Langsung ke konten utama

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."

Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)

Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia Tenggara setelah Laos dan Myanmar ( ANTARA News, 2006 ). Menurut data Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2002, tidak kurang dari 400.000 m3 / hari limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai dan tanah, tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu (2).

sumber : http://www.solopos.com/2014/08/30/pencemaran-air-waduh-semua-sungai-di-solo-tercemar-531446
Pencemaran air juga terjadi dibeberapa tempat di Indonesia, mulai dari lingkup kecil seperti selokan, sungai, hingga perairan yang lebih luas semacam laut. Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap indeks kualitas air sungai, menunjukkan kecenderungan peningkatan pencemaran hingga 30 persen. Kecenderungan meningkatnya pencemaran air sungai tersebut merupakan akibat dari banyaknya kegiatan yang membebani media air sungai, dan semakin padatnya pemukiman penduduk tanpa fasilitas sanitasi dan pengolahan limbah rumah tangga yang baik (3).


Pengolahan Greywater skala Rumah Tangga

Pernahkah kita menanyakan sebuah pertanyaan kecil, dari mana air yang kita gunakan didapat? Atau sudah baikkah sistem sanitasi rumah kita? Pertanyaan tersebut merupakan sebuah kesadaran untuk kita bahwa limbah rumah tangga adalah salah satu penyumbang pencemaran air di lingkungan tempat tinggal. Limbah rumah tangga biasanya terbagi jadi 2 jenis. Pertama adalah greywater, biasanya berupa air sabun/detergen atau air lemak bekas cucian dan yang kedua adalah blackwater, yang berupa kotoran atau feses. 

Untuk pengolahan blackwater masyarakat di Indonesia biasa menggunakan septiktank. Namun untuk air greywater biasanya langsung dibuang melalui selokan, sungai ataupun saluran-saluran terdekat rumah kita. Tanpa kita sadari greywater yang mengandung detergen, lemak makanan, dan bahan-bahan lainnya sangat berpotensi mencemari habitat air dibawahnya, seperti ikan dan juga menyebabkan sumber penyakit seperti kolera dan disentri.

Salah satu cara pengolahan greywater sederhana adalah membuat bak filter organik di rumah kita. Caranya menyalurkan air bekas cucian dan mandi menuju bak-bak filter yang disusun bertahap. khusus untuk bekas cucian piring gelas terlebih dahulu masuk ke bak penangkap lemak. Bak filter tersebut dapat kita isi pasir, tanah dan tanaman penyaring air, seperti Enceng gondok, Kiambang dan Kangkung. 

Konsep Sistem Penyaring Air Detergen
Khusus Kiambang dan Kangkung, berdasarkan hasil penelitian, memiliki potensi untuk menjernihkan air limbah rumah tangga secara alami, namun air tersebut masih belum aman di konsumsi secara langsung. Selain itu, dengan Kiambang dan Kangkung, bau yang tidak sedap bisa berkurang, sehingga mengurangi polusi air sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk dan bakteri penular penyakit. Untuk tanaman kangkung memiliki kemampuan lebih cepat dalam menjernihkan air limbah rumah tangga dari pada tanaman kiambang (4). Artinya, dengan menggunakan Kangkung bisa menghasilkan dua manfaat sekaligus, pertama sebagai media filter dan sayuran yang bisa dikonsumsi. Sedangkan selain berfungsi sebagai penyaring, Kiambang dapat juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan.

 Sistem penyaringan greywater di Ocean of Life, Watukodok, Gunungkidul
Air hasil penyaringan greywater dapat dikumpulkan di sebuah bak yang bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan. Di beberapa negara maju, grey water yang telah difilter biasanya dipompa lagi ke sebuah tangki khusus yang kemudian digunakan untuk tangki flush (menyiram) closet.

Dengan memulai pengolahan greywater tersebut hasil buangan air limbah rumah tangga akan sangat aman bagi kehidupan ekosistem air pada tahapan siklus selanjutnya. Harapannya rumah sebagai lingkungan skala kecil kita, bisa memberi dampak awal yang positif terhadap konservasi air secara global dan juga bisa meciptakan peran air untuk kehidupan Indonesia yang lebih sehat.




Sumber Referensi :
1. Cina Krisis Air Bersih , Tempo.co , 12 Mei 2014
http://www.tempo.co/read/news/2014/05/12/118577113/Cina-Krisis-Air-Bersih
2. Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) #shareiteveryday, Industrial Engineering. 13 November 2013
http://arykuss13024.blog.teknikindustri.ft.mercubuana.ac.id/?p=27
3. Pencemaran Sungai di Indonesia Meningkat 30 Persen, Kompas.com, 5 April 2012 
http://nasional.kompas.com/read/2012/04/05/23313147/Pencemaran.Sungai.di.Indonesia.Meningkat.30.Persen
4. Tanaman Penyaring dan Penjernih Air Secara Alami , 27 Juni 2013
http://klinikpengobatanalami.wordpress.com/2013/06/27/tanaman-penyaring-dan-penjernih-air-secara-alami/

Komentar

  1. Wah, pengolahan air limbah rumah tangga yang akan membuat indonesia semakin sehat nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas.. smoga semakin banyak yang sadar lingkungan yaa..

      Hapus
  2. Inspiratif... Perlu dukungan semua fihak... Usul untuk pemerintah selain membangun jalan dan gedung mohon anggarkan untuk mempelopori pengolahan limbah...

    BalasHapus
  3. Kiambang, aku baru tahu ada nama tanaman ini dan bisa bermanfaat buat filter ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Kedai Ibu By Mommilk Solo

Siang kemarin, saya men-charge jiwa raga di sebuah kedai. Jiwa, saya isi ulang dengan silaturrahmi bersama teman-teman, dan Raga, saya isi ulang dengan makanan dan minuman yang berbeda dari biasanya.
Untuk seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil dan kesehariannya hanya fokus dengan urusan sumur dan dapur -kasur juga sih, lol- seperti saya, momen bertemu dan bercanda dengan teman-teman seperjuangan tentu menjadi sesuatu yang istimewa. Sungguh, kemarin saya bisa tertawa lepas, hingga sisi lain dari diri saya keluar dan itu membuat Mbak Ety Abdoel terheran-heran, wkwkwk... Mungkin dalam hati Mba Ety membatin, "Ni anak kesambet apa, sih?" Hahaha...
Oya, saya perlu mengatakan ini. Ada yang mendukung kesyahduan perjumpaan kami. Apa itu? Tempat, suasana, dan makanannya tentu saja. Sebuah bangunan tua bergaya Indische menjadi tempat pertemuan kami. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, ditambah dengan iringan lagu Sheila on 7 yang seolah mengajak untuk ikut bersenandung …