Arisan Ilmu Perdana KEB Solo Bersama Mak Indah Julianti Sibarani

"Nah, ini Arinta, kadang nulis kadang enggak," kata Mak Indah Julianti Sibarani saat mengisi acara Arisan Ilmu di Solo tanggal 25 Maret 2016 lalu. Terus terang, saya merasa tertampar. Huhuhu..iya iya... Saya memang suka angot-angotan kalo nulis.

Mak Indah Julianti Sibarani, co-founder KEB, saat menyampaikan materi di Arisan Ilmu bareng KEB SOLO


Mak Indah Julianti Sibarani atau yang akrab disapa Mak Injul hadir di Solo dalam acara yang digelar oleh KEB Solo. KEB Solo sendiri baru terbentuk, atas inisiasi dari Mak Ety Handayaningsih, yang "iri" akan keseruan dan kekompakan KEB di kota lain, terutama Jogja. Alhamdulillah ya, untung Mak Ety iri. Kalau nggak, acara seseru ini nggak akan pernah terjadi. :D

Tapi, dari kalimat Mak Injul tadi, saya sesungguhnya juga bahagia. Beliau bisa bilang begitu, berarti karena perhatian pada saya. Eh iya, meskipun beliau ini termasuk Seleb Blogger, tapi beliau follow blog saya lho. Ini bukti bahwa beliau adalah Seleb Blogger yang rendah hati. Saya akan meniru sifat beliau yang satu ini. :)



Saya saat memperkenalkan diri

Lalu, ilmu apa saja yang dibagikan Mak Injul kemarin? Banyaaakkk... Saya semangat menyimak meskipun sambil beredar kesana kemari karena harus "momong" Aga. :p


Beneran, itu saya nggak lagi disetrap. Itu saya lagi jagain Aga. :D

Karena temanya tentang "How to Write Creative Content" jadi kemarin kita ngomongin tentang cara membuat konten yang kreatif. Gimana caranya?

Content is The King
Mak Injul pernah menjabarkan hal ini di blognya. Kata beliau, "Konten adalah salah satu kekuatan motivasi di dunia maya." Semua orang bisa menjadi penulis, tetapi tidak semua orang bisa menjadi content creator.

Lalu, apa sih ciri-ciri konten kreatif itu? Sebuah tulisan dikatakan sebagai konten kreatif jika memenuhi tiga syarat;

a. Read-able. Artinya, tulisan itu mengundang orang untuk membaca keseluruhan isinya. Tidak hanya berhenti di judul, atau di paragraf pertama, kemudan ia ditinggalkan.

b. Like-able. Setelah sebuah tulisan selesai dibaca, apakah lantas orang-orang tertarik untuk bereaksi terhadap tulisan itu? Sekarang ini di facebook sudah ada beberapa macam reaksi terhadap tulisan, tidak melulu "like", tapi ada beberapa ekspresi seperti; love, angry, sad, dll. Jadi sebenarnya peluangnya makin besar, lho.

c. Share-able. Setelah orang-orang memberi "like" atau menyukai sebuah tulisan, apakah kemudian tulisan itu bisa mempengaruhi seseorang untuk membagikannya? Nah, ini yang paling sulit. 


Untuk membuat tulisan yang read-able hingga share-able, apa sih yang harus kita lakukan? Jawabannya tentu, buatlah konten yang dicari dan diinginkan pembaca. Seperti apa konten yang dicari itu?
1. Unik
2. Menarik
Kalau dua syarat itu terpenuhi, maka kemungkinan tulisan kita menjadi viral semakin besar.

Meskipun begitu, ini pesan saya sih, jangan lantas demi membuat sebuah tulisan yang viral, kita malah jadi mengesampingkan norma ya... Tetap, buatlah tulisan yang bermanfaat. Jangan bangga jika tulisan kita justru membuat perpecahan dan pertikaian dimana-mana. Oke? Percaya deh, tulisan kita bisa mengubah pikiran seseorang. ^_^


Selanjutnya, apa sih enaknya nge-blog?

Mak Injul bercerita, lebih tepatnya mengabarkan alias memberi tau kami, tentang Content Creative 2O16.

1. Content is the new ad
Jaman sekarang, karena masyarakat lebih sering menatap layar handphone dibanding layar televisi, maka para pemilik brand-brand itu berpikir, lebih baik menyewa jasa blogger dibanding membuat iklan di televisi. Inilah, maka sekarang peluang berpenghasilan melalui blog semakin besar. *wew, jadi makin cemungudth.. tapi kapaaann ya job review itu datang? :P

2. Content is the new creative
Kalau tadi disebutkan bahwa tulisan bisa mengubah pikiran orang, maka ada hal lain yang juga memiliki pengaruh yang sama. Apa itu? Gambar dan Video. Dan Blog, bisa menggabungkan 3 hal sekaligus;
- Tulisan
- Image
- Video
pe-er untuk saya, belajar membuat video. :D

3. Content is the new SEO
Nah, kalau udah ngomongin tentang SEO segala macam, saya nyerah dulu deh, hehehe... 

Memang sih, ngomongin tentang peluang penghasilan dari blog itu bisa bikin mata ijo. Tapiii, Mak Injul juga berpesan, "Blogging with Heart, Money will Follow." Makanya, nulis aja terus, nanti juga pasti menghasilkan. Setidaknya, ya menghasilkan tulisan itu sendiri. :D


Haaaahh...kalau udah ngomongin soal hobi, rasanya waktu yang terlewat terasa amat cepat. Beneran, Mak Injul itu asik banget orangnya. Seperti ilmu padi yang makin berisi makin merunduk, begitulah kira-kira pembawaan Mak Injul. Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan ya, Mak. 

Dan akhirnya selesai sudah acara yang seru banget itu. Kami kemudian mengambil foto sebelum berpisah. ^^

ps: semua foto diambil dari teman-teman KEB Solo. Saya ngga bisa ambil gambar karena repot sama Aga, hehe.. *alesyan

KEB Solo yang unyu-unyu berbalut baju ungu

Belajar Bisnis dan Melek Teknologi dari Ibu Erlisa Karamoy

Mendengar nama Erlisa Karamoy, saya langsung membayangkan Angel Karamoy, xixi.. *Ampuuun..:v Habis namanya seolah tidak asing di telinga, ya 'kan? :D

Ada yang belum tahu, siapakah Ibu Erlisa Karamoy itu? Baik, kita berkenalan dulu yuk. Ibu Erlisa Karamoy adalah seorang penulis yang memiliki 3 putra-putri yang sudah beranjak remaja. Beliau tergabung dalam beberapa komunitas kepenulisan, salah satunya adalah Blogger Perempuan. Beliau bertempat tinggal di Tangerang, Banten. Tulisan beliau bisa kita baca di websitenya yang beralamat di http://elisakaramoy.com

Tapi ada yang sedikit membuat saya bingung. Yang benar, namanya Elisa atau Erlisa, sih? Karena di beberapa media sosial beliau menggunakan nama Erlisa Karamoy, namun jika kita membuka websitenya, disitu tertulis Elisa Karamoy.

Ternyata, nama asli pemberian orang tua beliau sebenarnya adalah Meutia Erlisa Sevelina Karamoy, namun di facebook, beliau menggunakan nama Mutia Erlisa Karamoy, dan di twitter serta instagram, beliau menggunakan nama @mutia_karamoy. Mengapa beliau menggunakan "elisakaramoy" tanpa huruf r sebagai alamat website-nya? Tak lain karena nama Elisa adalah nama kecil atau nama panggilan di keluarga, dan karena memori itu begitu kuat, beliau memilih nama ini sebagai nama domain.

Sudah jelas 'kan? :D

Membaca blognya, terus terang saya langsung ingin mengatakan "wow". Tulisan beliau panjang-panjang. Huhuhu, sementara saya ini punya kesulitan dalam mengembangkan ide. Jadi memang, tulisan saya cenderung kurang detail. Halah, malah curcol. :p

Sepertinya, saya harus berguru pada beliau. :D

Tapi saya salut. Terlihat sekali bahwa beliau ini memiliki semangat yang luar biasa. Dari tulisannya saya menangkap bahwa beliau ingin membuktikan bahwa ibu-ibu pun bisa melek teknologi. Ada beberapa tulisan dalam blog beliau yang mengulas tentang komputer, diantaranya:


Hihi, baca judulnya aja bikin mata ijo, ya 'kan?

Dan selain melek teknologi, beliau ini rupanya seorang mompreneur juga. Ah iya, jaman sekarang, kalau mau bisnis lekas melejit, kita harus mau mengikuti perkembangan jaman. Persaingan dagang akan selalu ada, sehingga kita harus jeli melihat peluang dan memanfaatkan kesempatan. Ada banyak tips yang beliau bagi. Dalam Bisnis Melesat Berkat Olah Marketing, beliau memberikan tips bagi para produsen yang hasil produksinya barupa barang, untuk memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Tempat. Tempat yang dipilih harus strategis agar mudah diakses oleh konsumen.
2. Kualitas produk, harus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.
3. Harga. Usahakan harga yang kita patok terjangkau oleh konsumen.
4. Promosi. Lakukan promosi agar konsumen tau betul mengenai apa dan bagaimana produk yang kita jual.

Wiii, tipsnya keren kan ya? Kalau mau belajar bisnis lebih dalam lagi, beliau juga pernah lho, mengulas tentang beberapa aplikasi yang bisa digunakan oleh para online shop untuk memermudah bisnis. Komplit deh pokoknya.

Dan seperti ibu-ibu pada umumnya - saya juga - beberapa kali beliau juga menulis tentang kegiatan putra-putrinya. Tidak hanya menulis tentang curahan hati saja - kalo ini saya banget - tapi beliau juga memberikan tips-tips tentang parenting. Ini yang juga tak kalah penting.

Nah, kini, siapa yang penasaran dengan wajah cantik ibu Erlisa Karamoy? Nah, ini dia;

Ibu Erlisa Karamoy

8 Hal yang Akan Kulakukan Jika Aku Tahu Ajalku Telah Dekat


Ada satu hal yang pasti terjadi, tapi kita tidak pernah tahu kapan ia akan menghampiri. Iya, mati.

Kematian tak pernah memandang usia. Datangnya pun tak harus dengan pertanda. Ada yang menderita sakit bertahun-tahun, tapi malaikat maut tak juga menjemput. Akan tetapi, ada juga yang di pagi hari masih berhaha-hihi, siangnya telah terbujur kaku menghadap Illahi.

Dalam ingatan saya, ada tiga kematian yang tak akan terlupa:

1.       2 Oktober ‘98
Hari itu Jum’at, setengah 3 sore. Saya yang baru pulang ke rumah seusai bermain, terkejut dengan banyaknya orang di depan rumah. Saya langsung berlari ke kamar belakang. Tangis tak terbendung, hingga tangan saya mengalami kram. Mbah, ibunda bapak, sedang ditalqinkan.
Sebelumnya, Mbah, yang mengajari saya dan anak-anak sekampung membaca al-qur’an, memang sakit. Ini adalah sakit yang cukup lama dan paling parah bagi Mbah, karena seingat saya, Mbah selalu sehat meski usianya sudah senja. Meskipun begitu, ibu merawat Mbah di rumah saja.
Dan di Jum’at sore itu, Mbah pergi untuk selama-lamanya.

2.       3 Oktober  2003
Jum’at. Pagi itu hujan. Saya bersiap ke sekolah. Sebelum berangkat, saya berpamitan pada Uti, ibunda ibu. Memang sejak saya SD, saya tidur di rumah Uti untuk menemani beliau yang tinggal sendiri. Rumah Uti ada di sebelah rumah saya.
Saat saya hendak berangkat ke sekolah, Uti masih berdzikir di Musholla rumah. Kegiatan ini memang rutin dilakukannya seusai shalat shubuh.

Bel tanda masuk sekolah berbunyi di jam 6:45. Memang sekolah saya masuk 15 menit lebih awal dari sekolah lain, karena adanya “Pengayaan”.
Saat bel tanda jam “Pengayaan” usai, atau tepatnya pukul 7:30, seorang guru Bimbingan Konseling memanggil saya ke kantor. “Ada tamu”, kata beliau. Rupanya, tetangga saya datang untuk menjemput. Dia bilang Uti sakit, dan menanyakan saya.
Saya sudah curiga ada sesuatu yang terjadi. Telebih lagi, di ruang piket, saya melihat dua orang tetangga saya yang lain yang sedang menunggu. Mereka sedang berbincang dengan Pak Is, guru karawitan.
Kecurigaan saya terbukti ketika sampai di rumah, tenda sudah didirikan. Beberapa orang menyambut saya yang bercucuran air mata. Dan di ruang tamu, saya menatap pilu pada Uti yang sudah dibaringkan di atas meja.

3.       17 Oktober 2008
16 Oktober malam, pulang kuliah, Mbak Ita SMS. “Nduk, ibu udah ngga sadar.” Deg, air mata pun menitik. Saya berusaha mengendalikan kesedihan, karena malam itu saya sedang berada di stasiun Tanjung Barat, menunggu KRL untuk pulang ke Bogor. Saya sudah berencana untuk pulang keesokan harinya. Setelah selesai mengajar, saya akan membeli tiket bus tujuan Purworejo.
Tapi rencana hanya sebatas rencana. Selesai mengajar, saya ditelepon Fira, sepupu saya. “Mbak, Bude Tutik meninggal,” katanya. Tangis tak terbendung lagi. Menyesal, itu pasti. Kenapa saya tidak menemani beliau di saat terakhirnya?

Ibu pergi di bulan Syawal. Dan memang baru beberapa hari sebelumnya saya kembali merantau setelah sebelumnya mudik lebaran. Saat kami akan berpisah, ibu masih bisa berbicara. Beliau mengatakan sesuatu yang selalu saya ingat, “Sabar. Roda pasti berputar.” Semoga sakit yang ibu derita selama berbulan-bulan, menjadi pencuci dosanya. Aamiin.

Akhirnya, saya hanya bisa berdo’a, semoga mereka bertiga menjadi bidadari di Jannah-Nya. Karena mereka meninggal di hari Jum’at, hari yang istimewa.

Nah, karena hari kematian kita adalah sesuatu yang misteri, sebaiknya kita mempersiapkannya jauh-jauh hari. Nasehat ini yang sering saya lupa. 

Jika tak punya uang, mengeluhnya dari pagi sampai petang. Tapi jika mengingat kematian, kenapa saya malah tenang, padahal saya masih miskin amalan?

Seandainya, setiap orang diberi tahu kapan dia akan meninggalkan dunia ini, tentu mereka berlomba-lomba menjadi orang yang paling baik sedunia.

Begitupun saya. Jika saya tahu ajal saya tinggal 8 hari lagi, saya akan melakukan hal ini:

1.       Sejak hari pertama, saya akan memperbanyak dzikir, istighfar, makin mengkhusyu’kan shalat, juga memperbanyak tilawah qur’an.

2.       Saya akan meminta maaf pada suami, jika selama menjadi istri, saya tak cakap dalam melayani. Tak lupa pada anak-anak, saya akan meminta maaf atas ketidaksempurnaan dalam mengasuh mereka.
Saya akan meminta maaf pada bapak, jika selama menjadi anak, ada yang membuat batinnya sesak. Hal ini juga akan saya lakukan pada Ayah dan Mamah mertua, jika selama menjadi menantu, ada tindakan saya yang membuat mereka terluka.

3.       Saya akan bersilaturrahmi ke rumah tetangga, sanak saudara, handai taulan, sahabat dan teman-teman dekat yang masih mungkin saya datangi. Orang-orang yang paling banyak berinteraksi pada kita, tentu memiliki potensi yang paling besar untuk kita sakiti.

4.       Meminta maaf melalui sosial media yang saya punya. Ini juga akan saya lakukan. Saya akan meminta maaf secara massal, karena sebagai pengguna media sosial, kemungkinan saya melakukan dosa secara massal pun semakin besar.
Jaman sekarang, bergosip tak hanya butuh telinga dan mulut saja. Tapi mata dan jari juga bisa bicara.
Ahh..jadi ingat lagu Chrisye. 
“Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi... 
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita...” 
Dan bersaksilah jari-jemari kita, tentang dosa yang dilakukannya. Tak ada yang berdusta.
Setelah itu, semua akun media sosial, akan saya tutup.

5.       Saya akan berusaha membayar hutang-hutang saya. Jika saya tak punya harta, maka saya akan menggunakan tenaga saya untuk menebusnya. Sungguh, saya tidak ingin perjalanan saya di akhirat tersendat oleh hutang yang tak terbayar. Semoga Allah mengambil nyawa saya jika saya telah menyelesaikan urusan muamalah ini.

6.       Saya ingin memperbanyak amal jariyah, yang bisa dijadikan tabungan pahala disana. Pergi ke masjid-masjid, juga panti asuhan untuk menyumbangkan mukena, al-qur’an, juga pakaian-pakaian atau gamis dan jilbab, yang akan saya tinggalkan sebentar lagi.

7.       Saya akan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang sayangi. Membiarkan mereka memandangi saya, yang sebentar lagi akan pergi. Di H-1 menjelang kematian saya, saya akan membuat sesuatu yang akan selalu diingat oleh mereka. Mungkin, masakan terlezat di dunia. Mungkin juga, sapu tangan yang saya jahit sendiri dengan kedua tangan saya. Mengapa sapu tangan? Supaya mereka ingat, bahwa saya selalu ada untuk menyeka air mata mereka, sekalipun saya telah tiada. Saya ingin, saya dan mereka sama-sama ikhlas, sama-sama puas. :’(

8.       Saya akan membersihkan diri, dari ujung rambut hingga ujung kaki, agar tak banyak kotoran yang keluar saat saya dimandikan. Saya akan memperbanyak bersujud, sambil menanti Malaikat Izroil datang memanggil.

Bila waktu t’lah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu t’lah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi...




Kuliner Makassar; Pallu Basa


Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 11 Maret, saya sekeluarga bisa menginjakkan kaki di Makassar. Sebagai orang yang jarang piknik, ini adalah perjalanan istimewa, karena jujur saja ini kali pertama saya ke luar Pulau Jawa. Bisa dibilang juga, kemarin itu benar-benar first flight untuk saya, Amay dan Aga. Kalau suami sih, sudah sering pergi jauh karena urusan pekerjaan, hehe..

Mendarat di jam 12 siang, kami bersabar menunggu Ayah yang sedang shalat jum'at. Mamah sendiri sudah menunggu kami. Oya, kami ke Makassar dengan tujuan untuk mengunjungi kakek dan neneknya anak-anak dari pihak suami. Memang sudah lebih dari empat tahun ini, Ayah dinas disana.

Jam 1 kurang, Ayah datang. Kami langsung meluncur pulang. Sebelumnya, Ayah dan Mamah mengajak kami untuk makan siang. Iya ya, itu jamnya makan siang sih, jadi dengan senang hati kami menerima ajakannya, berhubung perut ini juga sudah berteriak minta diisi. :o

Mobil Ayah berhenti di sebuah warung makan yang menjual Pallu Basa, kuliner khas Makassar. Di depan tertulis Pallubasa Serigala. Kata Mamah, ini yang paling terkenal, yang terletak di Jalan Serigala.

Pallubasa Serigala

Ayah antusias bercerita, "Biasanya disini ramai kalau jam makan siang. Bahkan, kadang kita sedang makan pun, di belakang kita sudah ada yang berdiri menunggu." Tapi Ahamdulillah waktu kita datang, masih ada beberapa tempat yang kosong. Artinya, kami tidak perlu menunggu, atau makan dengan terburu-buru. Memang banyak pengunjung yang datang, tetapi tidak terlalu penuh.

Setelah memesan, pelayan datang membawakan pesanan, semangkuk pallubasa dan sepiring nasi. Lumayan cepat, menandakan bahwa mereka terbiasa gesit melayani pelanggan.




Ini kali pertama saya mencicipi makanan ini. Kalau lidah saya tidak salah, rasanya mirip dengan Empal Asem Khas Cirebon. Suami saya setuju dengan pendapat saya. Tapi kata Mamah, seharusnya pallu basa nggak begini rasanya. Biasanya agak hitam karena memakai kluwak, bumbu yang digunakan untuk memasak rawon, dan juga ada campuran serundengnya.

Entahlah, mengapa ada perbedaan disini. Yang jelas sih, pallubasa ini enak, hehe, apa karena saya lapar ya? :D

Pallu Basa; Kuliner Khas Makassar

Saat membayar, saya cukup terkejut karena harganya yang lumayan murah untuk makanan berbahan daging. Semangkuk Pallu Basa ini harganya hanya Rp 14.000,- saja. Berbeda dengan di Jawa, harga daging disini sepertinya murah, karena beneran, dagingnya banyak dan besar-besar.

Tapiiii...berbeda dengan di Jawa, harga sepiring nasi dan es teh disini termasuk mahal. Sepiring nasi dibandrol dengan harga Rp 6.000,- dan es teh Rp 5.000,-. Kalau di Jawa kan, harga nasi dan es tehnya hanya separuhnya, hehe... Jadi, keseluruhannya kami hanya membayar Rp 25.000,- per orang. Hmmm..lumayan puas dan bikin kenyang.

Kalau teman-teman ke Makassar, jangan lupa kuliner ini yaa.. :D

Sabar Tiada Tepi, Syukur Tiada Henti

Sabar dan Syukur, dua kata yang sulit dipisahkan. Orang yang pandai bersabar, setelahnya akan pandai pula bersyukur. Orang yang pandai bersyukur, sejatinya telah melewati ujian kesabaran.

Sabar dan Syukur, dua kata yang selalu dinasehatkan oleh ibu saya. Saya mengalami bagaimana ekonomi keluarga kami seperti roller coaster, kadang di atas kadang di bawah. Sebenarnya, saat di atas, bukan berarti kami banyak harta, namun saat paling atas itu adalah saat kami berkecukupan, tak punya beban hutang. Saat di bawah, bisa dimengerti bukan? Saat itu untuk makan saja kami kelimpungan.

Mungkin, karena banyak kebahagiaan yang saya rasakan di masa kecil, terkadang saya berangan-angan untuk bisa kembali ke masa itu, walaupun mustahil. Karena hal ini juga, saya memimpikan memiliki rumah bergaya tahun 1980-an, karena saat-saat bahagia saya, rumah dengan model seperti itu sedang menjadi trend. Harapannya, dengan tinggal di dalam rumah impian saya, saya akan selalu terkenang saat-saat dimana hati saya selalu tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang saya sayangi.

Bersama Uti, nenek dari pihak ibu yang selalu menyayangi saya hingga seolah-olah hanya saya lah satu-satunya cucu yang dimilikinya, saya memiliki banyak momen bahagia. Teringat dua puluh tiga tahun yang lalu, tahun 1993 tepatnya, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar. Uti yang tinggal bersebelahan dengan rumah orang tua, datang pagi-pagi sekali. Beliau tersenyum memandangi saya yang ceria menyambut hari pertama sekolah dengan seragam putih merah. Ibu juga bersiap sejak pagi untuk memasakkan mie kuah instan kesukaan saya. Sambil disuapi ibu, Uti memakaikan saya kaos kaki putih. Bapak juga turun tangan memeriksa kerapian seragam yang saya kenakan, sambil memastikan topi merah sudah dimasukkan ke dalam tas. Betapa bahagianya saya hari itu, dikelilingi orang-orang yang saya cintai. Saya bagaikan seorang putri raja yang semua keinginannya dilayani.

Bersama Mbah, nenek dari pihak bapak, saya belajar mengaji. Mbah datang ke rumah setiap waktu dzuhur tiba. Selain itu, setiap maghrib, Mbah mengajari puluhan anak-anak di kampung kami, tanpa mengharap pamrih. Ada momen tak terlupakan bersama beliau. Ketika itu, kami membelah sungai yang saat itu tengah banjir, demi bisa mencapai tempat pengajian di desa seberang. Baca Kisah Dibalik Mukena Putih. Meskipun ngeri, tapi saya bahagia mengenangnya. Pengalaman itu sungguh berharga, karena Mbah menunjukkan secara langsung betapa pentingnya menuntut ilmu.

Mengenang masa kecil, membuat saya bersyukur. Bahwa keterbatasan yang ada, sesungguhnya tak berarti apa-apa jika di sekeliling kita ada banyak cinta. :)




Mengenal Lebih Dekat, Mbak Vanti

Sebuah grup blogger bernama Blogger Perempuan, akhirnya membawa saya berkenalan dengan mbak-mbak blogger yang keren-keren. Apalagi setelah diinisiasi adanya arisan link agar kami makin nge-hits sebagai blogger. Wow...rasanya seperti sedang sekolah dan kami punya kelas/kelompok masing-masing. Kebetulan saya di kelompok V. Daaann..sebagai pemenang pertama, ada Mbak Vanti namanya.

Begitu muncul nama Mbak Vanti, saya langsung stalking ke instagramnya dan ke blognya di ayunovanti.com. Ssssttt..tau nggak? Mbak Vanti ini menulis karena dihadiahi website oleh suaminya lhoo.. And i think, this is a very romantic way to show how much you love someone. Hehe..ini anti mainstream lho..

Mbak Vanti yang nama panjangnya Dahlian Ayu Novanti ini termasuk golongan Mahmud Abas. Mamah Muda Anak Baru Satu..xixixixi.. Saya mah udah lulus dong jd Abas. Tapi Mahmudnya sih masih :p - gak mau dibilang tuwa. 

Dan baby bala-bala yang lahir Agustus tahun lalu itu dinamai Arrayan Edi Sarwono atau Rayan.

hasil stalking ke instagramnya, hihi

Membuka-buka blognya membuat saya tau bahwa Mbak Vanti ini adalah orang yang kreatif, juga multi talenta.

Yang saya salut dari beliau adalah, berani memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja dulu (sebelum melahirkan), kemudian sekarang "asik" mengerjakan hobinya, yaitu menjahit. Katanya kan ya, pekerjaan yang paling membahagiakan adalah hobi yang menghasilkan. Bener nggak? Semoga nanti Mbak Vanti jadi kayak Anne Avantie ya, hehe, aamiin... Mbak Vanti sudah punya brand sendiri loh, namanya "Jahitan Ibu". Nama ini kayaknya diambil karena Mbak Vanti terkenang akan memori saat kecil dulu, ketika sang ibu sibuk dengan kegiatan menjahit. Semoga usahanya ini sukses ya, Mbak. :)

Oya, ngomongin tentang blognya, blog ayunovanti.com ini mobile friendly ya... Loadingnya cepet kalo dibuka lewat handphone. Tapi, saya agak terganggu dengan kolom "Sign Up for Latest Updates" ini, hehe... Ini karena dia muncul beberapa kali dan saya harus menutupnya untuk bisa membaca keseluruhan tulisan. 

ini saya lagi baca postngan dengan judul; Highlight of 2015 pake HP

Tapi kalau dibuka lewat PC, blog Mbak Vanti ini asik banget. Kita bisa pilih bacaan yang menarik dengan melihat "recent posts", "popular posts", dan "categories". Dan yaa..itu header-nya lucuk, bisa ganti-ganti gitu.. (arin norak nih, norak..)

Maklum yaa..saya itu orangnya gaptek maksimal. Blog aja dibikinin sama suami di tahun 2010, dan baru saya isi di tahun 2013, hahaha.. Betewe, koq kita ada kemiripan ya Mbak Vanti? Bedanya, suami saya bikinnya blog gratisan. Dia nggak mau rugi kayaknya, soalnya tau tulisan saya masih gini-gini aja, haha.. -_-


header 1. terlihat waktu saya buka blog dengan PC

tuh kaan, gantiii..hihi..

Jujur, tulisan Mbak Vanti itu selalu menarik, bikin saya buka postingan berikutnya lagi dan berikutnya lagi. Isinya yang gado-gado, persis blog saya, semakin membuat blognya berwarna. 

Itu dia sedikit yang bisa saya korek dari Mbak Vanti. Semoga bermanfaat yaa... :)

Totoro, Hantu yang Lucu dan Baik Hati

Ada yang tau film Totoro? Pasti banyak yaa yang tau. Hehe, saya sendiri nih kayaknya yang kudet karena baru tau Totoro satu bulan terakhir. Ini karena Ninis, mahasiswi UGM yang sedang Kerja Praktik di Akanoma, meng-copy-kan film itu untuk Amay. Dan karena Amay memang suka sekali menonton film, Totoro diputar hingga berkali-kali setiap hari, tanpa kenal bosan.

Totoro adalah film Jepang, produksi Studio Ghibli. Judul lengkapnya sih; My Neighbor Totoro. Film ini dirilis tahun 1988. Haha..tahun itu saya baru lahir.


tokoh TOTORO yang digambar Amay


Film ini adalah jenis film animasi. Yang paling menarik bagi Amay adalah cerita fantasinya. Cerita lengkapnya begini: (oya, saya sedikit mengintip Wikipedia juga agar tidak salah menafsirkan, karena filmnya memang berbahasa Jepang)

Pada tahun 1958, seorang profesor di Universitas Tatsuo Kusakabe dan dua putrinya, Satsuki dan Mei, pindah ke sebuah rumah tua agar bisa tinggal lebih dekat dengan rumah sakit tempat ibu mereka dirawat. Yasuko, ibu dari Satsuki dan Mei, memang sedang sakit. (Tidak disebutkan sakitnya sakit apa, tapi pemulihannya memerlukan waktu yang lama)

Di rumah itu, Satsuki dan Mei menemukan bahwa rumah ini dihuni oleh makhluk kecil berwarna hitam yang disebut Susuwatari. Amay menyebutnya "hantu bayangan" karena makhluk-makhluk yang menyerupai gumpalan debu itu bisa menghilang.

Suatu hari, saat Satsuki sedang pergi ke sekolah, Mei bermain sendirian di halaman. Saat bermain itulah, ia melihat "hantu kelinci" yang masuk ke kolong rumah mereka. Seperti bermain petak umpet, hantu kelinci itu bersembunyi, kemudian mengendap-endap berlari karena takut tertangkap oleh Mei. Mei pun sadar buruannya hendak kabur. Ia mengejarnya, hingga memasuki semak-semak yang memiliki lorong panjang, dan membuatnya terperosok ke dalam rongga pohon kamper yang besar. 

photo
Saking semangatnya mengejar hantu-hantu tadi, tanpa sadar Mei terjatuh tepat di perut sosok besar yang kemudian dia beri nama Totoro. Bukannya takut, Mei malah senang bermain-main dengan hantu besar yang lucu itu. Ia bermain hingga tertidur.

Ketika Satsuki pulang sekolah, ia mencari-cari Mei yang menghilang, dan ditemukannya Mei sedang tertidur di lorong semak-semak. Satsuki berusaha membangunkannya. Ketika Mei terbangun, ia kebingungan mencari-cari dimana Totoro yang ditemuinya tadi.

Satsuki tidak mempercayai kata-kata Mei, namun Mei berusaha meyakinkan kakaknya bahwa ia telah bertemu dengan sosok Totoro. Ayahnya kemudian berkata bahwa Totoro mungkin memang ada, dan ia akan menampakkan dirinya ketika ia ingin.



Totoro, Mei-Chan, Satsuki-Chan, Ayah, dan hantu bayangan yang digambar oleh Amay..

Cerita berlanjut. Suatu hari, Satsuki dan Mei menanti ayahnya pulang. Hari itu hujan, dan mereka menyadari bahwa ayahnya tidak membawa payung, sehingga mereka memutuskan untuk menjemput ayahnya agar sang ayah tidak kehujanan. Sampai malam tiba, bus yang membawa ayahnya tak kunjung tiba. Saat itulah, Satsuki menyadari ada sosok besar yang mendampinginya.

Yup, Totoro menampakkan diri. 

Lucu sekali, Totoro yang berbadan besar, hanya menggunakan sehelai daun untuk memayungi tubuhnya. Ia juga merasa senang saat tetesan air jatuh di atas kepalanya.

picture taken from here
Satsuki pun berinisiatif untuk meminjamkan payungnya pada Totoro. Sebagai tanda terima kasih, Totoro menghadiahi Satsuki seikat kacang-kacangan dan biji-bijian. Mereka berdua itu beneran pemberani deh...

Tak berapa lama kemudian, Totoro mengaum. Rupanya, itu adalah caranya untuk memanggil cat-bus, bis kucing yang merupakan kendaraan pribadi Totoro. Bis itu bisa membuka, menutup, melebar dan ah, pokoknya pintunya elastis banget.

Beberapa saat berlalu, bis yang ditumpangi ayahnya tiba. Satsuki dan Mei pun menceritakan pertemuan mereka dengan Totoro.

Keesokan harinya, Satsuki dan Mei menanam biji-bijian pemberian Totoro. Dan di suatu malam, mereka terbangun dan menemukan Totoro dan dua rekan kecilnya terlibat dalam tarian seremonial di sekitar biji-biji yang ditanam Satsuki dan Mei. Mereka pun bergabung, dan menyaksikan bagaimana benih-benih itu bertunas, tumbuh semakin tinggi dan semakin besar. Totoro pun membawa keduanya terbang ke puncak pohon. Pagi harinya, pohon besar itu menghilang, tetapi benih yang mereka tanam benar-benar bertunas.

Pertama saya melihat film ini, saya langsung nyeletuk, "Ya ampun, anak-anak ini lincah-lincah amat ya." Dan iya, karakter mereka berdua itu terlihat saling menyayangi dan selalu ceria. Hebatnya lagi, ayahnya tidak pernah melarang apa yang dilakukan anak-anaknya. Ia tahu, anak-anaknya memiliki rasa ingin tahu yang besar. 

Tapi keceriaan mereka hilang pada suatu hari. Ada telegram dari rumah sakit, yang mengabarkan bahwa ayah mereka harus datang karena kondisi ibunya yang kurang baik. Satsuki berusaha menghubungi ayahnya lewat telepon yang dipinjamnya dari tetangganya. Ayahnya kemudian berkata bahwa nanti akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya.

Satsuki merasa khawatir akan kondisi ibunya. Ia menangis saat menyatakan kerisauannya pada O-Bachan, nenek yang menjaga mereka. Mei yang mendengar kekhawatiran kakaknya, memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit. Mei berlari, sambil membawa sebonggol jagung yang akan dihadiahkannya untuk ibunya tercinta.

Hilangnya Mei membuat O-baachan, Satsuki, Kant (teman sekolah Satsuki, yang juga tetangga mereka) dan para tetangga mencarinya. Mereka sempat mengira bahwa Mei-Chan tenggelam di dalam kolam karena mereka menemukan sebuah sandal kecil. Akan tetapi, lega, Satsuki mengatakan bahwa sandal itu bukan milik Mei.

Hari sudah hampir malam, namun Mei belum juga ditemukan. Satsuki memutuskan untuk masuk ke semak-semak yang dahulu diceritakan Mei sebagai jalan menuju rumah Totoro. Ia pun berdo'a sebelum memasuki lorong semak itu, agar ia bisa bertemu dengan Totoro.

Do'anya terkabul. Ia menemukan jalan lain, yaitu rongga pohon kamper. Seperti Mei dulu, ia pun menjatuhi Totoro yang sedang tertidur. Saat itulah, ia menceritakan pada Totoro bahwa Mei hilang. Ia memohon pada Totoro untuk membantu mencarinya.

Totoro yang baik hati itu kemudian tersenyum. Sambil menggendong Satsuki, Totoro terbang ke puncak pohon, lalu mengaum. Lalu, cat-bus pun datang dan bersiap mengantar Satsuki menemui Mei yang tersesat. 

Mei pun diketemukan. Kakak-beradik itu berpelukan. Mereka berterima kasih pada bis kucing itu. Tak berhenti sampai disitu, cat-bus pun membawa mereka berdua menuju rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Dari atas pohon (masih duduk di atas cat-bus), mereka bisa melihat kondisi ibunya dari jendela. Mereka cukup lega, karena ternyata ibunya baik-baik saja. 

Jagung yang dibawa-bawa Mei pun dijatuhkan tepat di samping jendela kamar ibunya. Ayahnya, yang saat itu sedang bersama sang ibu, membaca tulisan di kulit jagung itu. "Untuk Ibu".

Satsuki dan Mei pulang, lalu mereka menemui O-baachan, nenek yang menjaga dan merawat mereka itu. Mereka berpelukan, lega karena bisa kembali bersama-sama. 

Selesaaaaiii... ^_^