Langsung ke konten utama

Kuliner Makassar; Pallu Basa


Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 11 Maret, saya sekeluarga bisa menginjakkan kaki di Makassar. Sebagai orang yang jarang piknik, ini adalah perjalanan istimewa, karena jujur saja ini kali pertama saya ke luar Pulau Jawa. Bisa dibilang juga, kemarin itu benar-benar first flight untuk saya, Amay dan Aga. Kalau suami sih, sudah sering pergi jauh karena urusan pekerjaan, hehe..

Mendarat di jam 12 siang, kami bersabar menunggu Ayah yang sedang shalat jum'at. Mamah sendiri sudah menunggu kami. Oya, kami ke Makassar dengan tujuan untuk mengunjungi kakek dan neneknya anak-anak dari pihak suami. Memang sudah lebih dari empat tahun ini, Ayah dinas disana.

Jam 1 kurang, Ayah datang. Kami langsung meluncur pulang. Sebelumnya, Ayah dan Mamah mengajak kami untuk makan siang. Iya ya, itu jamnya makan siang sih, jadi dengan senang hati kami menerima ajakannya, berhubung perut ini juga sudah berteriak minta diisi. :o

Mobil Ayah berhenti di sebuah warung makan yang menjual Pallu Basa, kuliner khas Makassar. Di depan tertulis Pallubasa Serigala. Kata Mamah, ini yang paling terkenal, yang terletak di Jalan Serigala.

Pallubasa Serigala

Ayah antusias bercerita, "Biasanya disini ramai kalau jam makan siang. Bahkan, kadang kita sedang makan pun, di belakang kita sudah ada yang berdiri menunggu." Tapi Ahamdulillah waktu kita datang, masih ada beberapa tempat yang kosong. Artinya, kami tidak perlu menunggu, atau makan dengan terburu-buru. Memang banyak pengunjung yang datang, tetapi tidak terlalu penuh.

Setelah memesan, pelayan datang membawakan pesanan, semangkuk pallubasa dan sepiring nasi. Lumayan cepat, menandakan bahwa mereka terbiasa gesit melayani pelanggan.




Ini kali pertama saya mencicipi makanan ini. Kalau lidah saya tidak salah, rasanya mirip dengan Empal Asem Khas Cirebon. Suami saya setuju dengan pendapat saya. Tapi kata Mamah, seharusnya pallu basa nggak begini rasanya. Biasanya agak hitam karena memakai kluwak, bumbu yang digunakan untuk memasak rawon, dan juga ada campuran serundengnya.

Entahlah, mengapa ada perbedaan disini. Yang jelas sih, pallubasa ini enak, hehe, apa karena saya lapar ya? :D

Pallu Basa; Kuliner Khas Makassar

Saat membayar, saya cukup terkejut karena harganya yang lumayan murah untuk makanan berbahan daging. Semangkuk Pallu Basa ini harganya hanya Rp 14.000,- saja. Berbeda dengan di Jawa, harga daging disini sepertinya murah, karena beneran, dagingnya banyak dan besar-besar.

Tapiiii...berbeda dengan di Jawa, harga sepiring nasi dan es teh disini termasuk mahal. Sepiring nasi dibandrol dengan harga Rp 6.000,- dan es teh Rp 5.000,-. Kalau di Jawa kan, harga nasi dan es tehnya hanya separuhnya, hehe... Jadi, keseluruhannya kami hanya membayar Rp 25.000,- per orang. Hmmm..lumayan puas dan bikin kenyang.

Kalau teman-teman ke Makassar, jangan lupa kuliner ini yaa.. :D

Komentar

  1. Wah, bikin kepingin Mbak. Kalau pallu basa saya belum pernah ngerasain, baru Coto Makasar aja pun bukan di Makasar makannya. Masih penasaran makan di tempat asalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo menurut lidah saya, pallu basa lebih enak dibanding coto makassar mba..hehe.. semoga suatu hari nanti mba ety berkesempatan pergi kesini yaa..^^

      Hapus
  2. Mahal di es teh nya ya mbak haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh mba, emang..haha.. padahal kalo di restoran sunda, teh tawar tu gratis yaa.. :D

      Hapus
  3. penasaran sama pallu basa jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kirain mba hana udah pernah nyoba, hehe

      Hapus
  4. Jadi laper kan, kangen makassar

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, saya yang cuma 5 hari disana aja udah kangen lagi Mas..

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kedai Ibu By Mommilk Solo

Siang kemarin, saya men-charge jiwa raga di sebuah kedai. Jiwa, saya isi ulang dengan silaturrahmi bersama teman-teman, dan Raga, saya isi ulang dengan makanan dan minuman yang berbeda dari biasanya.
Untuk seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil dan kesehariannya hanya fokus dengan urusan sumur dan dapur -kasur juga sih, lol- seperti saya, momen bertemu dan bercanda dengan teman-teman seperjuangan tentu menjadi sesuatu yang istimewa. Sungguh, kemarin saya bisa tertawa lepas, hingga sisi lain dari diri saya keluar dan itu membuat Mbak Ety Abdoel terheran-heran, wkwkwk... Mungkin dalam hati Mba Ety membatin, "Ni anak kesambet apa, sih?" Hahaha...
Oya, saya perlu mengatakan ini. Ada yang mendukung kesyahduan perjumpaan kami. Apa itu? Tempat, suasana, dan makanannya tentu saja. Sebuah bangunan tua bergaya Indische menjadi tempat pertemuan kami. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, ditambah dengan iringan lagu Sheila on 7 yang seolah mengajak untuk ikut bersenandung …