Langsung ke konten utama

Sharing Pengalaman, Menghasilkan Uang?

Membaca judul di atas, mungkin sebgaian orang akan bereaksi dengan mengerutkan dahi. Tapi inilah yang saya alami.

Berawal dari informasi yang saya dapat dari seorang teman, saya pun tertantang untuk mencoba. Suatu hari, seorang teman mengungkapkan syukurnya karena pengalamannya yang ia kirim ke sebuah media beberapa waktu sebelumnya berhasil dimuat. Ia pun membagi ilmu pada saya yang ingin tahu.

Media itu bernama SOLOPOS. Bagi teman-teman yang tinggal di seputaran Solo pasti tahu. Kantornya terletak di Jalan Adisucipto. Lalu, pengalaman seperti apa yang berhasil membuat saya bangga?

Adalah rubrik "Ah Tenane" dengan tokoh utama bernama Jon Koplo dan Lady Cempluk. Terkadang ada juga nama lain yang muncul, yaitu Genduk Nicole dan Tom Gembus. Nama-nama yang dipakai memang njawani sekaligus modern. Nama inilah yang biasa dipakai sebagai nama samaran bagi pengirim cerita.

Pengalaman yang dimuat disana biasanya berisi pengalaman lucu, konyol, atau sedikit memalukan hingga memilukan. Pokoknya, yang bisa membuat orang bertanya, "Ah, tenane?" Entah berapa kali saya mengirimkan cerita pengalaman saya kesana. Yang jelas, telah tiga kali cerita saya dimuat disana, sejak April hingga Agustus. Dari cerita pertama, saya mendapatkan sebuah wesel bernilai Rp 65 ribu (memang jika honor dikirim via wesel, nilainya akan dikurangi Rp 10 ribu). Kemudian dari dua cerita terakhir, saya mendapatkan transferan ke rekening sebesar Rp 150 ribu. Karena seringnya cerita saya dimuat di rubrik Jon Koplo ini, suami saya sampai menjuluki saya "Penulis Jon Koplo", hehehe...

Bagi sebagian orang, Rp 65 ribu atau Rp 75 ribu mungkin tak besar. Tapi percayalah, ini yang saya lakukan sebagai latihan untuk menulis. Menulis kemudian dimuat oleh sebuah media, bagi saya bisa meningkatkan rasa percaya diri. Toh, sekecil apapun nilai uangnya, tidak ada yang tidak berguna, bukan? 

Nah, inilah contoh cerita saya yang dimuat di rubrik "Ah Tenane". Saya kirim di bulan puasa lalu. Mungkin karena momennya pas, dimuat di bulan itu juga. Masa tunggu tidak bisa diperkirakan. Bisa sehari, seminggu, bahkan sebulan atau dua bulan. :)

Ojo Kesusu

Suatu hari di bulan Ramadhan, Lady Cempluk berkutat di dapur untuk menyiapkan buka puasa. Ia kemudian mendatangi suaminya, Jon Koplo, sambil menyerahkan sekaleng susu kental manis berwarna putih. "Pak, tulung dibukakke. Arep tak gawe nyiram es buah." ujarnya.
Jon Koplo pun beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil sebuah alat yang biasa digunakan untuk melubangi kaleng susu. Setelahnya, ia kembali duduk di tempatnya semula dan mulai beraksi.
Mungkin karena tekanan dari alatnya atau mungkin juga karena isinya terlalu penuh, maka ada susu yang ndlewer keluar. Dengan sigap tangan Jon Koplo mengusap tumpahan susu tadi, kemudian menjilatnya.
"Lho Pak, emange wis adzan opo?" tanya Cempluk.
"Oalah, lali, haha... Rejeki iki." Ujar Jon Koplo, menyadari bahwa waktu berbuka sebenarnya belum tiba.
"Walah. Sabar, Pak. Ojo kesusu!" Cempluk pun ikut menertawai suaminya.

Selamat mencoba yaa..
Oya, untuk ceritanya bisa ditulis sepanjang 100-150 kata. Berisi pengalaman nyata pribadi atau orang lain. Dikirim ke alamat email redaksi@solopos.com atau redaksi@solopos.co.id. Jangan lupa sertakan alamat lengkap dan juga nomor rekening. 





Komentar

  1. Kalau dipikir mudah ya ceritanya daru sehari2 pun bisa. Tapi kadang sulitnya itu nyari feeling ya pas hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mb nunu..kebanyakan memang cerita sehari-hari. Sayangnya kadang kita nggak 'ngeh' kalau itu bisa dijadikan cerita..dan menghasilkan uang tentunya..hehe

      Hapus
  2. Harus menggunakan istilah2 jawakah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya begitu, paling tidak di dalam dialognya.. :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Pengalaman pribadikah ini? Haha... Piiiiss! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan memang harus pengalaman nyata Mba..hihi.. Ini sebenarnya pengalaman waktu kecil. Ibu yg minta tolong bapak bukain kaleng susu, ee malah bapak njilat susunya..hehe

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. wah kelihatannya rubriknya menarik nih, aku suka yang lucu lucu gitu hehe. selamat ya mbak.. solopos ya... disini ga ada soale hehe .. sekali lagi selamat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mba Susan.. coba tulis yuk..gak terbatas utk orang Solo aja koq..

      Hapus
  7. Hadeeh gak isonulis lucu..selamat Mba Arin semoga makin produktif,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin Mba Ety.. kalo saya gak bisa nulis kayak Mba Ety, hehehe...

      Hapus
  8. wah..., bahasa Jawa. walau ngerti, tapi enggak bisa nulisnya. jadi..., sepertinya gak bisa ikutan kirim deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bikin untuk majalah reader's digest aja mba.. :)

      Hapus
  9. slamat mba, waah bisa dicoba nih. Makasih infonya

    BalasHapus
  10. Makasih sharingnya Mbak. Bikin semangat nulis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Mba.. Saya juga tau info ini dari teman penulis. Ayo lebih produktif lagi.. :)

      Hapus
  11. waah jadi pengen kirim ke solo pos

    BalasHapus
  12. Wah boleh dicoba nih. siap2 nginget2 pengalaman konyol.. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi...pengalaman konyolnya jangan dibuat status facebook dulu...:)

      Hapus
  13. Waahhh ternyata cerita simple gini bisa dimuat jadi tulisan di koran & dapat honor yaa. Jadi pengen mengingat2 cerita Lucu, banyak sebenarnya, cuma kadang kita lewatkan begitu aja. Saatnya merekam & menjadikannya bahan cerita :). Makasih infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, iya Mba Maya. Lumayanlah, daripada disimpan sendiri, kalau diceritain kan kita bisa dapat cicis, wkwkwk

      Hapus
  14. Ceritanya pendek. Lumayan lho honornya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Leyla, hihi.. lumayan banget.. :)

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kedai Ibu By Mommilk Solo

Siang kemarin, saya men-charge jiwa raga di sebuah kedai. Jiwa, saya isi ulang dengan silaturrahmi bersama teman-teman, dan Raga, saya isi ulang dengan makanan dan minuman yang berbeda dari biasanya.
Untuk seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil dan kesehariannya hanya fokus dengan urusan sumur dan dapur -kasur juga sih, lol- seperti saya, momen bertemu dan bercanda dengan teman-teman seperjuangan tentu menjadi sesuatu yang istimewa. Sungguh, kemarin saya bisa tertawa lepas, hingga sisi lain dari diri saya keluar dan itu membuat Mbak Ety Abdoel terheran-heran, wkwkwk... Mungkin dalam hati Mba Ety membatin, "Ni anak kesambet apa, sih?" Hahaha...
Oya, saya perlu mengatakan ini. Ada yang mendukung kesyahduan perjumpaan kami. Apa itu? Tempat, suasana, dan makanannya tentu saja. Sebuah bangunan tua bergaya Indische menjadi tempat pertemuan kami. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, ditambah dengan iringan lagu Sheila on 7 yang seolah mengajak untuk ikut bersenandung …