Langsung ke konten utama

Melahirkan Normal Pasca Caesar, Apa Kiatnya?

Tanggal 15 November 2014 yang lalu, Alhamdulillah saya melahirkan putra kedua saya secara normal. Ini adalah hal yang luar biasa untuk saya, mengingat bahwa saya termasuk pelaku VBAC, Vaginal Birth After Cesarean. Saya melahirkan Amay, putra pertama saya, secara Caesar. 

Sebelumnya, saya percaya pada mitos bahwa jika sebelumnya kita melahirkan lewat operasi caesar, maka pada persalinan berikutnya pun harus dilewati dengan metode yang sama. Namun, Alhamdulillah saya mendapat pencerahan. Di awal kehamilan yang kedua, saya membaca kisah seorang kawan yang menuturkan pengalamannya melahirkan normal pasca caesar. Wah, harapan baru pun terhembus.

Alhamdulillah, dokter kandungan langganan saya di Solo adalah dokter yang pro normal. Kata beliau saat itu, saya bisa melahirkan normal asalkan berat badan bayi tidak terlalu besar dan rahim saya kuat, mengingat pernah ada jahitan sebelumnya. Bahkan di usia kandungan yang memasuki tujuh bulan saat itu, saya disarankan untuk diet karena BB bayi yang normal. Khawatirnya, bayi saya akan besar seperti bayi-bayi pada umumnya. Namun di bulan berikutnya, dokter mengatakan bahwa saya tak perlu lagi menjalani diet, setelah sebelumnya melihat perawakan Amay yang kurus kering. Hihihi, kata beliau, "Sepertinya panjenengan adalah tipe ibu yang melahirkan anak-anak yang kecil."

Jelang kelahiran, saya pulang ke kampung halaman, kota Purworejo. Sejak beberapa bulan sebelumnya, saya sudah mencari tahu rumah bersalin mana di Purworejo yang kira-kira pro normal. Alhamdulillah ketemu juga.

Amay saat menunggu saya yang sedang diobservasi di ruang bersalin.
Dan Allah memang Maha Pemberi Petunjuk, saya dipertemukan dengan dokter yang baik. Sebelumnya beliau bertanya, ingin melahirkan secara caesar lagi atau ingin mencoba normal. Tentu saja saya menjawab normal. Itu adalah impian saya. Sama seperti dokter saya di Solo, beliau mengatakan bahwa salah satu syarat untuk melahirkan normal pasca caesar adalah rahim harus kuat dan berat badan bayi tidak terlalu besar . Ada beberapa syarat tambahan, yakni; air ketuban cukup, posisi bayi sudah bagus, dan yang terakhir adalah melewati proses bukaan secara alami (artinya tidak boleh diinduksi, untuk menghindari resiko terhadap bekas jahitan terdahulu).

Hari itu pun tiba. Kamis tanggal 13 November 2014, saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ketika melahirkan Amay dulu, saya tidak mengalami mulas dan sama sekali tidak ada bukaan, jadi ini benar-benar merupakan pengalaman pertama bagi saya. Ada bercak darah yang keluar, dan iya itu adalah salah satu tanda jelang persalinan.

Wah, ternyata luar biasa ya rasanya? Saya melewati proses kontraksi hingga dua hari dua malam, sekali lagi karena bukaan harus alami tanpa adanya induksi, dan di 15 November jam setengah tiga pagi, saya berhasil melahirkan adik Aga yang beratnya 2900 gram.

Amay, menyambut adiknya. :)

Oiya, ketika hamil, saya menjalankan tips yang diberikan oleh ibu bidan yang baik hati, ibu Mugi Rahayu. Saya melakukan duduk tawarruk, yaitu duduk dengan mengarahkan tumit kiri ke vagina di setiap takhiyat akhir shalat. Harapannya agar jalan lahir lebih elastis sehingga luka robekan tidak terlalu besar. Dan memang, meski saya mendapat jahitan, namun tidak terlalu banyak. Itu pun karena dokter yang menangani saya memang selalu melakukan pengguntingan di jalan lahir.

Nah..jadi untuk ibu-ibu hamil yang dahulunya melahirkan secara caesar dan ingin melahirkan secara normal, Anda tak perlu lagi khawatir, Harapan itu masih ada. :)

Komentar

  1. wow, alhamdulillah ya mba...bisa normal sasat melahirkan anak ke2..saya cesar dua2nya

    BalasHapus
  2. dokter solo pro vbac siapa mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. dokter Ira mba.. beliau selain praktik di rumah (di timur solo paragon), juga di kasih ibu.

      Hapus
  3. Nama dokter kandungan yg pro normal dan rumah sakitnya apa ya mba? Kebetulan saya jg sedang cari ini mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Solo Dokter Ira, Mba. Praktik di Kasih Ibu.

      Kalau di Purworejo, dokter Dradjat. Di Permata barat alun-alun.

      Hapus
  4. Salam kenal, boleh diinfo dokter pro VBaC di solo tsb? Sy sdh 2x SC...hamil ketiga ini saya ingin normal, tp ganti dokter 4x mngharuskan sc

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Surat untuk Mas Amay

Mas Amay, tak terasa 17 Juli ini, kau t'lah resmi mengenakan seragam putih merah. Tidak Mama sangka kau tumbuh secepat ini. Rasanya baru kemarin Mama menangis di ruang operasi, saat akan melahirkanmu.

Anakku, makin besar engkau, makin besar pula tanggung jawab berada di pundakmu. Mama berterima kasih, karena di bulan Ramadhan yang lalu, kau telah mampu berpuasa hingga maghrib tiba. Ini sesuatu yang sangat membahagiakan Mama, karena di umurmu yang baru enam tahun ini, kau telah terlatih menahan lapar dan dahaga.

Meski begitu, jangan pernah berpuas diri, Nak. Ada banyak PR yang mesti kita lakukan. Mama, kamu juga, harus memperbaiki kualitas ibadah kita sejak sekarang, agar bisa jadi contoh yang baik untuk Adik Aga. Jika latihan puasa telah mampu kau taklukkan selama sebulan (27 hari tepatnya), masih ada PR harian, yaitu memperbaiki kualitas shalat dan mengaji kita.

Mas Amay, jika Mama mengajakmu untuk membaca Al-Qur'an, membimbingmu untuk menghafalnya pelan-pelan, itu tak lain …

Saat "Dia" Tertawa di Sampingku

Yeaayyy sudah tanggal 19, itu artinya Blogger KAH kembali datang. Kali ini kami menulis sebuah tema yang terinspirasi dari curhatan-curhatan kecil sehari-hari. Hehe, saya, Mbak Rani, dan Mbak Widut memang suka ngobrol dan curcol. Hingga kemudian lahirlah ide untuk membahasnya di sebuah postingan blog.

Tema kali ini adalah pengalaman horor. Oya, bulan ini kami kedatangan tamu yaa, Mami Susi, yang tampaknya suka banget dengan hal-hal mistis, kami undang untuk bercerita juga.

Silakan baca tulisan Mami Susi Susindra dengan "Wanita Berwajah Rata"nya disini, Mbak Rani dengan Hantu Genit-nya disini, dan Mbak Widut dengan kisah sawannya si K disini
~~~
Sebelumnya saya pernah menulis sebuah kejadian yang menegangkan di rumah bude di Jogja, berjudul "Jangan Baca Ayat Kursi". Waktu itu saya memang tidak merasa apa-apa, karena memang pada dasarnya saya kurang peka dengan keberadaan makhluq astral. Akan tetapi, Amay, yang kala itu belum genap dua tahun, terlihat agak sensitif…