Jumat, 17 Oktober 2014

Enam Tahun Ibu

Oktober datang, hujan pun menyambang. Dan tiap kali rerintik itu menyapa bumi, yang kuingat adalah sosok almarhumah ibu tersayang.

Seperti lagu yang dilantunkan Opick bersama Amanda, Satu Rindu, rindu ini pun menderu-deru. Persis sama dengan yang Opick tulis dalam liriknya, saya pun memohon pada-Nya, pada Sang Pencipta;

"Allah, ijinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia t'lah jauh
Biarkanlah aku, berbakti untuk dirinya"

"Terbayang satu wajah, penuh cinta
Penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan..."





Kenangan indah bersama ibu, bertebaran dalam memori saya. Setiap mengingatnya, rasanya sakit sekali hingga berlinangan air mata penuh penyesalan. Andai bisa sekali saja menarik waktu, saya ingin mengulang masa lalu untuk bisa memperbaiki semuanya, sehingga bisa membuat beliau bangga dan bahagia memiliki saya sebagai putrinya.

Pengorbanan ibu tak pernah putus, bahkan hingga beliau menutup mata. Saya ingat betul, dulu sewaktu saya duduk di bangku kelas 3 SD, kebetulan saya selalu mendapat ranking 1. Ibu, yang teramat bangga dengan prestasi saya, berinisiatif membelikan sepatu baru seusai saya menempuh Ulangan Umum Caturwulan 3. Katanya dalam bahasa jawa, siapa tahu nanti Arin dapat juara lagi, malu kan kalau pas dipanggil ke depan saat penyerahan hadiah kelihatan sepatunya mangap?  Duh, kalau mengingat saat itu, rasa sesal semakin dalam karena saya tidak bisa menjadi apa yang beliau inginkan.

Pengorbanan lain yang lekat dalam ingatan, tiap malam beliau "beroperasi" memasuki kamar-kamar kami. Dan paginya, kami menyadari, goresan di dinding yang berasal dari darah nyamuk-nyamuk pun bertambah. Iya, ibu selalu melakukannya setiap malam. Memeriksa apakah ada nyamuk yang kurang ajar menggigiti anaknya? Ibu, mengesampingkan rasa kantuknya demi kami.

Ada banyak lagi kenangan bersamanya yang tak kan selesai dituliskan. Satu yang pasti, "Hanya di pangkuan ibu, semua gundah, gelisah, dan amarah akan punah. Hanya dalam pelukan ibu, empedu akan terasa bak madu." 

Hari ini, enam tahun sejak kepergiannya, Jum'at 17 Oktober 2008 lalu. Perasaan saya sejak pagi tadi, antara sedih, rindu, juga haru. Saya merindukan sesi curhat bersamanya. Saya merindukan belaian lembut tangannya yang kasar karena bekerja keras, di kepala dan punggung saya. Ingin sekali saya katakan padanya, "Ibu, sebentar lagi cucumu akan bertambah satu. Andai ibu masih ada, tentu ibu bisa menemaniku disaat persalinan nanti. Memberiku semangat, kekuatan, juga do'a."

Sekarang ini, yang bisa saya lakukan hanyalah berdo'a, supaya Allah menyayanginya, mengharamkan api neraka menyentuhnya, mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya, dan berkenan mempertemukan kami kelak di jannah-Nya. Aamiin...

2 komentar :

  1. Aamiin. Doa tidak pernah berhenti mengalun untuk beliau. Semoga orang tua kita diampuni dosa-dosanya dan diterima seluruh amal kebaikannya.

    BalasHapus
  2. Amin...Kalau ada orang yang mau berkorban untuk kita, siapa lagi kalau bukan ibu :) Terimakasih tulisannya mbak Arinta, aku jadi pingin nulis sesuatu juga tentang ibu :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...