Rezeki Suami Tergantung Do'a Istri?

Sunday, August 30, 2015



Setelah menikah dan mengikuti suami, praktis saya "hanya" menjadi seorang ibu rumah tangga karena saya memutuskan untuk melepas pekerjaan. Saat itu alasannya karena kami tinggal di kota yang berbeda, suami di Jogja dan saya di kota hujan, Bogor. Tujuh bulan berjauhan, cukup membuat saya lelah secara lahir dan batin. Setiap dua minggu sekali saya menggunakan jasa travel untuk mengunjungi suami di Kota Gudeg itu. Kenapa malah saya yang mondar-mandir alias wira-wiri? Jawabannya, sekalian mencicil memindah barang-barang saya yang ada di Bogor.

Hampir enam tahun kami menikah, dan Alhamdulillah kami sudah memiliki dua balita yang ganteng dan semoga menjadi anak sholih. Untuk kembali bekerja seperti dahulu, rasanya banyak yang harus dipikirkan. Utamanya tentang bagaimana anak-anak saya nanti jika saya tinggalkan? Iya, mungkin beberapa orang lain cukup beruntung karena berdekatan dengan orang tua, sehingga anak-anak bisa dititipkan dengan neneknya. Tapi kami di Solo (suami berhijrah ke Solo) benar-benar sendiri, tak ada sanak saudara.

"Kan ada daycare?", beberapa yang lain coba mengusulkan. Setelah ini pertimbangannya menjadi lain. Jika dihitung gaji yang akan saya terima nanti dikurangi biaya untuk daycare, hasil yang mungkin bisa saya tabung tidaklah banyak, artinya, tidak jauh berbeda antara jika saya bekerja atau jika saya di rumah saja. Lantas? Ya sudah, saya "terima nasib" saja. Toh, suami saya sangat bertanggung jawab pada keluarga. Dengan atau tidaknya saya bekerja, suami bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Menjadi ibu rumah tangga "saja", bukan berarti saya tidak melakukan apa-apa. Saya memang tidak bisa membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga seperti lainnya, tapi setidaknya ada satu hal yang bisa saya lakukan. Berdo'a. Iya, saya selalu berdo'a untuk kemudahan suami mencari nafkah, untuk kesehatannya agar semua pekerjaannya lancar, untuk rezekinya agar berlimpah dan barokah. Saya melakukannya tidak hanya setiap selesai shalat, namun setiap kali saya ingat. Sambil mencuci, sambil menyapu, sambil menyusui si bungsu, jika saya ingat maka meluncurlah do'a-do'a itu.

Dan Alhamdulillah, kekuatan do'a itu memang benar adanya. Suami saya yang seorang Arsitek, beberapa kali memenangkan sayembara bersama tim kantornya. 

Februari lalu, suami saya yang masuk dalam tim Akanoma, menjadi juara 1 Holcim Award National Competition 2015. Berkat sayembara itu, suami saya yang sebelumnya belum pernah pergi ke luar negeri, diajak jalan-jalan ke Swiss gratis selama enam hari. :D

National Holcim Award 2015
Tidak hanya bersama tim kantornya, Akanoma, suami saya juga pernah memenangkan sayembara bersama dua orang sahabatnya. Mereka menamakan diri sebagai Tim Sandal Kulit. Tim ini berisi tiga orang sederhana dengan pemikiran yang luar biasa. 

Suami saya (kanan) bersama dua orang sahabatnya mejeng di Radar Solo

Terakhir, 21 Agustus 2015 lalu, suami saya dan tim Akanoma kembali meraih juara 2 dalam Sayembara Desa Wisata Arsitektur Nusantara 3.

Suami saya, Yopie Herdiansyah, di Malam Arsitektur Nusantara 3

Jadi, jangan pernah merasa tidak berguna walaupun orang-orang hanya menganggapmu sebagai seorang ibu rumah tangga, karena mungkin, do'a yang keluar dari bibirmu yang akan mengantarkan suamimu menuju kesuksesan itu. 

Blessful August Giveaways by indahnuria.com

Read More

ALERGI UDANG

Friday, August 28, 2015

Ada rasa sedih tiap kali melihat olahan makanan laut terhidang di depan mata. Bukan apa-apa, sepenuh hati ingin ikut menikmati, namun apa daya tubuh saya selalu protes jika termasuki.  Mulut rasanya ingin ikut menyantap mereka, tapi perut enggan menerima.

Ada pengalaman dengan olahan udang yang membuat saya kapok. Suatu hari, saya diajak seorang saudara untuk menonton film yang sedang ramai dibicarakan. Selepas dhuhur kami berangkat menuju sebuah mall, berharap bisa menonton film tersebut di jam satu siang. Namun apa mau dikata, setelah berhasil mendapatkan tiket dengan antrian yang amat panjang, kami kebagian jadwal pemutaran di enam jam berikutnya atau jam tujuh malam.

Karena malas pulang ke rumah, kami memutuskan menunggu waktu sambil berjalan-jalan. Tiba di depan sebuah restoran Jepang, saudara saya mengajak saya masuk. Lapar katanya. Saya pun memesan beberapa menu berbahan ayam. Iya, saya takut dengan udang, hehe...karena mulut dan tenggorokan pernah gatal-gatal setelah makan kue sumpia.

Melihat menu yang dipesan saudara saya, saya tergoda untuk mencoba. "Tukeran yak," sambil tangan saya mengambil sebuah makanan dengan sumpit.

"Mmm, ini rasanya nggak kayak beef, tapi juga nggak mirip ayam. Apaan sih ini?" tanya saya sambil melahap makanan tersebut.

"Itu kan shrimp roll, Arin. Udang." jawabnya santai. Dan entah karena sugesti atau apa, tiba-tiba mulut saya seolah menebal, pipi mulai kesemutan, tenggorokan gatal, dan yang paling parah napas saya mulai sesak.

"Eh kamu alergi udang?" tanya saudara saya yang juga mulai panik. "Aduh, kenapa nggak bilang?"

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke toko buku supaya pikiran saya tidak fokus dengan gatal-gatal di sekujur tubuh saya. Akan tetapi semua usaha sia-sia, "Aku nggak tahan, aku nggak mau mati di tempat ini," huhu, saya mulai menangis sambil menahan napas yang mulai kembang-kempis.

Mata saya semakin menyipit karena tertutup pipi yang memerah dan seolah membesar. Saudara saya semakin ketakutan dan akhirnya mengajak pulang. Sampai di rumah, saya diberi sebutir obat, dan secara ajaib alergi saya hilang. Saya pun memaksa saudara saya untuk kembali ke bioskop karena film akan segera diputar, haha...

Pengalaman buruk dengan udang itu membuat saya was-was. Seperti ketika hamil anak pertama, saya yang sedang nyidam benar-benar ingin sekali mengunyah sate udang yang warnanya menggoda. Suami saya beberapa kali menolak membelikan karena khawatir akan apa yang terjadi kemudian. Hingga kemudian beliau menyerah karena tidak tahan dengan rengekan saya. Sambil berkata, "Makan satu saja dulu, nanti kalau gatal berhenti. Kalau sesak napas, kita langsung ke dokter." beliau memberi saya setusuk sate udang.

Mata saya merekah menyambutnya. Sambil berdo'a dengan khusyuk supaya Allah melindungi saya dari buruknya makanan ini, saya pun mulai menggigit satu demi satu udang tersebut. Ajaib lagi, saya tidak merasakan keluhan apapun.

Tapi, ternyata itu hanya berlaku saat saya hamil saja. Berikutnya, ketika bayi sudah lahir dan saya kembali mencoba makanan berbahan udang, mulut dan tenggorokan saya sudah bereaksi normal, alias kembali gatal-gatal.

Hmm, rasanya iri melihat orang lain mencocol udang crispy dengan saus sambal, menyiramkan cumi-cumi asam manis ke atas nasi hangat, atau menyantap hidangan kepiting yang menggoda selera. Kapan saya bisa ikut menikmatinya? Apa harus menunggu hamil lagi ya?


Read More

Ibu Kost Terbaik Sedunia

Wednesday, August 26, 2015

Hampir semua orang pernah mengalami rasanya menjadi anak kost. Entah saat sekolah, kuliah, ataupun setelah bekerja. Saya pun begitu.
Saat kuliah dulu, saya sempat menjalani kehidupan sebagai anak kost, meskipun  saya baru memulainya di semester tiga. Saya sempat berganti ibu kost. Yang pertama hanya sebulan, kemudian seorang teman mengajak untuk kost di tempatnya. Disinilah, di tempat ke dua ini, saya bertemu dengan ibu kost terbaik sedunia.
Tidak berlebihan sepertinya jika saya menyebut beliau demikian. Ibu kost saya ini, meskipun bersuara lantang karena berdarah Batak, namun hatinya luar biasa baik. Dengan biaya kost yang hanya tiga ratus ribu rupiah per bulan, di Jakarta, kami mendapat fasilitas berupa tempat tidur, lemari pakaian, kipas angin, dan kamar mandi di dalam kamar masing-masing. Ibu kost pun masih menambahnya dengan jus buah segar. Tidak setiap hari memang, tapi sering. Rasanya, tiga ratus ribu rupiah itu tidak sebanding dengan apa yang kami dapatkan.
Setiap kali mendengar pintu terbuka atau suara kaki menaiki tangga, ibu selalu memanggil, "Ariiin (atau nama anak kost yang lain), ini jusnya diminum dulu!" Wah, nikmat bukan? Selain itu, ibu juga sering menawari kami makan malam, namun sering kami tolak karena tak enak. Bukan tak enak rasa makanannya, tapi perasaan kami lah yang tak enak. Ibu kost ‘kan menggunakan jasa katering dan jarang sekali masak sendiri, mana tega kami ikut menghabiskan makanannya?
Ada momen mengharukan yang belum terlupa hingga kini, yaitu saat ulang tahun saya yang ke dua puluh satu. Entah dari siapa ibu mengetahui tanggal lahir saya, di hari itu ibu memberikan kejutan luar biasa. Saat itu, sepulang kuliah saya dipanggilnya. Saya tidak diijinkan masuk ke kamar. Di bawah (kamar saya di atas), telah menunggu semua anak-anak kost. Saat itulah kejutan dimulai. Ibu kost mengeluarkan tumpukan donat merek terkenal yang disusun menyerupai kerucut, lengkap dengan lilinnya. Saya terharu hingga meneteskan air mata. Tak cukup dengan itu, ibu dan dua putranya memberi saya bingkisan. Selanjutnya, kami semua diajak untuk menyantap nasi goreng yang sudah beliau siapkan. Ibu kost yang baru saya kenal beberapa bulan memberikan perhatian yang luar biasa besar.
Di waktu lain, saya dikejutkan dengan tumpukan cucian yang sudah rapi. Sebenarnya ibu sering sekali menyuruh kami menggunakan mesin cuci otomatis di bawah, namun lagi-lagi kami tak enak hati. Kami pun mencuci pakaian kami sendiri, dengan tangan. Dan hari itu, selain cucian saya yang sudah terlipat rapi, celana panjang saya yang sobek juga dijahitkan oleh beliau. Duh, malunya saya mendapatkan perlakuan luar biasa ini. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih atas apa yang ibu lakukan untuk saya, dan berkali-kali pula ibu menjawab, “Tenanglah, Rin. Ibu sudah biasa.”
Kini, setelah menikah dan memiliki anak, saya baru mengunjunginya satu kali. Ini karena sekarang saya berada jauh di kota Solo. Seandainya jarak kami dekat, tentu saya akan sering berkunjung kesana. Ibu kost saya, ibu kost terbaik di dunia. Semoga Allah membalas semua kebaikannya, dan semoga kami dipertemukan kembali oleh-Nya.


Read More

S4; Sahabat Sampai Surga, Semoga

Saturday, August 15, 2015

Adanya media sosial, tak bisa dipungkiri memang membawa warna tersendiri dalam kehidupan nyata kita. Positif atau negatif, tentu tergantung pada pemakainya. Saya, mungkin hanya salah satu dari sekian banyak manusia yang diuntungkan dengan kecanggihan teknologi ini. 

Iya, dari media sosial akhirnya saya bertemu dengan teman-teman lama. Teman-teman yang selalu ada baik dalam suka maupun duka, dalam tangis juga tawa. Karena sekarang masanya sudah berbeda, jauh berbeda dengan saat kami masih remaja. Hingga sekarang masing-masing berada di kota yang berbeda-beda, jauh-jauh pula. Lah, kenapa jadi a a a a? ^_^

Siapa yang menyangka, jika rindu terbasuh semudah mengetuk layar sentuh? Siapa juga yang akan menduga, jika silaturrahmi bisa terjalin semudah menjentikkan jari? Iya, semua berkat teknologi, jiwa-jiwa yang berkelana berkumpul dalam satu genggaman.

Suatu hari, dalam sebuah obrolan, ada seorang teman yang berkisah. Ia pernah menanyai diri sendiri, "Apa mungkin aku akan punya sahabat?" katanya, dan alhamdulillah, pertanyaan itu telah terjawab sudah. Tanpa perlu kata-kata, cukup jiwa yang menyatulah sebagai petunjuknya. Karena jika tak ada niatan, meskipun teknologi berada dalam genggaman, tak akan jiwa ini tergerak untuk saling berdekatan.

Teman dekat, atau bila saya boleh menyebutnya sahabat, memang mempengaruhi kita dalam berbagai hal, bahkan dalam hal yang paling sederhana, misalnya cara berpakaian. Teman, bisa menjadi dekat dengan kita, tentu karena adanya kesamaan karakter. Istilah gampangnya; yang dekat dengan kita adalah mereka yang nyambung diajak ngobrol, termasuk yang klop cara bercandanya.

Meskipun karakter masing-masing pribadi berbeda, tapi selalu ada benang merah yang menjadi penanda, sehingga seringkali kita menemukan situasi dimana tanpa sadar kita berucap, "Oh, ini teman si A." atau "Oh, pantas saja, lha wong bergaulnya saja dengan si B." Karena memang, "Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927) 

Lalu saya teringat sebuah hadits Nabi;
"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (HR. Bukhori 5534 dan Muslim 2628)



Ajaran dalam Islam memang sangat sempurna, termasuk kaitannya dengan mencari teman. Saya, meskipun masih jauh dari predikat sholihah, harus bersyukur karena dikelilingi oleh teman-teman yang selalu ingat akhirat. Setidaknya, teman-teman dekat, sahabat, senantiasa siap menjadi pengingat.

Dan untuk sahabat-sahabatku, hanya empat kata untuk kalian semua. Sahabat Sampai Surga, Semoga. :)

Read More

Cake Cokelat Klasik 'Gak Pake Ribet untuk Pakdhe dan Budhe

Wednesday, August 5, 2015

Saya adalah ibu rumah tangga yang kurang pandai memasak. Karena memang hobi saya tidak ada kaitannya dengan dapur. Maka dari itu, peralatan rumah tangga yang saya punya hanya yang standar-standar saja. Bagaimana bisa memasak jika peralatan di dapur tidak lengkap?

Suatu hari, hati saya tergerak untuk ikut-ikut berkreasi di dapur, supaya terlihat kekinian, haha... Habisnya banyak banget ibu-ibu muda yang bikin iri karena rajin sekali posting foto masakan atau kue buatan mereka. Saya pun mengajukan proposal pada suami untuk dibelikan mixer, dan alhamdulillah disetujui.

Beberapa kali saya membuat cake sederhana, dengan resep dari buku yang saya beli di sebuah bazaar. Alhamdulillah, Amay, anak sulung saya, suka. Dia bahkan sempat ketagihan dan meminta saya membuatkan cake kembali.

Meski begitu, cake buatan saya hanya itu-itu saja. Cake kukus, karena hingga saat ini saya belum memiliki oven (dan memang belum berniat membeli, karena masih takut menggunakannya). Pun, loyang yang saya punya hanya satu, dan bentuknya kotak standar saja. Jangan tertawa yaaa, hehe...

Satu lagi bukti cueknya saya dengan peralatan dapur yang minim. Timbangan kue. Saya tidak memilikinya. Lalu, bagaimana saya membuat kue? Dengan sendok sebagai penakarnya. Awalnya sih pakai ilmu kira-kira. Tapi kemudian saya menemukan ini sebagai panduan.


Cake buatan saya gampang sekali. Resepnya cocok untuk para pemula, seperti saya. Bahkan jika saya ibaratkan, anak kecil saja bisa membuatnya, asalkan sudah bisa membaca dan menghitung. Selain itu, cake ini juga dapat dibuat oleh kita-kita yang memiliki peralatan seadanya. Gak pake ribet deh, pokoknya.

Penasaran? Ini dia resepnya;

Bahan yang ddibutuhkan:
1. 5 butir telur
2. 8 sdm terigu
3. 13 sdm gula pasir
4. 3 sdm cokelat bubuk
5. 1/2 sdt ovalet
6. 3 sdm margarin yang sudah dilelehkan

Cara membuatnya simpel sekali.
1. Kocok telur dengan ovalet hingga mengembang.
2. Masukkan gula pasir, tepung terigu, dan cokelat bubuk, sedikit demi sedikit.
3. Terakhir masukkan margarin cair sambil terus dikocok.
4. Masukkan adonan ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin dan dilapisi tepung.
5. Kukus selama kurang lebih 20 menit.

Oiya, ada satu tips yang mungkin sudah banyak yang tahu, namun saya akan menuliskan kembali supaya tidak terlupa. Ketika mengukus, bungkus tutup kukusan/dandang dengan kain/serbet (yang bersih loh yaa..) Tujuannya adalah agar uap air tidak menetes ke dalam adonan. Karena jika adonan tercemar uap air, kue yang kita buat akan bantat.


cake, sebelum dan sesudah dioles dengan cokelat oles


cake cokelat teman minum kopi atau teh

Cake sudah siap disantap. Jika ingin lebih nikmat lagi, kita dapat mengolesi cake kukus tadi dengan selai atau cokelat oles. Seperti kali ini saya menggunakan cokelat oles sebagai topping.

Mudah bukan? Saya yakin budhe juga bisa membuatnya untuk pakdhe. Ini sepotong kue dari saya untuk pakdhe. :) 




Read More