Review Scarlett Brightly Series (Brightly Ever After Serum, Brightly Ever After Day & Night Cream, dan Scarlett Brightening Facial Wash)

Friday, June 18, 2021

 

Scarlett Brightly Series

Sudah sejak lama saya penasaran dengan produk Scarlett karena produk ini sering banget berseliweran di timeline sosmed. Meski pada awalnya saya agak ragu untuk mencoba, tapi pada akhirnya pertahanan diri saya jebol juga. Karena harga produk Scarlett juga cukup terjangkau, jadi ngga ada salahnya dicoba, kan ya?

FYI, selain mempunyai produk bodycare, belum lama ini Scarlett juga mengeluarkan produk facecare. Ada dua jenis rangkaian produk facecare yang bisa kita pilih berdasarkan jenis kulit kita, yaitu Acne Series (berwarna ungu) dan Brightly Series (berwarna pink). Dari namanya, pasti teman-teman sudah bisa membedakan manfaat masing-masing, bukan? 

Ya, sesuai dengan namanya, Scarlett Acne Series diperuntukkan bagi kalian yang memiliki masalah dengan jerawat. Tak hanya membantu meredakan peradangan jerawat dan menyembuhkannya, seri yang terdiri dari Acne Serum dan Acne Day & Night Cream ini juga bermanfaat untuk melembabkan dan menghidrasi kulit, sekaligus menyamarkan pori-pori dan garis halus pada wajah.

Karena kulit saya bukan jenis kulit berjerawat, maka saya memilih rangkaian facecare Scarlett varian lainnya, yaitu Brightly Series yang terdiri dari;

  • Brightly Ever After Serum
  • Brightly Ever After Day Cream
  • Brightly Ever After Night Cream

Untuk memaksimalkan hasilnya, saya juga memakai Scarlett Brightening Facial Wash. Penasaran seperti apa produknya? Simak ulasan saya, yaa…

Scarlett Brightly Ever After Serum

Scarlett Bightly Ever After Serum
 

Informasi Produk:

  • Ukuran: 15 ml
  • Kemasan: Botol kaca dengan tutup dilengkapi pipet
  • Tekstur: Cairan bening yang agak keruh dan cukup kental
  • Kandungan Utama: Phyto Whitening, Glutathione & Vitamin C
  • Cara Pemakaian: Teteskan 2-3 tetes serum, usap dan pijat secara perlahan hingga merata ke seluruh wajah. Diamkan beberapa saat hingga serum meresap ke dalam kulit. Serum ini bisa dipakai baik siang maupun malam hari.

Kesan Pasca Pemakaian:

Kulit saya adalah jenis kulit kering, dan rasa keringnya akan sangat terasa di musim kemarau. Makanya, saya cenderung lebih memilih menggunakan serum anti aging, karena serum ini punya pelembab ekstra yang dapat memberikan kelembaban yang kulit saya butuhkan.

Namun, Scarlett Brightly Ever After Serum menjawab kekhawatiran saya. Saya kira, serum ini bakalan sama dengan serum pencerah yang pernah saya coba sebelumnya, tapi ternyata tidak. Hanya dengan 3 tetes, serum ini sudah cukup melembabkan seluruh kulit wajah saya.

Review Scarlett Brightly Ever After Serum

 
Ukurannya memang mungil, tapi kandungannya cukup komplit, berupa kombinasi antara Glutathione dan Vitamin C, juga Niacinamide. Glutathione dan Vitamin C merupakan antioksidan yang berfungsi melindungi kulit dari bahaya radikal bebas, sekaligus membuat kulit tampak cerah dan glowing. Sementara itu, Niacinamide bermanfaat untuk membantu mengecilkan pori-pori kulit.

Jika dengan serum seharga Rp 75.000 saja saya bisa mendapatkan manfaat ganda berupa kulit lembab dan cerah sekaligus, tentu saya tak akan ragu menggunakan serum ini secara rutin sekarang dan seterusnya.

Scarlett Brightly Ever After Day & Night Cream


Scarlett Brightly Ever After Day Cream

Scarlett Brightly Ever After Day Cream

Informasi Produk:

  • Ukuran: 20 gr
  • Kemasan: Jar
  • Tekstur: Creamy 
  • Kandungan Utama: Glutathione, Rainbow Algae, Hexapeptide-8, Rosehip Oil, Poreaway, Triceramide, Aqua Peptide Glow
  • Cara Pemakaian: Aplikasikan Scarlett Brightly Ever After Day Cream pada wajah yang sudah dibersihkan, atau setelah pemakaian serum. Pijat dengan lembut ke seluruh wajah.

Review Scarlett Brightly Ever After Day Cream

Komposisi yang terkandung dalam Scarlett Brightly Ever After Day Cream dan manfaatnya:

  1. Glutathione: Antioksidan yang dapat membuat kulit tampak cerah dan bersinar
  2. Rainbow Algae: Membantu mencerahkan dan mengurangi hiperpigmentasi pada kulit
  3. Hexapeptide-8: Membantu menyamarkan kerutan
  4. Rosehip Oil: Kaya akan asam lemak esensial dan antioksidan yang bermanfaat untuk meredakan peradangan
  5. Poreaway: Memperbaiki tekstur kulit dan mengecilkan pori-pori
  6. Triceramide: Membantu melembabkan kulit, mencegah penuaan, juga mencegah timbulnya kerutan
  7. Aqua Peptide Glow: Menghidrasi kulit dan membuat kulit tampak bercahaya

Scarlett Brightly Ever After Night Cream

Review Scarlett Brightly Ever After Night Cream

Informasi Produk:

  • Ukuran: 20 gr
  • Kemasan: Jar
  • Tekstur: Creamy
  • Kandungan Utama: Glutathione, Niacinamide, Natural Vit-C, Hexapeptide-8, Poreaway, Green Caviar, Aqua Peptide Glow
  • Cara Pemakaian: Aplikasikan Scarlett Brightly Ever After Night Cream pada wajah yang sudah dibersihkan, atau setelah pemakaian serum. Pijat dengan lembut ke seluruh wajah. 

Komposisi yang terkandung dalam Scarlett Brightly Ever After Night Cream dan manfaatnya:

Sebenarnya, ada beberapa komposisi yang sama dengan yang terdapat pada Scarlett Brightly Ever After Day Cream, seperti; Glutathione, Hexapeptide-8, Poreaway, dan Aqua Peptide Glow. Namun, ada beberapa manfaat lain yang bisa kita dapatkan dari kandungan lainnya, seperti;

  • Niacinamide: Membantu mencerahkan kulit
  • Natural Vit-C: Sebagai antioksidan dan pelindung kulit dari bahaya radikal bebas juga pengaruh buruk sinar UV
  • Green Caviar: Membantu kulit melawan dehidrasi, sehingga kulit tetap terasa lembab dan kenyal

Kesan Pasca Pemakaian:

Scarlett Brightly Ever After Day & Night Cream memiliki wangi khas yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Apakah ini wangi dari rosehip oil? Entahlah.

Saat diaplikasikan ke kulit, baik day cream maupun night cream meresap dengan cepat, dan meninggalkan kesan kesat di kulit saya. Jadi, untuk teman-teman yang memiliki jenis kulit kering seperti saya, saya sarankan untuk menggunakan serum atau moisturizer lebih dahulu.

Oya, satu lagi. Karena kemasannya berbentuk jar, maka teman-teman harus memperhatikan kebersihan tangan saat menggunakan cream ini, yaa…

Scarlett Brightly Series


Scarlett Brightening Facial Wash

Review Scarlett Brightening Facial Wash

Tak lengkap rasanya jika menggunakan Scarlett Brightly Series tanpa menggunakan Scarlett Brightening Facial Wash untuk pencuci mukanya. Makanya, saya pilih facial wash yang mengandung Glutathione, Aloe Vera, Rose Petal, dan Vitamin E ini.

Asli, pas lihat kemasannya aku langsung terpesona. Cantik bangeeet soalnya. Tidak seperti serum dan cream yang kemasannya terbuat dari kaca, Scarlett Brightening Facial Wash dikemas dalam botol plastic yang lentur dan langsing. Ya kan biasanya facial wash ditaruh di kamar mandi, ya, jadi riskan kalau terbuat dari bahan yang mudah pecah.

Nah, selain cantik di kemasan, Scarlett Brightening Facial Wash juga mudah dibuka. Ini jadi nilai plus buat saya, soalnya saya pernah menemukan facial wash yang susah banget dibuka, huhu…

Informasi Produk:

  • Ukuran: 100 ml
  • Kemasan: Botol plastic
  • Tekstur: Gel dengan butiran halus di dalamnya
  • Cara Pemakaian: Tuangkan secukupnya facial wash ke telapak tangan, busakan, lalu usap merata ke seluruh wajah. Setelah itu, bilas dengan air bersih. Gunakan secara rutin, pagi dan malam, untuk hasil optimal.

Kesan Pasca Pemakaian:

Seperti yang sudah saya tulis di atas, kulit saya adalah jenis kulit kering, sehingga saya tidak suka dengan pembersih wajah yang membuat wajah kesat, karena hal itu akan semakin membuat kulit wajah saya kering. Dan saya bersyukur Scarlett Brightening Facial Wash mampu membersihkan tanpa menghilangkan kelembaban alami kulit wajah.

Review Scarlett Brightening Facial Wash

Setelah memakai produk ini selama 2 minggu, inilah beberapa keunggulan Scarlett Brightly Series menurut Kayusirih:

1. Teruji bebas Mercury dan Hydroquinone
Dari ingredients yang terdapat di kemasan, saya tidak menemukan adanya mercury dan hydroquinone. Karena saya ngga mudah percaya, saya juga menonton review-review dokter di YouTube. Masa dokter bohong ya, kan?

2. Terdaftar di BPOM RI, bisa dilihat di setiap kemasan

3. Di channel YouTube “Tanyakan Dokter”, kandungan yang terdapat di Scarlett Brightly Series aman untuk ibu hamil. (tapi untuk Scarlett Acne Series tidak disarankan, yaa…)

4. Harga yang terjangkau
Pada awalnya saya mengira produk-produk Scarlett adalah produk buat “Sultan”, karena ada nama Felicya Angelista di sana. Ternyata dugaan saya salah. Harga masing-masing produk hanya Rp 75.000,- gaes..

5. Scarlett sangat memperhatikan keamanan dalam pengemasannya. Lihatlah, ada pelindung / penahan agar produk senantiasa aman dalam proses distribusinya. Selain itu, kemasannya juga sangat informatif karena mencantumkan nomor BPOM, ingredients, tanggal kadaluarsa, saran penyimpanan, juga cara pemakaian.

6. Terbukti membuat wajah tampak lebih cerah setelah 2 minggu pemakaian

Scarlett Brightly Series

Review Scarlett Brightly Series

Review Scarlett Brightly Series

Scarlett Brightly Series

Scarlett Brightly Series Aman

So, apakah Scarlett Brightly Series ini layak untuk dicoba? Of course, yes! Scarlett Brightly Series bisa dibeli melalui WhatsApp (0877-0035-3000), line (@scarlett_whitening), dan Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop. Selamat mencoba!


Read More

Memutus Stigma Sosial pada Penderita Kusta

Wednesday, June 2, 2021

Memutus Stigma Sosial pada Penderita Kusta
foto: BlogDokter, edited by: kayusirih.com via canva.com

Tentang Penyakit Kusta / Lepra

Saat SD dulu, saya pernah menonton sebuah film India, yang pada salah satu scene-nya terdapat sebuah adegan yang memperlihatkan tentang proses pengasingan seseorang yang menderita penyakit lepra. Saya ingat, pada ibu saya bertanya, apa itu penyakit lepra?

Ibu menjawab singkat dengan Bahasa Jawa, "Lepra ki penyakit kulit."

"Kenapa kok kudu (harus) diasingkan?" tanya saya lagi.

"Lha menular. Nek kena bisa dadi cacat (Kalau terkena bisa mengakibatkan kecacatan)." jawab ibu lagi.

Saya menghentikan tanya, kemudian kembali fokus pada jalan cerita di film itu. Sayangnya, saya kesulitan mengingat judul film tersebut. Yang saya ingat, seorang yang diasingkan itu adalah wanita yang sudah renta, dengan pakaian dan kain sari berwarna putih membalut tubuhnya. 

Puluhan tahun berlalu, masa itu terlintas kembali di ingatan. Gara-garanya, seorang teman membagikan info adanya Talkshow Ruang Publik yang diadakan oleh KBR, yang akan membahas tentang upaya pemberantasan kusta di tengah pandemi. Tak hanya membahas tentang upaya-upaya pemberantasan kusta, di talkshow tersebut juga dibahas mengenai inklusivitas penyandang disabilitas akibat kusta.

Omong-omong, teman-teman sudah tahu tentang kusta?

Kusta, yang juga dikenal dengan sebutan lepra, adalah infeksi kronis yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, hingga mata, yang penyebabnya adalah Mycobacterium leprae.


Banyak yang mengira bahwa penyakit kusta sudah punah dari bumi. Saya salah satunya. Namun, ternyata saya salah. Faktanya adalah, setiap dua menit, satu orang terdiagnosis menderita penyakit kusta, dan penyakit ini telah menyebabkan disabilitas permanen pada sekitar 4 juta orang. 

Dari talkshow kemarin, saya jadi tahu bahwa India menduduki puncak tertinggi untuk total kasus kusta di seluruh dunia. Sedihnya, Indonesia pun punya banyak kasus kusta, yang menjadikannya menduduki peringkat ketiga setelah Brazil.


Gejala Penyakit Kusta

Gejala umum yang sering muncul pada penderita kusta, di antaranya;

  • Adanya bercak pada kulit, dapat berupa hipopigmentasi seperti panu atau kemerahan, yang semakin lama semakin melebar
  • Mati rasa pada kulit yang mengalami bercak, baik terhadap perubahan suhu, sentuhan, tekanan, maupun rasa sakit
  • Tidak aktifnya kelenjar keringat pada daerah yang mengalami bercak
  • Terdapat pelebaran saraf, biasanya terjadi di area siku dan lutut
  • Deformitas pada anggota gerak (kelumpuhan pada otot kaki dan tangan) 
  • Hilangnya jari-jemari
  • Kerontokan pada alis dan bulu mata
  • Munculnya kelainan pada mata; mata menjadi kering dan jarang mengedip, serta terjadinya kebutaan
  • Terdapat benjolan-benjolan pada muka, yang disebut facies leomina (muka singa)
  • Kerusakan pada hidung yang mengakibatkan terjadinya mimisan, hidung tersumbat, atau kehilangan tulang hidung


Kusta Bukanlah Kutukan

Menyadari betapa mengerikannya gejala dan akibat yang ditimbulkan oleh penyakit kusta, wajar jika kemudian muncul ketakutan akan tertular di benak orang-orang sekitar. Namun, mengucilkan dan menganggap penyakit ini sebagai sebuah kutukan atau hukuman dari Tuhan, bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Untuk itu, edukasi diperlukan baik pada penderita kusta, maupun pada masyarakat luas.

Pada penderita kusta, perlu diberikan edukasi bahwa jujur mengakui apa yang dideritanya adalah jauh lebih baik daripada terlambat memperoleh penanganan.

Selain itu, informasi atau fakta lain tentang kusta yang juga perlu disebarluaskan, di antaranya;

1. Penularan kusta tidak semudah yang kita kira. Menurut Center for Disease Control and Prevention, penularan penyakit kusta belum diketahui secara pasti. Namun, ada dugaan bahwa penularan bisa terjadi melalui droplet dari orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin, serta kontak dekat dalam jangka waktu lama.

2. Kusta dapat sembuh dengan sempurna, asalkan belum timbul cacat dan penderita kusta mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Pengobatan kusta dilakukan dengan cara MDT (Multi-Drug Therapy), dalam jangka waktu paling cepat 6 bulan, dan paling lama bisa mencapai 19 bulan bahkan 2 tahun.

3. Penderita kusta yang sedang dalam pengobatan, tidak berisiko menularkan kuman Mycobacterium leprae, karena satu kali saja mengonsumsi obat, kuman lepra akan kehilangan kemampuannya untuk menularkan kepada orang lain. Sehingga, tidak perlu khawatir, apalagi sampai mengucilkan penderita kusta.

4. Pengobatan dengan cara MDT memiliki tingkat keberhasilan hingga 99,9%. Obat-obatannya juga tersedia gratis di puskesmas.

Upaya Pemberantasan Kusta di Kabupaten Bone

Pada tahun 1942, di Indonesia terdapat tempat pengasingan para pengidap penyakit kusta di Gorontalo. Tempat itu merupakan gedung peninggalan penjajah Jepang yang disebut Bokuka. Setelah sempat berganti nama menjadi Rumah Sakit Kusta Toto (RSKT), kini rumah sakit tersebut dijadikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Toto Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

Stigma pada Penderita Kusta

 

Pada Talk Show Ruang Publik yang diadakan KBR Senin kemarin, hadir pula Bapak Komarudin S.Sos.M.Kes, selaku Wakil Supervisor Kusta Kabupaten Bone. Beliau menjelaskan tentang program-program pemberantasan kusta di Kab. Bone pada masa pandemi. Dan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kab. Bone antara lain;

  • Pemberian obat pencegahan kusta
  • Pemeriksaan penderita kusta
  • Survey / pemeriksaan kusta pada anak sekolah
  • Kampanye eliminasi kusta, dll

Upaya-upaya tersebut di atas tidak hanya melibatkan tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan kader-kader di desa-desa, baik yang terlatih kusta maupun yang tidak terlatih kusta. Tugas kader-kader tersebut antara lain mendata kasus kelainan kulit dan juga melakukan penyuluhan di lingkungan masing-masing. 

Tak cukup di situ, penderita kusta pun diberikan edukasi untuk selalu menjaga kelembaban kulit agar kulit tidak mudah terluka. Caranya dengan merendam kaki di dalam wadah (baskom) yang sudah diisi dengan air. Tak lupa, penderita kusta juga disarankan untuk selalu menggunakan alas kaki, untuk mencegah terjadinya luka pada kaki.

Intinya, masyarakat di Kabupaten Bone senantiasa diingatkan untuk mengamalkan sebuah Peribahasa Bugis, yaitu;

ya tutu ya upe' ya capa' ya cilaka (yang berhati-hati akan selamat, yang lalai akan celaka)

Oya, saya sempat mengajukan satu pertanyaan pada Bapak Komarudin, dan alhamdulillah pertanyaan saya dibacakan. Silakan simak di sini:


OYPMK Hidup dalam Stigma 

OYPMK atau Orang Yang Pernah Menderita Kusta, hidup dalam stigma. Pandangan-pandangan negatif masyarakat sekitar, tak henti membayang. Belum lagi jika OYPMK tersebut terlanjur mengalami kecacatan. Diskriminasi pun terkadang tak terelakkan. 

Baiklah, kita urai satu per satu beban mereka, lalu kita buka mata dunia.

Dekat dengan OYPMK Bisa Tertular, Lebih Baik Menghindar?

Sedihnya jadi penderita kusta, bak orang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah sakit, dikucilkan pula. Betul bahwa kusta menular, akan tetapi tentang penularan kusta, dunia harus tahu bahwa kusta tidak menular melalui cara berikut ini;

  • Berjabat tangan atau berpelukan
  • Duduk bersebelahan
  • Duduk bersama saat makan
  • Juga tidak diturunkan kepada janin, apabila ibu hamil menderita penyakit kusta

Difabel Kurang Kredibel?

Setelah mengetahui bahwa kusta merupakan penyakit menular yang sulit menular, semoga para OYPMK tidak lagi kesulitan dalam mencari penghidupan yang sesuai dengan kapabilitas mereka. Saat ini, belum banyak perusahaan yang menerapkan inklusivitas pada penyandang disabilitas. 

Salah satu perusahaan yang sudah menerapkan inklusivitas pada penyandang disabilitas adalah Jawa Pos. Menurut DR. Rohman Budijanto, S.H., M.H., Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi-JPIP, lembaga nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah, di Jawa Pos tidak ada diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Jawa Pos pernah mempekerjakan orang dengan half blind, bibir sumbing, kerdil / cebol, dll. 

Kita tentu berharap isu inklusif disabilitas dapat diimplementasikan lebih luas, sehingga teman-teman penyandang disabilitas mendapat hak yang sama dalam berprofesi. Karena jika memang kompeten di bidang yang ditekuni, mengapa harus dipandang dari segi fisik saja, ya kan?


 

 

Sumber bacaan:

- https://www.klikdokter.com/penyakit/lepra
- https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3621728/cara-penularan-kusta-yang-perlu-anda-tahu
- https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3636848/mengenal-penularan-penyakit-kusta-yang-sering-dikira-kutukan
-  https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3622119/mengapa-kusta-bisa-bikin-anggota-badan-copot
- https://www.halodoc.com/artikel/bukan-diasingkan-ini-cara-mengobati-kusta



Read More