Langsung ke konten utama

Bagaimana Cara Mengirim Gagasan di Jawa Pos?

     Hari ini adalah hari istimewa untuk saya? Mengapakah? Karena pada hari ini, akhirnya tulisan saya untuk pertama kali dimuat di media. Rasanya, seperti orang yang kehausan di tengah padang pasir yang tandus, lalu tiba-tiba melihat genangan air, dan itu BUKAN fatamorgana. Hehe, lebay dikit. Tapi bener lho, rasanya campur aduk. Deg-degan, senang luar biasa, juga puas. Saking senangnya, saya sampai senyam-senyum sendirian, hehe.. 

     Tulisan saya berawal dari ide yang sangat sederhana, yaitu kelangkaan bumbu dapur beberapa waktu lalu. Ibu-ibu banget kan ya?

         Yang penasaran, ini naskah aslinya yaa...

Bersahabat dengan Bumbu Dapur

Sebagai seorang ibu rumah tangga, terkadang saya dibuat pusing dengan harga beberapa komoditas yang tiba-tiba melambung tinggi. Otak pun terus berputar bagaimana agar uang belanja cukup untuk membeli semua kebutuhan, karena untuk beberapa barang memang tidak bisa untuk tidak dibeli, misalnya cabe, tomat, dan bumbu dapur lainnya.
Bagi anda yang sering terjun ke dapur tentu masih ingat ketika beberapa waktu lalu harga cabe meroket. Harga tomat pun hingga hari ini masih tinggi di pasaran. Bahkan yang pernah membuat geger adalah harga jahe yang kenaikannya luar biasa. Mengapa ini bisa terjadi? Padahal biasanya jahe menjadi bumbu yang diremehkan karena hampir semua ibu-ibu menanamnya di kebun mereka. Iya, kita kebingungan karena kebiasaan menanam empon-empon mulai ditinggalkan.
Untuk itulah saya memulai berhemat dan bersahabat dengan tanaman, dari dapur saya sendiri. Cabe dan tomat yang membusuk biasanya saya keringkan bijinya, lalu saya sebar di halaman. Jahe, kunyit, atau kencur yang mulai tumbuh tunasnya juga saya pindahkan ke tanah. Tidak susah merawat tanaman-tanaman itu, tahu-tahu sudah tumbuh besar dan bisa kita petik hasilnya. Tidak perlu lahan yang luas juga untuk menanamnya.
Oiya, saya juga melakukannya pada daun bawang. Daun bawang hanya saya pakai daunnya saja, sementara akar dan batangnya yang berwarna putih saya tanam kembali. Lumayan lho, bisa kita manfaatkan hingga tiga kali tumbuh karena badan tanaman tersebut makin lama akan mengecil.
Sekarang, saya bisa menekan pengeluaran bila harga bumbu dapur mengalami kenaikan.

Sayangnya, saya tidak sempat membeli koran Jawa Pos dan melihat langsung karya saya nangkring disana. Saya pun tidak tahu, apakah naskah saya banyak mendapatkan editan atau tidak.

Nah, bagi teman-teman yang ingin mencoba juga, berikut caranya:
1. Tuliskan ide Anda maksimal 250 kata.
2. Kirimkan tulisan melalui email ke opini@jawapos.co.id, dengan subyek Gagasan.
3. Bila lebih dari 5 hari tidak ada tanggapan, berarti tulisan Anda belum layak dimuat.

Saya sendiri hanya menunggu 1 hari. Saya mengirimkan tulisan itu pada tanggal 10 Februari pukul 14:37, dan di hari berikutnya pukul 12:01 (hari ini) saya mendapatkan email bahwa tulisan saya telah dimuat. 

Alhamdulillah, rezeki dari Allah.. :)

Oh ya, saya juga ingin berterima kasih kepada Mbak Laila Masruro, karena beliaulah yang memberikan informasi dan motivasi kepada saya untuk mengirimkan tulisan kesana. *Peluk Mbak Laila... :)

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua. Aamiin. 

Komentar

  1. wah, bermanfaat sekali, terutama kalau diberi tah contoh asli naskahnya. karena aku enggak langgganab Jawa Pos. terima kasih sharingnya ya, Rin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, sayangnya arin gak sempat beli juga.

      Tapi alhamdulillah masih diberi tahu.. terkadang ada media yang jangankan mengirimkan bukti terbit, memberi tahu soal pemuatan naskah kita pun tidak.. hehe.. btw, makasih banyak mba sudah mampir.. :)

      Hapus
  2. Nggak apa-apa ya Mbak, tidak bisa liat tampilannya. Yang penting bermanfaat banyak buat orang lain, dan Mbak tambah semangat buat menulis. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mbak..hehe... begini aja udah sueneeeng banget pas buka emailnya, hehe...

      makasih sudah mampir mbak.. :)

      Hapus
  3. Selamat ya mbak tulisannya nampang di media. aku udah pernah coba kirim tapi tiada kabar berita... hiks... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaa...saya sering mbak kayak gitu, hehe.. yang penting coba terus.. hehe... semangaaattt :D

      Hapus
  4. selamat mbak Arinta :) ikut senang kalau ada teman yang tembus media.. memang tulisan mbak inspiratif sekali dan layak dimuat :)

    BalasHapus
  5. siip mb, aku punya beberapa polybag bisa dimanfaatkan niih

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus punya polybag mba.. arin kadang cuma pakai plastik bekas bungkus gula pasir, atau bekas bungkus sayur sop, diisi tanah, trus ditusuk-tusuk pakai pisau, hehe.. itu untuk nanam daun bawang..

      Hapus
  6. ayoo lebih semangat lagi kirim pada media2 lainnya jeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih, Bu.. insya Allah... Matur nuwun sanget supportnya.. :)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …