Langsung ke konten utama

Tiada Alasan Tak Menanam

Suatu hari, saat keluarga besar berkumpul di rumah bapak, keponakan kecil kami kehilangan wajah cerianya. Batuk, pilek, demam, membuatnya rewel sepanjang hari. Semua makanan ia tolak. Tiba-tiba suami teringat khasiat air kelapa muda. Segera saya meminta tolong pada bapak untuk memetik kelapa muda yang ada di belakang rumah.

Beberapa saat setelah meminum air kelapa muda, panas badan keponakan kami berangsur normal. Senyum sudah kembali menghiasi wajahnya yang mungil. Ia pun mulai tertarik untuk makan.

"Alhamdulillah," seru semua yang ada di rumah. Saya kemudian berkata, "Nanti kalau sudah punya rumah, aku mau menanam pohon kelapa, ah!" Langsung ditimpali oleh bapak, "Ya, harus itu!" Dari nada suara yang terdengar serius, ucapan bapak seolah menyiratkan bahwa menanam pohon kelapa adalah sebuah kewajiban.

Untuk urusan tanam-menanam, saya memang terinspirasi dari bapak dan ibu. Mereka tidak hanya menanam buah-buahan seperti mangga, pisang, rambutan, jambu, atau belimbing, namun juga tanaman hias. Beberapa kali tanaman hias yang ibu tanam dibeli orang untuk dekorasi walimah. Kami juga bisa berhemat karena dapat menikmati buah-buahan saat musimnya tiba, sepuasnya, tanpa harus membeli.

Saya jadi teringat ketika beberapa tahun lalu harga kelapa di kota kami melambung tinggi. "Kok bisa, ya?" tanya saya yang kemudian dijawab ibu, "Karena kita mulai malas menanam." Serupa dengan kejadian hilangnya jahe di pasaran yang membuat harganya meroket, juga cabai dan tomat. Padahal, menanam cabai, tomat, jahe, bahkan kelapa sekalipun, tak membutuhkan perawatan yang rumit.

Jika ada yang enggan menanam karena alasan lahan yang sempit, hal ini bisa kita maklumi untuk pohon semacam kelapa dan buah-buahan. Namun hal itu tidak berlaku untuk tanaman semisal cabai, tomat, juga empon-empon seperti jahe. Saya sudah membuktikannya sendiri.

Saya menggunakan plastik kemasan gula pasir atau minyak goreng. Plastik itu saya isi dengan tanah, lalu saya tusuk-tusuk di beberapa bagian untuk sirkulasi udara dan air. Kemudian, saya sebar biji cabai atau tomat yang telah membusuk di tanah tersebut. Sesederhana itu.

Beberapa bulan kemudian, hasilnya akan kita tuai. Rasanya sangat nikmat ketika bisa menikmati makanan dari kebun sendiri. Kita juga bisa mengurangi sampah plastik dengan menggunakannya kembali sebagai media tanam.

Jadi, tidak ada alasan tak menanam, kan? Apalagi manfaatnya akan kembali pada kita.


*Tulisan ini dimuat di majalah Ummi edisi Desember 2014

Komentar

  1. Ingin menanam juga. Tp waktunya blm bisa. #alasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. samaa mba, saya juga keseringan alasan, hihi

      Hapus
  2. Aku juga mau berazzam untuk bisa bercocok tanam di lahan mungil nanti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga mba, semoga rumahnya bisa segera terbeli, hihi, aamiin..

      Hapus
  3. Aku mau niru mbak....tp itu lho, sering di patokin ayam tetangga klo pas numbuh daun. Jadinya sebel

    BalasHapus
    Balasan
    1. dikurungi pake kurungan ayam mba, wkwkwk

      Hapus
  4. idenya oke banget mba, ga perlupake pot ya...cuma..semua teras saya udah diseme...mau ambil tanah dimana ya??

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …