Langsung ke konten utama

Makaroni Schotel Kukus Untuk Amay

Dua hari ini, Amay (21m) sedang tak ingin makan nasi. Terlihat dari raut mukanya yang tampak malas ketika saya membawakannya semangkuk nasi, sayur, lengkap dengan lauknya. Memang Amay sering seperti ini. Kadang ia senang dengan makanan berkuah seperti Soto, Sop, atau Bening Bayam. Namun kali lain, dia lebih memilih makanan kering alias tak berkuah. Memang, sebagai seorang ibu, kita harus pintar membaca keinginan anak. Saya sedang belajar tentang ini, karena Amay belum mampu mengutarakan keinginannya, termasuk dalam hal memilih menu hari ini. Paling-paling, dia hanya sekedar berkata, "mau roti" atau "puding" karena dua makanan ini adalah favoritnya.

Nah, hari ini, setelah memutar otak, mau "dikasih makan" apa anakku? Hehe.. Buka-buka lemari, dan saya temukan sebungkus makaroni. Ah, di dapur masih ada telur, susu, kentang, wortel, juga bawang bombay. Kentang saya masukkan untuk mengganti kebutuhan karbohidrat, wortel sebagai tambahan vitamin, dan daging + telur sebagai proteinnya.

Dan akhirnya, saya pun membuat makaroni schotel ala saya sendiri..:)
Caranya :
rebus makaroni
iris bawang bombay kecil-kecil, tumis dengan margarin
tambahkan daging giling ( optional ), tumis hingga berubah warna
masukkan wortel dan kentang yang sudah dipotong kotak-kotak kecil
masukkan segelas susu cair, aduk-aduk
tambahkan garam secukupnya
matikan api bila adonan sudah mengental

di tempat terpisah, kocok 3 butir telur, tambahkan sedikit garam
masukkan makaroni yg telah direbus tadi
masukkan juga adonan yang telah dimasak tadi
siap dikukus/dipanggang
kebetulan saya lebih senang makaroni kukus

kira-kira seperti ini hasilnya...(pake foto orang lain karena ga sempet memfoto masakan saya sendiri, keburu habis :p )

Komentar

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…