Langsung ke konten utama

Puasa Manusia dan Binatang

Enam tahun lalu, tepatnya di bulan Sya'ban 2007, di acara Tarhib Ramadhan.
Demi mendengar kisah Pak Ustadz, saya merinding jadinya. Beliau menyampaikan bahwa Ramadhan memang identik dengan puasa. Namun puasa yang seperti apakah? Karena sesungguhnya, tak hanya manusia yang berpuasa. Binatang pun juga.

Bianatang apakah itu? Ada dua jenis binatang yang beliau contohkan.
1. Ulat
2. Ular
Keduanya sama-sama makhluk melata, sama-sama mengerikan, bahkan menjijikkan menurut sebagian orang. Keduanya juga sama-sama melakukan puasa. Puasa? Ya, puasa. Dan disinilah letak perbedaannya.

Ulat, ketika dia masih menjadi seekor ulat, yang dilakukannya hanyalah makan saja. Ia mengumpulkan "bekal" supaya di "kehidupan" selanjutnya ia selamat. "Kehidupan" selanjutnya yang dimaksud adalah ketika ia bermetamorfosa menjadi seekor kepompong. Dengan bekal yang telah ia kumpulkan sebelumnya, ia berpuasa, berusaha melawan goncangan dari luar, berusaha bertahan. Jika bekalnya cukup dan ia "kuat" menjalani masa tersulitnya, maka sempurnalah kelahirannya menjadi makhluk cantik bernama kupu-kupu, yang menyenangkan mata bila memandangnya. Subhanallah.

Akan halnya dengan ular, walaupun ia juga menjalani puasa, selepasnya ia tetap menjadi seekor ular. Ia hanya berganti "kulit" saja. Sama dengan manusia yang hanya berganti baju lebaran saja. Ular, tetap menyandang gelar sebagai jelmaan siluman.

Lalu, dari cerita di atas, relakah kita disamakan dengan seekor ular? Relakah kita menjadi manusia yang perangainya sama seperti sebelum Ramadhan, meski telah ditempa selama sebulan penuh untuk beribadah pada-Nya? Relakah Ramadhan kita hanya berakhir senilai baju lebaran semata? Relakah puasa kita, hanya menyisakan lapar dan haus yang sia-sia?
Na'udzubillah min dzalik, sesungguhnya aku berlindung dari semua itu.

Allah berfirman: "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." QS 33:35

Semoga puasa kita di bulan Ramadhan serupa dengan puasa seekor ulat, tak hanya mempercumakan lapar dan haus semata. Semoga selepas Ramadhan nanti, kita terlahir menjadi pribadi baru yang menyenangkan setiap mata yang memandang. Semoga Allah meridhoi kita, mengampuni dosa-dosa kita yang terdahulu, juga dosa-dosa yang akan datang. Semoga kita selalu istiqomah di jalan-Nya, sejak Ramadhan ini, hingga saat maut menjelang. Aamiin..

Wallahu a'lam bishshowab.

Komentar

  1. mengaminkan doamu, mak. semoga ramadhan ini adalah ramadhan terbaik kita ya :)

    BalasHapus
  2. aamiin...aamiin..aamiin... terima kasih mak sudah berkenan mampir, :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …