Beberapa Ide Berbagi Kebaikan di Bulan Ramadan

Wednesday, May 22, 2019


Bulan Ramadan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan. Menurut Wikipedia, Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab yaitu ramida atau ar-ramad, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Al-Qurthubi menjelaskan dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/291, "Dinamakan bulan Ramadhan karena ia menggugurkan/membakar dosa-dosa dengan amal shalih." Maka wajar jika umat muslim berlomba-lomba untuk berbagi kebaikan di bulan yang mulia ini.

Nah, kayusirih punya beberapa ide berbagi baik yang bisa teman-teman lakukan untuk menambah amalan baik di bulan Ramadhan. Ya, selain amalan-amalan wajib yaitu shalat dan puasa, ada hal-hal yang mungkin terlihat kecil bagi kita, namun jika kita ikhlas melakukannya, insya Allah kita akan memperoleh keberkahan.

1. Mendoakan Orang Lain

Berdoa merupakan salah satu ibadah termudah. Dan doa orang yang berpuasa, adalah salah satu dari tiga golongan doa yang tidak tertolak. Maka dari itu, manfaatkanlah momentum ramadan ini untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Allah sudah berjanji bahwa Dia pasti akan mengabulkan doa kita, meski kita tak pernah diberi tahu kapan Dia akan mengabulkannya.

Baca juga : Kapan Do'a Dikabulkan?


doa yang mustajabah


Nah, setelah mengetahui keutamaan berdoa di bulan ramadan, jangan pelit untuk mendoakan sesama, ya, teman-teman. Ibarat pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, sesungguhnya memiliki makna yang sama. Tak hanya bemanfaat untuk orang yang didoakan saja, namun doa itu pun akan kembali kepada kita.

Rasulllah SAW bersabda, "Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat 'Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu'." (HR Muslim: 4094)

2. Memudahkan Urusan Orang Lain

Terkadang, untuk menunjukkan superioritas, seseorang kemudian mempersulit urusan orang lain. Padahal sikap seperti ini merupakan suatu contoh kemudharatan. Ada dua bentuk kemudharatan yang harus kita tahu dan sebisa mungkin harus kita hindari, yaitu;

- Bentuk pertama --> Menghalangi mashlahat yang seharusnya diterima oleh orang lain.
- Bentuk kedua --> Memberi kemudharatan secara langsung kepada orang lain, seperti mengganggu atau menyakiti atau membuat cemas, dll.

Satu nasihat kecil yang berbunyi "jika tidak mampu membuat orang lain bahagia, setidaknya jangan membuatnya sedih" sebaiknya harus kita jadikan gaya hidup. Jika ini sudah menjadi kebiasaan, insya Allah hidup kita akan lebih tenang dan tentram.

Mari kita isi hari-hari kita dengan kebaikan. Tak hanya di bulan ramadan saja, namun di hari-hari setelahnya juga. Mudahkanlah urusan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan urusan kita pula.


Mudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusanmu


3. Berbagi Kebaikan, Sekecil Apapun Itu

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di bulan ramadan, kebaikan sekecil apapun akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Maka dari itu, jika ada rezeki lebih, sisihkan sebagian rezeki itu untuk orang lain yang membutuhkan. Bila perlu hitung harta kita, tunaikan zakat maal-nya.

Seperti KEB Chapter Solo yang insya Allah pada hari Sabtu, 25 Mei 2019 akan menyerahkan donasi dari teman-teman untuk Panti Jompo Aisyiyah yang terletak di Jalan Pajajaran Utara III No 7, Sumber, Kec. Banjarsari, Surakarta. Panti Jompo Aisyiyah ini adalah panti yang menampung lansia yang rata-rata sudah tidak memiliki keluarga, "dititipkan" keluarga karena tidak mampu, atau tunawisma. Mereka tidak dipungut biaya sama sekali, dan menurut informasi, biaya operasional panti jompo ini hanya mengandalkan bantuan dari donatur. 



Ada dua area di panti ini. Satu area untuk lansia yang masih bisa beraktivitas dan satu area lainnya yang merupakan area isolasi, diperuntukkan bagi lansia yang sudah sangat renta/bobrok yang segala aktivitasnya dilakukan di tempat tidur.

Tak hanya donasi uang, kami juga menerima bahan pokok, popok dewasa, perlengkapan mandi, dll. Cek instagram @emakbloggersolo untuk info lebih lanjut, yaa..

Misal di sekitar teman-teman belum ada gerakan penggalangan dana seperti ini, tidak perlu bingung kebaikan seperti apa yang akan kita bagi. Berbagi takjil kepada para tetangga, juga merupakan sedekah. Senyum, salam, dan sapa saat bertemu dengan tetangga juga merupakan sedekah. Menyingkirkan batu di jalan juga merupakan sedekah.

Ya, sedekah itu mudah. Berbagi baik itu mudah. Mari berlomba-lomba melakukan kebaikan, semoga apa yang kita lakukan dapat menjadi bekal saat nafas tak lagi mampu kita hembuskan.




Read More

Merencanakan Liburan Pasca Lebaran

Tuesday, May 14, 2019


Ramadhan sudah memasuki hari ke-9, artinya, insya Allah 3 mingguan lagi kita akan merayakan hari raya lebaran. Dan seperti kebiasaan kami saat lebaran, insya Allah kami akan mudik mengunjungi orang tua.

Saya dan suami memang sama-sama merantau di Kota Bengawan ini. Suami berasal dari Majalengka, Jawa Barat, sedangkan saya lahir dan besar di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yaitu Purworejo.

Untuk pulang ke rumah orang tua saya di Purworejo sih, cukup mudah. Tersedia kereta api Prameks atau Prambanan Ekspres dari Solo dengan tujuan akhir stasiun Kutoarjo, yang harga tiketnya hanya 15 ribu rupiah saja. Kereta ini pun beroperasi setiap hari sebanyak 4 kali dan tiketnya bisa dipesan sejak H-7 sebelum keberangkatan.

Nah, untuk ke Majalengka, biasanya kami menumpang kereta sampai stasiun Cirebon. Dari Cirebon, kami akan dijemput oleh mertua atau adik ipar. Perjalanan dari Cirebon sampai Majalengka sendiri memerlukan waktu sekitar 1 jam jika lancar.


Apa yang kami lakukan saat lebaran di Majalengka? Selain mengunjungi sanak saudara di sana, kami juga menyempatkan untuk berwisata. Seperti tahun lalu, kami berjalan-jalan ke Waduk Darma dan Objek Wisata Cibulan di Kuningan.

Gunung Ciremai dilihat dari Waduk Darma


Untuk tahun ini, kira-kira kami mau ke mana ya? Karena libur lebaran sangat mepet, jadi sepertinya kami tidak akan berjalan-jalan di sekitar Majalengka atau Bandung. Masalahnya, setelah lebaran anak-anak harus masuk sekolah selama seminggu, kemudian pembagian rapor. Baru setelah rapor dibagikan itu, mereka akan menikmati libur panjang kenaikan kelas. Memang tanggung banget yaa... Kenapa sih, nggak bablas saja liburnya? Hihi, maunyaaa...

Nah, karena libur kenaikan kelas itu insya Allah akan berlangsung sebulan lebih, jadinya nggak mungkin kami diam saja di rumah kan? Hihi, bisa bosen dong.. Saya dan suami sih ingin jalan-jalan ke Jawa Timur, antara kembali ke Malang atau bertualang ke tempat baru di Banyuwangi.

Kami memang pernah ke Malang beberapa tahun lalu, dan belum puas sebenarnya karena di sana hanya dua hari. Padahal, Malang itu bikin betah kotanya. Sejuk udaranya, banyak tempat wisatanya.


Museum Satwa di Jatim Park 2

Tapi suami juga ingin mengajak kami ke Banyuwangi. Kebetulan tahun ini beliau bolak-balik ke sana untuk suatu proyek. Memang sih, kalau mendengar suami bercerita tentang penjelajahannya di Banyuwangi, saya jadi penasaran juga. Tapi jika harus berkereta selama 12 jam, apa betah?

Okelah, dulu waktu masih single, perjalanan selama 2 hari pun masih oke-oke aja. Tapi mengingat usia tulang yang kian menua (xixixi, lebay ya?) juga mengingat dua anak laki-laki yang banyak tingkahnya, saya enggan membayangkan bagaimana perjalanan ke Banyuwangi jika kami nekat berkereta api. 

Naik pesawat saja, gimana? Baiklah, mari kita cek harga tiket pesawat ke Banyuwangi, yaa... Saya pakai Pegi-pegi, karena kata teman-teman, di sini banyak promonya.




Ternyata hanya ada 1 flight saja dari Jogja. Harga tiketnya pun lumayan. Maklum ya, berempat soalnya, jadi mesti benar-benar perhitungan, xixixi...



Ide selanjutnya, gimana kalau terbangnya ke Surabaya aja, lalu dari Surabaya sewa mobil untuk beberapa hari ke depan? Dari sini malah bisa mampir ke Malang juga, wkwkwk tetep...




Lah, sama aja dong capeknya, ya? Mending mana, naik kereta dari Solo langsung ke Banyuwangi sana, apa pakai pesawat ke Surabaya, lalu dari Surabaya sewa mobil sekalian mampir-mampir ke Malang? 

Opsi kedua sepertinya oke juga, ya... Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.






Sepertinya pilihan kedua saja, ya... Kalau ke Surabaya pun, selain bisa sekalian silaturrahim ke saudara-saudara di sana, kami juga bisa saving hampir separuh untuk harga tiket pesawat. Nggak capek, dan bisa sekalian ke Malang, ya nggak? Bismillah deh, semoga diberi kelapangan rezeki dan kesehatan supaya bisa jalan-jalan bersama keluarga. Aamiin YRA.



Read More

Jangan Takut Berbagi, Banyak Hal Bisa Kita Raih Setelah Kita Ikhlas Memberi

Saturday, May 11, 2019

Di suatu pagi, bapak menelepon saya sambil bercerita. Pagi itu ketika beliau menyapu halaman depan yang kotor oleh daun yang berguguran, seorang tetangga datang. 

"Pak Sun," sapa tetangga kami itu. Bapak menghentikan ayunan sapu lidi di genggaman tangannya, kemudian menjawab sapaan yang tadi ditujukan padanya.

"Aku nyuwun tulung, Pak Sun." Lalu mengalirlah seluruh keluh kesahnya. Anaknya sedang sakit, dan beliau sama sekali tidak memiliki pegangan.

Usai mendengar curahan hati tetangga kami tadi, tanpa pikir panjang bapak langsung masuk ke dalam rumah. Diambilnya satu dari dua lembar uang ratusan ribu yang tersisa di dalam dompetnya, lalu diberikannya uang itu pada tetangga kami yang sedang menunggu di halaman. Sedianya, uang itu akan digunakan untuk beliau makan dan membayar tagihan listrik. Tapi entah saat itu, kata bapak, beliau tidak memikirkan itu semua. Beliau hanya fokus pada tetangga yang sedang membutuhkan uluran tangannya.

Setelah mengucapkan terima kasih hingga berkali-kali, tetangga kami tersebut pulang ke rumahnya, dan bapak pun melanjutkan kegiatan menyapunya. Belum lagi selesai menyapu, teman saya datang membawakan uang yang saya titipkan. Ya, sehari sebelumnya saya memang mengirimkan sejumlah uang ke rekening teman saya itu karena bapak tidak memiliki rekening, dan teman saya baru sempat mengambil uang tersebut keesokan harinya.

Saya mengirimkannya tanpa memberi tahu bapak sebelumnya. Kejutan ceritanya, hehe... Alhamdulillah, kebetulan saat itu saya mendapatkan rezeki lebih, sehingga bisa mengirimi bapak sedikit uang.

Setelah menerima uang dari teman saya tadi, bapak segera menelepon saya dan menceritakan kejadian sebelumnya. Bapak tergugu, betapa Allah sangat cepat mengembalikan uang yang baru beberapa menit lalu dikeluarkannya.

Ya, inti dari cerita di atas adalah, ketika bapak tidak ragu-ragu untuk berbagi kepada tetangga, beliau tidak memusingkan besok akan makan apa dengan uang yang tersisa, di situlah Allah menunjukkan kebesarannya. Allah sesungguhnya telah menyiapkan penggantinya lewat saya, lewat teman saya sebagai perantaranya, dan itu tidak diketahui oleh bapak sebelumnya.



Memberi itu mengayakan, begitu bunyi sebuah nasihat. Namun kekhawatiran-kekhawatiran kitalah yang biasanya membuat niat baik itu tersendat. Khawatir jika Allah tidak akan mengembalikan sedekah kita, khawatir jika apa yang kita sedekahkan membuat kita tidak bisa makan, dll. 

Padahal, Allah sudah berjanji dalam Q.S Al-Baqarah : 261, "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Namun, meski kita tahu bahwa Allah pasti akan mengembalikan secara berlipat-lipat apa yang sudah kita sedekahkan, jangan sampai niat kita bersedekah menjadi kotor karenanya. Luruskan niat bahwa sedekah kita ikhlas karena Allah semata, bukan karena ingin menggandakan harta. Mengapa? Takutnya nanti kita akan kecewa.

Adakah yang pernah begitu? Sedekahnya semata-mata ingin mendapatkan balasan 10 x lipat dalam waktu singkat, dan karena balasan yang ditunggu-tunggu tak juga datang, akhirnya kecewa, lalu malas dan enggan untuk bersedekah kembali?

Jangan sampai begitu, yaa... Ini juga untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa ada beberapa perkara yang bisa membatalkan sedekah, antara lain yaitu;

1. Al-Mann --> Menyebut-nyebut pemberian sedekah di depan orang yang diberi sedekah untuk menunjukkan bahwa ia lebih baik dari orang yang diberinya itu. Hati-hati, karena perbuatan ini mencakup seluruh bentuk sedekah, baik itu kepada teman, tetangga, kerabat, bahkan kepada anak / istri.

Rasulullah SAW bersabda; "Ada tiga golongan yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya, 'Siapa mereka wahai Rasulullah?' Sabda beliau, 'Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki), Al Mannan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu.'" (H.R. Muslim: 106)

Subhanallah, ancamannya menyeramkan sekali. :(

2. Al-Adzaa --> Menyakiti orang yang diberi sedekah. 

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah : 263, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf* lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun."

*) Daripada memberi tapi menyakiti, lebih baik menolak dengan cara yang baik, dan memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari peminta.

Termasuk dalam perbuatan al-adzaa adalah bersikap sombong terhadap orang yang diberi sedekah dan menyakitinya dengan kalimat yang menyakitkannya, atau dengan sesuatu yang mencela kehormatannya dan merendahkan kemuliaan dan kedudukan orang tersebut.

3. Ar-Riyaa' --> Perbuatan seseorang yang menampakkan amalnya karena ingin mendapat pujian dari orang lain. Tidak hanya dalam masalah sedekah saja, tapi dalam setiap amal, perbuatan riyaa' dapat menghapus pahala amal tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah : 264, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riyaa' (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."


Bsimillah, semoga kita terhindar dari sifat di atas ya, teman-teman, agar apa yang kita keluarkan tidak berakhir sia-sia, aamiin YRA. Namun, jangan karena susah menjaga niat, kita lalu putus asa dan memilih untuk tidak bersedekah. Bersedekah atau berbuat baiklah, baik itu secara terang-terangan maupun secara diam-diam. Soal niat, biarlah Allah yang membaca hati kita. :)

Nah, salah satu cara bersedekah diam-diam adalah dengan langsung mentransfer ke lembaga penyalur Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), misalnya ke Dompet Dhuafa.

Dompet Dhuafa Republika adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Kelahirannya berawal dari empati kolektif komunitas jurnalis yang banyak berinteraksi dengan masyarakat miskin, sekaligus kerap jumpa dengan kaum kaya. Dari situ, digagaslah manajemen galang dana kebersamaan dengan siapapun yang peduli kepada nasib dhuafa.

Ada banyak hal yang sudah dilakukan oleh Dompet Dhuafa baik itu di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun pengembangan sosial.

Dompet Dhuafa


Melihat keseriusan Dompet Dhuafa dalam menyalurkan amanah dari para donatur, kayusirih mengajak teman-teman semua untuk ikut menyalurkan Zakat, Infak, Sedekah, maupun Wakaf ke Dompet Dhuafa. Mumpung masih Ramadhan, waktu yang istimewa karena Allah membuka lebar-lebar pintu keberkahan-Nya.

Mumpung masih Ramadhan, mari hitung Zakat Maal teman-teman. Sisihkan pula THR-nya, agar saudara-saudara kita di sana juga bisa merasakan kemeriahan Hari Lebaran.

Jangan takut berzakat, teman-teman... Zakat itu mensucikan harta, menenangkan jiwa, sekaligus membahagiakan sesama. 






Read More

#AyoHijrah Meski Istiqomah Bukan Hal Mudah. Bersama Bank Muamalat Indonesia, Bismillah Lebih Berkah.

Thursday, May 2, 2019

Istiqomah bukan hal mudah
#AyoHijrah

Hijrah menjadi kata yang akrab di telinga beberapa tahun belakangan. Secara harfiah, hijrah adalah berpindah. Namun, di kalangan para sufi dan ulama fiqih, hijrah tak hanya dimaknai sebagai perpindahan secara fisik, geografis, atau perilaku yang kasat mata saja. Lebih dari itu, hijrah merupakan kekuatan batin dalam menyisihkan segala sesuatu selain Allah dari dalam hatinya.

Dibandingkan saat memutuskan untuk berhijrah, sesungguhnya berjuang untuk istiqomah adalah hal yang lebih susah. Apalagi jika setiap hari kita menghadapi godaan di sana-sini. Namun, bukan berarti karena susah lantas kita boleh begitu saja menyerah. Bismillah saja, semoga Allah mempermudah.

Jika diminta untuk menuliskan pengalaman dalam berhijrah, barangkali tiga momen dalam hidup saya di lima belas tahun ke belakang ini layak dikisahkan.


Hijrah Pertama; Jual Perhiasan untuk Bisa Berjilbab


Momen hijrah yang pertama kali saya lakukan adalah saat kelas 3 SMA, saya mengganti seragam sekolah yang tadinya terdiri dari kemeja dan rok pendek, menjadi setelan panjang plus jilbab. Saat itu bulan Agustus 2004, beberapa hari menjelang Hari Kemerdekaan.

Perjalanan saya sampai akhirnya mantap berhijab, bisa dibilang cukup lama. Saya pernah sangat ingin berhijab saat menyaksikan video klipnya Haddad Alwi dan Sulis. Namun keinginan itu perlahan menghilang, dan salah satu penyebabnya adalah karena orang tua yang tidak terlalu men-support. 

Memang di masa itu masih jarang sekali ada anak sekolah yang menggunakan jilbab. Bahkan di kelas saya hanya ada 2 siswi berhijab. Orang tua saya pun beralasan, tak ingin jilbab dijadikan mainan. Khawatirnya, ketika nanti bosan lalu saya copot lagi jilbabnya. Begitu.

#AyoHijrah, source: Instagram Bank Muamalat Indonesia

Setelah melewati naik turunnya iman, keinginan untuk berhijab itu kembali muncul saat saya kelas 3 SMA. Apalagi, satu demi satu teman-teman saya di kelas pun mulai menutup aurat. Berhari-hari saya merayu ibu agar beliau mau membelikan seragam baru. Sampai akhirnya ibu berkata,

"Tanggung, Nduk, sedhela maneh wis lulus. Ibu durung kagungan duit."

Iya sih, memang serba tanggung. Saya sudah kelas 3 SMA dan itu berarti bahwa seragam sekolah hanya akan digunakan dalam beberapa bulan saja. Ini bisa menjadi sebuah  pemborosan di satu sisi, apalagi jika  mengingat bahwa ibu sedang tidak memiliki uang. Tapi karena niat saya sudah bulat, saya kembali bernegosiasi dengan beliau,

"Cincinku dijual wae, Bu, nggo tumbas seragam."

Melihat kesungguhan hati saya, ibu luluh juga. Cincin dan anting saya, saya lepas demi bisa membeli seragam baru. Untuk seragam putih abu-abu dan atasan seragam pramuka, ibu membeli setelan seragam yang sudah jadi. Rok pramuka dibuat dari kain yang sedianya akan dipakai untuk membuat celana bapak.

Adapun untuk seragam identitas sekolah, ibu membeli bahan dan langsung dititipkan ke penjahit. Alhamdulillah, seragam itu bisa selesai dalam waktu 3 hari. Nah, untuk seragam olahraga, kebetulan saya punya celana training pemberian Bulik Ning. Kaosnya saya kirim ke tukang jahit untuk diganti lengan panjang. Ini merupakan ide seorang teman yang juga baru berjilbab. Hihi, alhamdulillah, jadi lebih berhemat karena ternyata, mengganti lengan pendek menjadi lengan panjang saat itu cukup murah, hanya 15.000,- rupiah.

Dan minggu selanjutnya, saya sudah tampil dengan penampilan baru, alhamdulillah.

#AyoHijrah, source: Instagram Bank Muamalat Indonesia

Ya, hijrah itu siap. Saat kita menyadari waktu akan terus berjalan dan dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Saat memutuskan untuk berhijab itu memang saya sering merasa takut kalau-kalau saya tak punya waktu lagi untuk sekadar menutup aurat.


Hijrah Kedua; Merelakan Kekasih Pergi Demi Cinta yang Sejati

Memutuskan untuk berhijab membawa konsekuensi tersendiri bagi saya pribadi. Dari pakaian yang saya kenakan, seringkali orang memandang bahwa pengetahuan agama saya lebih tinggi. Padahal tidak begitu juga. Menutup aurat adalah kewajiban, adapun ilmu dan pemahaman agama, bisa kita pelajari pelan-pelan.

Namun, anggapan orang-orang ini membuat saya termotivasi untuk ikut kajian setiap hari Jumat sepulang sekolah. Bersama Isnaeni, sahabat saya sedari kelas 1 SMP, saya menimba ilmu agama lebih dalam lagi.

Dari kajian-kajian itu, saya menyadari satu kekeliruan. Saya masih pacaran. Batin saya berkata ini salah, tapi di sisi lain saya tetap ingin melanjutkan hubungan ini. Saya beralibi, toh kami tidak pernah bersentuhan. Kami juga tidak pernah jalan berduaan. Kami hanya bertemu saat dia ke rumah, dan itu pun selalu didampingi anggota keluarga yang lainnya.

Sampai akhirnya datanglah hari itu. Di sebuah hari di akhir tahun 2005, di usia saya yang ke 17 tahun, usia di mana seorang remaja biasanya sedang butuh perhatian dan pengakuan akan keberadaannya dari pihak lain selain keluarga, di situlah saya membuat sebuah keputusan yang berat. Hari itu saya melepaskan seseorang yang telah sekian lama menghuni hati ini. Saya merelakannya pergi demi membuktikan cinta saya pada Illahi.

Butuh waktu untuk tak mengingatnya kembali di hari-hari yang saya lewati. Butuh waktu untuk benar-benar merelakannya pergi. Meskipun terkadang saya tergoda untuk menyapanya kembali, tetapi saya selalu berusaha untuk menahan diri.

Kadang ada rasa iri saat melihat teman-teman punya gandengan. Seringkali pula terpikir, “Kenapa aku harus tahu kalau pacaran itu dilarang? Kenapa aku nggak bisa cuek saja jika menyadari sebuah kesalahan? Kenapa aku harus takut sama dosa?” Begitulah, pemikiran-pemikiran bodoh itu seringkali terlintas.

Tapi sesaat kemudian saya disadarkan bahwa itulah cara Allah menyayangi kita. Sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata Allah juga. Seorang sahabat memberi nasihat,
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

#AyoHijrah, source: Instagram Bank Muamalat Indonesia

Ya, meski saya belum tentu layak untuk masuk ke surga-Nya, setidaknya saya sudah berusaha.


Hijrah Ketiga; Menyimpan Uang di Bank Syariah

Proses pencarian jati diri masih saya lakukan sampai hari ini. Dalam pencarian itu, saya terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari ke hari. Saya pernah merasa tak berguna karena saya tak melakukan apa-apa, tetapi perasaan itu perlahan menghilang setelah saya bergabung dalam beberapa komunitas menulis.

Sudah 6 tahun saya menulis di blog, dan 3 tahun ini saya menjalani hobi ini secara profesional. Dari kegiatan ini, alhamdulillah saya mendapatkan teman, wawasan, dan penghasilan. Jika Andrea Hirata dalam buku Padang Bulan-nya mengatakan bahwa “Time heals every wound”, bagi saya, bisa menulis dan bertemu dengan teman-teman baru juga merupakan self healing.

Belakangan, tak hanya komunitas menulis saja yang saya ikuti. Awal tahun ini saya tergabung dalam sebuah komunitas bernama Institut Ibu Profesional (IIP). Tujuan utamanya adalah untuk meng-upgrade ilmu kepengasuhan. Alhamdulillah, dari sini saya bertemu dengan teman-teman baru. Salah satunya adalah Mbak Dian Safrina.

Suatu hari, Mbak Dian memesan buku pada saya. Ya, selain menjadi blogger, usaha sampingan saya adalah berjualan buku. Kegiatan ini bermula karena saya ingin menghadirkan buku bacaan untuk anak-anak, tapi jika terus-terusan membeli, ini berbahaya untuk kantong saya dan suami. Jadi, saya pun ikut berjualan deh, hehe...

Nah, saat Mbak Dian membayar bukunya, Mbak Dian mengajak saya untuk berhijrah. Hijrah apa? Hijrah rekening, hehe... Ke mana? Ke Bank Muamalat Indonesia (BMI). Memang, ketika Mbak Dian menjadi Star of The Day di IIP beberapa waktu lalu, Mbak Dian memperkenalkan dirinya sebagai seorang bankir di bank syariah pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat.


Nah, gambar di atas adalah tangkapan layar saat Mbak Dian mengajak saya untuk hijrah ke Bank Muamalat.

Jika dua kisah hijrah saya sebelumnya dilakukan dengan "memaksakan diri" (Ya, terkadang kita harus memaksakan diri untuk melakukan sebuah kebaikan, bukan?), hijrah yang satu ini tak perlu dipaksa-paksa lagi. Dengan senang hati saya menyambut tawaran Mbak Dian, dan akhirnya kami pun berkencan.



Mbak Dian menawarkan, "Mau buka rekening apa, Mbak Arin? Ada Mudharabah dan Wadiah. Kalau Mudharabah, ada bagi hasil dan ada biaya administrasi. Nah kalau Wadiah, artinya titipan, jadi tidak ada biaya administrasi, tapi Mbak Arin tidak akan mendapatkan bagi hasil juga."

Mendengar penjelasan tersebut, saya memutuskan untuk memilih Wadiah saja.

Sempat ada sedikit kejadian lucu, karena saya tidak memiliki SIM, juga tidak memiliki NPWP. KTP pun bukan KTP Solo, karena saya masih belum bisa move on dari Purworejo. Mbak Dian sampai gemes, xixixi... Tapi alhamdulillah saat itu saya membawa Kartu Keluarga. Dengan menambahkan NPWP suami, akhirnya rekening saya di BMI pun sudah jadi.

Dengan Mbak Dian Safrina, teman di IIP

Setelah rekening selesai, Mbak Dian membimbing saya untuk mengunduh aplikasi mobile banking Bank Muamalat. Dengan penuh kesabaran, Mbak Dian juga mengajari saya cara mengoperasikannya. Alhamdulillah, jadi nggak bingung deh.


Tentang Bank Muamalat dan #AyoHijrah 

Oya, sejak 8 Oktober 2018 yang lalu, Bank Muamalat Indonesia telah melangsungkan Grand Launching kampanye Ayo Hijrah. Apa sih #AyoHijrah itu dan apa tujuannya?

#AyoHijrah adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama selalu meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan kita dengan Sang Pencipta, tapi juga merupakan jalan hidup (way of life) sehingga #AyoHijrah juga mengajak untuk menjalani hidup sesuai tuntunan Islam, agar hidup kita semakin baik dan berkah.

Tujuan kampanye #AyoHijrah ini adalah, dengan #AyoHijrah diharapkan ada peningkatan kualitas diri, baik secara individu maupun organisasi, untuk semakin kaffah menjalankan syariat Islam, khususnya dalam konteks layanan perbankan syariah. Bank Muamalat juga bercita-cita untuk menyetarakan pertumbuhan nasabah bank syariah agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim.

Lalu mengapa masyarakat Indonesia harus hijrah ke Bank Muamalat? Nah, beberapa alasan ini bisa menjawab apa saja yang melatarbelakangi hijrah saya;

1. Bank Muamalat adalah bank pertama murni syariah di Indonesia yang berdiri sejak 1992

2. Bank Muamalat tidak menginduk dari bank lain, sehingga terjaga kemurnian syariahnya

3. Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah

4. Bank Muamalat memiliki produk dan layanan keuangan lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas seperti Mobile Banking, Internet Banking Muamalat dan jaringan ATM dan Kantor Cabang hingga ke luar negeri

Pada tahun 2009, bahkan Bank Muamalat mendapatkan izin untuk membuka kantor cabang di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini menjadikan Bank Muamalat sebagai bank pertama di Indonesia yang mewujudkan ekspansi bisnis di Malaysia. Hingga saat ini, Bank Muamalat telah memiliki 325 kantor layanan, termasuk 1 kantor cabang di Malaysia. Operasional Bank juga didukung oleh jaringan yang luas berupa 710 unit ATM Muamalat, 120.000 jaringan ATM Bersama dan ATM Prima, serta lebih dari 11.000 jaringan ATM di Malaysia melalui Malaysia Electronic Payment (MEPS).

Tentang Bank Muamalat Indonesia

Nah, sejalan dengan kampanye #AyoHijrah ini, produk Bank Muamalat juga berubah nama, seperti:
Tabungan iB Hijrah
Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah
Tabungan iB Hijrah Rencana
Tabungan iB Hijrah Prima
Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
Deposito iB Hijrah
Giro iB Hijrah
Adapun Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Super Ringan dan Fix and Fix, masih dalam proses pengajuan kepada Regulator / OJK

Nah, semoga dengan kampanye #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia bisa menjadi pusat dari Ekosistem Ekonomi Syariah, dan cita-citanya untuk turut membangun industri halal di Indonesia bisa terwujud. Aamiin YRA.


Read More