Langsung ke konten utama

Super Gizi Qurban; Memuliakan Anak Yatim dengan Daging Qurban

Tiba-tiba hari ini saya teringat sebuah catatan yang ditulis oleh Pakde beberapa waktu setelah Uti (nenek) meninggal. Disitu beliau bercerita, dulu, sebagai anak yatim, mereka sering mengeluh. "Ibu, kenapa setiap hari kita makan daun-daunan terus. Seperti ulat saja," begitu kurang lebih suara rengekan anak-anak Uti setiap hari. Lalu Uti menjawab, "Le, memang sekarang kita seperti ulat yang setiap hari makan daun. Tapi kalian harus ingat, ulat itu kelak akan berubah menjadi kupu-kupu, sebagai buah dari kesabarannya."

Dulu, di tahun 1980-an, makan daging sapi adalah hal yang amat mewah. Bisa makan daging ayam saja sudah Alhamdulillah. Itu pun harus mengorbankan peliharaan. Keluarga Uti pun begitu. Bahkan, daripada ayamnya disembelih untuk dimakan, lebih baik ia dijual sehingga uangnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain. Anak-anak Uti saat itu masih kecil-kecil, kebutuhan pangan dan pendidikan pun tidak bisa dihindari. Sandang, sudah masuk kebutuhan sekunder bagi mereka.

Namun seperti janji Allah yang telah mengistimewakan anak yatim, do'a-do'a Uti dan anak-anaknya diijabah. Kini, Pakde, Om, juga Bulik, sudah menjadi "orang", mereka telah sukses dalam karirnya. Dari sini saya kemudian diingatkan, jangan main-main dengan anak yatim. Sayangi mereka. Penuhi hak-haknya. Keistimewaan anak yatim terlihat dalam beberapa firman Allah. Salah satunya dalam QS. Al-Ma'un : 1-3 yang berbunyi, "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin." 

Dalam ayat yang lain, "Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap pengemis janganlah menghardik." (QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Rasulullah SAW pun bersabda: "Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, (beliau memberi isyarat dengan mendekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya)". Dalam hadits yang lain: "Apakah kamu suka jika hatimu menjadi lembut serta terpenuhi segala keinginanmu? Sayangilah anak yatim, usaplah kepala mereka, serta beri makanlah mereka dari makananmu, niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala keinginanmu." (H.R. al-Thabraniy dari Abu Darda)

Uti ditinggalkan Mbah Kakung (kakek) di usianya yang masih muda. Setelah Mbah Kakung pergi, Uti harus berjuang menghidupi delapan anak yatim seorang diri. Empat laki-laki dan empat perempuan (salah satunya adalah ibu saya). Uti, dalam kesulitannya menjalani peran sebagai seorang janda, telah mengantarkan ulat-ulat kecil itu menjadi kupu-kupu yang terbang tinggi dengan sayapnya sendiri. 

Saat itu, perhatian terhadap anak yatim masih minim. Beruntung sekali di zaman sekarang ini, kesadaran untuk saling membantu sudah semakin tumbuh. Banyak yayasan yang didirikan untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin menyalurkan zakat, infaq, dan shodaqohnya.

Seperti yayasan Yatim Mandiri, lembaga non profit yang fokus membantu anak-anak yatim. Hanya anak-anak yatim ya. Mengapa anak piatu tidak masuk kriteria? Atau kaum dhuafa misalnya? Karena, anak piatu tentu masih mempunyai ayah yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah. Sementara untuk dhuafa, terkadang kriteria dhuafa bisa berbeda-beda, sehingga dikhawatirkan bantuan yang diberikan akan salah sasaran. Menyadari bahwa santunan dana adalah amanah yang berat, maka Yatim Mandiri berusaha untuk menjaga amanah itu sebaik-baiknya.

Nah, beberapa hari lagi kita akan merayakan Idul Adha atau Idul Qurban. Yatim Mandiri juga mempunyai program yang bernama SGQ (Super Gii Qurban). SGQ adalah program untuk menyempurnakan kemanfaatan daging qurban dalam bentuk sosis. Langkah ini diambil untuk menjamin pendistribusian daging qurban sampai daerah-daerah pelosok, yang lebih membutuhkan daya tahan yang lama.

pendistribusian SGC

Dalam tinjauan syar'i, hal ini bukanlah masalah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, dari Aisyah ra, beliau berkata: "Dahulu kami biasa mengasinkan (mengawetkan) daging udhiyyah (daging qurban) sehingga kami bawa ke Madinah. Tiba-tiba Nabi bersabda, 'Janganlah kalian menghabiskan daging qurban hanya dalam waktu tiga hari'". (HR. Bukhori-Muslim)

Keuntungan Super Gizi Qurban:
1. Sesuai syari'ah
2. Praktis dan higienis
3. Sarana peningkatan gizi anak yatim dhuafa
4. Distribusi hingga pelosok negeri
5. Tahan lama hingga 2 tahun meskipun tanpa pengawet
6. Sarana optimalisasi CSR untuk perusahaan

Pendistribusian SGC

Untuk Anda yang ingin berqurban melalui Yatim Mandiri, berikut harga paket qurban yang disediakan:
1 ekor sapi: Rp 12.600.000,-
1/7 ekor sapi: Rp 1.800.000,-

Mari berlomba-lomba menjalankan kebajikan. :)


Komentar

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Pos populer dari blog ini

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Esther Ariesta, Blogger Perempuan yang Seorang Vegetarian

Esther Ariesta, seorang blogger lulusan Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, yang pernah tinggal di Bali, dan sejak desember tahun lalu menetap di Finlandia setelah menikah dengan pria asal negara itu. Oya, first of all, saya ingin kembali mengucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahannya membawa kebahagiaan, hingga maut memisahkan.
Membaca blognya, saya langsung tertarik untuk membahas tentang vegetarian. Iya, sejak 24 Desember 2015 lalu, Mbak Esther memang memutuskan untuk menjadi 100% vegetarian. Itu keputusannya, karena ia mengasihi binatang. Memang, vegetarian tak melulu soal kepercayaan suatu agama, tapi bisa juga karena alasan kesehatan, atau simply karena menyayangi binatang. Seperti definisi Vegetarian berikut ini: a person who does not eat meat, and sometimes other animal products, especially for moral, religious, or health reasons.
Menjadi vegetarian pun ada macamnya. Ada yang full 100% seperti Mbak Esther, tetapi ada juga yang masih mengonsumsi produk hewani sepe…

Belajar Tegar dari Seorang Widi Utami, Blogger Perempuan Penyandang Tunarungu yang Sarat Prestasi

Kalau kita, mendengar dengan telinga, maka ia, mendengar dengan mata. Satu yang ditakutinya, gelap. Karena di tengah kegelapan, bukan saja ia tak bisa melihat, namun ia juga tak bisa mendengar.
Widi Utami namanya. Blogger sholihah, yang punya banyak cita-cita mulia. Ia adalah penulis yang hebat, meski di usianya yang ke empat, ia harus kehilangan fungsi indra pendengarnya karena jatuh saat berlari menyambut sang kakak.

Saya sering berbincang dengannya, karena saya, Mbak Widut (begitu kami akrab menyapanya) dan Mbak Rani, membentuk sebuah grup yang iseng kami beri nama #BloggerKAH. Nama #BloggerKAH diambil dari huruf depan nama anak-anak kami; Kevin, Amay & Aga, juga Han. 
Mbak Widut adalah penulis berbakat. Kalau teman-teman ingin membaca tulisan-tulisannya, blognya ada 2; widutblog.blogspot.co.id dan widiutami.com. Ia sudah mempunyai sebuah buku berjudul "Mahkota untuk Emak", yang saat launchingnya dihadiri oleh penulis terkenal Habiburrahman El Shirazy. Memang di buku …