3 Fitur Unggulan OPPO F9 Yang Menarik Perhatian

Thursday, August 30, 2018


Halo teman-teman... Sedikit berbeda dari biasanya, kali ini kayusirih.com akan membahas tentang gadget. Buat teman-teman yang sedang mencari referensi, mungkin mau beli smartphone baru, atau mau kasih hadiah smartphone buat orang tersayang, baca tulisan ini sampai habis yaa...

By the way, udah tau kan kalo OPPO baru aja merilis smartphone keluaran terbaru mereka yaitu OPPO F9? Woaaaa! Ada yang baru lagi nih! Pada penasaran nggak sih, ada apa di OPPO F9 ini? Kalo saya sih, jujur aja penasaran banget. Makanya saya banyak nyari informasi tentang OPPO F9 ini. Yah, siapa tau nanti ada rezeki kan buat ganti smartphone baru, ke OPPO F9 yang menurut saya kece banget speknya waktu launching kemarin.

Si OPPO F9 sendiri ternyata punya tiga fitur unggulan loh gaes! Mau tau apa aja? Cek di bawah ini:

1.      Gradient Spraying Technology

OPPO F9

Waktu pertama kali liat, smartphone ini udah langsung bikin saya tertarik karena warnanya designnya itu kayak ada gradasinya dan ada tekstur kelopak natural. Makanya bodi OPPO F9 ini bisa menggambarkan cahaya yang dinamis dan efek bayangan yang mengagumkan. *tsaah

OPPO F9 sendiri tersedia dalam tiga warna gradasi yang cantik, yaitu Sunrise Red, Twilight Blue, dan Starry Purple. Pokoknya penampilan OPPO F9 ini unik dan fresh banget. Cocok buat generasi millenials kayak kita. (((kita))) Hehehe.

2.      Waterdrop screen

OPPO F9, sumber: BGR India

Selain itu, dia juga punya poni atau “notch” yang beda dari yang lain. Notch pada OPPO F9 berukuran lebih kecil, kita bisa liat langsung di bagian atas layarnya. Notch yang menyerupai tetesan air tersebut dinamakan waterdrop screen.

Usut punya usut, ternyata waterdrop screen di OPPO F9 ini yang pertama di industry smartphone loh, dengan layar penuh berukuran 6,3 inci dan screen-to-body-ratio sebesar 90,8% yang membuat tampilannya makin stylish.

Keren yaaa... 

3.    VOOC Flash Charge

OPPO F9

Ini fitur yang paling saya suka dari OPPO F9, yaitu VOOC Flash Charge, yang merupakan sistem pengisian daya tercepat di industry smartphone dengan menggunakan tegangan rendah. Cukup isi daya selama 5 menit, smartphone ini bisa kita pakai untuk telepon selama 2 jam. Membantu banget kan? Udah gitu secara tegangannya rendah, otomatis OPPO F9 ini gak akan overheat atau kepanasan saat dicas.

Menurut kabar yang saya dengar, sejak tahun 2014 OPPO meluncurkan VOOC ini, VOOC sudah mendaftarkan lebih dari 500 paten  dan sudah digunakan oleh 90 juta pengguna smartphone di dunia.

Untuk kapasitas baterainya adalah 3500 mAh dengan AI Battery Management, yang membuat penggunaan smartphone OPPO F9 ini bertahan lama.

Nah, karena tiga fitur inilah saya merasa tertarik dengan OPPO F9, terutama VOOC Flash Charge-nya. Penting banget sih itu, apalagi buat orang-orang yang setiap harinya sering berkomunikasi pake smartphone. Betul nggak?

Buat kalian yang mungkin masih penasaran, kalian bisa langsung visit aja webnya (https://www.oppo.com/id/smartphone-f9), biar lebih jelas dan detail dapet informasinya. Okey???

Atau kalau mau menangin OPPO F9, tinggal cek: http://f9.oppomobile.id
Read More

Di Atas Meja Rindu Itu Hilang

Tuesday, August 21, 2018

Akhir-akhir ini, saya sedang senang mendengarkan lagu sebagai teman beraktivitas. Entah itu saat menulis, mencuci, menyapu, mengepel, pokoknya music always on. Kalau beberapa waktu lalu, playlist di komputer hanya dihuni "Penyendiri" by Nadya Fatira, kali ini selera saya sedikit bergeser. Saya sedang suka, dan baper juga, sama lagunya Payung Teduh yang judulnya "Di Atas Meja". 

Coba resapi lirik ini:

Di atas meja rindu itu hilang
Dalam kata-kata
Sebentar lagi kita saling lupa

Kita menjelma pagi dingin yang dipayungi kabut
Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Di dalam kamar rindu itu menguap
Dalam kebisuan
Sebentar lagi kita semakin lupa

Kita menjelma kebisuan yang tak bisa diungkap
Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara 
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Di tiap langkah rindu kita menghilang
Penuh keraguan
Lalu kita pun sungguh semakin lupa

Kita menjelma kebisuan yang tak kunjung terungkap
Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda


Dalem banget kan ya?

Entah kenapa, mendengarkan lagu ini, saya langsung membayangkan ini nih,




Ketika Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon bertemu "di atas meja", Dr. Kang memutuskan untuk berhenti berjuang. Memang lara, tapi "ini keputusan yang terbaik", katanya.

Saya memang menyimpulkan lagu ini sebagai lagu perpisahan. Apalagi dalam syairnya, ada "sebentar lagi kita saling lupa", meski melupakan mantan itu tak semudah membalikkan tangan, ya kan?

Namun sesungguhnya, Is, pencipta lagu ini, mengatakan bahwa "Di Atas Meja" tercipta dari sebuah kelelahan.
"Ini sangat menakutkan. Ini teriakan saya terhadap pengaruh dari betapa jarang bertemunya dengan kekasih tercinta, istriku. Giliran bertemu, kami bertemu dalam atmosfer yang lelah dan letih," terang Is, dalam keterangan pers yang diterima Metrotvnews.com, Selasa, 12 Desember 2017.

Is menggambarkan bahwa ruang makan dan di atas meja adalah tempat yang sakral bagi sebuah keluarga. Tempat di mana para anggota keluarga dapat berbagi cerita sembari makan bersama."
Tapi meski nadanya rada mellow, dalam lirik lagu itu sesungguhnya terkandung sebuah motivasi. Ini yang saya garis bawahi, "mengapa takut pada lara? sementara semua rasa bisa kita cipta".

Yes, kita adalah pengendali diri kita. Mau sedih, marah, kecewa, bahagia, atau takut sekalipun, sebenarnya bisa kita atur. Hanya memang, kita perlu waktu untuk melatihnya. Indeed, happiness is made, not given, right? 

happiness is made, not given. picture by pixabay.
Jadi, teman-teman lagi suka lagu apa? ☺☺
Read More

Makan Lalapan Terancam Toksoplasma? Duh, Gimana Ya?

Tuesday, August 14, 2018


picture taken from Pixabay, edited by Kayusirih

Beberapa hari lalu, seseorang mengirimi saya pesan via instagram. Konon, si Mbak sengaja mencari nama saya setelah membaca tulisan saya tentang toksoplasma. Ya, bisa ditebak, si Mbak terkena toksoplasma, karena sering kontak dengan kucing. Jujur, saya sedih banget waktu baca curhatannya.



Chat beliau melalui Instagram saya


Oya, tulisan yang dibacanya adalah; Belajar Tentang Toxoplasma Gara-Gara Rahayu Pawitri 

Percakapan saya dengan si Mbak, saya tunjukkan kepada Mbak Rahayu Pawitri (Mbak Wiwit) juga. Dan kata Mbak Wiwit, saat ini Mbak Wiwit sedang berusaha untuk melakukan penyembuhan dengan caranya sendiri. Kita doakan sama-sama yuk, semoga Mbak Wiwit berhasil, dan nanti bisa cerita ke kita lewat blognya. ☺

Nggak berhenti di situ, pas screenshot percakapan saya dengan si Mbak yang terkena infeksi toksoplasma itu saya buat status di WA, seorang tante cantik nan sholihah pun mengaku terkena toksoplasmosis okular, yaitu toksoplasma yang mengenai mata. Penyakit ini menyebabkan gangguan penglihatan, muncul floater (nik-nik, seperti ada benda kecil yang melayang-layang menghalangi pandangan) pada mata. Kemungkinan terburuk jika terinfeksi parasit Toxoplasma gondii di area mata adalah kebutaan. :( 

Alhamdulillah, saat ini tante cantik nan sholihah itu sudah sembuh, dan sudah memiliki putri kecil yang imut dan lucu. Apakah si tante ini memelihara kucing? Tidak. Lalu tertular toxoplasma dari mana? Dari LALAPAN.

Sedih ya? Niat mengonsumsi sayuran segar gitu kan biar badan sehat. Ini malah kena penyakit. 

Secara kebetulan, kemarin #BloggerKAH juga ingin berkolaborasi membahas lalapan ini. Nanti dibaca ya tulisan Mbak Ran di sini dan Mbak Widut di sini. Saya, Mbak Rani dan Mbak Widut, memang suka sekali makan sayur. Saya bahagiaaaa banget kalau pas ke Rumah Makan Khas Sunda, karena Masakan Sunda itu surganya lalapan.

masakan sunda, siapa tak tergoda?

Timun, kemangi, kubis / kol, daun selada, kenikir (atau orang Purworejo menyebutnya suring), kacang panjang, adalah beberapa contoh lalapan kesukaan saya. Tapi, saya menemukan daun lalapan enak, waktu saya melewati Sumedang akhir tahun lalu. Namanya adalah Daun Tespong. 

Daun Tespong ini bentuknya hampir mirip dengan daun seledri. Rasanya semriwing. Dan ternyata, khasiat dari daun tespong ini banyak sekali. Mengutip satuharapan.com, selain banyak dikonsumsi sebagai lalapan, daun tespong juga dipercaya sebagai obat anti nyeri pinggang, demam, flu, memar, juga obat digigit ular dan kalajengking. Itulah sebabnya, banyak kalangan akademisi yang tertarik untuk meneliti khasiat tanaman ini. Seperti Tina Rostinawati, MSi, Apt dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, yang menemukan bahwa daun tespong berpotensi sebagai anti mikroba.

Lebih hebatnya lagi, transferfactorformula.com juga menuliskan khasiat daun tespong sebagai anti kanker. Kandungan antioksidannya yang tinggi, mampu menghambat aktivasi karsinogen yang memicu sel kanker. Daun tespong juga mengandung unsur-unsur seperti flavonoid, fenilpropanoid, dan asam fenolik, yang kesemuanya itu mampu mencegah timbulnya sel kanker dalam organ tubuh.

Ini penampakan lebih dekat daun tespong yang kayak manfaat itu yaa.. Tapi plis, jangan salahkan saya kalau pada ngiler dengan makanannya.. Saya pun kangen dengan semua makanan itu, hiks.. 

daun tespong, lalapan di masakan sunda. duh lezatnya..

Jadi kangeeen sama Masakan Sunda. Kangeeen sama daun tespong juga. Tapi, duh, takut sama toksoplasma juga. Gimana ya, biar bisa tetap nyantai makan sayuran segar tanpa khawatir terkena protozoa parasit mengerikan itu?

Nah, pas ingat sayuran mentah, saya langsung auto connect pada diet sehat ala food combining (FC). Kebetulan saya kenal salah satu pelaku FC, yaitu Mbak Widyanti Yuliandari. Beliau juga merupakan penulis buku berjudul "Food Combining Pola Makan Sehat, Enak dan Mudah".

Ini dialog saya dengan beliau, setelah saya ceritakan tentang teman-teman yang terkena toksoplasma karena mengonsumsi lalapan atau sayuran mentah.

Arin: "Mbak Wid kan pelaku food combining yaa, yang sering mengonsumsi raw food. Ada cara tidak, supaya buah dan sayur yang kita konsumsi terhindar dari virus (saya salah, Toxoplasma gondii ini bukan virus, tapi protozoa parasit) ini? Kan serem ya, niat mengonsumsi sayuran segar supaya sehat, malah kena penyakit yang sulit disembuhkan.."

Mbak Widyanti
"Pertama perlakuan buah dan sayurnya ya. Karena keduanya dikonsumsi terutama mentah. Sayur dan buah harus dicuci bersih di air mengalir. Ambil air sebaskom, beri cuka apel 3 sendok lalu rendam sayurannya (3-5 menit). Setelah itu bilas kembali di air mengalir.

Kedua cara makan. Buah atau sayur yg berkulit sebaiknya dikupas terutama jika tidak organik.

Yang tak kalah penting yaitu Kunyahan. Mengunyah harus saksama dan sampai sangat halus. Tujuannya supaya air liur melaksanakan tugasnya membunuh kuman. Walau dalam bentuk jus, tetap harus dikulum2 supaya nyampur dg liur.

Dan kalau pola makannya sudah benar, sebetulnya kuman bakal susah kok hidup di tubuh. Karena sifat tubuh jadi agak basa sedangkan kuman suka PH asam."

Alhamdulillah, ngobrol dengan Mbak Wid, saya jadi tercerahkan. Nah, setelah membaca penjelasan Mbak Widyanti tadi, jangan takut lagi ya untuk mengonsumsi lalapan. Kalau mau makin sehat lagi, teman-teman bisa coba diet ala Food Combining. Biar lebih jelas lagi, teman-teman bisa beli buku Food Combining karya Mbak Widyanti Yuliandari ya.. Semangat sehat semuaaa... ☺

buku Food Combining karya Widyanti Yuliandari, S.T. 

Read More

Berjalanlah di Atas Kekuranganmu Maka Kamu Akan Unggul di Situ (2)

Saturday, August 11, 2018

Kemarin saya tampil di MTA TV, lalu banyak yang memuji. Saya dibilang hebat lah, keren lah, padahal ... Saya masih jauh dari predikat itu.

Bincang Ilmu dan Manfaat, MTA TV

Tahu nggak sih? Saya sebenarnya banyak kurangnya. Hanya, tidak saya tunjukkan saja.

Jauh sebelum hari ini, saya pernah berada dalam kondisi yang menyedihkan. Rendah diri, minder, pesimistis, dan kurang percaya diri. Alhamdulillah nggak sampai kepada Inferiority Complex.

Sebelum terlanjur jauh, mengutip medium.com,  Inferiority Complex adalah sebuah kondisi psikologis (tingkat alam bawah sadar), ketika suatu pihak merasa inferior/lemah/lebih rendah dibanding pihak lain, atau ketika ia merasa tidak mencukupi suatu standar dalam sebuah sistem.

Nah, katanya, harus dibedakan antara minder dengan Inferiority Complex itu. Lebih jelasnya, baca tautan ini saja: Bedakan Minder dengan Inferiority Complex

Dulu, saya merasa saya ini seperti nggak ada gunanya. Saya nggak sempat menyelesaikan kuliah, karena suami meminta saya fokus mengurus anak-anak. Saya juga nggak diijinkan berkarir kembali. 

Oya, biar nggak roaming, saya ceritakan mengapa saya berhenti kuliah yaa..

Jadi, saya ketemu lagi sama suami (mantan pacar) saat ibu saya meninggal. Saat itu saya baru semester 3. Semester depannya, saya dilamar. Semester depannya lagi (semester 5), saya menikah. Bukan karena married by accident lho yaa, karena saya hamil anak pertama pun baru 7 bulan setelah menikah. Saya menikah karena memang saya nggak ingin pacaran. 
Tadinya, setelah pindah ke Solo untuk ikut suami (7 bulan saya menjalani long distance marriage antara Bogor dan Jogja-Solo), saya mau melanjutkan kuliah lagi. Eh, malah hamil, dan kondisi saya kurang baik, karena saat hamil Amay, saya mual muntah sampai usia kandungan 7 bulan. Yowis, terpaksa diundur dulu rencana kuliahnya. Trus kebablasan deh, karena suami bilang, mending jagain Amay aja dulu. Mau kerja pun dilarang, lagi-lagi karena Amay.

Alasannya memang sangat masuk akal sih. Kebetulan saya adalah mantan guru TK. Pertama, menurut suami saya, saya lebih dibutuhkan oleh anak saya dibandingkan oleh anak-anak orang lain. Kedua, gaji guru TK nggak sebanding dengan gaji tenaga untuk menjaga anak saya.

Oke, akhirnya saya terima alasan suami, meski tetap ada ganjalan di hati.

Saya sering didera perasaan sedih dan menyesal. Dan rasa itu bertambah-tambah, saat membuka timeline Facebook, saya melihat teman-teman kuliah berbahagia memakai toga. Saya mulai berandai-andai, betapa bahagianya jika saya ada di sana juga.

Saya mulai minder ketika teman-teman SMA semakin terlihat menawan karena karirnya yang mapan. Sementara saya? Bau ompol dan bau bawang. Kadang bahkan sampai lupa sisiran. Jangankan wajah, pakaian saja hampir tak terperhatikan.

Ngenes ya?

Saya pun berandai-andai lagi, jika bisa menarik waktu kembali, saya mending nggak usah masuk SMA 1 Purworejo saja. Mendingan saya ke SMA lainnya, yang jika nggak kuliah pun akan terasa baik-baik saja. Dan malah jadi luar biasa jika ada alumni yang bisa melanjutkan studinya.

Rupanya Allah menjadikan saya sebagai alumni SMA 1 yang "luar biasa", karena mungkin cuma saya yang nggak jadi sarjana. Hahaha... *ketawa ngenes

Tapi, suami saya rupanya tak sekedar melarang tanpa memberikan solusi. Suami saya membuatkan blog ini, meski gratisan, lalu menyuruh saya mencari komunitas untuk berlatih menulis dan mencari teman. Maklum, di Solo, saya nggak kenal siapa-siapa.

Sampai akhirnya, saya bertemu dengan IIDN, lalu KEB. Dari dua komunitas itu saya belajar menulis dan memperkaya diri.

persiapan sebelum live di MTA TV

pasca tampil di MTA TV kemarin

Memang tidak ada yang instan. Saya mulai belajar menulis sejak 2013, dan baru mulai merasakan hasilnya belakangan ini.

Mengutip pesan Pak Supeno, dosen saya, "Berjalanlah di atas kekuranganmu, maka kamu akan unggul di situ," saya yang tadinya sangat buruk dalam hal mengarang dan berimajinasi, akhirnya malah mencari rezeki dari sini.

Jadi teman-teman, kelemahan bukan untuk diratapi, tapi untuk dijadikan motivasi. Lagipula, kata Cak Nun di bukunya yang berjudul "Secangkir Kopi Jon Pakir", campus is not the only way to be someone. Jadi, teman-teman yang senasib dengan saya, harus tetap semangat yaa... 😊😊
Read More