Langsung ke konten utama

4 Unsur dalam Ibadah

Bulan Ramadhan tiba, kaum muslimin dan muslimat berbondong-bondong mengumpulkan pahala. Sejatinya, bulan yang istimewa ini merupakan bulan latihan untuk sebelas bulan berikutnya. Kita dibiasakan untuk bangun di sepertiga malam yang terakhir melalui sunnah sahur. Kita dilatih untuk giat berdzikir, shalat sunnah (tarawih), menahan nafsu amarah, menahan godaan syahwat, juga menahan lapar dan dahaga melalui puasa agar kita bisa ikut merasakan apa yang fakir miskin rasakan.

Sebenarnya, tidak hanya manusia saja yang berpuasa. Binatang pun melakukannya. Ular dan ulat adalah dua contohnya. Jika ular melakukan puasanya ketika ingin berganti kulit, ulat berpuasa ketika ia akan bermetamorfosis menjadi bentuk baru yang lebih indah yaitu kupu-kupu. Lalu seperti apakah puasa kita? Apakah hanya seperti ular, yang berganti baju baru di hari Lebaran? Ataukah seperti ulat, yang tadinya merupakan binatang yang menjijikkan, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang indah warnanya? Semua itu tergantung dari apa yang kita lakukan selama bulan mulia ini berlangsung.

Lalu bagaimana supaya kita bisa beribadah dengan baik? Ada empat unsur dalam ibadah yang sepatutnya kita ketahui terlebih dahulu supaya ibadah kita menjadi maksimal. Empat unsur tersebut antara lain;

1. Ilmu
Ibadah tanpa ilmu, tentu tak ada gunanya. Sama halnya dengan sedang memegang kalkulator untuk berhitung, namun tak bisa membaca angka. Percuma.

2. Niat
Ada sebuah hadits berbunyi, "innamal a'malu binniyaat", sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Niat bisa dilafadzkan, namun bisa juga disuarakan dalam hati.

3. Sabar
Semua ibadah memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Dalam puasa, kita diajarkan untuk bersabar menahan lapar dan haus sejak terbit hingga terbenamnya matahari. Dalam tarawih, kita diajarkan untuk bersabar menahan lelah dalam mendirikan shalat hingga 8 atau 20 rakaat. Dalam sahur, kita diajarkan untuk bersabar melawan rasa kantuk. Dalam bersedekah kita diajarkan untuk bersabar melepas apa yang menjadi milik kita. Semua ibadah, membutuhkan kesabaran untuk melakukannya.

4. Ikhlas
Inilah penentu akhir, dan menjadi tolok ukur bagaimana kualitas ibadah kita. Tanpa keikhlasan, semua sia-sia.


Komentar

  1. Huaa... Remind me supaya lebaran nanti gak cuma ganti baju lebaran doang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mba Nunu... Suliiit ternyata yaa... :(

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kedai Ibu By Mommilk Solo

Siang kemarin, saya men-charge jiwa raga di sebuah kedai. Jiwa, saya isi ulang dengan silaturrahmi bersama teman-teman, dan Raga, saya isi ulang dengan makanan dan minuman yang berbeda dari biasanya.
Untuk seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil dan kesehariannya hanya fokus dengan urusan sumur dan dapur -kasur juga sih, lol- seperti saya, momen bertemu dan bercanda dengan teman-teman seperjuangan tentu menjadi sesuatu yang istimewa. Sungguh, kemarin saya bisa tertawa lepas, hingga sisi lain dari diri saya keluar dan itu membuat Mbak Ety Abdoel terheran-heran, wkwkwk... Mungkin dalam hati Mba Ety membatin, "Ni anak kesambet apa, sih?" Hahaha...
Oya, saya perlu mengatakan ini. Ada yang mendukung kesyahduan perjumpaan kami. Apa itu? Tempat, suasana, dan makanannya tentu saja. Sebuah bangunan tua bergaya Indische menjadi tempat pertemuan kami. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, ditambah dengan iringan lagu Sheila on 7 yang seolah mengajak untuk ikut bersenandung …