Langsung ke konten utama

Jangan Baca Ayat Kursi!!



Membaca judul ini mungkin akan ada pertanyaan, mengapakah? Saya bukan bermaksud memandang ayat ini sebagai “sesuatu” yang negative, namun ada sebuah kisah yang saya alami dan berhubungan dengan ayat ini.


Suatu hari, suami saya mendapat tugas ke Jogjakarta. Karena lokasinya jauh, hampir dua jam dari kota, akhirnya saya “mengungsi” di rumah Bude di Godean. Saya memilih ikut ke Jogja karena di Solo saya hanya sendirian dengan anak saya yang berusia kurang dari dua tahun kala itu. Selain itu, tujuan saya sekaligus bersilaturrahmi ke tempat Bude, yang sudah lama tidak saya kunjungi.


Kami berangkat Rabu sore karena Kamis paginya suami harus menjemput klien. Malam itu terlewati dengan tak ada suatu apa. Paginya suami berangkat dan beliau baru akan kembali keesokan harinya. 


Kamis malam, artinya malam Jumat. Dan Jumat itu adalah Jumat legi menurut pasaran Jawa. Selepas maghrib, Amay, anak saya mulai rewel. Kami membujuknya namun tak berhasil, hingga ia menangis sambil berteriak.


Saya pun panik. Sambil menggendongnya, saya komat-kamit membaca ayat kursi, dan tiga surat lainnya yaitu Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan An-Nass. Namun tangisan Amay tak juga berhenti, bahkan ia makin susah dikendalikan. 


Kebetulan di rumah Bude saya, hadir juga calon menantunya. Dia bilang, “Coba telpon Mas Yopie (suami saya), Rin. Mungkin Amay kangen.” Lalu sepupu saya meneleponkan suami. Rupanya, di tempat suami tidak ada sinyal. Saya berusaha menelepon suami lagi, tapi susahnyaaaa… Ketika pada akhirnya tersambung, suaranya pun putus-putus dan kurang jelas. Dan memang, ketika mendengar suara suami yang terputus-putus itu Amay diam. Ketika telepon ditutup, Amay kembali menangis. 


Saya tetap membaca apapun yang saya bisa, ketika kemudian Bude saya berkata, “Jangan baca ayat kursi ya, Rin.”


“Lho Bude, dari tadi Arin baca ayat kursi.” Saya heran. 


“Pantesan!” mereka bertiga kompak. Bude, sepupu saya, dan kekasihnya itu.


“Lho, salah ya?” saya masih bingung.


“Disini lebih baik baca Al-Fatihah, Rin. Karena kalau baca Ayat Kursi, kesannya kamu tuh ngusir mereka.” Terang calon menantu Bude saya. 


“Oh…” Tanpa banyak bicara akhirnya saya membaca Surat Al-Fatihah. Amay sedikit lebih tenang, tapi masih menangis. 


Calon menantu Bude saya kemudian ke dapur untuk mengambil garam, lalu dia ambil juga sapu lidi (sapu tebah). Entah apa yang dia lakukan di kamar, namun kemudian dia menyuruh saya untuk menidurkan Amay di kamar itu. Tak berapa lama, Amay pun tertidur.


Saya kemudian keluar kamar untuk mencari tahu ada apa sebenarnya. Mereka sudah berkumpul.


“Ini Jumat Legi ya?” tanya sepupu saya kepada kekasihnya.


“Iya.” Jawabnya.


“Ada apa dengan Jumat legi?” tanya saya. Jujur, saya masih sangat bingung saat itu.


“Di lantai atas lagi ada pengajian.” Kata kekasih sepupu saya.


“Oh, makin ngga ngerti aku.”


“Gini, mereka itu kan baik, mereka sudah menghuni rumah ini ribuan tahun. Mereka pun mengaji, dan rumah ini ketempatan tiap malam Jumat legi. Mereka datang dari segala penjuru. Amay itu sebenarnya udah sering lihat makhluq-makhluq kayak gitu. Tapi kalau ada papanya, dia merasa aman. Ini kebetulan Mas Yopie nggak ada, jadi dia bingung mau berlindung ke siapa.”


“Oh..” 


“Kalau baca Al-Fatihah kan kita mendo’akan to, Rin? Kalau ayat kursi lebih ke mengusir, dan mereka nggak suka.” Tambah sepupu saya.


“Oh… Bude nggak takut?”


“Bude si udah biasa.”


“Mereka itu nggak ngganggu koq, Rin. Aku aja tidur di atas sendiri juga nggak apa-apa.” Kata sepupu saya. “Mungkin tadi Amay lihat banyak makhluq berterbangan kali…kan biasanya paling dia lihat cuma diem.”


Mereka terlihat tenang, bahkan bercerita sambil bercanda. Sementara saya, melongo dibuatnya.




Komentar

  1. Wah.., berarti Amay sensitif ya Mbak...Kunci menghadapi hal-hal semcam ini adalah tenang dan yakin, mereka tidak akan mampu melukai kita secara fisik. Trus harus kuat dan percaya diri bahwa derajat kita lebih tinggi dari mereka. Salam buat Amay yang ganteng...(lihat fotonya, kyutt...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, sepertinya begitu mbak. di rumah Solo juga ada si, tapi karena ada papanya jadi dia tenang.. makasih mbak, putri embak juga cuantiikk...:)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Tulisan ini bisa menyebabkan darah tinggi dan emosi yang tak terkendali. Ini murni pendapat saya pribadi. Silakan pergi sebelum kalian sakit hati. :D

Sengaja saya nulis tentang Rina Nose setelah berita tentangnya agak mereda. Karena kalau pas lagi panas-panasnya, takutnya dikira saya mendompleng ketenaran, atau sengaja nyari pageview aja. Haha.. Padahal alasan sebenarnya adalah karena saya baru sempat nulis aja. Harapan saya sih, kalau situasinya sudah agak kondusif, tulisan saya ini bisa diterima dan ditelaah dengan kepala dingin. Nggak pakai emosi lagi.
Emang mau nulis apa sih? Kayak penting aja..haha..
Bukannya mau ngaku-ngaku atau apa, tapi saya dan Rina Nose memiliki beberapa persamaan. Apa sajakah itu?
1. Hidung Pesek
Kata ibu, waktu kecil hidung saya pesek parah. Tapi terus tiap hari ditarik-tarik biar mancung, dan katanya sekarang agak mendingan. Padahal semendingan-mendingannya saya sekarang, ya tetep hidungnya tak bertulang. Dan itu nurun ke Amay.

Jadi, misalnya hidung saya a…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …