My Liberation Notes; Catatan Pembebasan Seorang Introvert

Sunday, June 19, 2022


Pernah ngga terpikir, kenapa seseorang bisa menjadi sedemikian pendiam, bahkan bisa terlihat tenang saat menghadapi berbagai persoalan? Apakah ia benar-benar tak peduli dengan masalah yang menghampiri? Atau memang, ia tak punya daya untuk bercerita pada siapa-siapa, selain pada diri sendiri? 

~

Saat menjelajahi instagram, tiba-tiba sebuah potongan adegan di drama My Liberation Notes muncul. Saya langsung tertarik karena berdasarkan sinopsisnya, drama My Liberation Notes berkisah tentang seseorang yang memiliki kepribadian introvert. Kebetulan, saya tertarik dengan tema ini dan merasa agak related dengan tokoh utamanya.

Baca: Si Melankolis

My Liberation Notes berkisah tentang orang-orang yang mencoba berdamai dengan keadaan. Kita tahu, banyak hal terjadi di luar kendali kita. Jadi, satu-satunya solusi untuk tetap bahagia adalah dengan mengendalikan diri dan menciptakan kebahagiaan kita sendiri. 

Di sini kita akan paham, mengapa bagi sebagian orang, rasa bahagia itu sulit sekali ditemukan? Sudah jatuh bangun mencari kebahagiaan, tapi yang ditemui adalah kekecewaan yang berulang. Di sini, kita akan mengerti, bahagia itu (seringkali) tidak sesederhana yang orang bilang.


My Liberation Notes, drama korea tentang seorang yang introvert


Sekilas tentang My Liberation Notes

Pemeran Utama:

Kim Ji-won sebagai Yeom Mi-jeong
Son Seok-koo sebagai Mr. Goo
Lee Min-ki sebagai Yeom Chang-hee
Lee El sebagai Yeom Gi-jeong

Alkisah, ada sebuah keluarga yang tinggal di kota kecil bernama Sanpo. Selain bertani, sang ayah memiliki usaha pembuatan wastafel. Ia mempekerjakan satu orang karyawan yang sangat misterius. Orang-orang hanya mengenalnya dengan nama "Pak Gu". Tak ada yang tahu persis latar belakang Pak Gu ini. Dari mana dia berasal, apa pekerjaannya sebelum ini, mengapa dia bisa terdampar di desa kecil ini, semua masih misteri. Yang jelas, sang ayah sangat puas dengan hasil kerjanya. Nah, baik sang ayah maupun Pak Gu, keduanya adalah orang yang tak suka bicara. Jadi, mereka selalu bekerja dalam diam.

Keluarga ini memiliki 3 orang anak. Yeom Mi-jeong si anak bungsu, dan dua orang kakaknya; satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Berbeda dari dua kakaknya yang "berisik", Mi-jeong dikenal sangat tertutup. Dia hanya akan bicara ketika ada orang bertanya. Saking tertutupnya, ia tidak tertarik untuk bergabung dengan klub-klub di kantornya.

Lahirnya Klub Pembebasan / Liberation Club

Ternyata, Mi-jeong tak sendirian. Ada dua orang lain yang juga tak ingin bergabung dengan klub-klub yang disediakan kantor. Karena berulang kali dipanggil oleh bagian "Support Center" di kantornya dan tak henti-hentinya ditawari aneka klub, mereka bertiga akhirnya membuat klub mereka sendiri. Klub Pembebasan atau Liberation Club namanya. Tujuan klub ini adalah untuk mendukung anggotanya merasakan kebahagiaan dan menemukan kebebasan yang mereka impikan.

Liberation Club - My Liberation Notes

Ada tiga hal yang menjadi prinsip utama klub ini, agar lebih mudah mengevaluasi hidup secara jujur;

  •  Tak akan berpura-pura bahagia
  •  Tak akan berpura-pura menderita
  •  Menjadi lebih jujur (pada diri sendiri)

Selain itu, di Klub Pembebasan ini mereka tidak boleh memberikan saran, pun tidak boleh menghibur satu sama lain. Mau ngasih saran juga gimana, wong masing-masing punya masalah yang tak kalah beratnya.

Orang-orang introvert memang gitu, yaa... Terlihat diam, padahal mereka sering bicara dengan diri sendiri. Terlihat tenang, padahal banyak sekali yang dipikirkan.

Mi-jeong misalnya, ia mengalami banyak hal yang tak menyenangkan, seperti perlakuan atasannya di kantor yang selalu marah-marah dan memandang rendah, juga kekasihnya yang berutang menggunakan namanya, tapi tidak mau bertanggung jawab. Bahkan kekasihnya itu malah kembali ke mantannya. Semua hal buruk itu ia pendam sendiri. Keluarganya tak ada yang tahu jika di kesendirian ia sering menangis. 

Baca: Si Penyendiri

Kisah 3 Bersaudara dari Sanpo

My Liberation Notes, drama korea tentang anak introvert
 

Sebenarnya, bukan hanya Mi-jeong yang punya masalah. Kedua kakaknya pun sedang struggling dengan persoalannya sendiri-sendiri. Yeom Chang-hee, si kakak laki-laki, punya obsesi untuk bisa terbebas dari masalah finansial. Ia bahkan ingin pindah ke Seoul karena merasa tinggal di kota kecil seperti Sanpo sangatlah tidak menguntungkan. Jauh kemana-mana. Mau kerja aja, butuh waktu berjam-jam untuk ke kantor. Bahkan ia juga jadi putus sama pacarnya, karena pacarnya menganggap Chang-hee ini agak kolot. 

Sementara itu, Yeom Gi-jeong, si kakak perempuan, merasa hidupnya hampa karena tidak punya kekasih yang bisa dijadikan sandaran. Ia merasa tidak berharga dan sering insecure dengan penampilan.

Oya, 3 bersaudara ini setiap hari harus naik bus desa untuk menuju stasiun. Setelah itu, mereka akan menaiki kereta selama kurang lebih 1,5 jam untuk sampai di Seoul. Pulang kantor pun begitu. Kalau mereka tidak kebagian kereta terakhir, mereka harus naik taksi untuk sampai ke rumah. 

Jujur, saya jadi teringat masa-masa tinggal di Cilebut. Tiap hari naik KRL menuju Jakarta, waktunya habis di jalan juga. Nah, mungkin teman-teman yang tinggal di sekitar Bojong Gede, Cilebut, Bogor, paham banget rasanya menjadi anak-anak Sanpo ini. Hihi...

Drama korea tentang seseorang yang berkepribadian introvert

 
Seperti yang saya tulis di atas, drama ini mengisahkan tentang orang-orang yang ingin berdamai dengan permasalahan hidup. Ketiga anak ini, setiap memiliki masalah, tidak pernah menceritakan masalahnya pada keluarga. Mereka bahkan menyembunyikan semua luka itu agar tak membebani sang ibu. Sampai kemudian di episode 14, sang ibu pergi. Ia tertidur dan tak pernah bangun lagi. Benar-benar banjir air mata deh episode ini. Banyak yang menyimpulkan, sang ibu pergi dengan membawa kesedihan, karena bahkan anak-anaknya tak menjadikannya sebagai tempat berkeluh kesah. 

Lalu, adakah kisah cinta di sini?

Sebuah drama, tentu tak lengkap jika tak dibumbui kisah asmara. Ada kisah antara Gi-jeong dengan salah satu anggota Klub Pembebasan (yak, teman kantor Mi-jeong jadi kekasih Gi-jeong), juga yang paling seru, kisah asmara dua orang introvert; Mi-jeong dan Pak Gu.

Bagaimana ceritanya, kok Pak Gu bisa jadi kekasih Mi-jeong? Pak Gu kan pendiam, misterius, kalau bertemu dengan Mi-jeong yang juga pendiam, apa jadinya?

Nah, ini yang menarik. Mi-jeong bisa bercerita banyak dengan Pak Gu, pun sebaliknya, saat bersama Mi-jeong, Pak Gu jadi banyak omong. Meski tetap, Pak Gu masih menyembunyikan identitas aslinya. Ini salah satu scene favorit saya, ketika Mi-jeong curhat soal atasannya yang suka meremehkan dia, Pak Gu merespon dengan "lakik" banget.

Pak Gu, My Liberation Notes


Nilai Plus Drama Ini di Mata Saya

1. Drama ini benar-benar related dengan kehidupan kita. 

Tidak ada romansa yang berlebihan, yang kalau di drama lain tuh seolah sulit digapai gitu. Misal, saat Mi-jeong rindu dengan Pak Gu yang menghilang, ia mendatangi tempat yang pernah mereka kunjungi berdua. Kalau di drama lain, mungkin, akan dibuat cerita bahwa ternyata Pak Gu sudah menunggu di sana, karena merasakan rindu yang sama. Tapi ini tidak. Ya, tidak ada "keajaiban" seperti yang netizen harapkan. Hahaha...

Pun endingnya, meski berakhir bahagia tapi semua masih masuk akal. Biasanya nih, kalau ada atasan yang nyebelin dan sudah ketahuan selingkuh di kantor, pembuat cerita akan membuatnya terlihat sial. Lalu bawahan yang selalu direndahkan itu akan merasa menang dan puas karenanya. Tapi di sini tidak. Yeom Mi-jeong memilih keluar dari kantor itu untuk melanjutkan kehidupannya di tempat lain. Ia mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri.

2. Meski ada kisah percintaan di sini, tapi drama ini tidak mengumbar adegan mesra.

Sejauh yang saya ingat, hanya ada satu adegan kissing di drama ini. Itupun hanya sebentar dan tidak terlalu diekspos. Untuk saya sih ini kelebihan, tapi mungkin bagi kalian yang suka dengan adegan-adegan yang bikin meleyot, ini sebuah kekurangan. Hihi...

Kalau kita bicara soal love language, maka love language-nya Pak Gu adalah mengajak makan, membuatkan mie, menjemput di stasiun, juga menjadi pendengar yang baik bagi Mi-jeong. 

3. Dari My Liberation Notes saya belajar;

- Bonding dengan anak adalah sesuatu yang penting dan harus diusahakan. Jika untuk bercerita dengan orang tuanya saja anak merasa enggan, berarti ada yang salah dengan pola asuh kita.

- Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jadi, pergunakan semaksimal mungkin untuk saling membahagiakan orang-orang tersayang. Karena ketika satu orang saja pergi, segalanya bisa jadi sangat berubah.

- Kebahagiaan, meski terkadang sulit untuk diraih, tapi bisa diusahakan. Yang penting kita tidak menyerah begitu saja.

Baca: Heart Field; Usaha Saya Mengganti Kecewa dengan Rasa Bahagia

~

Saya akan menutup tulisan tentang drama My Liberation Notes ini dengan kutipan dari Thich Nhat Hanh, seorang penyair dan aktivis HAM dari Vietnam. 

"The amount of happiness that you have depends on the amount of freedom you have in your heart." ~ Kebahagiaan yang kita miliki bergantung pada jumlah kebebasan yang kita miliki di hati.



Read More

Ide Bisnis Modal Kecil Untung Besar

Friday, June 10, 2022

 

Libur kenaikan kelas sudah di depan mata. Kebanyakan dari kita biasanya sudah menyusun rencana, hendak liburan ke mana. Termasuk suami saya, beliau sudah bertanya, mau ngapain aja kita di liburan nanti. Sebagai menteri keuangan keluarga, tentu saya langsung berhitung, ada berapa tabungan yang tersisa? Maklum, lebaran kemarin kami menghabiskan cukup banyak anggaran. Jadi, untuk liburan kali ini, budget-nya sudah mepet banget. Hihi...

Tapi kan ngga mungkin juga, ya, 3 minggu libur tapi anak-anak ngga kemana-mana. Sudah 2 tahun dikurung, bosen juga rasanya.

Nah, gimana nih biar liburan nanti ngga mengganggu uang belanja? Emak harus putar otak kan... Saya pun mulai cari tau, bisnis apa yang modalnya kecil, tapi hasilnya besar dan cepat? Hahaha... Maruk, yaa... Hihi... Tapi ada lho, bisnis seperti itu.

Apa saja tuh, bisnis modal kecil tapi untungnya besar?

1. Jasa Penitipan Binatang Peliharaan

Membuka jasa penitipan binatang peliharaan ternyata cukup menguntungkan lho... Modalnya cuma tempat, kandang, dan tenaga plus kemauan untuk bersihin pup. Hihi... Bisnis ini biasanya akan sangat ramai saat libur hari raya, atau libur sekolah seperti saat ini.

Tentu saja bisnis ini kurang cocok untuk saya, yaa... Kan saya yang mau liburan. Hehe...

Btw, saya biasa menitipkan kucing juga saat menjelang mudik begini. Di Solo, tarif per harinya rata-rata antara 25.000 - 35.000, bahkan ada yang lebih mahal. Hmm, ada yang tertarik?

Penitipan Kucing

2. Jasa Pengetikan

Ah, ini saya mau deh! Ada yang butuh jasa ketik? Hubungi saya, yaa.. Hihi...

Jasa pengetikan modalnya cuma laptop, listrik, dan waktu luang. Saya ngga terlalu paham tarifnya sih, tapi biasanya dihitung per halaman. 

Kalau kalian tinggal di daerah yang dekat dengan kampus, kalian bisa coba usaha ini. Meski komputer atau laptop sudah seperti kebutuhan primer bagi para mahasiswa, tapi tidak semua mahasiswa beruntung memilikinya. Nah, dengan membuka jasa pengetikan seperti ini, kalian sekaligus bisa membantu mereka. 😊

jasa ketik
Jasa Pengetikan, source: pixabay.com

3. Bisnis Jastip atau Jasa Titip

Ternyata bisnis ini potensial, gaes, apalagi untuk produk-produk yang banyak peminatnya. Saya pernah melihat seorang teman membuka jastip buku BBW (Big Bad Wolf). Buku-buku BBW ini punya segmen pasar sendiri. Biasanya, mama-mama muda yang anaknya masih batita, balita, atau di bawah 10 tahun, suka banget dengan buku-buku BBW yang memang berkualitas ini.

Pameran Buku BBW
BBW Books, source: Bisnis Tempo.co

Tentu kita harus melihat circle kita juga, yaa, untuk buka jastip ini. Kalau teman-teman kita rata-rata suka home decor, kita bisa buka jasa titip produk IKEA, Informa, dan semacamnya.

Buka jastip seperti ini insya Allah untung terus, karena barang yang kita beli bukan menjadi stok, melainkan sudah memiliki "tuan".

Oya, supaya dobel untungnya, teman-teman bisa mendaftar JNE Loyalty Card (JLC). Ini merupakan program keanggotaan yang ditujukan kepada pelanggan setia JNE, dan telah memiliki lebih dari 450.000 member.

Jika kita telah terdaftar sebagai member JLC setiap transaksi yang kita lakukan di sales counter JNE akan langsung dikonversi menjadi point JLC. Point ini nantinya dapat ditukarkan dengan berbagai pilihan hadiah berupa produk dan voucher, mulai dari gadget, perlengkapan rumah tangga, E-voucher, voucher ongkos kirim, serta produk menarik lainnya.

Voucher ongkir, untuk kita-kita yang berjualan online, tentu bisa mendukung bisnis kita. Para pelanggan pasti akan senang berbelanja di tempat kita, karena biaya kirimnya bisa kita tekan.

Oiya, dengan poin JLC ini kita juga bisa beramal lho.. Jadi, selain bisa ditukar dengan voucher dan produk, kita juga bisa melakukan donasi dengan point yang kita miliki. Wah, seru yaa...

Ngga cuma itu, setiap akhir tahun juga diadakan program JLC Lucky Draw yaitu program untuk member di mana member berkesempatan untuk menukarkan point JLC dengan nomor undian. Gimana? Tertarik untuk daftar JNE Loyalty Card? Caranya gampang kok. Cukup kunjungi website https://jlc.jne.co.id/ lalu lengkapi syarat-syaratnya. 

JNE Loyalty Card (JLC)

Nah, kalau sudah terdaftar, kita bisa mengintegrasikan JLC pada aplikasi My JNE. Setelah itu, kita bisa menggunakannya untuk cek tarif kiriman, cek JNE Nearby (JNE terdekat di sekitar kita berada), membeli pulsa atau kuota internet, membeli token listrik, hingga dompet digital dan pembayaran lainnya. Kompliiit pokoknya, semua ada dalam satu genggaman.

Tunggu apa lagi? Segera buka bisnismu, daftarkan juga dirimu di JNE Loyalty Card.😊


Read More