Kreatif

Banyak teman yang karena suntuk di rumah melulu, jadi terdorong untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin dilakukan di masa sibuk dulu. Ada yang kembali menekuni hobi, ada yang justru menemukan passion baru.

Saya? Saya kini jadi rajin memasak. Kalau dulu saya suka stres saat harus ke dapur, sekarang, memasak malah menjadi salah satu cara stress reliever. Bisa berkebalikan gitu yak? Heran, wkwkwk... Alhamdulillah, di instagram banyak bertebaran resep-resep yang terlihat mudah untuk dicoba, dengan bahan-bahan yang harganya terjangkau dan mudah ditemukan di warung dekat rumah. Dan akhirnya, rasa penasaran pun mendorong saya untuk mencoba. :)

Apa saja yang sudah saya coba?

Pie Susu Teflon
Pie Susu Teflon

Pie Susu Teflon
Pie Susu Praktis

  • pie susu teflon
  • pizza teflon
  • donat
  • cireng
  • risoles mayones

Selanjutnya, saya ingin mencoba resep lainnya, seperti:
  • cilok
  • pastel
  • chicken eggroll
  • pempek
Ini adalah salah satu upaya positif untuk menangkal rasa bosan di tengah pandemi, ya kan?

Update terbaru, saya sudah mencoba resep cilok. Hihi, alhamdulillah semua suka, meski tingkat kekenyalannya masih harus diperbaiki sih. :)

Cilok
Cilok

3. Menebalnya Empati

Alhamdulillah, bulan Ramadhan ini banyak sekali gerakan-gerakan untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan. Musisi-musisi melakukan konser amal, masyarakat pun bahu-membahu mengumpulkan rupiah demi rupiah melalui situs fundraising. Alhamdulillah, masih banyak orang baik. Alhamdulillah, masih banyak yang memiliki hati nurani. Tak usahlah melihat Ferdian Paleka, karena hanya akan menaikkan emosi saja.

Lihat yang seperti ini, physical distancing itu berjarak secara fisik, bukan hati. Salut untuk Pak Steven Indra. :)


Cara Berbagi di Masa Pandemi

4. Lebih Merasakan Makna Puasa

Inti dari puasa sebenarnya adalah menahan. Ya kan? Dulu-dulu, puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus di waktu siang, lalu sore harinya berburu takjil secara berlebihan. Jelang lebaran, rela berdesak-desakan di pasar atau mall untuk berburu pakaian. Kalau lelah, tanpa rasa dosa puasanya dibatalkan.


Insya Allah pembaca kayusirih tidak begitu, yaa... Tapi yang seperti ini ngga sedikit, lho. Saya pernah melihat sendiri soalnya.

Nah, adanya pandemi seperti sekarang ini, seolah-olah Allah ingin mengingatkan kita lagi. Allah memaksa kita untuk benar-benar menahan diri. Tahan, sabar, ada hal yang lebih penting untuk didahulukan. Puasa bukan sekadar menahan haus dan lapar, dan lebaran bukan sekadar berganti pakaian.

Duh, jadi berat begini bahasannya. Hehehe.. Kalau kalian, apa saja yang kalian syukuri di Ramadhan kali ini?



Read More