Selasa, 25 Februari 2014

Ngelahirin Secara Caesar Karena Nggak Mau Sakit?

"Ibu-ibu jaman skg nggak mau sakit, kalo ngelahirin pake operasi cesar, padahal Tuhan memberikan rasa sakit pada saat melahirkan untuk mengingatkan bahwa anak didapat tidak dgn cara yg mudah. Kesakitan melahirkan anak sesungguhnya doa seorang perempuan pada Tuhan u/ menjadi seorang Ibu." Kalimat tersebut dituliskan oleh Anton Dwisunu pada tanggal 22 Februari lalu.

Rasanya pediiih banget baca tulisan itu. Pingin nangis, tapi karena waktu itu saya sedang di masjid menunggu suami yang sedang shalat, saya tahan air mata yang sudah mau keluar. 

Koq bisa beliau men-judge seperti itu. Seandainya dia tahu apa yang saya rasakan ketika menjelang kelahiran Amay kurang lebih tiga tahun silam.

Saya masuk Rumah Bersalin hari Minggu malam, 13 Maret 2011. Saat itu, rencana awal hanya ingin kontrol dua mingguan, mengingat usia kandungan yang sudah semakin tua. Maksudnya, ingin tahu bagaimana kondisi saya dan janin, karena suami akan mempersiapkan pekerjaan-pekerjaannya untuk dibawa ke rumah. Suami memang ingin mendampingi saya saat melahirkan. Saya menunggu diperiksa sejak jam 16:30, dan baru ditangani jam 21:00. Saya sih maklum, karena pada saat menunggu antrian, ada dua orang pasien rujukan dari bidan desa yang siap melahirkan, sehingga dokter memprioritaskan pasien yang akan melahirkan terlebih dulu.

Pada saat diperiksa, jam sembilan malam waktu itu, dokter mengatakan bahwa plasenta saya sudah mulai mengapur. Iseng saya tanya, tanda-tanda mau melahirkan itu seperti apa? Saya sudah merasa pegal di bagian panggul. Mendengar pertanyaan saya, dokter pun berinisiatif melakukan pemeriksaan dalam. Kata beliau, air ketuban sudah mulai merembes. Oh, jadi yang saya anggap keputihan itu adalah ketuban to? Dokter pun menyarankan agar saya menginap malam itu. Mengingat waktu juga sudah malam (di Purworejo, jam segitu sudah sepi), akhirnya kami mengiyakan. Dokter kemudian memberi saya kapsul untuk memacu kontraksi yang diberikan tiap 6 jam sekali, sebanyak 4 kali. Jadi dalam 24 jam ke depan, saya akan diobservasi.

Esoknya, kakak saya menemani. Ternyata banyak yang sudah tahu bahwa saya akan melahirkan. Bulik saya pun wanti-wanti lewat telepon, kalau perut terasa mulas, banyak-banyak istighfar saja. Menurut pengalaman Bulik, kontraksi semakin cepat setelah dipacu dengan obat. 

Kakak saya bertanya, "Jane kowe ki mules ora to, nduk? (Kamu itu sebenarnya merasa mulas nggak si?)" dan saya jawab dengan gelengan sambil cengengesan. Saya juga masih bisa jalan-jalan (katanya jalan-jalan bisa mempercepat kontraksi, kan?). Sampai ketika ada ibu bidan yang menjenguk, beliau berkata, "Orang kalau mau melahirkan harusnya nangis, bukan ketawa-ketiwi." Mendengar itu, kami semua yang ada di kamar pun tertawa. Lha, kenapa saya harus menangis? Semua "masih" terasa baik-baik saja.

Hingga keesokan harinya, empat buah kapsul yang saya minum sehari semalam kemarin ternyata tidak menimbulkan efek apapun pada rahim saya. Akhirnya, saya diinfus sejak senin malam hingga hari rabu. Saya masih bisa tertawa, saya tidak merasakan sakit karena kontraksi, dan saya masih selalu berpikir positif sambil berdo'a bahwa saya bisa melahirkan secara normal. Tidak terlintas sedikitpun bahwa kenyataan akan berkata lain. Saya membayangkan melahirkan secara normal, kemudian bayi saya melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). 

Namun hal yang sangat berat kemudian harus saya alami. Rabu sore, saya kembali di USG untuk ke sekian kali. Dokter mengatakan bahwa air ketuban sudah hampir habis dan harus segera diambil tindakan. Tindakan itu tidak lain operasi caesar, mengingat bahwa tidak ada kontraksi dan tidak ada bukaan sama sekali. Dengan berat hati, saya mengiyakan anjuran dokter. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi saya nanti. Tangis saya pun pecah, apa yang saya bayangkan musnah. Suami mencoba menenangkan saya meskipun saya lihat gurat kecemasan juga ada di wajahnya. 

Persiapan menjelang operasi, saya sudah bisa mengikhlaskan apa yang terjadi. Saya berpegangan erat pada tangan suami yang setia menemani. Malam itu, Amay terlahir. Suara tanagisnya memecah sunyi. Dan memang terbukti, meskipun gerakan janin tetap aktif, tapi berat badan saat lahir tidak sesuai dengan perkiraan dokter ketika di USG. Selisihnya mencapai 500 gram. Amay terlahir dengan berat hanya 2600 gram saja. Kata doker, karena plasentanya mengapur, jadi asupan makanannya tidak sampai ke janin.

Pasca operasi, malam tanggal 16 Maret 2011, saya ditemani suami dan kakak. Mereka tertidur pulas malam itu, kelelahan menemani saya sepanjang hari. Giliran saya yang mulai merintih menahan perih setelah efek bius perlahan menghilang. Huhuhuhu, begini ternyata rasanya, tawa saya hilang seketika.

Kata siapa melahirkan secara caesar tidak sakit? Saya masih harus kontrol jahitan hingga 3x setelah melahirkan untuk memastikan bahwa kulit telah tertutup sempurna. Yaa, nggak sempurna juga si...seperti ban motor yang bocor lalu ditambal. Tapi saya bersyukur, saya tidak seperti ibu-ibu di kamar sebelah yang mesti diulang jahitannya karena setelah seminggu ternyata kulitnya belum mengatup dan jahitannya kembali menganga. Masih mau bilang bahwa caesar itu enak? Saya hingga saat ini masih sering merasa cenat-cenut di bekas jahitan. Itu yang membuat suami saya merasa kasihan tiap kali saya merintih. Itu juga yang menjadi alasannya untuk menunda kehamilan anak ke dua, meskipun akhirnya kebobolan juga, hahaha...

Bagaimanapun cerita kehamilan atau kelahiranmu, rasanya tidak adil jika dikatakan bahwa ibu yang sempurna adalah ibu yang merasakan melahirkan secara normal. Saya yakin, jarang sekali ada yang sedari awal ingin melahirkan secara caesar. Terlebih saya, melihat angka yang harus dibayar saja sudah ogah sebenarnya. Tapi karena keadaan yang memaksa, apa boleh buat? Manusia hanya bisa berencana, selebihnya Allah lah yang menentukan. 

16 komentar :

  1. Ah....peduli amat Mak....
    Bagi saya,cukuplah Allah dan suami yang tau,bagaimana kita memperjuangkan kelahiran yang normal namun keadaan (atas kehendak Allah SWT) yang menetapkan demikian. Kita bukan mereka, yang di judge oleh beliau maupun orang lain yang berpikiran sama, yang memilih caesar karena tak ingin merasakan sakit...
    Kita hanya ingin, bayi mungil yang dititipkan kepada kita itu, lahir dengan sehat dan selamat...

    Setuju Mak? Toss dulu....:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mak, saya sempat bayangin kalau Amay nggak dikeluarkan saat itu, entah apa yang akan terjadi sama dia..
      Pengennya nggak peduli sih Mak, cuma koq sakit banget ya dibilang gitu.. huhuhu, dia gak pernah hamil sih yaa.. Toosss ah..

      Hapus
  2. Kalau saya masa bodo dengan ucapan seperti itu, Mak. Setuju dg pendapat Mak Dhona. Cukup Allah dan suami yang tau dan mengerti (kalau boleh saya tambahkan). Karena memberi pengertian kepada org yg sudah ngotot dg 'judge'nya itu sia-sia.

    Saya 2x melahirkan. Dua2nya caesar. Kelahiran pertama, awalnya saya jalani dengan normal. Saya merasakan mules luar biasa seperti layaknya yang mau melahirkan normal. Merasakan mengejan pula. Tapi, posisi kepala bayi saya ternyata tdk menguntungkan. Bisa saja tetap berusaha lahir normal, tapi resikonya lebih besar.

    Karena, resikonya di kepala tentu aja saya ngeri membayangkan. Ada otak di sana. Saya dan suami pun mengambil keputusan caesar. Dan, saat itu juga saya melahirkan secara caesar. Sakit melahirkan normal dan caesar saya rasakan.

    Kelahiran kedua, caesarnya sudah direncanakan dari jauh2 hari. Karena plasenta saya menutup total jalan lahir. Dan, itu sangat beresiko untuk melahirkan normal apabila plasenta menutup total jalan lahir.

    Apapun cara melahirkan yang kita pilih pasti ada resikonya. Tapi, kalau kita bisa meminimalkan resiko, kenapa enggak? Kan, untuk anak-anak kita juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow, lebih luar biasa pengalamannya.. keren Mak. Bener, apapun lah yang terbaik untuk bayi kita ya Mak. orang lain yang ngomong kayak gitu belum ngerasain sendiri sih yaa...

      Hapus
  3. hmmmm aku blm menikah jd nyimak aja :)) #pengen

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan pengen hamil dulu ya Mak..nikah dulu, wkwkwk..
      makasih udah mampir.. :)

      Hapus
  4. ahhh....dengan cara apapun melahirkan, yang penting anak2 tumbuh sehat dan baik...ya kan Mak? *cup cup cup

    BalasHapus
  5. ada persamaan trnyata mak sama saya wkt melahirkan syafieq 22 bulan yg lalu,sy tdk merasakan mulas sama sekali,akhir'y di caesar krn detak jantung bayi sdh diatas bts normal.dibekas sayatan'y itu nyut nyut'y mantep ya mak.. malah sy hmpir 1 thn msh mrasa nyut nyut klo pegang perut,apapun itu kita brsyukur aja ya mak atas anugrah terindah ini.. salam hangat dari jakarta :)

    BalasHapus
  6. saya aja yg sdh hampir 4 th msh suka cenut2 kok mak.
    bg saya pentiiiing sekali utk disosialisasikn kpd para bapak/calon bpk ttg hal2 kewanitaan. sy pikir perlu bg pasangn yg akan nikh utk mdpt smcm penataran ttg berumh tgga. bukn cm soal keuangan sj. (dl waktu mau nikh sy ikut penataran sgkat di kua jg lho sama calon suami). perlu jg pengetahuan ttg mengelola emosi, memperlakukn perempuan, menumbuhkn empati dsb. sbb yg sy lihat kl yg namanya urusan persiapan nikah tuh bnyk ke perempuan ya. yg siap2 melyani suami di ranjang lah, yg berdandan utk suami, yg patuh pd suami, yg mjaga keuangan, yg masak, yg nyuci, yg bergaul dg mertua dsb. tp kan jarang tuh ada sosialisasi penanganan kl istri nangis, istri sakit, istri curhat dsb?
    setau sy sih ga ada ya. n ada jg lho suami ga tau cara ngadepin istri nangis. bukannya dibikin tenang tp mlh dihardik. iiiiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mak, seharusnya memang ada pelatihan dulu sebelumnya yaa..
      waduh, kalau lagi nangis malah tambah dihardik, bisa pingsan saya.
      Alhamdulillah suami saya baiiiikkkk... beliau nemenin waktu saya persiapan operasi. kata sodara2 yg nunggu di luar, suami kelihatan stress bgt nunggu saya keluar dari kamar operasi. tapi ya setelah semua selesai, beliaunya tidur, haha..saking capeknya kali yaa..

      Hapus
  7. Haaai, apa kabar? semua yang belum pernah mengalami, mungkin akan mengatakan bahwa lebih baik memang melahirkan secara normal dan...pilihan untuk melahirkan secara tindakan atau secar adalah sebuah pilihan untuk menyelamatkan dan melancarkan yang sulit menjadi mudah.

    Aku awalnya ingin normal namun...akhirnya secar ya bukan berarti aku tidak ingin sakit..hihiii,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii Mak..

      Itu yang bilang laki-laki sih Mak.. jadi nggak ngerti rasanya mau melahirkan tu gimana.. -_-

      Hapus
  8. 3 kali caesar untuk tiga anak, bukan saya yang meminta.. saya cuma minta yang terbaik... dan Tuhan tahu yang terbaik buat saya dan anak saya...Saya tetap merasa menjadi Ibu bagi 3 anak saya..
    Soal kesempurnaan itu bukan haknya manusia...
    Semangat Mak... yang nulis kamimat tersebut pasti bukan seorang IBu dan tak pernah tahu rasanya jadi IBu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, yang nulis laki-laki, hihihihi.. Yah semoga istrinya atau saudara perempuannya tidak mengalami hal-hal seperti kita ya Mak..hehe..

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...