Langsung ke konten utama

Nyemplung Ke Dunia Tulis-Menulis Itu, Asyik!!

Tahun 2010 lalu, saya memutuskan berhenti mengajar untuk membersamai suami di Solo. Sebelumnya kami terpisah selama tujuh bulan sejak menikah karena saya menjadi guru di sebuah preschool di Bogor. Kala itu saya sering bolak-balik Bogor-Jogja (karena waktu itu belum pindah ke Solo) 2 minggu sekali. 

Alhamdulillah, setelah serumah dengan suami, saya hamil. Sehari-harinya saya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil menunggu suami pulang. Karena tidak ada kegiatan lain, dan saya bukan termasuk ibu-ibu yang doyan main ke rumah tetangga untuk ngerumpi, suami membuatkan saya blog untuk menyalurkan hobi menulis. Jadilah blog ini. Namun, saya tahu diri. Tulisan saya masih sangat hancur dan kurang enak dibaca. Blog ini pun kosong.

Baru kemudian tahun lalu, seorang teman bernama Astuti Mae memotivasi saya untuk menulis. Blog ini pun mulai terisi. Saya ingat betul kata-katanya untuk tidak terlalu memikirkan bagus atau tidaknya tulisan saya, yang penting menulis saja, karena dengan terus menulis lama-lama kemampuan akan terasah dengan sendirinya. 

Saya mencari komunitas untuk mendukung hobi baru saya ini, dan pada akhirnya saya bergabung dengan Komunitas Penulis Bacaan Anak karena saya memang sedang senang menulis cernak untuk putra saya yang saat itu berumur 2 tahun. Beberapa hari setelah bergabung dengan komunitas Pabers, saya menemukan sebuah grup lain, Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) namanya. 

Dari kedua komunitas itu, saya mencoba berkenalan dengan beberapa penulis. Saya senang karena mereka semua baik, ramah, dan tidak pelit ilmu. Dari Mbak Dian Kristiani Sang Peri Gokil, saya belajar bagaimana menjadi penulis yang mapan. Eh, belakangan bertemu dengan Mbak Siti Nurhasanah waktu kopdar IIDN Solo 25 Desember 2013 lalu, dan ketularan virus matrenya. Alhamdulillah...hehe...

Penulis-penulis lain yang sering berinteraksi dengan saya seperti Mbak Candra Nila yang ahli membuat status. Status-statusnya kadang membuat perut kaku karena tertawa geli, tapi sering juga penuh dengan untaian hikmah. Ada juga Mbak Rebellina Passy yang sering jadi tempat curhat, hehe.. Dengannya saya berdiskusi tentang kepenulisan, juga tentang kehidupan. Belum pernah berjumpa, tapi saya sih merasa sudah jadi teman dekat. (semoga tidak SKSD yaa..:))

Penulis lain ada Mbak Laila Masruro, Mbak Moocen Susan (sang pakar blog), Mbak Hana Aina, Mbak Noer Ima, dan masih banyak lagi. Ohya, yang tidak boleh terlewat, Mbak Indari Mastuti founder IIDN yang saya jumpai tanggal 5 Februari 2014 lalu. Darinya saya belajar narsis, belajar untuk menumbuhkan rasa percaya diri bahwa menulis itu tak sesulit yang saya bayangkan. Saya senang mengenal mereka. Mereka semua baik hati dan tidak sombong, hehehe...

Ternyata dunia tulis-menulis membuat saya punya banyak teman. Teman bagi saya adalah rezeki. Seperti kata pepatah, kamu adalah sebagaimana temanmu, maka saya mencari penulis supaya saya tertular energi menulisnya.

Bismillah.. :)

Komentar

  1. haha belum pakar blog mbak saya ini :) baru belajar juga kok hihi makasi lo

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang hebat itu memang biasanya rendah hati mbak..hehehe...

      Hapus
  2. Horeeee, ada namaku disana! :)

    BalasHapus
  3. Mau dong mba, baca cernak karyanya mba :*

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Transpulmin, Balsam untuk Atasi Gejala Influenza Pada Bayi dan Seluruh Anggota Keluarga

Sudah beberapa lama aku berada di tengah-tengah keluarga Pak Yopie. Aku dibawa kemari untuk menggantikan pendahuluku yang sudah disingkirkan, seiring dengan isinya yang semakin berkurang.

Kali ini, aku tak datang sendiri, karena aku ditemani saudaraku, yaitu TRANSPULMIN Balsam Keluarga, yang kemasannya berwarna kuning cerah.


Oya, aku sendiri bernama TRANSPULMIN BB Balsam. Aku lebih diperuntukkan bagi bayi di bawah 2 tahun. Jika bayi sedang batuk, pilek, atau terserang gejala influenza, maka aku dan kawan-kawanku siap bekerja.
Aku memiliki beberapa kelebihan dibanding balsam yang lain:
1. Aku tidak panas, hangatku pas jika dioleskan di kulit bayi. Ini karena aku tidak mengandung Menthol dan Camphor. Bisa dibilang, aku sangat mendukung #momenkehangatanibu
2. Aku tidak lengket, jadi bayi akan tetap merasa nyaman bersamaku.
3. Bauku harum karena mengandung ekstrak bunga Chamomile dan juga Eucalyptus Oil. Sudah tau belum, ekstrak bunga Chamomile memiliki banyak manfaat baik untuk kecantika…

Curug-Curug yang Ada di Kota Purworejo, Jawa Tengah

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil bernama Purworejo. Kota ini berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) di sisi timur, Kabupaten Wonosobo dan Magelang di sisi utara, Kabupaten Kebumen di sisi barat, dan Samudera Hindia di sisi selatan. Karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, tak heran jika salah satu daya tarik pariwisatanya adalah pantai. Pantai yang bisa kita temukan di Purworejo, antara lain: pantai Ketawang, pantai Jatimalang, juga pantai Jatikontal dan pantai Keburuhan.
Tapi kali ini saya tak hendak membahas tentang pantainya. Tulisan saya ini sekaligus ingin menjawab bahwa di Purworejo ada banyak hal menarik yang bisa dieksplor, sehingga kita tidak harus pergi ke kabupaten sebelah bila ingin berwisata.
Jujur saja, saya termasuk warga durhaka  yang suka melipir ke kabupaten sebelah jika bosan di rumah. Hingga kemudian saya tertampar dengan foto-foto Mas Amien Budiarto, teman SMA saya. Lewat foto-foto yang di unggahnya d…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …