Langsung ke konten utama

Enam Tahun Ibu

Oktober datang, hujan pun menyambang. Dan tiap kali rerintik itu menyapa bumi, yang kuingat adalah sosok almarhumah ibu tersayang.

Seperti lagu yang dilantunkan Opick bersama Amanda, Satu Rindu, rindu ini pun menderu-deru. Persis sama dengan yang Opick tulis dalam liriknya, saya pun memohon pada-Nya, pada Sang Pencipta;

"Allah, ijinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia t'lah jauh
Biarkanlah aku, berbakti untuk dirinya"

"Terbayang satu wajah, penuh cinta
Penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan..."





Kenangan indah bersama ibu, bertebaran dalam memori saya. Setiap mengingatnya, rasanya sakit sekali hingga berlinangan air mata penuh penyesalan. Andai bisa sekali saja menarik waktu, saya ingin mengulang masa lalu untuk bisa memperbaiki semuanya, sehingga bisa membuat beliau bangga dan bahagia memiliki saya sebagai putrinya.

Pengorbanan ibu tak pernah putus, bahkan hingga beliau menutup mata. Saya ingat betul, dulu sewaktu saya duduk di bangku kelas 3 SD, kebetulan saya selalu mendapat ranking 1. Ibu, yang teramat bangga dengan prestasi saya, berinisiatif membelikan sepatu baru seusai saya menempuh Ulangan Umum Caturwulan 3. Katanya dalam bahasa jawa, siapa tahu nanti Arin dapat juara lagi, malu kan kalau pas dipanggil ke depan saat penyerahan hadiah kelihatan sepatunya mangap?  Duh, kalau mengingat saat itu, rasa sesal semakin dalam karena saya tidak bisa menjadi apa yang beliau inginkan.

Pengorbanan lain yang lekat dalam ingatan, tiap malam beliau "beroperasi" memasuki kamar-kamar kami. Dan paginya, kami menyadari, goresan di dinding yang berasal dari darah nyamuk-nyamuk pun bertambah. Iya, ibu selalu melakukannya setiap malam. Memeriksa apakah ada nyamuk yang kurang ajar menggigiti anaknya? Ibu, mengesampingkan rasa kantuknya demi kami.

Ada banyak lagi kenangan bersamanya yang tak kan selesai dituliskan. Satu yang pasti, "Hanya di pangkuan ibu, semua gundah, gelisah, dan amarah akan punah. Hanya dalam pelukan ibu, empedu akan terasa bak madu." 

Hari ini, enam tahun sejak kepergiannya, Jum'at 17 Oktober 2008 lalu. Perasaan saya sejak pagi tadi, antara sedih, rindu, juga haru. Saya merindukan sesi curhat bersamanya. Saya merindukan belaian lembut tangannya yang kasar karena bekerja keras, di kepala dan punggung saya. Ingin sekali saya katakan padanya, "Ibu, sebentar lagi cucumu akan bertambah satu. Andai ibu masih ada, tentu ibu bisa menemaniku disaat persalinan nanti. Memberiku semangat, kekuatan, juga do'a."

Sekarang ini, yang bisa saya lakukan hanyalah berdo'a, supaya Allah menyayanginya, mengharamkan api neraka menyentuhnya, mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya, dan berkenan mempertemukan kami kelak di jannah-Nya. Aamiin...

Komentar

  1. Aamiin. Doa tidak pernah berhenti mengalun untuk beliau. Semoga orang tua kita diampuni dosa-dosanya dan diterima seluruh amal kebaikannya.

    BalasHapus
  2. Amin...Kalau ada orang yang mau berkorban untuk kita, siapa lagi kalau bukan ibu :) Terimakasih tulisannya mbak Arinta, aku jadi pingin nulis sesuatu juga tentang ibu :)

    BalasHapus

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…