Langsung ke konten utama

Perjalanan ke Gunung Prau - Bagian 1

Kali ini, suami saya berperan sebagai kontributor di blog ini, ingin menceritakan pengalamannya ketika mendaki puncak Gunung Prau, Dieng awal Agustus lalu. Semoga bermanfaat. :)

Persiapan Perjalanan, Om Pii dan Patak Banteng
Halo saya Yopie, suami pemilik blog ini. Bekerja di bidang kreatif bagi saya sangat membutuhkan rehat yang sangat optimal. Rutinitas harian saya di dalam studio sekitar 8 jam. Berhadapan dengan  komputer dan aktivitas internet mengharuskan otak saya rehat terhadap kegiatan digital untuk dapat berfikir segar dalam mendapatkan ide segar. Kebetulan sekali kebijakan studio sangat akomodatif akan hal itu. Libur lebaran kemarin setidaknya saya punya jatah libur sekitar 2 minggu. Saya coba optimalkan liburan itu dengan baik, satu minggu untuk mudik berkumpul keluarga, seminggu berikutnya akan saya gunakan untuk digital detox (istilah yang saya pakai) setidaknya selama 3 hari agar lebih fresh.

Trekking - Hiking adalah salah satu cara yang saya pakai untuk mengisi libur di minggu ke 2 ini, tujuannya adalah Gunung Prau, Dieng. Alasan saya ke Gunung Prau, Dieng adalah jarak tempuh pendakian yang tidak terlalu jauh dari pos yang katanya hanya sekitar 3 jam saja. Juga tentunya biaya perjalanannya yang cukup murah, maklum selesai Libur lebaran di minggu pertama kini THR saya sudah ada ekstraknya :)

Kali ini saya ditemani Apip,  rekan saya di studio. Sebenarnya Apip yang sangat semangat mengajak ke Gunung Prau, semangat membara untuk 'mengangkat ransel' pasca menonton film 5 cm. Motivasi saya sendiri hanya sekedar menenangkan diri sebelum kembali bekerja di 11 Agustus nanti. Play hard, work hard, prinsip keseimbangan hidup =)
Persiapan menuju ke Gunung Prau sudah kami lakukan. Setidaknya untuk menuju ke sana  saya membawa:
  • Carrier
  • Sleeping Bag
  • Jas Hujan 
  • Jaket gunung anti air+angin
  • Pakaian ganti + sarung tangan + kaos kaki
  • Makanan berkalori tinggi (coklat + biskuit) + minuman dengan Jerigen 2,5 liter
  • Sepatu Trekking + Sandal Gunung 
  • Kompor Portabel
Foto Barang Bawaannya Apip
Menuju Gunung Prau, Dieng saya rencanakan berangkat dari Purworejo, kebetulan saya sendiri masih mudik di kampung mertua di Purworejo.  Apip pun menyusul saya dari Solo. Sebagai traveler saya lebih senang menggunakan angkutan umum, tujuannya  agar bisa cair dengan suasana masyarakat. Di perjalanan bisa ngobrol dengan penumpang lain, kenek, atau supirnya, meski waktunya relatif lebih lama, tapi menurut saya lebih santai.  Perjalanan dari Purworejo menuju Dieng setidaknya ada 2 kali ganti angkutan. Pertama Purworejo-Wonosobo menggunakan Mini Bus, kemudian dari Wonosobo-Dieng juga menggunakan media yang sama.

Sebelum Berangka Photo Dulu... Kata Apip
Kami berangkat dari Purworejo pukul 09.00 melalui terminal bayangan di Brengkelan (atau jalan MTS). Tempat mini bus jurusan Magelang dan Wonosobo 'ngetem' menunggu penumpang. Beruntung kami dapat tempat duduk di belakang supir, posisi ini dipilih agar kami tidak mabuk darat karena perjalanan menuju wonosobo medannya sangat berkelok-kelok. Setelah menunggu penumpang selama 30 menit, pukul 09.30 mini bus berangkat menuju Wonosobo via Maron-Sapuran-Kretek-Wonosobo. Kuatir mabuk karena medan jalan yang berkelok-kelok, Apip memutuskkan untuk tidur sepanjang perjalanan sampai Sapuran.

Peta Google. Perjalanan dari Purworejo ke Dieng
Pukul 11.30 minibus yang kami tumpangi sudah memasuki pusat kota Wonosobo. Relatif lancar perjalanannya, pak Sopir pun menanyakan kami turun dimana. "di stasiun lama ya pak" jawab saya, stasiun lama adalah tempat minibus jurusan Dieng mangkal menunggu penumpang. Namun pak Sopir menyarankan saya turun di daerah Kauman saja, kalau menunggu di daerah stasiun akan lama karena minibus jurusan Dieng biasanya menunggu penumpang terlebih dahulu. Betul saja, sesampai daerah Kauman sudah ada bus jurusan Dieng yang menunggu. Setelah berganti bus dan memindahkan carier ke bagasi, 3 menit kemudian minibus jurusan Dieng pun berangkat. Tujuan kami selanjutnya adalah desa Patak Banteng, tempat basecamp pendakian gunung Prau. 

Perjalanan yang cukup menarik menuju Patak Banteng adalah ketika melewati desa Tieng. Pastikan ambil posisi duduk di sisi kanan jendela, karena kita akan disuguhkan pemandangan yang sangat menarik. Jalan yang berkelak kelok, juga melewati jalan yang berada di badan bukit Tieng  sehingga kita bisa melihat pemandangan luas Wonosobo dari atas bus. 

Foto Perjalanan dalam minibus, Purworejo-Wonosobo-Dieng
Selfie dulu biar nggak mabok darat :)
Setelah melewati Tieng, pukul 13.15 akhirnya sampai juga di desa Patak Banteng, kebetulan saya sudah buat janji dengan kenalan saya yang juga 'sesepuh' basecamp gunung Prau, namanya om Pii. Selain berprofesi sebagai staff di Balai Kehutanan dan seorang guide lokal, kebetulan Om Pii memiliki usaha menyewakan beberapa peralatan camping untuk para pendaki, seperti Tenda, Sleeping Bag, Matras, Senter dll. Maklum agar perjalanan tidak ribet, saya dan Apip menyewa tenda dari Om Pii, untuk tenda dome kecil dobel layer harganya cukup terjangkau.

Setelah masuk ke ruang basecamp Patak Banteng ternyata saya tidak sendiri, banyak para pendaki yang barusan turun maupun akan naik. Suasanya cukup penuh, ada sekitar 30 orang saat itu. Saya pun langsung menuju ke bagian pendaftaran Gunung Prau, biaya pendaftarannya  sebesar Rp. 4000,- untuk 1 orang. "Tiketnya tolong disimpan ya mas, kalau ada apa-apa saat mendaki ada nomor telepon kami di balik tiketnya" kata petugasnya. Saya pun mengiyakan sambil bertanya "Dimana om Pii?". " ada mas, sebentar lagi kesini kok". Tidak berselang lama Om Pii pun datang, "Hai Pie (Yopie), apa kabar? ini tendanya" katanya dengan gaya yang akrab. Kami pun meminta percobaan pasang tendanya, Om Pii membawa kami ke ruang gedung pertemuan desa Patak Banteng. Di ruang tersebut Om Pii memjelaskan cara mendirikan tenda yang akan kita sewa. Sekitar 5 menit tenda sudah berdiri, kami  mencoba membongkarnya kembali. 
Foto di dalam Basecamp Patak Banteng.
Gara-gara suasana cukup ramai dalam basecamp, Foto om Pii  (jaket biru) ngeblur :p 
Setelah urusan tenda beres, kamipun keluar dari ruang basecamp untuk mencari makan siang di warung persis di depan basecamp. Sebelum mendaki sangat penting untuk tidak membiarkan perut kosong, kami isi dengan makanan penuh kalori, yaitu Nasi dan Telur.  Harga makan siangnya cukup terjangkau nasi Rames lauk Telur, teh hangat dan tempe kemul khas Wonosobo cukup membayar Rp 10.000,- saja. Kami pun sempat ngobrol dengan beberapa pendaki makan siang sebelum bersiap naik.
Carrier kami dan Tenda Sewaan yang berwarna Orange.
Tiket pendakaian Gunung Prau, dikelola oleh masyarakat Patak Banteng dan Perum Perhutani.
Setelah makan siang selesai, saya dan Apip mencari mushola untuk Sholat dhuhur+ashar dan tentunya persiapan berangkat. Selesai sholat, kami melakukan persiapan seperti pemanasan kaki dan mengganti sandal yang kami pakai dengan sepatu Trekking. Dan Pukul 15.00, kamipun berangkat menuju pendakian Gunung Prau. 
Warung di depan basecamp Patak Banteng, Gunung Prau terlihat dari sini
Suasana masyarakat desa Patak Banteng, sambil menunggu waktu Ashar mereka berjemur.
Kebetulan dalam minggu ini matahari cukup cerah disekitaran Dieng
Bersambung..


Catatan Kaki dan Tips
  • Dalam perjalanan Purworejo-Wonosobo-Dieng, Supir dan kernet minibus sangat mungkin meng-oper penumpang ke bus lain kalau penumpang dalam busnya sedikit. jadi siap2 berpindah bus dadakan.  
  • Packing sedemikian rupa barang bawaan kita, setidaknya semua barang bisa masuk dalam 1 tas carrier. Jangan terlalu banyak menenteng barang, tujuannya agar kita tidak ribet dalam perjalanan. 
  • Untuk menyewa peralatan camping di gunung Prau, berikut nomor Om Pii yang bisa dihubungi 085228283428


Komentar

  1. selamat malam , mas kalau mau bergabung untuk menjadi pendaki gimana caranya ya mas?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Surat untuk Mas Amay

Mas Amay, tak terasa 17 Juli ini, kau t'lah resmi mengenakan seragam putih merah. Tidak Mama sangka kau tumbuh secepat ini. Rasanya baru kemarin Mama menangis di ruang operasi, saat akan melahirkanmu.

Anakku, makin besar engkau, makin besar pula tanggung jawab berada di pundakmu. Mama berterima kasih, karena di bulan Ramadhan yang lalu, kau telah mampu berpuasa hingga maghrib tiba. Ini sesuatu yang sangat membahagiakan Mama, karena di umurmu yang baru enam tahun ini, kau telah terlatih menahan lapar dan dahaga.

Meski begitu, jangan pernah berpuas diri, Nak. Ada banyak PR yang mesti kita lakukan. Mama, kamu juga, harus memperbaiki kualitas ibadah kita sejak sekarang, agar bisa jadi contoh yang baik untuk Adik Aga. Jika latihan puasa telah mampu kau taklukkan selama sebulan (27 hari tepatnya), masih ada PR harian, yaitu memperbaiki kualitas shalat dan mengaji kita.

Mas Amay, jika Mama mengajakmu untuk membaca Al-Qur'an, membimbingmu untuk menghafalnya pelan-pelan, itu tak lain …

Saat "Dia" Tertawa di Sampingku

Yeaayyy sudah tanggal 19, itu artinya Blogger KAH kembali datang. Kali ini kami menulis sebuah tema yang terinspirasi dari curhatan-curhatan kecil sehari-hari. Hehe, saya, Mbak Rani, dan Mbak Widut memang suka ngobrol dan curcol. Hingga kemudian lahirlah ide untuk membahasnya di sebuah postingan blog.

Tema kali ini adalah pengalaman horor. Oya, bulan ini kami kedatangan tamu yaa, Mami Susi, yang tampaknya suka banget dengan hal-hal mistis, kami undang untuk bercerita juga.

Silakan baca tulisan Mami Susi Susindra dengan "Wanita Berwajah Rata"nya disini, Mbak Rani dengan Hantu Genit-nya disini, dan Mbak Widut dengan kisah sawannya si K disini
~~~
Sebelumnya saya pernah menulis sebuah kejadian yang menegangkan di rumah bude di Jogja, berjudul "Jangan Baca Ayat Kursi". Waktu itu saya memang tidak merasa apa-apa, karena memang pada dasarnya saya kurang peka dengan keberadaan makhluq astral. Akan tetapi, Amay, yang kala itu belum genap dua tahun, terlihat agak sensitif…