Stop Minta Gratisan pada Teman

~~~~
A, seorang penulis yang baru saja menelurkan buku baru. Di status yang ditulisnya di social media, ia mempromosikan buku barunya itu. "Yuk dibeli, sudah tersedia di toko buku, lho..." tulisnya.

Namun ada yang membuatnya agak gimanaaaa gitu, ketika ia membaca seorang temannya berkomentar, "Lemparin bukunya satu, dong." Teman lain berkomentar pula, "Buat teman dekat mah gratis yaa..." Ada pula yang menulis, "Dapat harga teman ngga, nih?" Mungkin komentar-komentar tersebut terlihat biasa saja, dan mungkin ada bumbu basa-basi dan sekedar bercanda. Akan tetapi, tidak begitu bagi A.


Dalam hati - hanya di dalam hatinya - ia berkata, "Mereka pikir membuat buku itu tidak susah? Tahukah mereka aku harus begadang, harus rela meninggalkan anak-anak di rumah demi mencari referensi buku di perpustakaan? Apa mereka tidak tahu, bahwa demi buku ini lahir dengan sukses, aku harus meminta maaf berkali-kali pada suamiku yang kurang mendapat perhatian?"



~~~~

Di tempat lain, sepasang suami istri yang baru menikah beberapa bulan lalu, memutuskan berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja, kemudian merintis bisnis yang sesuai dengan hobinya. Si suami yang hobi merakit komputer, bersinergi dengan si istri yang mantan sekretaris. Mereka menyewa tempat yang strategis untuk berbisnis; jual beli komputer, service komputer, dan jasa pengetikan.

Si suami mulai gencar mempromosikan bisnis barunya ini pada kawan-kawan lamanya. B, kawan lama sejak SMP datang. Tahu bahwa sahabatnya pandai memperbaiki komputer yang rusak, ia datang dengan laptopnya yang sudah lemot. Tak butuh waktu lama, karena si suami ini memang terampil, laptop kawannya pun "sembuh".


Si istri berharap bahwa kedatangan kawan lama suaminya ini merupakan rezeki di awal bisnis yang baru mereka rintis. Si suami pun berharap demikian. Maklum, toko mereka baru, sehingga masih sepi pelanggan. Namun sayang seribu sayang, B tak cukup peka. Ia merasa, sebagai kawan dekat, pantaslah jika ia mendapat service gratis. Sementara si suami tadi, tak enak hati mengeluarkan "tagihan" pada sahabat sendiri. Si istri mulai mengeluh, "Si B ini, nggak menghargai waktu yang udah kebuang. Dia juga ngga mikir, nyervis laptop kan butuh listrik."



~~~~

Dua kisah di atas hanya fiktif belaka, tapi banyak dan sering terjadi. Mentang-mentang teman, selalu minta diskonan, atau yang lebih parah, gratisan.

Lho, emangnya ngga boleh cari gratisan? Ini yang perlu digarisbawahi, mencari berbeda dengan meminta. Cari-cari yang gratis boleh saja (ikutan kuis yang lagi bagi-bagi produk, itu namanya cari gratisan), tapi minta, meskipun pada teman yang kamu anggap dekat sekalipun, sebaiknya jangan.






Ingat, kamu tak pernah tahu, perjuangan seperti apa yang telah dan sedang dilakukan oleh temanmu. Mereka sedang berusaha, dengan karya yang dibuatnya. Hargailah usahanya. Jika memang sedang tidak punya kemampuan membeli, tahan diri untuk tidak meminta.






Sebagai seorang Muslim, saya berpedoman pada hadits Rasulullah SAW. Ada banyak hadits yang melarang kita menjadi peminta-minta.

Hadits pertama:
Tidaklah salah seorang dari kalian yang terus meminta-minta, kecuali kelak di hari kiamat ia akan menemui Allah sementara di wajahnya tak ada sepotong daging pun. (HR. Muslim No. 1724)

Hadits 2:

Barangsiapa meminta-minta pada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api. 

Hadits 3:

Meminta-minta itu merupakan cakaran, yang mana seseorang mencakar wajahnya dengannya. Kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu.

Agak serem ya bunyi haditsnya? Tapi memang begitulah adanya. Ingat kasus suami istri tadi, mereka akhirnya "terpaksa" mengikhlaskan waktu, tenaga, pikiran, dan listrik yang sudah terbuang demi memperbaiki laptop si B, karena mereka "malu" menyodorkan tarif.


Lalu kalau diberi, bagaimana? Ini perkara lain ya... Seseorang mau memberimu sesuatu, pasti ada maksud tertentu. Apakah kamu dianggapnya istimewa, atau ada momen yang sedang ingin dirayakan, atau rezekinya sedang berlimpah. Maka bahagiakanlah mereka yang berniat untuk berbagi.


"Ambillah! Dan bila kamu diberikan sesuatu harta sedangkan kamu tidak mengidam-idamkannya dan tidak pula meminta-minta, maka ambillah. Dan jika tidak demikian maka janganlah kamu mengejarnya dengan hawa nafsumu." (HR. Al-Bukhari No. 1473 dan Muslim No. 1731)


Siapa tahu, ia meyakini hadits yang menyebutkan bahwa jika kita saling memberi hadiah, maka kita akan saling mencintai. Dan bukankah tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah? Ya 'kan? Namun ingat, tahan diri, jaga harga diri.




Readmore → Stop Minta Gratisan pada Teman

Padang Bulan, Sebuah Novel Karya Andrea Hirata

Novel Padang Bulan, karya Andrea Hirata

Kalau guru-guru menulis saya mengatakan, karya fiksi yang bagus adalah yang membuat orang terkesan sejak kalimat pertamanya, maka novel ini sudah bisa dikatakan novel yang bagus karena saya terkesan sejak kalimat pertama, dan mata saya lekat hingga tak terasa habis satu bab.

Novel ini diawali dengan kisah yang mengharu biru, hingga air mata menitik. Namun saya bersyukur, meski dua tokoh central dalam novel ini memperjuangkan hidupnya mati-matian hingga jungkir balik, kisahnya berakhir dengan bahagia. Ini membuat saya makin percaya, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Enong, diceritakan terlahir dari keluarga yang amat miskin. Takdir menempanya, hingga ia menjadi sekuat besi baja. Jika engkau merasa hidupmu tak pernah bahagia, lihatlah Enong ini, kehidupannya jauh, jauh lebih sulit dari yang mungkin engkau rasa.

Kisah sedih Enong bermula ketika ayahnya, tulang punggung di keluarganya, meninggal karena tertimbun tanah di tambang timah. Padahal saat itu, Ayahnya tengah memberikan kejutan kepada ibunya, Syalimah, sebuah sepeda, yang rencananya akan dipakai untuk bersama-sama pergi ke pasar malam, malam harinya. Betapa kebahagiaan itu bisa terenggut dalam beberapa detik saja.

Dan saya pun semakin mengimani ke-Mahakuasa-an Allah Ta’ala. Apa yang Allah kehendaki, tak ada yang tak mungkin terjadi.

Enong, gadis cilik yang baru duduk di kelas 6 SD itu, mesti merelakan pendidikannya. Ia harus mengubur mimpinya menjadi guru bahasa Inggris, pelajaran yang amat disukainya. Ia harus ikhlas keluar sekolah tanpa ijazah, karena sebagai anak sulung ia memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung.

Dan tahukah, ada yang lebih perih mengiris-iris. Jika ibunda Enong dihadiahi sepeda tanpa bisa menikmatinya dengan suaminya – sang lelaki penyayang – maka Enong, telah cukup bahagia dengan Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar: 1.000.000.000 Kata pemberian almarhum ayahnya. Jika sedang dilanda rindu dan sendu, ia membaca pesan yang dituliskan sang ayah di halaman depan.
Buku ini untuk anakku, Enong.
Kamus satu miliar kata.
Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam.
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.
Tertanda,
Ayahmu

Suatu hari di Kantor Pos, Enong dewasa berjumpa dengan Ikal (Andrea Hirata). Tidak, kelanjutan kisah mereka tak seperti cerita kebanyakan, yang biasanya membuat sebuah pertemuan berakhir dengan percintaan. Karena sebuah kata dalam bahasa Inggris, Enong dan Ikal akhirnya dekat dan menjadi sahabat. Enong memang selalu kagum dengan orang yang pandai berbahasa Inggris. Dan kata yang mendekatkan mereka itu adalah; wound. Luka.

"Time heals every wound, waktu akan menyembuhkan setiap luka."

Saat bertemu dengan Enong ini, sesungguhnya Ikal juga sedang terluka. Bagaimana tidak? Satu-satunya perempuan yang dicintainya, A Ling, dikabarkan akan dilamar oleh seorang pria yang tinggi, tampan, dan multi talenta. Zinar, nama pria yang beruntung itu. Setidaknya, kabar inilah yang disampaikan oleh M. Nur, detektif di kampungnya.

Andrea Hirata pun berusaha menemui A Ling, namun yang dinanti-nanti tak pernah ada di rumah. Ia semakin pupus harapan. Rasa cemburu merasuki hatinya. Kalau cinta itu buta, rasanya memang benar adanya.

Entah, apakah kisah Ikal disini adalah kisah nyata yang dialami Andrea Hirata. Yang jelas, seperti di novelnya terdahulu – Tetralogi Laskar Pelangi – Andrea Hirata mengemas kepedihan dengan jenaka. Seperti di halaman 258, saya dibuat terpingkal-pingkal ketika membaca kisah Ikal yang dibonceng dua sahabatnya, M. Nur dan Enong, pasca peristiwa yang hampir merenggut nyawanya karena ia terobsesi menambah tinggi badannya barang empat senti.

Patah hati membuat Ikal semakin terpuruk. “Dan andai kata kesedihan karena putus cinta dapat dibasuh air hujan, aku mau berdiri di bawah hujan dan halilintar, sepuluh musim sekalipun.” – Hlm. 283

Di halaman berikutnya, memasuki mozaik (bab) ke-40, kepedihan Ikal terurai. Ternyata informasi yang diberikan detektif M. Nur selama ini salah. Nah, inilah yang saya maksud dengan happy ending itu. Pada akhirnya, setelah jungkir balik berusaha mengalahkan Nizar, hingga nyawa yang satu-satunya itu hampir melayang, Ikal kembali bisa tersenyum dan tidur dengan tenang.

Melalui Jose Rizal – Merpati pos yang telah dilatih M. Nur – detektif itu menyampaikan permohonan maafnya pada Ikal. Kasus antara Ikal vs A Ling telah usai. Namun Ikal masih harus menyelesaikan sebuah pe er dengan sang ayah. Akankah kemudian ayahanda Ikal menyetujui hubungannya dengan perempuan Tionghoa itu?

Ayah, pulanglah saja sendirian
Tinggalkan aku
Tinggalkan aku di Padang Bulan
Biarkan aku kasmaran”
(penggalan puisi Ada Komidi Putar di Padang Bulan)


Novel ini komplit. Kisah pilunya membuat menangis, dan kisah bahagianya membuat saya tertawa hingga mengeluarkan air mata. Kini saya penasaran dengan Novel Kedua Dwilogi Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas. 
Readmore → Padang Bulan, Sebuah Novel Karya Andrea Hirata

Rezeki (Hoki) di 2015

Setuju ngga sih kalau tiap tahun ada hokinya sendiri-sendiri? Bukan percaya sama ramalan shio atau apa sih, tapi karena biasanya semua pencapaian kita diukur berdasarkan periode tahunan, yang dimulai di bulan Januari dan berakhir di bulan Desember, jadi secara tidak langsung kita mengelompokkan keberhasilan kita setiap satu tahun.

Biasanya nih, akhir tahun seperti ini, orang-orang mulai mengevaluasi diri untuk kemudian menetapkan target baru yang sering disebut resolusi. Untuk urusan resolusi, karena saya terlanjur nyemplung di dunia tulis-menulis, maka saya pun sudah membayangkan cita-cita saya di tahun depan, dan itu hanya boleh diketahui oleh Tuhan dan diri saya sendiri. :D

Di bidang kepenulisan, tampaknya saya seperti kura-kura. Laaammbbaaattt, hehehe...

2013
Tahun 2013 menjadi tahun awal saya belajar menulis. Di tahun itu bisa dibilang saya memulai semuanya dari nol. Lama-kelamaan, seiring dengan bertambahnya teman, saya mulai "mencuri" ilmu dari mereka.


2014
Tahun 2014, kemampuan menulis saya sedikit bertambah. Mungkin karena lingkungan saya memiliki andil besar sebagai "tukang kompor". Iya, lingkungan terdekat yang membuat saya terpacu untuk belajar adalah komunitas IIDN Solo. Alhamdulillah, karena "iri" melihat karya teman-teman berseliweran, saya semakin giat berusaha, dan hasilnya tulisan saya beberapa kali muncul di media cetak. Belum banyak sih, tapi saya sangat bersyukur, setidaknya apa yang saya pelajari sedikit membuahkan hasil.

Siapa sangka, saya yang kurang pandai bercanda, apalagi membuat tulisan dengan gaya humor, bisa tiga kali masuk di rubrik "Ah Tenane" Solopos? Dan kagetnya lagi, tulisan saya juga masuk di rubrik Gagasan Jawa Pos, walaupun katanya rubrik ini juga sudah tiada. :(

Keisengan saya menuliskan pengalaman seru bersama Amay juga bisa jadi uang lho. Tulisan saya sempat masuk di salah satu rubrik Majalah Reader's Digest. Sayangnya, majalah ini sudah tidak terbit lagi. :(



Di penghujung 2014, tulisan saya masuk di majalah Ummi. Wow banget sih, karena bagi saya susah sekali menembus media nasional itu. Yaa, walaupun isinya curhatan lagi, curhatan lagi, hihi.. Eh, bukan curhat ding, tapi sharing pengalaman. :p *laludijewer


2015
Tahun 2015, bisa dibilang ada kemunduran, karena belum satu pun tulisan saya muncul di media cetak seperti tahun sebelumnya. Hehe..tak apalah. Kalau mau beralibi, mungkin ini karena waktu menulis saya agak berkurang setelah kehadiran baby Aga.

Tapi seperti yang saya tulis di atas, mungkin tiap tahun ada hokinya sendiri-sendiri. Yap, tahun ini rezeki saya bukan ada di media cetak, tapi ada di beberapa kuis dan giveaway. :)

Malu sebenarnya nulis ini. Apalah saya ini dibanding dengan blogger-blogger senior yang dapatin uang berjeti-jeti atau gadget seri terbaru? Tapi sekali lagi, saya mensyukuri setiap pencapaian yang saya dapatkan. :)

Hoki di tahun 2015 diawali dengan hadiah kuis dari Tupperware. Kuis di twitter itu sebenarnya saya ikuti sambil iseng-iseng berhadiah. Eh, yang awalnya nggak mengharap apa-apa, malah saya jadi salah satu dari 5 pemenang yang terpilih mendapat bingkisan. Lumayan lah, dapat tempat makan. :D




Hoki yang ke-2. Waktu Emak-Emak Blogger bikin kuis di Instagram. Saya juga ketiban rezeki, hihi... Dua buah buku mendarat dengan cantik di rumah saya. Alhamdulillah lagi. :)




Trus-trus, saya juga dapet novel Rahasia Pelangi, dompet juga bros dari Mbak Riawani Elyta dan Mbak Shabrina WS. Oiya, dapat pulsa juga, hihi, alhamdulillah. Nikmat mana yang bisa kudustakan? :)




Masih ada lagi? Masiih... di twitter juga, saya memenangkan buku baru Mbak Anna Farida berjudul "Marriage with Heart" yang pernah saya review disini.





Ngga cuma buku, saya juga dapat hadiah giveaway berupa virgin coconut oil. Ini bener-bener mimpi yang jadi nyata, karena sebelumnya saya memang punya rencana untuk membeli VCO ini. Siapa sangka, keberuntungan berada di pihak saya? :)



Nah, yang terakhir ini, hadiah karena saya menulis tentang buku yang menginspirasi, Recto Verso. Kesukaan saya pada buku itu makin bertambah, karena dari tulisan itu saya dapat hadiah. :D


Jadi, kalau lihat orang lain punya hasil sendiri-sendiri, kita ngga boleh iri. Karena, yakin deh, rezeki itu sudah tertakar, tak akan tertukar. Yuk ah, mari kita sambut tahun depan dengan lebih Semangaaattt!!! 
Readmore → Rezeki (Hoki) di 2015

Masih Bilang Tulang Ekor Nggak Ada Gunanya?

Sore tadi saya membuka-buka majalah lama. Majalah Embun namanya. Ada ilmu yang terlewat, belum saya baca. Ini tentang tulang ekor. Tulang yang katanya nggak ada gunanya.

Ternyata, belasan abad yang lalu, Rasulullah SAW telah mensabdakannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya bagian tubuh manusia akan rusak (hancur dimakan tanah), kecuali tulang sulbi (tulang ekor). Dari tulang ini pertama kali manusia diciptakan, dan dari tulang ini manusia dibangunkan dari kematian di hari akhir." (HR. Bukhari, Nasa'i, Abu Dawud, Ibnu Majah).

Dalam hadits lain: "Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat." (HR. Al Bukhari, Nomor: 4935)

Lantas, apa lagi yang "penting" dari tulang ekor, serta hubungannya dengan kebangkitan manusia di hari kiamat?
Jamil Azzaini, seorang trainer kelahiran Purworejo yang terkenal sebagai Inspirator Sukses Mulia, mengatakan bahwa tulang ekor ini merekam seluruh perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan mempengaruhi kondisi tulang ekornya. Apakah putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energi positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energi negatif atau keburukan seseorang maka akan semakin hitam tulang ekornya. 

Benarkah bahwa tulang ekor tidak akan hancur dimakan tanah?
Beberapa penelitian telah membuktikan kebenaran hadits di atas.
Han Spemann, seorang ilmuwan dari Jerman, melakukan sebuah eksperimen pada tahun 1935. Ia menemukan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Dalam penelitiannya, ia menggunakan tulang ekor hewan melata. Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia merebus dan menumbuknya menjadi serpihan kecil. Setelah itu, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body

Dr. Othman al Djilani bersama Syaikh Abdul Majid pun melakukan penelitian serupa. Pada Ramadhan 1423 H, mereka membakar tulang ekor dalam suhu tinggi selama 10 menit hingga warnanya menjadi hitam pekat. Kemudian mereka membawa tulang tersebut ke al Olaki Laboratory, Sana'a, Yaman, untuk dianalisis. Hasilnya, sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Penelitian itu juga menjelaskan mengapa ketika dilakukan penggalian makam lama yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun, ditemukan tulang ekor yang tidak hancur.

Dari dua penelitian di atas, kebenaran akan hadits yang disabdakan Rasulullah SAW 14 abad yang lalu telah telah teruji. Tulang ekor tidak akan hancur dimakan tanah, dan ia tahan terhadap kondisi apapun. Pantaslah jika tulang ekor ini yang akan merekam seluruh perbuatan kita, baik dan buruknya. 


Bahan bacaan:

http://www.arrahmah.com/read/2012/06/30/21300-bukti-kebesaran-allah-pada-tulang-ekor.html
http://www.anaksaleh.com/ar-risalah/ilmu-pengetahuan/37-keajaiban-tulang-sulbi-tulang-ekor-manusia.html

Readmore → Masih Bilang Tulang Ekor Nggak Ada Gunanya?

Recto Verso, Melihat dan Mendengar Karya yang Sama

Buku adalah jendela dunia. Semua orang tahu itu. Meskipun kita hanya duduk berdiam, tapi jiwa dan imajinasi bisa pergi ke lain alam.

Banyak sekali buku yang sudah menginspirasi saya. Namun ada satu buah buku, yang karenanya saya kembali ingin belajar menulis. Kalau artis saja bisa nulis, masa' saya enggak? Benar, cita-cita saya semasa remaja dulu adalah menjadi seorang penulis. Namun karena tak ada satu pun prestasi yang saya hasilkan dari kegiatan itu, saya menyerah, putus asa, lalu berhenti begitu saja.

Tiba-tiba di tahun 2010 saya menemukan pencerahan, sebuah cahaya yang telah hilang. Saat itu, karena saya sudah resmi serumah dengan suami setelah tujuh bulan menjalani LDR, saya memulainya dengan bersih-bersih rak buku milik suami. Ketika itu, sebuah buku berwarna hijau - berjudul aneh - dari pengarang yang saya sudah ketahui namanya sebagai seorang penyanyi, menyita perhatian saya.

Buku-buku yang berserakan tak karuan tak saya hiraukan.

Saya membaca semua endorsement tentang buku itu. Semua positif. Semua menyambut kelahiran buku itu dengan takjub. Apalagi sang penulis berhasil membawakan karyanya dalam dua versi, yaitu dalam bentuk tulisan dan lagu.

Sampai disini, pasti sudah bisa menebak 'kan, apa judul buku itu?

Iya, Recto Verso jawabannya.
recto verso by Dee Lestari. photo by arin.

Judulnya aneh 'kan? Bahkan penulisnya pun mengatakan demikian. Kata ini memang jarang terdengar. Dan Dee, berhasil "merampas" kata itu menjadi miliknya. Hehe, semoga kalimat saya tadi nggak lebay ya...

Coba deh, tanyakan pada orang-orang di sekitarmu, "Apa kamu tahu recto verso?" Saya menebak, jawaban yang terbanyak adalah, "Itu kan karyanya Dee Lestari." Dee sendiri mengatakan bahwa recto verso memiliki arti sebuah gambar yang seolah-olah terpisah, padahal menjadi satu kesatuan yang menyeluruh. Dee menjadikan kata itu sebagai judul karyanya karena karyanya ini mempunyai dua versi, yaitu audio (lagu), dan visual (buku). Meskipun bentuknya berbeda, namun sejatinya baik lagu maupun buku itu adalah satu. Ia bisa dinikmati bersama-sama.

Mengutip armeyn.com, dalam dunia percetakan, recto dan verso dikenal sebagai halaman depan dan belakang. Recto adalah halaman di sebelah kanan, dan verso adalah halaman di belakangnya.

diambil dari armeyn.com
Dan mengapa recto verso ini begitu istimewa?

Selain karena lewat karyanya ini, Dee berhasil membangunkan passion saya yang mati suri, recto verso menjadi penghibur tersendiri. Jika saya sedang tidak tahu ingin melakukan apa, maka recto verso lah yang jadi pelampiasannya. 11 rangkaian nada dalam albumnya, telah puluhan kali saya dengarkan. 11 kisah yang Dee bawakan dalam bentuk tulisan, telah puluhan kali saya baca ulang. Dengan membaca satu atau dua cerpen saja, semangat saya bisa kembali ada. Itulah mengapa buku ini selalu ada di samping tempat tidur saya. :)

Gaya cerita Dee dalam buku ini begitu mempesona. Dia seperti berkata lewat huruf dan tanda baca. Dan ada beberapa cerpen favorit saya disana.

Dalam "Firasat", saya menyimpulkan bahwa terkadang terlalu peka itu menyiksa.
"Aku Ada" berkisah, meskipun raga telah terpisah dari jiwa, namun cinta bisa mendengar, melihat, tanpa perlu alat. Bahwa dia yang telah pergi, mungkin saja ada di sampingmu kini.
Dalam "Hanya Isyarat", saya ikut merasakan sesak karena perasaan yang tak sempat terungkap. 
Dalam "Peluk", saya seperti menangkap kisah yang menjadi pemisah antara penulis dengan suami pertamanya.
Dee pun tak perlu menulis kata "sedih" untuk melukiskan sebuah kesedihan. Kata-kata yang dipilihnya dalam "Tidur", cukup membuat saya menangkap bahwa hati tokohnya porak poranda.

Ahh, Andrea Hirata benar, Dee selalu menghormati intelektualitas pembacanya.



Postingan ini diikutsertakan dalam First Giveaway Buku Inspirasi

Readmore → Recto Verso, Melihat dan Mendengar Karya yang Sama

4 Alasan Mengapa Berjualan dengan Sistem Dropship Sebaiknya Mulai Ditinggalkan? (Updated)




Jaman sekarang, saat kecanggihan teknologi sudah berada dalam genggaman, apapun bisa kita lakukan untuk mendapatkan uang. Berbisnis tak lagi membutuhkan banyak modal, asal ada kemauan, kita sudah bisa menjadi penjual. Kita bahkan bisa "save" banyak uang dengan berjualan online, karena kita tak perlu menyewa tempat untuk berjualan. "Sewa tempat", bisa jadi merupakan modal terbesar saat memulai bisnis.

Dalam dunia online-shopping, ada istilah re-seller dan drop-shipper. Kali ini saya mau mengulas tentang dua istilah itu.

Reseller bisa diartikan sebagai orang yang menjual kembali. Ia berasal dari dua kata; "re" dan "seller". Sedangkan dropshipper adalah istilah lain dari makelar. Dropshipper bertugas mencarikan pembeli untuk produsen, dan nantinya dia akan mendapatkan komisi dari usahanya tersebut. Komisi itu bisa berupa imbalan langsung dari produsen, bisa juga dari selisih antara harga beli dari produsen dengan harga jual ke konsumen.

Perbedaan lain antara reseller dengan dropshipper adalah; reseller harus membeli atau mempunyai stok barang yang dijualnya, sedangkan dropshipper tidak perlu. Jika reseller harus mengepak sendiri pesanan pelanggan-pelanggannya, dropshipper tak perlu melakukan itu semua. Yang dilakukan seorang dropshipper hanyalah mempromosikan barang dagangan milik produsen, mencari pembeli, sedangkan pengiriman barang akan dilakukan oleh produsen.

Sepintas memang menjadi seorang dropshipper terlihat enak, juga tanpa beban karena tak perlu takut akan mengalami kerugian. Kerjanya sama-sama memainkan hape. Pun, seorang dropshipper tak perlu mengeluarkan modal untuk menjadi penjual. Hanya pulsa internet yang tetap dibeli meskipun tidak jadi seorang dropshipper sekalipun.

Tapiii...ada yang harus diperhatikan oleh para dropshipper.

Ada yang menganggap bahwa menjadi dropshipper hukumnya tidak boleh. Ini mengacu pada sebuah hadits yang berbunyi; "Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki." (HR. Tirmidzi, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud)

Tapi menurut sumber lain yang saya baca, menjadi dropshipper masih dibolehkan. Intinya, dalam hukum jual beli, tidak ada syarat yang melarang seseorang menjual barang milik orang lain. Juga tidak ada keharusan untuk memiliki barang terlebih dahulu untuk dijual. Contoh kasus adalah pada penjualan dengan sistem pesanan (made by order), barang belum ada, namun transaksi bisa terjadi. Contoh lain lagi adalah menjual dengan bantuan katalog, barang belum dimiliki oleh si penjual, namun calon pembeli sudah bisa melihat barang yang akan dia beli. Tentu yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah bahwa masing-masing pihak harus melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan pada saat akad.

Saya tidak akan membahas lebih panjang soal hukum ini karena ilmu saya belum cukup untuk mengupasnya. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya tentang berjualan dengan sistem dropship ini.

Saya hobi berjualan. Beberapa barang pernah saya jual, seperti; kosmetik, mukena, gamis, hingga makanan seperti cilok dan siomay. Hobi saya ini mungkin diwariskan oleh ibu saya yang dahulunya memang berdagang di pasar. Tentang hobi ini, saya bahkan pernah mencandai suami, "Enak ya kalau punya warung atau toko, tiap hari kita dapat uang, haha," kata saya sambil membayangkan asiknya menunggu pembeli sambil membaca koran. Melayani pembeli dengan mengambilkan barang kemudian menerima uang lalu memberikan kembalian. ^^

Namun karena saya sadar bahwa saya tak punya modal, maka saya buru-buru bangun dari mimpi. :D

Saya pun melewati beberapa proses. Saya pernah menjalani peran sebagai dropshipper. Iya, seperti yang saya tuliskan di atas, menjadi dropshipper itu enak. Tinggal posting barang, pelanggan datang, bayar ke produsen. Sudah. Tidak perlu repot packing, pergi ke ekspedisi, juga tidak perlu memikirkan stok barang hingga kerugian. Berapa jumlah barang yang bisa kita jual, kalikan dengan komisi dari produsen, maka itulah keuntungan bersih yang kita dapatkan.

Tapi, suatu hari seseorang menyadarkan saya. Katanya, kalau ingin mendapatkan hasil yang banyak, jangan puas dengan hanya menjadi seorang dropshipper. Jadilah setidaknya seorang reseller, jika kamu belum mampu menjadi produsen. Mengapa? Ini dia alasannya;

1. Menjadi dropshipper itu tidak dikenai target. Karena tidak ada target itulah, kita menjadi semaunya sendiri. --> Lagi mood ya jualan, nggak ya diem. Kalau kita lebih sering bad mood, gimana mau dapat hasil banyak, hayo?
Jika kita menjadi reseller, kita keluar modal, maka kita akan berupaya agar barang yang kita miliki lekas habis supaya modal bisa kembali. Perputaran uang menjadi lebih cepat, hasil yang didapat pun lebih banyak.
Asaaall, cara ngabisin stoknya bukan dengan diobral. :p


2. Tidak fokus. Mentang-mentang cuma modal pulsa, semua barang dagangan teman kita jualkan. Produk yang kita tawarkan jadi bermacam-macam. Ini membuat calon pembeli bingung, "Sebenarnya dia jualan apa sih ya? Sekarang posting baju, sejam kemudian jual pempek palembang, dua jam kemudian jual parfum, besoknya lagi jual coklat."
(Ini benar-benar nampar saya, hehe...)
Lagipula kalau kita fokus, orang-orang akan tahu apa yang kita jual. Keuntungannya adalah, jika mereka membutuhkan barang yang kita jual (mukena misalnya), mereka akan langsung menghubungi kita.

3. Jika pahit-pahitnya kita merugi, setidaknya kita sudah belajar menjadi pengusaha. Katanya, kerugian yang dialami seorang pengusaha itu ibarat vitamin. Jadi kalau kita sudah pernah mencicipi "vitamin" itu, insya Allah kita akan menjadi pengusaha yang hebat. Sehebat apa seorang pengusaha, tergantung dari vitamin dan dosis yang sudah dia cicipi.


4. Ini alasan terbaru yaa..
Cerita dulu; Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluhkan online shop tempat ia membeli barang. Masalah bermula ketika ia menanyakan nomor resi, namun pemilik online shop tidak juga memberikannya hingga hari ke-3. Teman saya, karena khawatir ini olshop tipu-tipu, akhirnya mengancam pemblokiran. Masalah semakin runyam karena olshop ini tersinggung dan mengancam akan menuntut balik. 
Pusing 'kan?



Padahal inti dari masalah ini adalah: kemungkinan olshop ini adalah dropshipper, sehingga, karena bukan dia yang mengirimkan barangnya, ia tidak bisa segera meng-info-kan nomor resi pada pembelinya. Ia terlebih dulu harus menanyakannya pada si pengirim (supplier olshop ini). Muter-muter 'kan ya? Iya.. Dan disinilah, bukti bahwa menjadi dropshipper pun ada kendalanya tersendiri. 

Jadi setelah tulisan ini, kamu masih mau jadi dropshipper, Rin? :p
Readmore → 4 Alasan Mengapa Berjualan dengan Sistem Dropship Sebaiknya Mulai Ditinggalkan? (Updated)

Tampung Air Hujan, Antisipasi Kekeringan


Sedih rasanya ketika berbagai media memberitakan bahwa saudara-saudara kita banyak yang mengalami kekeringan sehingga harus berjalan berkilo-kilo jauhnya untuk mendapatkan air, atau harus merogoh kocek cukup dalam untuk membeli air. Dan ternyata, hal ini kini terjadi di kota saya sendiri, kota yang notabene masih hijau.

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat memberitahu saya bahwa di Purworejo, kota kelahiran saya, dilaksanakan shalat istisqa di alun-alun kota. Shalat itu dilakukan untuk meminta hujan pada Tuhan Semesta Alam. Beberapa waktu sebelumnya pun, sahabat dekat saya yang lainnya, mengeluhkan bahwa di daerahnya sudah tidak ada air. Untuk mendapatkan air bersih, ia harus membelinya.

Saya yang tidak bisa membantu apa-apa, hanya bisa urun do'a, semoga hujan segera turun untuk menghapus kekeringan. Saat saling berkabar itulah, tiba-tiba saya teringat dengan Bak Penampungan Air Hujan (PAH) yang sering dibicarakan oleh suami dan kawan-kawannya.

Suami saya adalah seorang arsitek yang tergabung dalam Tim Akanoma yang dipimpin oleh Yu Sing. Beberapa desain Akanoma memang menerapkan prinsip rumah ramah lingkungan. Salah satu ciri rumah ramah lingkungan yang didesain Akanoma adalah adanya bak PAH dan bak pengolahan air limbah. Mengenai bak pengolahan air limbah pernah saya tulis disini.


Apa sebenarnya bak PAH itu? 
Pernah tidak sih, kita terpikir untuk menyimpan air agar saat musim kemarau kita tidak lagi galau? Pernahkah juga terpikir, bagaimana caranya supaya air hujan tidak mubazir? Iya, karena di musim penghujan air seolah tak lagi berharga. Air yang akan dirindukan lagi di kemarau nanti, terbuang sia-sia.

Bak PAH sendiri, sesuai dengan namanya, memang merupakan sebuah wadah yang dibuat untuk menampung air hujan. Bak PAH sudah diterapkan oleh warga Gunung Kidul, karena daerah ini memang sering mengalami krisis air meskipun curah hujannya cukup tinggi.

Ini salah satu contoh bak PAH di Gunung Kidul. sumber; kabarhandayani.com
Air yang ditampung di bak PAH, dialirkan dari talang. Warga Gunung Kidul sendiri menggunakan air ini untuk memasak, mencuci, mandi, bahkan juga untuk minum. Padahal sebenarnya air hujan memerlukan beberapa kali tindakan filtrasi agar layak untuk dikonsumsi.

Rata-rata, bak PAH ini dapat menampung air sekitar 9 meter kubik. Air sebanyak ini kira-kira cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 2 minggu.

gambar diambil dari Facebook GreenYatra. Air hujan juga dimanfaatkan untuk menyiram toilet.

Contoh bak PAH yang lain. Air dari bak PAH dapat langsung digunakan untuk menyiram tanaman.
Meskipun katanya, rumah ramah lingkungan membutuhkan budget yang lebih besar dari rumah "biasa", tapi pemanfaatan air hujan dengan cara ini patut dicoba, karena seperti yang dilansir di http://www.kelair.bppt.go.id/sitpapdg/Patek/Spah/spah.html, ada beberapa manfaat yang bisa kita rasakan, antara lain;
1. Menghemat penggunaan air tanah. 
Beberapa waktu lalu sebuah televisi nasional menayangkan bahwa warga ibu kota berbondong-bondong memperdalam sumurnya karena air sudah semakin kering. Hal ini bisa menimbulkan masalah baru, karena jika air tanah terkuras, maka dikhawatirkan permukaan tanah akan mengalami penurunan. Hal yang paling buruk yang mungkin terjadi adalah amblasnya tanah.
2. Menampung 10 meter kubik air pada saat hujan. Kalau ingat bencana kekeringan yang mungkin akan terjadi di kemarau yang akan datang, tentu kita tidak akan rela air hujan begitu saja terbuang.
3. Mengurangi run off dan beban sungai saat hujan. Wah, berarti bisa diartikan bahwa menampung air turut berperan dalam penanggulangan bahaya banjir, dong? Sounds great, kan?
4. Menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah.
5. Mempertahankan tinggi muka air tanah.
6. Menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah.
7. Memperbaiki kualitas air tanah dangkal.
8. Mengurangi laju erosi dan sedimentasi.
9. Mereduksi dimensi jaringan drainase
10. Menjaga kesetimbangan hidrologi air tanah sehingga dapat mencegah intrusi air laut.
11. Mencegah terjadinya penurunan tanah.
12. Stok air pada musim kemarau. Nah ini yang paling penting, supaya bencana kekeringan tidak lagi terjadi di kemarau yang akan datang. 

Mimpi saya sih sederhana saja. Setiap kita menjadi lebih bijak dalam menggunakan air, dan ke depannya, 1 rumah mempunyai 1 bak PAH. Terlalu tinggikah? :)

Readmore → Tampung Air Hujan, Antisipasi Kekeringan

Amay, Aga dan Arinta

Tanggung jawab sebagai orang tua ketika anaknya lahir, salah satunya adalah memberi nama. Bukan sembarang nama, namun nama itu mesti memiliki arti yang baik, do'a serta pengharapan. Seperti kebanyakan orang tua, hari-hari jelang kelahiran Amay 4,5 tahun lalu pun kami disibukkan dengan ritual ini. Apa ya nama yang bagus untuk anakku kelak?

Di usia kehamilan yang memasuki enam bulan, dokter memberi tahu bahwa janin yang sedang saya kandung berjenis kelamin laki-laki. "Ini buah zakarnya ya," begitu katanya tanpa saya minta. Sempat kecewa si, "Yah, kenapa dibilangin, Dok? Kan saya pengen surprise." Tapi ya sudah lah, terlanjur, hehe...

Nah, karena sudah diberitahu itulah, akhirnya kami berdua pun mulai menyiapkan nama. Dapatlah, Abiyu Mahya. Rasanya, nama ini masih jarang terdengar. Kan kami nggak ingin nama bayi kami nanti pasaran, hehe... Selain itu Abiyu Mahya punya arti yang bagus. Abiyu berarti yang berjiwa mulia, sedang Mahya berarti yang bersinar terang. Dengan nama itu, kami berharap kelak ia menjadi pribadi yang tak hanya cerdas akal, namun juga cerdas hati. 

Setelah bayi kami lahir, terbersit keinginan suami untuk menambahkan sebuah nama lagi di depan atau belakang Abiyu Mahya. Karena suami adalah seorang arsitek yang mengidolakan Antoni Gaudi, jadilah tambahan nama tadi berbunyi Gaudiansyah. "Syah" ini diambil dari nama suami Yopie Herdiansyah, dan ayahnya Hermansyah. Akhirnya, kami sepakat membuat nama anak pertama kami, Gaudiansyah Abiyu Mahya.

Kenapa Amay?
Memutuskan nama panggilan ternyata tidak begitu mudah. Namun entah mengapa, setelah kami menemukan nama Abiyu Mahya, saya mengusulkan agar anak kami kelak dipanggil Amay. Amay merupakan singkatan dari Abiyu Mahya itu tadi, jadi ketika memanggilnya, dua do'a senantiasa terucap.

Namun ada beberapa orang yang seolah mempermasalahkan. "Amay kan seperti nama anak perempuan?" begitu katanya. Iya sih, kedengarannya memang begitu. Namun setelah beberapa waktu berlalu, saya menemukan pembelaan. Hei, di Gorontalo sana, ada seorang Sultan bernama Sultan Amay lho. Silakan googling deh kalau nggak percaya.

Selain itu, beberapa orang mengartikan AMAY sebagai Anaknya MAs Yopie atau Arin saMA Yopie, hehe, sah-sah saja. Toh ada benarnya juga. :) Keluarga suami bahkan memanggil Amay dengan Gumay. Gumay merupakan singkatan dari Gaudiansyah abiyU MAhYa. Tidak masalah juga, karena ada seseorang bernama Aditya Gumay yang merupakan pendiri Lenong Bocah.


3 tahun 8 bulan kemudian, adiknya Amay lahir. Laki-laki lagi. Tidak seperti saat mengandung Amay, di kehamilan yang ini saya tidak terlalu serius mencari nama. Hehe..entah mengapa. Tapi beberapa hari sebelum anak ke dua saya lahir, suami sudah dapat ide nama depan untuk adiknya Amay ini. Agadiansyah, begitu bunyinya. Aga, diambil dari nama Aga Khan, seorang arsitek muslim yang cukup legendaris. Dan seperti sebelumnya, "Syah" diambil dari nama suami, Yopie Herdiansyah, supaya Amay dan Aga nggak saling cemburu, hehehe...

Kemudian untuk dua nama berikutnya, saya menggunakan nama bayi yang sudah saya rangkai ketika menyambut kelahiran Amay dulu. Jadi dulu saya merangkai beberapa nama untuk cadangan. Ataya Nafi' saya pilih karena Ataya berarti hadiah, dan Nafi' berarti yang bermanfaat. Kebetulan, Aga (begitu akhirnya kami memanggil adiknya Amay), lahir di bulan yang sama dengan bulan anniversary kami berdua, yaitu bulan November. Jadi Agadiansyah Ataya Nafi' berarti hadiah yang bermanfaat untuk kami berdua, dan semoga juga bermanfaat untuk semua makhluq-Nya. Aamiin...


Oya, selain tentang Amay dan Aga, saya juga mau sedikit bercerita tentang nama saya, Arinta, huehehehe...

Jadi gini, kurang lebih 6 tahun yang lalu, seorang wali murid tiba-tiba SMS. Beliau mengatakan, bahwa insya Allah bayi yang dikandungnya saat itu (calon adik dari anak didik saya saat itu), berjenis kelamin perempuan. Beliau lalu bertanya, apa sebenarnya arti nama "Arinta"? Setelah saya jawab bahwa Arinta berarti Adik, beliau lalu bercerita bahwa suaminya suka dengan nama saya. *Nama thok lho yaa, bukan orangnya, haha... :p
Nah, singkat cerita, mommy ini minta ijin pada saya, boleh tidak menggunakan nama Arinta untuk nama bayi nya kelak? Ya saya jawab boleh dong, hehe... Meskipun suami saya akhirnya wanti-wanti, "Nanti nama Arinta jadi pasaran lhoo.. :p" Haha, biarin deh...
Dan efeknya, kakak si bayi ini alias murid saya waktu itu, jadi sering mencandai saya. "Yang ini adek Arin (nunjuk saya), kalau yang di rumah itu Miss Arin." hahahaha..

Lalu beberapa waktu kemudian, teman semasa SMP menanyakan hal serupa. Sama seperti wali murid itu juga, teman saya meminta ijin untuk memakai nama saya jika kelak dia punya anak perempuan. Padahal saat itu dia belum menikah lho.. Dan ternyata itu dibuktikannya sebulan yang lalu saat anak perempuannya lahir. Yeaayyy...Arinta kecil dengan nama lengkap Arinta Inara Atalyssa sudah lahiiirr.. Bangga dan bahagia rasanya, meskipun kelak jadi pedih karena nama ini jadi banyak kembarannya, haha... :D

Ternyata nama saya cukup cantik ya? *tutup muka
Padahal dulu saya tidak suka dengan nama ini. Saya bahkan sempat agak konyol juga karena protes ingin ganti nama. Kalau nggak salah, waktu itu saya pengen nama yang ada "Lestari"nya, biar samaan dengan teman-teman. Iyaaa..soalnya waktu SD dulu, di kelas ada 4 orang dengan nama Lestari. Dan nama "Lestari" kedengarannya anggun gitu. Ya gak?
Trus, saya juga pengen mengubah nama jadi Dhea atau Leony, haha, soalnya saya nge-fans sama Trio Kwek-Kwek. *halah 

Hehe, tapi seru ya pilah-pilih nama anak itu? Jadi, ayo ceritakan arti namamu! :)



Readmore → Amay, Aga dan Arinta

Pengguna Magic Com Perlu Tahu Ini!

Jaman dulu, memasak nasi itu perlu melewati beberapa proses; ada yang namanya ngeliwet, ada yang namanya meng-aron. Apinya; ada yang pakai api tungku (nah, ini yang paling lezat hasilnya menurut lidah saya), ada yang pakai kompor.

Jaman sekarang, masak nasi nggak pake ribet. Habis cuci beras, tambahkan air, lalu klik. Nah, kadang-kadang, proses "klik" nya itu yang sering kelupaan. Jadi, pas dikira nasi udah mateng, eee pas dilihat masih berupa beras. Haha...pengalamannya siapa hayo?

Yah, namanya juga manusia yaa... Dimaklumi deh kalau masih sering lupa. Soalnya "lupa" memang ngga ada obatnya. :D

Oya, meskipun memasak nasi dengan tungku dan dandang memang terasa lebih lezat, tapi prosesnya yang ribet dan memakan waktu itu membuat cara ini sudah banyak ditinggalkan. Gantinya adalah alat listrik bernama magic com itu tadi. 

gambar dari www(dot)vemale(dot)com


Nah, beberapa tips ini mungkin bisa dilakukan agar listrik lebih hemat dan magic com yang kita punya lebih awet.

1. Cabut kabel magic com setelah selesai makan malam.
Cara ini selain untuk menghemat listrik juga untuk mencegah nasi mengeras atau mengeripik. Ini berlaku jika nasi masih tersisa. Besok paginya kita bisa nyalakan lagi supaya ketika sarapan nasi terasa hangat kembali. 
Atau kalau ingin membuat nasi goreng dengan nasi sisa, nasi yang dingin lebih recommended loh. Nggak percaya? Coba saja. :)

Kalau lupa mencabut kabel dan di pagi hari nasi sudah terlanjur mengeripik, coba tips nomer 2.

2. Untuk memudahkan mencuci panci teflon yang dipenuhi nasi kering, rendam panci teflon dengan air panas. Bisa saja merendam panci teflon dengan air biasa, tapi akan membutuhkan waktu lama hingga nasi kering itu terkelupas. Kalau nasi kering sulit terkelupas, sulit dicuci, kita akan tergoda untuk menggosoknya kuat-kuat, pakai kawat. Wohoho, jangaaaaan!!

3. Jangan menggosok teflon kuat-kuat karena selain akan merusak anti lengketnya, ternyata teflon yang tergores bisa menimbulkan berbagai penyakit. Nah, cara nomor 2 tadi sangat berguna, supaya mencuci panci teflon menjadi lebih mudah. Cek urang mah, effortless gitu. :p

4. Cuci beras dengan wadah yang lain. Gesekan-gesekan antara beras dengan panci teflon dapat menyebabkan tergoresnya lapisan anti lengket. Kalau lapisan anti lengketnya tergores, menggunakan teflon bisa membahayakan tubuh. Lihat lagi tips nomer 3, hehehe...

5. Lagi-lagi supaya hemat listrik. Gunakan air panas untuk memasak nasi. Jadi ya, kalau saya sih, sambil mencuci beras kita masak air secukupnya (kira-kira pas untuk memasak nasi). Nah, pas selesai cuci berasnya, pas banget airnya mendidih. Pakai deh itu air panas untuk memasak. Selain nasi lebih cepat matang, listrik pun jadi lebih hemat. Tau sendiri kan, memasak nasi memakai "panci ajaib" lumayan menghabiskan energi listrik? Selain hemat listrik, kan hemat waktu juga tuh. Apalagi kalau perut udah keroncongan minta diisi. Ups, tapi jangan lupa di"klik" yaaa.. :D

Nah, itu baru 5 tips cerdas yang saya tahu tentang penggunaan magic com agar lebih hemat, cermat dan tepat. halah!!!

Mungkin ibu-ibu hebat punya tips lain? :)
Readmore → Pengguna Magic Com Perlu Tahu Ini!

Heidi; Film, Buku, dan Sepotong Rindu

Saya bukan pecandu film, yang menjadikan aktivitas menonton film sebagai rutinitas. Saya juga bukan tipe orang yang gemar "mencari" film yang bagus. Biasanya saya baru menonton film setelah teman-teman merekomendasikannya. Maka wajar saja jika saya jarang pergi ke bioskop, karena saya lebih sering menonton film di rumah. Tapi bukan berarti saya belum pernah ke bioskop yaa, hehe... Sesekali sih pernah, menyegaja kesana untuk melihat film yang sedang diputar. Dan pasca menikah kurang lebih enam tahun ini, saya baru sekali menonton film di bioskop, rame-rame dengan suami dan si sulung. Itu pun "Walking with Dinosaurs" yang kami tonton, karena Amay suka sekali dengan dinosaurus.

foto dari www(dot)amazon(dot)com

Saya kurang suka film action. Saya juga kurang suka film-film dari hollywood. Kalaupun ada, paling hanya beberapa. Hehe...biar lah saya dibilang udik.



Beberapa hari lalu ketika beberes rumah, saya menemukan sebuah buku lama, Heidi judulnya.


dok. pribadi

Lima tahun lalu ketika menemukan buku ini, saya seolah mendapat harta karun. Heidi, buku karya Joanna Spyri ini, pernah saya lihat sekilas dalam bentuk film, dua puluh tahunan yang lalu. Waktu itu, sambil menatap layar kaca dua warna (hitam putih) berukuran 14 inch, saya menyaksikan sebuah penggalan film.


Yang membuat momen itu berkesan adalah karena saya melihatnya bersama almarhumah ibu tercinta. Ibu melarang saya memutar channel yang lain, karena menurut beliau film itu bagus. Dan kata ibu, beliau pernah menonton film ini sebelumnya. Saya patuh, meskipun saat itu saya kurang menikmati film itu.

Yang sangat saya ingat dalam film itu adalah ketika seorang gadis kecil menderita sakit hingga membuatnya tak mampu berjalan. Sepanjang hari, ia harus rela menghabiskan waktunya duduk di atas kursi roda. Kemudian suatu hari ia pergi ke sebuah tempat yang asri. Disana ia tinggal di sebuah rumah yang dikelilingi padang rumput yang hijau. Dan ajaibnya, setelah beberapa lama tinggal disana, ia bisa kembali berjalan.


Saya pikir gadis kecil yang lumpuh itulah yang bernama Heidi, tapi ternyata bukan. Maklum lah, karena film itu berbahasa inggris, saya yang masih kecil saat itu, kurang paham dengan jalan ceritanya. Namun buku ini membantu saya mengetahui jalan cerita sesungguhnya.



Heidi, adalah seorang gadis yang telah yatim piatu. Bibinya kemudian membawanya pada kakeknya yang tinggal di gunung. Alasannya saat itu adalah karena ketiadaan biaya, dan ia harus bekerja ke Frankfurt. 


www(dot)planet-series(dot)tv


Selang beberapa lama, Heidi yang sudah terlanjur betah hidup berdua dengan kakeknya kembali dijemput oleh Bibi Detie. Bibi Detie mengatakan bahwa ia telah menemukan sebuah keluarga yang mau menampung Heidi. Keluarga tersebut memiliki anak seumuran Heidi, Clara, yang sedang sakit. (Clara inilah yang sebelumnya saya kira adalah Heidi) 


mirvideo(dot)tv



Clara yang merupakan anak orang kaya, menyukai Heidi yang baik hati. Suatu hari, Heidi jatuh sakit. Sakitnya ini karena dia mengalami homesick dan ingin kembali pada kakeknya di gunung. Keluarga Clara pun dengan berat hati mengirimnya pulang. 


Singkat cerita, Clara yang merindukan Heidi pun menyusul gadis kecil itu. Di sanalah, di rumah-gunung milik kakek Heidi itu, akhirnya Clara bisa sehat dan dapat berjalan kembali.

Pesan moral yang saya dapatkan dari kisah Heidi adalah; "money could only buy material things, but it could not buy happiness."

Film Heidi, meskipun hanya sepenggal yang saya lihat, tapi ceritanya benar-benar melekat. Ini adalah satu-satunya film yang bisa membuat saya terkesan hingga puluhan tahun lamanya, dan belum tergeser oleh film lain.


Mungkin banyak film lain yang lebih bagus, namun history di belakang film ini lah yang membuatnya istimewa. Seperti ketika kita menemukan pasangan, meskipun banyak yang lebih kaya dan rupawan, tapi yang istimewa lah yang membuat hati kita tertawan. :D

"Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?"








Readmore → Heidi; Film, Buku, dan Sepotong Rindu

Heart Field; Usaha Saya Mengganti Kecewa dengan Rasa Bahagia.

Mau curcol... Bulan lalu, saya mendapat hadiah voucher sebesar Rp 200.000,-. Salah saya, saya tidak segera menggunakannya. Tiap ada ke...