5 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghemat Listrik

Sudah setahun ini saya menggunakan listrik prabayar. Sempat kesal waktu tahu bahwa rumah yang kami beli ini menggunakan listrik prabayar, karena terbayang bagaimana rumitnya nanti. Ada kekhawatiran, kalau-kalau listrik habis di tengah malam buta, lalu saya harus bagaimana. Ditambah testimoni beberapa orang, yang mengatakan bahwa listrik prabayar itu ribet dan boros.

Ternyata, dugaan saya salah. Memang, jika penggunaan listrik pascabayar dibayarkan sebulan sekali, untuk listrik prabayar tidak bisa kita tentukan. Seperti ketika membeli pulsa handphone saja, ketika pulsa habis, kita isi ulang. Jika tidak diisi, ya kita tidak bisa menikmati.

Nah, seperti pulsa handphone juga, kita bisa tahu sisa pulsa listrik kita ada berapa. Jadi, sebelum bunyi tat-tit-tat-tit-nya mengganggu telinga kita dan telinga para tetangga, kita bisa segera mengisi ulang kembali. Kalau pulsa handphone atau pulsa listrik kita habis, kita bisa membeli Pulsa Murah Online atau Token PLN Online di Tokopedia.

Tentang boros atau tidaknya, tentu tergantung pemakaiannya. Pengguna listrik pascabayar, bisa terkaget-kaget dengan tagihan listrik bulanan, karena tidak tahu persis berapa banyak listrik yang sudah dia gunakan. Ya, hanya bisa mengira-ngira saja. Tapi untuk pengguna listrik prabayar, kita bisa mengontrolnya.

Setelah menggunakan listrik prabayar, entah mengapa, saya merasa lebih bijak dalam menggunakan listrik dibanding saat saya menggunakan listrik pascabayar. Mungkin karena saya takut pulsa listriknya cepat habis, karena akan sangat gawat jika pulsa menipis di tanggal tua, ya kan?

Makanya, saya pun menerapkan tips-tips yang teman-teman saya bagikan untuk menghemat listrik. Diantaranya adalah:

1. Menggunakan air panas untuk memasak nasi

Ini efektif lho, karena magic com termasuk alat listrik yang menghabiskan banyak energi. Apalagi saat memasak nasi.
Selain menghemat listrik, menggunakan air panas untuk memasak nasi juga bisa menghemat waktu. Nasi jadi lebih cepat matang. Nah kan, dapat 2 keuntungan sekaligus.

2. Mencabut kabel magic com setelah makan

Setelah makan –terutama setelah makan malam-, biasanya saya mencabut kabel magic com, dan saya pasang lagi beberapa menit menjelang waktu makan berikutnya.

Selain menghemat listrik, mencabut kabel magic com juga bisa mencegah nasi cepat kering. Ini bisa sekaligus menghemat nasi, karena nasi kering kan nggak bisa dimakan dan biasanya akan terbuang sia-sia. Oya, nasi kering juga bisa ikut mengelupaskan lapisan teflon lho. Kan bahaya...

magic com

3. Mencabut kabel pompa air setelah torn penuh

Jujur, hal ini belum saya lakukan secara rutin karena sering terlupa. Tapi tips dari teman saya ini perlu dicoba lho.. Sepertinya akan banyak menghemat energi, apalagi jika bak penampung air kita memiliki tombol otomatis yang akan menyala setiap kali berkurang isinya.
Coba, hitung saja per hari pompa air kita menyala berapa kali. Lakukan tips ini, nyalakan pompa air sehari tiga kali saja, yaitu saat pagi, siang dan sore, lalu kita lihat perbedaannya.

4. Tidak menyalakan dispenser

Selama ini saya menggunakan dispenser untuk membantu menuang air minum saja. Saya hanya menyalakannya jika saya kehabisan gas, sementara saya ingin minum minuman hangat. Untuk air dingin, kan ada kulkas. :D

5. Matikan alat elektronik saat tidak diperlukan

Memiliki rumah di perumahan, yang dindingnya berbagi dengan dinding tetangga, biasanya memiliki permasalahan utama pada pencahayaan. Alhamdulillah, rumah saya termasuk cukup cahaya, karena masih ada sisa lahan di belakang rumah, sehingga cahayanya bisa dimanfaatkan.

Di perumahan-perumahan yang sering saya temui, posisi yang paling sering disepelekan adalah posisi kamar mandi, yang biasanya terletak di antara kamar tidur satu dan kamar tidur yang lain. Posisi ini menyebabkan pencahayaan ke dalam kamar mandi sangat kurang, sehingga di siang hari pun memerlukan cahaya lampu. Nah, kita bisa menghemat energi listrik dengan cara mematikan lampu saat keluar dari kamar mandi. Dan jangan lupa, gunakan lampu LED, supaya lebih hemat lagi.

Lampu LED from tokopedia.com

Selain mematikan lampu saat tidak digunakan, mungkin kita bisa mulai membiasakan diri untuk mematikan handphone saat tidur malam. Bila perlu, cabut pula kabel televisi sebelum kita tidur di malam hari.


Sepertinya hanya itu tips dari saya, barangkali diantara teman-teman ada yang mau menambahkan di kolom komentar?
Readmore → 5 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghemat Listrik

Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Tulisan ini bisa menyebabkan darah tinggi dan emosi yang tak terkendali. Ini murni pendapat saya pribadi. Silakan pergi sebelum kalian sakit hati. :D


Sengaja saya nulis tentang Rina Nose setelah berita tentangnya agak mereda. Karena kalau pas lagi panas-panasnya, takutnya dikira saya mendompleng ketenaran, atau sengaja nyari pageview aja. Haha.. Padahal alasan sebenarnya adalah karena saya baru sempat nulis aja. Harapan saya sih, kalau situasinya sudah agak kondusif, tulisan saya ini bisa diterima dan ditelaah dengan kepala dingin. Nggak pakai emosi lagi.

Emang mau nulis apa sih? Kayak penting aja..haha..

Bukannya mau ngaku-ngaku atau apa, tapi saya dan Rina Nose memiliki beberapa persamaan. Apa sajakah itu?

1. Hidung Pesek

Kata ibu, waktu kecil hidung saya pesek parah. Tapi terus tiap hari ditarik-tarik biar mancung, dan katanya sekarang agak mendingan. Padahal semendingan-mendingannya saya sekarang, ya tetep hidungnya tak bertulang. Dan itu nurun ke Amay.

Jadi, misalnya hidung saya atau Amay ditekan dengan tekanan tanpa energi berlebih pun, lubang hidung saya dan Amay bisa benar-benar ketutup. Luar biasa kan? :D

Tapi alhamdulillah, saya mah bersyukur aja dengan bentuk hidung ini. Alhamdulillah masih bisa bernafas to? Malahan suami saya yang hidungnya mancung, beberapa kali mengalami kesialan karena hidungnya nabrak tembok. Haha... *sorry, Pa..

Jadi kalau ada yang menganggap hidung pesek adalah sebuah kekurangan, ia benar, karena pesek itu artinya kurang mancung. ☺☺

Kalau menganggap hidung ini buruk? Ya nggak apa-apa juga, orang perfect mah bebas. ✌✌

Udah ah.. lanjut ke persamaan nomer 2 yaa...


2. Punya Gingsul

Saya tau Rina Nose sejak dia berduet dengan Ki Daus di suatu acara. Dulu, giginya masih berantakan, seperti punya saya. Nggak tau deh, diantara empat bersaudara, cuma saya yang giginya gingsul ngga teratur. Mbak Ita, Mas Pepi, Opik, giginya rapi-rapi semua.

Tapi sekarang, Rina Nose udah merapikan giginya. Saya juga pengen sih sebenarnya, tapi belum tau kapan.

Rina Nose


3. Suka Menyanyi

Rina Nose sering banget nyanyi di smule. Suaranya baguuuus.. Dia juga sering tuh, niruin suaranya Nike Ardilla sampai Siti Nurhaliza. Lihat video-videonya, kadang bikin ketawa. Lucu soalnya.

Kalau saya, jangan ditanya, wkwkwk.. Saya suka nyanyi juga, sama. Cumaaaa, Mas Yopi lebih sering nyuruh diem. Berisik katanya, noisy.




:: Naaah, ini yang terakhir. Pelan-pelan aja ya bacanya, karena ada hubungannya dengan hijab ::


4. Pernah Gamang dalam Berhijab

Saya bisa berjilbab seperti ini, memerlukan proses yang tak sebentar. Dulu pernah ingin sekali pakai jilbab saat Sulis dan Haddad Alwi sedang booming lewat sholawat "Yaa Thoyybah". Kenapa? Karena saya pengen seperti Sulis, nyanyi dan punya album, hahaha... Sempat pakai jilbab kalau di rumah, tapi ke sekolah engga. Itu jaman SMP, tahun 2000. 

Kelas 2 SMP, saya sekelas dengan Siti Badriyah. Dia teman dekat saya saat itu. Orangnya cantik, santun, lembut sekali, dan dia pakai jilbab. Di kelas juga ada Nadia Nurani Isfarin yang tak kalah cantiknya. Berjilbab juga. Nah, saya pengen kayak mereka. Pengen pakai jilbab, tapi karena pengen ketularan cantik dan anggunnya. Haha..

Saat masuk SMA, sempat kaget karena dua sahabat saya yang lain tiba-tiba pakai jilbab juga. Azizah dan Isnaeni Rokhimah. Sempat kesel, "iiiih, koq nggak bilang-bilang sih? Aku kan pengen pakai jilbab juga." Tapi ya cuma sebatas itu saja, nggak benar-benar merealisasikan keinginan, karena kelas 1, seragam masih baru, dan udah terlanjur dijahit pendek kan...

Hari demi hari berlalu, saya nggak ingat lagi dengan keinginan untuk menutup aurat itu. Apalagi waktu itu saya pacaran, makin jauh deh pokoknya. 

Dan saat itu ada teman laki-laki yang memang "lurus", tiba-tiba nanya, "Jarene arep nganggo jilbab, Rin? (katanya mau pakai jilbab, Rin?) Kapan? Bohong!" Saya tersinggung, dan langsung menjawab, "Ngatur amat sih!" (Semoga dia nggak baca yaa.. Orangnya sih udah nggak ada di friendlist saya. Nggak tau juga kenapa dia unfriend, mungkin dia males punya teman macam saya. 😅😅)

Nah, baru di tahun berikutnya, ketika saya kelas 3 SMA (Agustus 2004 tepatnya), hidayah itu kembali datang. Memang, ketika Allah sudah berkehendak, maka semuanya menjadi mudah. Padahal, waktu itu ibu saya bilang, "Tanggung, Nduk, wis arep lulus." Iya sih, sekolah tinggal setahun, masa mau ganti seragam? Apalagi keluarga saya memang bukan dari kalangan "the have" yang bisa ganti seragam tiap tahunnya yaa...

Tapi karena saya memang sudah mantap, akhirnya tercetuslah ide untuk menjual cincin dan anting. Ibu menyanggupi, dan esoknya langsung ke pasar untuk membeli bahan. Seragam OSIS beli jadi, sementara seragam identitas sekolah, mesti beli bahan dan menjahit di penjahit langganan. Untuk seragam Pramuka, atasannya beli, dan roknya pakai kain yang rencananya akan dipakai untuk membuat celananya bapak. Seragam olahraga, kebetulan saya dapat hibah celana training dari Bulik Ning. Dan untuk kaosnya, seorang teman memberi ide untuk diganti lengan ke penjahit. Jadi lengan pendeknya dipotong, diganti lengan panjang dengan bahan dan warna yang sama. Murah, cuma habis 15 ribu rupiah.

Ya, dan semua berjalan begitu saja dengan mudahnya. Padahal saat itu keadaan ekonomi kami sedang parah-parahnya. 

Oya, saya harus ceritakan ini juga.

Karena mungkin melihat jilbab saya kurang layak (pendek dan agak tipis), seorang teman, Irvani Nuruziah namanya, menawarkan diri untuk mengambilkan jilbab dari Rohis Putri. Jadi, anak-anak Rohis yang sudah berjilbab lebar, biasanya menyumbangkan jilbab ukuran standar dari sekolah, karena sudah tidak dipakai lagi. Nah, saya dapat jilbab biru untuk dipasangkan dengan seragam identitas, dari Rohis itu. Alhamdulillah, untuk jilbab putih dan jilbab cokelat sudah ada. Karena saya memang butuh, tentu saya menerima dengan senang hati dan penuh kegembiraan. Alhamdulillah, Alhamdulillah, ada yang membantu saya berjilbab dengan lebih baik lagi.

Lalu hubungannya apa dengan Rina Nose?

Intinya, saya mau bilang bahwa butuh ketetapan hati dan niat yang tulus dari dalam diri, untuk menjalankan perintah Illahi. Kalau sesuatu dilakukan karena tekanan atau karena ingin terlihat baik di mata orang, yakin deh, nggak akan bisa bertahan lama. Contohnya ya saya sendiri. Pengen pakai jilbab cuma karena ingin terlihat cantik dan anggun, ya nggak jadi-jadi. Tapi pada akhirnya, ketika hati sudah mantap, Allah memberi jalan.

Akan halnya dengan Rina Nose memutuskan untuk menanggalkan jilbabnya, mari kita doakan agar Allah merangkulnya kembali. Menghujatnya, apalagi menghina fisiknya, sungguh tak akan mengubah apapun darinya. Jika ada yang berubah pun, mungkin itu ada pada hatinya yang makin terluka oleh kata-kata kita. Malah jadi nambah dosa kan?

Saya jadi ingat teman saya yang laki-laki itu. Ia mengingatkan saya untuk menutup aurat. Itu baik, tapi caranya ngeselin. Kita memang diperintahkan untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran, tapiiii, pilihlah cara yang paling bisa diterima. Yang santun, yang tidak menghakimi. 

Sahabat-sahabat sholihah saya, mereka nggak pernah nyinggung soal penampilan saya yang saat itu belum berjilbab. Tapi kemudian ketika saya berjilbab, Isnaeni ngajak ngaji tiap hari Jumat sepulang sekolah. Irvani, bantu saya dapat jilbab yang lebih layak. Begitu!

Jadiii, kalau mau ngasih jilbab ya kasih aja. Bila perlu kasihnya diam-diam, nggak usah pakai pengumuman. Irvani ngasih saya jilbab tanpa diketahui siapa-siapa. Itu pun dia menawarinya pelan-pelan banget, seolah takut menyinggung perasaan saya. Itu yang namanya akhlak!

Oya, saya juga pernah membaca di majalah Hidayatullah, sekitar tahun 2OO4 atau 2OO5, saya lupa persisnya.

Disitu diceritakan, Ustadz Arifin Ilham berhasil menyadarkan seorang preman. Dengan apa? Dengan beberapa bungkus makanan untuk sarapan. Saya lupa persisnya, soto ayam sepertinya. Preman itu tertegun, ternyata masih ada orang yang mau berbaik hati padanya, padahal tubuhnya penuh dengan gambar tato. Ia juga sangat jauh dengan agama, saat itu.

Dan bisa ditebak, preman itu akhirnya bertaubat dan menjadi salah satu jamaah majelis dzikir milik Ustadz Arifin Ilham. Ini kisah nyata. Dan ini bisa jadi bukti bahwa kerendahan hati, dan tingginya akhlak, bisa menjadi sarana dakwah yang sangat manjur. Karena kemuliaan akhlak yang dimiliki ustadz Arifin Ilham, saya sih nggak heran ketika ketiga istri beliau bisa bersanding dengan damai dan saling mendukung satu sama lain.

Ustadz Arifin Ilham tidak menghujani preman itu dengan dalil-dalil, bahwa sebagai umat Islam harus sholat, nggak boleh bertato, dll. Macam anak kecil yang beum tau apa-apa, pikat dulu hatinya, baru masuki dengan ajaran-ajaran Islam, step by step.

Begitu pula dengan Rina Nose. Padanya, ayo kita tunjukkan dulu bagaimana seorang muslimah seharusnya mendukung saudaranya. Bukan mendukung dia untuk membuka jilbab tentu saja, tapi menghargai keputusannya saat ini, untuk kemudian merangkulnya, mendoakannya agar mau kembali ke jalan Illahi.

Maaafff, jadi sok bijak begini.

Kadang kita sudah merasa lebih baik daripada orang lain, dari segi agama, dari ibadah, penampilan. Lalu karena itu kita jadi lebih mudah men-cap, melabeli, menghakimi, orang-orang yang tak sepaham dan menurut kita "tersesat". Padahal, sifat seperti itu termasuk sombong, dan kesombongan merupakan pintu masuknya setan.

Saya jadi ingat pesan Bapak suatu hari, "Iblis dikeluarkan dari surga karena apa? karena dia sombong, merasa lebih mulia dari manusia." 

So, stop membicarakan dan mencari kejelekan orang lain yaa... Urusi dosa kita masing-masing saja. Karena Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut." Na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

#selfreminder


Readmore → Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Duet Fenomenal yang Mungkin Pernah Jadi Teman Tumbuhmu

Hampir semua orang menyukai musik. Musik seolah menjadi bagian dari hidup, tak hanya sebagai hiburan, tapi bisa juga jadi ajang untuk mewakilkan perasaan.

Ada beragam genre musik, meski mungkin di telinga kita tak semuanya terdengar asik. Tapi, nggak harus suka dulu untuk kemudian hafal seluruh isi lagu. Biasanya, kita bisa tahu isi lagu karena sekeliling kita memutarnya setiap waktu. Jadi mau nggak mau jadi tahu.

Omong-omong, waktu kecil dulu saya sering mendengar lagu-lagu almarhumah Nike Ardilla, karena Mbak Ita is a big fan of her. Witing tresno jalaran saka kulino, dan dari seringnya mendengar lagu-lagunya Nike Ardilla itulah, saya jadi suka hampir semua lagunya.

Tapi kali ini, saya tak hendak membahas tentang lagu-lagu lady rocker kesayangan itu. Saya mau mendata *duuh, mendata, macam sensus aja* lagu-lagu yang dibawakan secara duet, yang telah menemani masa tumbuh saya dari kecil hingga remaja. Sampai remaja saja yaa, karena pasca SMA, saya jarang mendengarkan musik lewat radio. Menonton acara musik di televisi pun jarang. Jadi lagu-lagu setelah masa SMA, nggak benar-benar merasuk hingga ke jiwa.

Okey, langsung saja ya... Ini dia duet fenomenal yang menemani masa tumbuh saya dari kecil hingga remaja;

1. Inka Christie – Amy Search

"Bulan madu di awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita tak kan terpisah..."

Zaman dulu antara musisi Indonesia dan Malaysia memang akur ya. Lagu-lagu Indonesia pun punya warna yang senada dengan lagu-lagu Malaysia. Slow rock, dengan range nada yang panjang.

Nah, duet Inka Christie dan Amy Search di lagu yang berjudul “Cinta Kita”, terdengar di telinga saya entah di umur saya yang ke berapa. Pokoknya saya masih piyik deh, dan waktu itu TV rumah hanya bisa menangkap dua stasiun TV, apa lagi kalau bukan TPI dan TVRI? Dan lagu ini kayaknya sering banget diputar di acara “Album Minggu Kita”.

Sebenarnya mereka berdua berduet tak hanya di lagu ini saja, tapi yang paling fenomenal ya lagu “Cinta Kita” ini. Sampai sekarang saya masih sering mendengarnya, terutama kalau sedang di Majalengka, haha.. Soalnya Ayah dan Mamah mertua sukanya mutar lagu ini di mobil. Asik sih, meski suami saya suka pusing dengarnya. Yah, seleranya emang beda.

2. Ruth Sahanaya – Katon Bagaskara

Mereka berdua membawakan lagu berjudul “Usah Kau Lara Sendiri”. Waktu pertama kali melihat video klipnya, saya takut. Asli. Saya ngeri melihat wajah si model video klip yang kurus kering dan di tangannya terpasang selang infus. Lagu itu memang berisi dukungan pada sahabat yang terkena AIDS.

Saya dulu sempat bertanya pada ibu, AIDS itu apa? Tapi apa tepatnya jawaban ibu saat itu, saya tak mampu mengingatnya. Pokoknya intinya, kalau sudah terkena AIDS, maka sakitnya ngga akan bisa disembuhkan. Kan, makin seram.

Tapi setelah besar, lagu itu saya dengarkan kembali, dan saya jadi menyukainya. Musikalitas Ruth Sahanaya dan Katon Bagaskara, siapa sih yang akan meragukannya? Suara keduanya berpadu sempurna, meski berbeda warna.

Dan lagu cinta, tak harus melulu berkisah tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran, kan? Pada sahabat pun, cinta bisa dengan apik dilagukan.


3. Broery Marantika – Dewi Yull

Diantara dua duet sebelumnya, mungkin pasangan ini yang paling awet jadi teman duet. Ada beberapa lagu yang mereka bawakan bersama-sama, diantaranya: Jangan Ada Dusta Diantara Kita, Rindu Yang Terlarang, dan Kharisma Cinta.

Kalau lagu “Jangan Ada Dusta Diantara Kita” di-recycle oleh Rossa dengan tetap berduet bersama Almarhum Broery Marantika, lagu “Kharisma Cinta” dinyanyikan ulang oleh Rio Febrian dan Margareth.

4. Ari Lasso – Melly Goeslaw

Siapa yang nggak suka lagu berjudul “Jika”? Itu lagu easy listening banget. Rugi kalau nggak suka, hihi.. Lagu ini jadi lagu pertama yang dibawakan Ari Lasso pasca keluar dari grup band Dewa 19. Di lagu itu, Melly Goeslaw belum "sebesar" sekarang, hihi... Besar dalam artian sebenarnya lho yaa, haha...


5. Reza Artamevia - Masaki Ueda

Lagu "Biar Menjadi Kenangan" yang dibawakan Reza Artamevia dan Masaki Ueda ini ada saat saya masih SMP. Reza yang terkenal lewat lagu "Pertama" yang juga lekat dengan tarian seksi di dinding ini, menorehkan sejarah karena berduet dengan penyanyi senior kerkebangsaan Jepang.

Lagu ini juga dibuat dalam versi Jepang dengan judul "Forever Peace" dan versi Inggris dengan judul "The Last Kiss". Keren ya?


6. Shanty - Marcell

Ada yang ingat lagu berjudul "Hanya Memuji"? Lagu ini juga menemani masa-masa galau SMP saya dan sering banget diputar di radio.


7. Melly Goeslaw - Eric

Melly Goeslaw saat itu memang lagi hobi duet dengan penyanyi cowok. Setelah berduet dengan Ari Lasso, ia pun menggandeng penyanyi baru bernama Eric untuk membawakan lagu "Ada Apa Dengan Cinta" sebagai OST film AADC.

Setelah itu, ia kembali berduet dengan penyanyi cowok bernama Jimmo, untuk soundtrack film "Eiffel I'm in Love" dengan judul "Pujaanku". Tak berhenti disitu, Melly Goeslaw kembali membuat soundtrack film dan berduet dengan Andhika Pratama dengan lagunya "Butterfly".

Melly Goeslaw juga sempat berduet dengan Opick untuk menyanyikan lagu religi berjudul "Takdir". Duh, lagu-lagunya Melly emang bagus-bagus deh. Setidaknya, untuk telinga saya.


8. Agnes Monica - Ahmad Dhani

Agnes Monica dan Ahmad Dhani berkolaborasi dalam lagu berjudul "Cinta Mati". Karena lagu ini, mereka pernah digosipkan menjalin sebuah hubungan. Lagu ini menemani saya saat SMA.

Selain lagu duet dengan Ahmad Dhani, lagu duet Agnes Mo yang juga menemani masa remaja saya adalah lagu duetnya dengan Yana Julio dalam lagu "Awan dan Ombak" dan Titi DJ dalam lagu "Hanya Cinta yang Bisa".

Dan yang paling nggak bisa dilupakan adalah duetnya bareng Eza Yayang. Inget banget sama video klipnya, mereka terbang pakai baju putih gitu. Sayangnya, saya cari videonya nggak ketemu, cuma lagu aja. Tapi kalau teman-teman kangen, bisa dengerin di sini nih.



9. Anang - Krisdayanti

Terus terang saya sendiri bingung kenapa sampai lupa dengan mereka. Padahal "Makin Aku Cinta" dan "Jangan Tak Setia" tuh masuk dalam playlist saya di JOOX. Kalau bukan Mak Carolina Ratri yang mengingatkan, mungkin hanya ada 8 list duet di artikel ini. Makasiiiih Mak Carra, makasih juga karena udah jadi komentator pertama, padahal belum juga saya share kemana-mana. Duh, jadi terharu. :* :*

Lanjuut..

Oh ya, sebelum dua lagu yang saya sebut di atas, mereka telah dengan mesranya membawakan lagu "Berartinya Dirimu". Itu lho, yang liriknya begini;

Cintailah diriku untuk selamanya
Milikilah diriku untuk selamanya

Gituuu.. Tapi tetep buat saya pribadi, yang benar-benar menemani masa tumbuh saya ya "Makin Aku Cinta" dan "Jangan Tak Setia". Lagu-lagu ciptaan Anang jaman dulu memang asik-asik. Kalau lagu-lagunya yang sekarang, menurut saya agak menurun kualitasnya, hehe... Menurut saya loh ya, nggak tau kalau menurut Mas Anang. LOL



Kayaknya cuma itu saja yang bisa saya ingat. Teman-teman mungkin ada duet favorit juga?
Readmore → Duet Fenomenal yang Mungkin Pernah Jadi Teman Tumbuhmu

JavaID, Buatmu yang Ingin Mempercantik Dinding Rumah

javaid


Saya merasa perlu mengenalkan JavaID pada teman-teman pembaca setia blog ini. Karenanya, baca hingga tulisan ini berakhir yaa..

JavaID adalah produk bikinan Afif Taftayani, atau yang akrab dipanggil dengan nama Apip. Dia adalah salah satu karyawan di Akanoma, rekan kerja suami saya di Solo. Orangnya biasa aja (lalu ditoyor sama Apip), tapi idenya boleh juga (kayak nggak ikhlas sebenarnya nulis ini, :p). 

Berawal dari iseng karena melihat banyak sekali residu kayu di desa tempatnya tinggal, ia kemudian mempunyai ide untuk mengubah sisa-sisa kayu itu menjadi barang yang bernilai ekonomi. Ia kemudian membuat sebuah merek dagang bernama JavaID. Bisa dibilang, JavaID adalah produk eco-preneurship yaitu usaha "hijau" yang berbasis kepedulian terhadap lingkungan.

wooden clock, salah satu contoh produk javaid

Kenapa Apip memberi nama JavaID? Simply karena dia adalah orang jawa, dan ia berharap JavaID kelak bisa menjadi salah satu oleh-oleh Solo.

Produk JavaID yang saat ini tersedia memang baru berupa wooden clock, tapi jika teman-teman membutuhkan produk furniture, JavaID siap memproduksinya. Doakan semoga sukses yaa...

Oya, mungkin teman-teman sudah pernah melihat produk yang sama seperti ini, tapi, JavaID memiliki beberapa kelebihan.

1. Handmade

JavaID bukan produk pabrikan, karena ia dikerjakan oleh tangan-tangan pengrajin mebel dan furniture dari Boyolali, Jawa Tengah.


2. Menggunakan kayu asli

Seperti yang saya tulis di awal, Apip mendirikan JavaID dengan maksud agar kayu-kayu sisa produksi mebel bisa dipakai kembali. Ia ingin meminimalisir kata "mubadzir". Jadi sudah pasti produk JavaID ini menggunakan kayu asli untuk produknya bukan MDF atau Medium Density Fibreboard. Kayu yang digunakan sementara ini adalah kayu Jati dan Jati Belanda dari keluarga pine.

wooden clock, salah satu produk javaid


3. Bisa Custom Design 

Kalau misalnya teman-teman punya bayangan ingin memiliki jam kayu dengan bentuk seperti apa, atau ingin ditempeli foto siluet misalnya, hubungi saja JavaID. Insya Allah Apip dan bapak tukang akan mengusahakannya.

wooden clock produksi javaid, bisa custom design

4. Hand Painting

Ini tak kalah istimewa. Karena produk JavaID bukan produk pabrikan, semua dikerjakan secara manual, bahkan hingga menulis angka jam-nya. Oya, teman-teman juga bisa request JavaID untuk menuliskan quote yang diinginkan. Asik kan?

Kalau teman-teman penasaran dengan produknya, silakan kepoin account instagram JavaID di @javaid.indonesia ya... 
Readmore → JavaID, Buatmu yang Ingin Mempercantik Dinding Rumah