Langsung ke konten utama

Mengapa Agama Islam = Tali Allah?



Ada di antara kita yang menyukai “kebebasan” dalam hidup, tak mau mengikuti aturan dan bertindak semaunya sendiri. Ada pula yang patuh pada aturan, karena tahu, aturan itu dibuat untuk kebaikan. Ada yang memandang aturan sebagai pengekang, namun sebagian lain menafsirkannya sebagai pengendali situasi, supaya kehidupan berjalan dengan tenang dan damai.
Ingatkah ketika anda melihat bayi mungil yang dibedong? Mengapa dia dibedong? Memang ada yang mengatakan bahwa membedong bayi seperti menyiksa karena tak membiarkan dia bergerak bebas. Tapi tahukah anda, dengan dibedong, bayi bisa tidur lebih nyenyak dan lebih lama? Dia tidak terganggu dengan gerakannya yang masih kaku dan sering, karena dia belum bisa mengontrol gerakannya sendiri. Ini pengalaman saya si sebagai seorang ibu. Tadinya saya juga berpikir, kasihan amat ni anak dibedong..tapi alhamdulillah, orang tua saya dengan “warisan kunonya” memaksa saya membedong cucunya, dan saya bersyukur karena itu.
Aturan itu seperti tali, kekang. Seekor kuda, dapat dikendalikan oleh sang kusir delman dengan talinya. Bayangkan bila talinya lepas, dia akan berlari kesana kemari mengganggu pengguna jalan atau masyarakat sekitar. See? Pengekangan itu tak selamanya merugikan, bukan?
Begitu pun kita sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa kita mempunyai tali dan pengendalinya adalah Allah. Hal ini jika kita ingin menjalani hidup dengan tenang, damai.
Apakah tali itu? Seperti firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 103, “Berpeganglah kamu semua pada tali Allah (agama Islam), dan janganlah bercerai-berai, ingatlah kenikmatan Allah yang melimpah kepadamu, ketika kamu semuanya bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), kemudian Allah melembutkan hati-hatimu sehingga dengan itu kamu menjadi bersaudara (bersatu padu dengan nikmat Islam). Saat itu kamu berada di tepi jurang kehancuran (karena kekufuran semasa jahiliah), kemudian Allah menyelamatkan kamu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu sekalian mendapat petunjuk.”
Dari ayat di atas, semoga kita menjadi insan yang selalu terikat hatinya pada Allah, sehingga ketika kita berada di bibir jurang kemaksiatan, Allah menjaga kita, mengendalikan kita dengan tali-Nya. Inilah sesungguhnya kenikmatan itu..ketika kita dijaga Allah dari kesesatan yang mencelakakan.
Tali Allah (Agama Islam) memang penuh dengan aturan atau hukum-hukum Allah. Itu semua bukan untuk menyusahkan kita sebagai penganutnya, tetapi sesungguhnya merupakan pelindung kita supaya kita terhindar dari perbuatan yang tidak hanya merugikan diri kita sendiri namun juga bagi orang lain.
Renungan Jum’at
Ya Allah, buatlah hati saya,selalu terikat pada-Mu, pada kebenaran-Mu… jangan lepaskan saya dari ikatan-Mu…
Wallahu a’lam bishawab (mohon maaf apabila terdapat kekeliruan, ini hanyalah analisa saya yang fakir ilmu)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …