Jumat, 01 Maret 2013

Mengapa Agama Islam = Tali Allah?



Ada di antara kita yang menyukai “kebebasan” dalam hidup, tak mau mengikuti aturan dan bertindak semaunya sendiri. Ada pula yang patuh pada aturan, karena tahu, aturan itu dibuat untuk kebaikan. Ada yang memandang aturan sebagai pengekang, namun sebagian lain menafsirkannya sebagai pengendali situasi, supaya kehidupan berjalan dengan tenang dan damai.
Ingatkah ketika anda melihat bayi mungil yang dibedong? Mengapa dia dibedong? Memang ada yang mengatakan bahwa membedong bayi seperti menyiksa karena tak membiarkan dia bergerak bebas. Tapi tahukah anda, dengan dibedong, bayi bisa tidur lebih nyenyak dan lebih lama? Dia tidak terganggu dengan gerakannya yang masih kaku dan sering, karena dia belum bisa mengontrol gerakannya sendiri. Ini pengalaman saya si sebagai seorang ibu. Tadinya saya juga berpikir, kasihan amat ni anak dibedong..tapi alhamdulillah, orang tua saya dengan “warisan kunonya” memaksa saya membedong cucunya, dan saya bersyukur karena itu.
Aturan itu seperti tali, kekang. Seekor kuda, dapat dikendalikan oleh sang kusir delman dengan talinya. Bayangkan bila talinya lepas, dia akan berlari kesana kemari mengganggu pengguna jalan atau masyarakat sekitar. See? Pengekangan itu tak selamanya merugikan, bukan?
Begitu pun kita sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa kita mempunyai tali dan pengendalinya adalah Allah. Hal ini jika kita ingin menjalani hidup dengan tenang, damai.
Apakah tali itu? Seperti firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 103, “Berpeganglah kamu semua pada tali Allah (agama Islam), dan janganlah bercerai-berai, ingatlah kenikmatan Allah yang melimpah kepadamu, ketika kamu semuanya bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), kemudian Allah melembutkan hati-hatimu sehingga dengan itu kamu menjadi bersaudara (bersatu padu dengan nikmat Islam). Saat itu kamu berada di tepi jurang kehancuran (karena kekufuran semasa jahiliah), kemudian Allah menyelamatkan kamu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu sekalian mendapat petunjuk.”
Dari ayat di atas, semoga kita menjadi insan yang selalu terikat hatinya pada Allah, sehingga ketika kita berada di bibir jurang kemaksiatan, Allah menjaga kita, mengendalikan kita dengan tali-Nya. Inilah sesungguhnya kenikmatan itu..ketika kita dijaga Allah dari kesesatan yang mencelakakan.
Tali Allah (Agama Islam) memang penuh dengan aturan atau hukum-hukum Allah. Itu semua bukan untuk menyusahkan kita sebagai penganutnya, tetapi sesungguhnya merupakan pelindung kita supaya kita terhindar dari perbuatan yang tidak hanya merugikan diri kita sendiri namun juga bagi orang lain.
Renungan Jum’at
Ya Allah, buatlah hati saya,selalu terikat pada-Mu, pada kebenaran-Mu… jangan lepaskan saya dari ikatan-Mu…
Wallahu a’lam bishawab (mohon maaf apabila terdapat kekeliruan, ini hanyalah analisa saya yang fakir ilmu)

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...