Langsung ke konten utama

Sabar Tiada Tepi, Syukur Tiada Henti

Sabar dan Syukur, dua kata yang sulit dipisahkan. Orang yang pandai bersabar, setelahnya akan pandai pula bersyukur. Orang yang pandai bersyukur, sejatinya telah melewati ujian kesabaran.

Sabar dan Syukur, dua kata yang selalu dinasehatkan oleh ibu saya. Saya mengalami bagaimana ekonomi keluarga kami seperti roller coaster, kadang di atas kadang di bawah. Sebenarnya, saat di atas, bukan berarti kami banyak harta, namun saat paling atas itu adalah saat kami berkecukupan, tak punya beban hutang. Saat di bawah, bisa dimengerti bukan? Saat itu untuk makan saja kami kelimpungan.

Mungkin, karena banyak kebahagiaan yang saya rasakan di masa kecil, terkadang saya berangan-angan untuk bisa kembali ke masa itu, walaupun mustahil. Karena hal ini juga, saya memimpikan memiliki rumah bergaya tahun 1980-an, karena saat-saat bahagia saya, rumah dengan model seperti itu sedang menjadi trend. Harapannya, dengan tinggal di dalam rumah impian saya, saya akan selalu terkenang saat-saat dimana hati saya selalu tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang saya sayangi.

Bersama Uti, nenek dari pihak ibu yang selalu menyayangi saya hingga seolah-olah hanya saya lah satu-satunya cucu yang dimilikinya, saya memiliki banyak momen bahagia. Teringat dua puluh tiga tahun yang lalu, tahun 1993 tepatnya, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar. Uti yang tinggal bersebelahan dengan rumah orang tua, datang pagi-pagi sekali. Beliau tersenyum memandangi saya yang ceria menyambut hari pertama sekolah dengan seragam putih merah. Ibu juga bersiap sejak pagi untuk memasakkan mie kuah instan kesukaan saya. Sambil disuapi ibu, Uti memakaikan saya kaos kaki putih. Bapak juga turun tangan memeriksa kerapian seragam yang saya kenakan, sambil memastikan topi merah sudah dimasukkan ke dalam tas. Betapa bahagianya saya hari itu, dikelilingi orang-orang yang saya cintai. Saya bagaikan seorang putri raja yang semua keinginannya dilayani.

Bersama Mbah, nenek dari pihak bapak, saya belajar mengaji. Mbah datang ke rumah setiap waktu dzuhur tiba. Selain itu, setiap maghrib, Mbah mengajari puluhan anak-anak di kampung kami, tanpa mengharap pamrih. Ada momen tak terlupakan bersama beliau. Ketika itu, kami membelah sungai yang saat itu tengah banjir, demi bisa mencapai tempat pengajian di desa seberang. Baca Kisah Dibalik Mukena Putih. Meskipun ngeri, tapi saya bahagia mengenangnya. Pengalaman itu sungguh berharga, karena Mbah menunjukkan secara langsung betapa pentingnya menuntut ilmu.

Mengenang masa kecil, membuat saya bersyukur. Bahwa keterbatasan yang ada, sesungguhnya tak berarti apa-apa jika di sekeliling kita ada banyak cinta. :)




Komentar

  1. Senangnya mengingat masa kecil yang indah oleh keluarga yang hangat yaa mbak :)

    BalasHapus
  2. Beruntung sekali Mbak Arinta... sya tidak mengalami seperti apa yg Mb Ari alami...

    Punya keluarga yang akur itu bahagia ya mbak? Apalagi keluarga yg support...

    *Gak usah BW mbak, sya blm update hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah dek, hehe..
      Ya, ujian setiap orang memang berbeda-beda ya dek? Yang jelas, seperti judul tulisan ini, kita harus bersyukur dan bersabar. Semangaaat ^^

      Hapus
  3. wah syenangnya bisa deket dengan neenek, kalo aku pas masi kecil biyungen banget mbk, ga mau pisah sama ibu, event cuma dititipin ke nenek *lengket kayak lem deh hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya rumah nenekku cuma sebelahan sm rumahku mba, hehe..

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Gara-Gara Upin dan Ipin

Siapa tak kenal Upin Ipin? Serial animasi yang diimpor dari negeri tetangga ini setiap hari menghiasi layar kaca. Meskipun tak sedikit yang mengkritik acara ini, terutama karena adanya tokoh Bang Sally yang sedikit melambai, tapi jujur saja saya tetap suka dan tetap menyuguhkannya untuk anak-anak.
Memangnya, nggak khawatir anak-anak akan jadi gagap bahasa? Hehe, terus terang, tidak. Malah, anak-anak (Amay khususnya, karena Aga belum bisa bicara), jadi makin bertambah kosa-katanya. Amay jadi tahu bahwa di Malaysia, sepatu disebut kasut, dan sepeda disebut basikal. 
Tentu, sebelumnya saya jelaskan juga bahwa bahasa Melayu sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia. Misalnya pada kata seronok, jika di Indonesia kata ini berkonotasi negatif (meskipun di KBBI, seronok memiliki arti; menyenangkan hati, sedap dilihat), maka di Malaysia sana, kata seronok berarti bahagia. 
Lalu, apa saja sih, pengaruh positif yang saya (dan anak-anak) dapat setelah (ikut) menonton Upin Ipin?
1. Gara-gara Upin Ipin, …