Langsung ke konten utama

Pawon Omahkoe, Tempat Kuliner Lezat di Solo

Haloo..

Siapa yang minggu lalu nge-trip alias piknik?

Saya enggak dong... :(

Tidak seperti kebanyakan orang yang menikmati long weekend dengan pergi ke tempat-tempat wisata, atau pergi ke luar kota untuk mencari suasana yang berbeda dari biasanya, saya (bersama suami dan anak-anak), hanya menikmatinya di rumah saja. Tiga hari looh...yakin betah?

Hehe..ternyata ngga sampe tiga hari, kami udah bingung mau ngapain. Ya sudah, agak memaksakan diri memang, mengingat kondisi suami dan De'Aga yang kurang fit. Tapi daripada bosan, akhirnya kami memutuskan untuk keluar, sekedar untuk jajan.

Akhirnya kami menuju sebuah rumah makan, Pawon Omahkoe namanya. Ini pertama kalinya kami kesini. Letaknya di Jalan Adi Sucipto, Solo. Ancer-ancernya; dari Hotel Lor In, masih ke barat lagi, sebelum IHS. 

Sayangnya, saya lupa mem-foto tampak depan rumah makan ini, hehe.. Maaaafff...

Begitu masuk, saya bingung mau pilih tempat duduk dimana. Di dalam memang tidak terlalu ramai sih, karena memang pengunjungnya tidak terlalu banyak, jadi kami masih punya banyak pilihan tempat duduk. Akhirnya, kami memilih sebuah tempat dengan view ke belakang. 

lucu kan ya? Ada Liliput. :)
Kami pilih disini karena ada patung liliput yang lucu-lucu. Tujuannya sih biar anak-anak senang. :)
Melihat ke sebelah kanan, ada kereta juga. Sebelum makanan datang, kami sempat kesana, mengajak anak-anak duduk di dalamnya.

kereta mini
tempat duduk kami

Oiya, mau tau nggak, kami pesan apa? Hihihi... *sok penting banget sih arin...
Walaupun nggak ditanya, tapi saya tetep mau cerita, hahaha...

rawon bakar
Nah, itu pesanan saya, Rawon Bakar. Rasanya gimana? Hhmm...enak... Beneran. Dagingnya empuk, kuahnya juga pas rasanya. Saya kebetulan pakai semua sambal yang disediakan, dan itu menambah kelezatan rawonnya. Sayur-sayurannya segar, dan bersih-bersih. Makanya nggak heran kalau harganya Rp 22.000,-

Suami saya pesan Rawon Kuah, mirip rawon-rawon pada umumnya, dengan daging yang sudah dicampurkan di kuahnya. Rasanya juga enak. Cocok lah sama lidah kami. 

Untuk anak-anak, kami pesan sop ayam. Ini juga yummy banget lhoo.. Nggak nyangka deh disini makanannya enak-enak, karena dari luar memang kelihatan sepi pengunjung.

sop ayam

Tapi memang ada yang kurang. Untuk minumannya, suami pesan lemon squash, dan itu kurang greget, hehe... Kalau es campur pawonnya sih lumayan lah, segar... Jus jeruknya juga enak, pas.

Oya, kami juga sempat foto-foto lhoo, hihi... Sayang banget kan kalau patung-patung itu didiamkan saja? :)


Untuk pertemuan keluarga besar atau untuk arisan, tempat ini bisa dijadikan rujukan. Makanannya enak, harganya juga standar nggak kemahalan, dan yang juga penting buat yang punya anak kecil, ada arena yang cukup luas di belakang untuk bermain-main.

Oya, ini dia daftar menu yang sempat saya dokumentasikan. Selamat berkunjung kesana yaa... :)






Komentar

  1. kirain itu pawon punya mbaknya hehe. ternyata tempat makan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi..kalo pawon saya malah jarang ngebul akhir-akhir ini mba.. *ibu2malasmasak :D

      Hapus
    2. makan diluar terus ya mba

      Hapus
    3. engga mbaa... beli sayur mateng thok, hihi

      Hapus
  2. Rawon bakar....blom pernah coba niih. Togenya tempting banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir sama dg rawon pada umumnya. Hanya memang dagingnya dibakar dan masih berukuran besar. Empuk banget mba..hihi.. Oiya..kalo rawon bakar ini kuahnya dipisah. :)

      Hapus
  3. Aku suka rawon.. tetapi rawon bakar kayak gitu belum pernah nyoba.. Resto yang ada di tempatku kayaknya belum ada yg menyediakan rawon bakar.. Penasaran rasanya kayak apa ya?

    BalasHapus
  4. Mauuu...ajakin kesana dong kalo pas ke Solo..haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke, siap.. tak ajak kesana, tapi kamu yg bayar yaa..:D
      siomay mercon udah tak sediain lhoo...

      Hapus
  5. Wah baru dengar ada rawon bakar mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga baru pertama kali nyoba mba..:D

      Hapus
  6. Tempatnya teduh makanannya enak surga banget ya mbak

    BalasHapus
  7. kalau ada halaman begitu biasanya anak-anak bakal senang :)

    BalasHapus
  8. Rawon bakarnya menggugah selera, Mbak

    BalasHapus
  9. Oh, baru tahu model rawon bakar hihihi. Jadi itu dagingnya dibakar ya Mak? Manstaph keliatannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak..dibakar..tp empuk banget. Mantap surantap :D

      Hapus
  10. aaa sop ayame nda nguatinnn sluuurp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini mba.. Kayaknya kaldunya dari ayamnya asli.. Soalnya ga eneg dan ga bikin pusing..

      Hapus
  11. Jadi pengen nyobain Rawon bakar mbak, kalo ke Solo mampir ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaa..enak koq ini. insya Allah ga bikin kecewa :)

      Hapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …