Kamis, 02 Oktober 2014

Kisah Dibalik Mukena Putih

Tiap kali melihat mukena terusan berwarna putih, hati saya tergetar. Ingatan saya berlari ke masa dua puluh tahun silam. 

Saat itu, usia saya baru enam tahun. Mbah (nenek dari pihak bapak), mengajak saya ikut ke pengajian yang terletak di desa seberang. Benar-benar seberang, karena untuk mencapai desa itu saat itu kami harus menyeberangi sebuah sungai.

Sebelumnya, Mbah meminta ijin pada ibu untuk "meminjam" saya sebagai teman perjalanan. Ibu mengijinkan, tentu saja. "Kasihan Mbah kalau tidak ada teman," begitu yang selalu diucapkannya. 

Setelah bersiap-siap, kami pun berangkat. Mbah tak lupa membawa jarik (kain/selendang) berwarna merah, untuk menggendong saya sewaktu-waktu saya lelah berjalan. Bahkan detail warna jarik itu masih saya ingat dengan jelas. Benda lain yang dibawa, sebuah payung berukuran besar, karena hari terlihat sedikit mendung. Selain itu, sedikit makanan kecil yang disimpan di tas pengajiannya.

Kami berjalan pelan-pelan pagi itu, melintasi jalan-jalan sempit di antara pesawahan. Saya memang tinggal di sebuah kampung kecil yang cukup asri. Sesekali Mbah bertanya, "Kesel po ra? (Capek tidak?)", dan Mbah pun mengajak saya berhenti untuk sejenak beristirahat sambil menyantap bekal. Kami hampir mencapai sungai ketika hujan mulai turun rintik-rintik. Gemuruh aliran air makin jelas terdengar. Mbah membuka payung dan mengeluarkan jarik merah dari tasnya untuk digunakannya menggendong saya.

Tiba di tepi sungai, Subhanallah...banjir. Air berwarna keruh mengalir di depan kami. Saya mendongak ke atas, menatap wajah Mbah. "Akankah perempuan kecil yang sudah sepuh ini mundur, lalu mengajakku pulang?"

Ternyata tidak. Dikencangkannya jarik yang mengikat saya dengan tubuhnya itu. Dipegangnya payung besar dengan tangan kanan. Dilepasnya sandal, lalu dipegangnya dengan tangan kiri, sembari tangan kiri itu memastikan saya aman di gendongannya. Bismillah, kakinya siap melangkah menembus air keruh yang tingginya mencapai dadanya.

Saya menahan tangis, ngeri dan takut kalau-kalau kami hanyut. Apalagi kalau ingat cerita ibu bahwa di kali ada ikan sebesar mesin jahit yang siap menyantap anak kecil yang bermain disana. Tentu cerita ibu itu hanya untuk menakut-nakuti saya agar tidak bermain disana tanpa sepengetahuan orang tua. 

Tiba-tiba, Mbah terpeleset, hampir jatuh. Sebuah sandal di tangan kirinya lepas, hanyut terbawa air. Mbah mencoba menjangkau sandal itu dengan tangan kirinya yang masih memegang satu sandal yang lain. Namun menyadari bahwa ini tidak akan berhasil, beliau merelakan sandal kesayangannya itu. Kami sudah basah kuyup, terkena air hujan dari atas, dan tentu saja air sungai yang setinggi dada Mbah. Payung itu rasanya tidak melindungi kami sama sekali.

Dan Alhamdulillah, kami bisa mencapai tepi desa seberang. Bersyukur sekali saya saat itu. Tapiii, tas pengajian Mbah yang isinya Al-Qur'an dan Mukena, basah. Begitu juga baju kami berdua. Akhirnya, Mbah memutuskan untuk menjemur mukenanya di dahan pohon yang terletak di tepi sungai. Jaman dulu, ada mukena dijemur tanpa ditunggu pun tidak hilang, hehe.. Mukena terusan berwarna putih polos, yang menjadi saksi perjuangan kami hari itu menaklukkan derasnya sungai, saksi perjuangan Mbah yang berniat menuntut ilmu.

Setelah selesai menjemur mukena, kami melanjutkan perjalanan melewati ladang dan sawah, menuju rumah kakak perempuan Mbah. Disana, Mbah mengganti pakaiannya, meminjam baju kakaknya. Masjid tempat pengajian ada tepat di sebelah utara rumah kakak perempuannya itu. Saya, dipinjami pakaian ganti oleh sepupu saya yang juga tinggal di samping rumah kakak perempuan Mbah. 

Rasanya, mengingat perjalanan kami hari itu, antara mengerikan namun juga mengharukan. Betapa perjuangan Mbah untuk mencari ilmu sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat sangat patut diacungi jempol.

Dan hari ini, di 16 tahun kepergiannya, saya bersaksi bahwa Mbah adalah teladan yang sholihah. Beliau membagi ilmu dengan ikhlas, mengajar mengaji seluruh anak-anak kecil di kampung saya tanpa pernah meminta imbalan. Beliau juga selalu bersemangat menimba ilmu, hingga ke tempat yang jauh, meskipun untuk mencapai tempat itu beliau hanya mengandalkan dua kakinya. Subhanallah.. :)

16 komentar :

  1. Terharuuu....,sebelum kamu...akulah yang selalu menemaninya kemanapun, sedih karena belum sempat membahagiakannya. Masih lekat diingatanku, ketika tahun 1997...mbah kuberi uang 15rb dari hasil keringatku, beliau tersenyum dan mengucap doa.
    Mbah....,semoga bisa berkumpul lagi denganmu disana.

    BalasHapus
  2. Duuuh, syahdu banget tulisan ini mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, saya juga terharu pas bikin ini.. makasih sudah mampir.. :)

      Hapus
  3. jadi inget kampung halaman hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah? Sama2 dari kampung dong kita? Hehe..

      Hapus
  4. embahnya luar biasa...inspiratif mbah...eh mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu.. Mohon do'a untuk beliau semoga Allah menempatkannya di jannah, aamiin.. :)

      Hapus
  5. aamiin. hebat perjuangannya. maju terus pantang mundur. semoga semangatnya menular pada kita yah

    BalasHapus
  6. bagus mak ceritanya, cung jempol

    BalasHapus
  7. Huaaaaa....jadi inget simbah putri

    BalasHapus
  8. subhanallah perjuangannya si Mbah :)
    pasti Mbah bahagia disana...

    kalau saya jadi mbak, pasti nggak akan melupakan kejadian seperti ini juga seumur hidup.. :)
    so sweet... :)

    BalasHapus
  9. masya Allah, perjuangan yang luar biasa dan patut di teladani..

    semoga Allah mengampuni dan merahmati beliau..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...