Langsung ke konten utama

ALERGI UDANG

Ada rasa sedih tiap kali melihat olahan makanan laut terhidang di depan mata. Bukan apa-apa, sepenuh hati ingin ikut menikmati, namun apa daya tubuh saya selalu protes jika termasuki.  Mulut rasanya ingin ikut menyantap mereka, tapi perut enggan menerima.

Ada pengalaman dengan olahan udang yang membuat saya kapok. Suatu hari, saya diajak seorang saudara untuk menonton film yang sedang ramai dibicarakan. Selepas dhuhur kami berangkat menuju sebuah mall, berharap bisa menonton film tersebut di jam satu siang. Namun apa mau dikata, setelah berhasil mendapatkan tiket dengan antrian yang amat panjang, kami kebagian jadwal pemutaran di enam jam berikutnya atau jam tujuh malam.

Karena malas pulang ke rumah, kami memutuskan menunggu waktu sambil berjalan-jalan. Tiba di depan sebuah restoran Jepang, saudara saya mengajak saya masuk. Lapar katanya. Saya pun memesan beberapa menu berbahan ayam. Iya, saya takut dengan udang, hehe...karena mulut dan tenggorokan pernah gatal-gatal setelah makan kue sumpia.

Melihat menu yang dipesan saudara saya, saya tergoda untuk mencoba. "Tukeran yak," sambil tangan saya mengambil sebuah makanan dengan sumpit.

"Mmm, ini rasanya nggak kayak beef, tapi juga nggak mirip ayam. Apaan sih ini?" tanya saya sambil melahap makanan tersebut.

"Itu kan shrimp roll, Arin. Udang." jawabnya santai. Dan entah karena sugesti atau apa, tiba-tiba mulut saya seolah menebal, pipi mulai kesemutan, tenggorokan gatal, dan yang paling parah napas saya mulai sesak.

"Eh kamu alergi udang?" tanya saudara saya yang juga mulai panik. "Aduh, kenapa nggak bilang?"

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke toko buku supaya pikiran saya tidak fokus dengan gatal-gatal di sekujur tubuh saya. Akan tetapi semua usaha sia-sia, "Aku nggak tahan, aku nggak mau mati di tempat ini," huhu, saya mulai menangis sambil menahan napas yang mulai kembang-kempis.

Mata saya semakin menyipit karena tertutup pipi yang memerah dan seolah membesar. Saudara saya semakin ketakutan dan akhirnya mengajak pulang. Sampai di rumah, saya diberi sebutir obat, dan secara ajaib alergi saya hilang. Saya pun memaksa saudara saya untuk kembali ke bioskop karena film akan segera diputar, haha...

Pengalaman buruk dengan udang itu membuat saya was-was. Seperti ketika hamil anak pertama, saya yang sedang nyidam benar-benar ingin sekali mengunyah sate udang yang warnanya menggoda. Suami saya beberapa kali menolak membelikan karena khawatir akan apa yang terjadi kemudian. Hingga kemudian beliau menyerah karena tidak tahan dengan rengekan saya. Sambil berkata, "Makan satu saja dulu, nanti kalau gatal berhenti. Kalau sesak napas, kita langsung ke dokter." beliau memberi saya setusuk sate udang.

Mata saya merekah menyambutnya. Sambil berdo'a dengan khusyuk supaya Allah melindungi saya dari buruknya makanan ini, saya pun mulai menggigit satu demi satu udang tersebut. Ajaib lagi, saya tidak merasakan keluhan apapun.

Tapi, ternyata itu hanya berlaku saat saya hamil saja. Berikutnya, ketika bayi sudah lahir dan saya kembali mencoba makanan berbahan udang, mulut dan tenggorokan saya sudah bereaksi normal, alias kembali gatal-gatal.

Hmm, rasanya iri melihat orang lain mencocol udang crispy dengan saus sambal, menyiramkan cumi-cumi asam manis ke atas nasi hangat, atau menyantap hidangan kepiting yang menggoda selera. Kapan saya bisa ikut menikmatinya? Apa harus menunggu hamil lagi ya?


Komentar

  1. aku juga alergi udang mbak eh ga cuma udang tapi semua makanan laut. kalau aku malah alerginya langsung muntah ditempat hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya sama mba.. cumi2 juga bikin gatel sih, hehehe

      Hapus
  2. haha...jangan2 bibirmu tebel karena alergi permanen yak....wkwkwk :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini ciri khas lhoo..tanda kalo cucunya uti.. :D

      Hapus
  3. Untungnya aku gak alergi udang Mbak... Jadi bisa menyantap kuliner berbahan udang dgn aman.. Yang paling enak tuh ngemil kerupuk udang, bisa ludes satu stoples gak berasa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks hiks..saya makan sumpia aja gatel..

      Hapus
  4. kalau saya bukan alergi udang mbak arin. tapi alergi obat : amphisilin, amoksisilin, pinisilin, dan turunannya serta anthalgin. jadi kalau ke dokter selalu bilang alergi obat itu. gejalanya sama dengan alergi udang sampai sesak nafas segala. ya, sekarang doanya ya allah jangan ada sakit. sebab sakit saja obatnya susah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah..iya bu ima.. Jd motivasi buat jaga kesehatan selalu..:)

      Hapus
  5. Assalamu'allaykum mb salam kenal :)
    Alergi mmg sulit untuk disiasati ya mb. Apalagi jika sdh smpai sesak nafas.
    Kata herbalis obat dr alergi udang adalah kulit udang itu sendiri.

    Smg alerginya mb semakin berkurang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalam mba..salam kenal jugaa..:)

      Oh begitu kah mba? Jd harus makan kulitnya jg ya? Hehe.. Bisa dicoba nih..:)

      Hapus
  6. wah, ajaib alerginya yaa, mungkin kalau mbak benar-benar kepingin baru alerginya nggak muncul. kalau aku naik mobil berjam-jam suka mabok :), moga ada solusi untuk alerginya yaa mbak, supaya bisa menikmati aneka seafood

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena perubahan hormonal saat hamil jg mba..hehe.. kalau pingin sih sebenernya pingin bgt.

      Hapus
  7. Aku juga alergi udang Mak, duuuuh gak mauuuu makan udang deh

    BalasHapus
  8. tak kasi saran ni mbak ... kalau alergi udang , jgn tdk mau makan udang sama sekali , tapi makan lah sedikit. begitu seterusnya sedikit demi sedkit. kalau tdk mau sama sekali , alergi nya nggak sembuh sembuh nanti

    BalasHapus
  9. wah ... kalau sdh alergi udang susah juga tu mbak ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Berkat Theragran-M, Badan Bugar, Flu Hengkang

Disclaimer: Postingan ini benar-benar ditulis berdasar pengalaman pribadi. Jika ada perbedaan hasil dengan pengalaman orang lain, maka penulis tidak bertanggung jawab. :)


Di dua malam, tepatnya tanggal 16 dan 17 September, Solo diguyur hujan. Lebat sekali. Sampai-sampai, Minggu pagi tanggal 18, udara terasa begitu dingin. Ini adalah keadaan yang luar biasa, karena biasanya udara Solo selalu terasa panas, baik siang maupun malam.
Singkat kata, pagi itu saya beraktivitas seperti biasa. Setelah mencuci piring dan mencuci baju, saya bersiap untuk memasak. Tiba-tiba, terasa ada yang tak beres di badan. Berulang kali saya bersendawa, kepala jadi berat, dan leher pun terasa kaku. Saya menghampiri Mas Yopie, meminta tolong agar beliau membaluri punggung, pundak dan leher dengan minyak kayu putih.

Oya, cerita ini sebelumnya pernah saya tuliskan di instagram saya @arinta.adiningtyas
Setelah beristirahat sejenak dan badan terasa lebih enak, saya melanjutkan rencana memasak yang tertunda tadi. Ka…

Saat "Dia" Tertawa di Sampingku

Yeaayyy sudah tanggal 19, itu artinya Blogger KAH kembali datang. Kali ini kami menulis sebuah tema yang terinspirasi dari curhatan-curhatan kecil sehari-hari. Hehe, saya, Mbak Rani, dan Mbak Widut memang suka ngobrol dan curcol. Hingga kemudian lahirlah ide untuk membahasnya di sebuah postingan blog.

Tema kali ini adalah pengalaman horor. Oya, bulan ini kami kedatangan tamu yaa, Mami Susi, yang tampaknya suka banget dengan hal-hal mistis, kami undang untuk bercerita juga.

Silakan baca tulisan Mami Susi Susindra dengan "Wanita Berwajah Rata"nya disini, Mbak Rani dengan Hantu Genit-nya disini, dan Mbak Widut dengan kisah sawannya si K disini
~~~
Sebelumnya saya pernah menulis sebuah kejadian yang menegangkan di rumah bude di Jogja, berjudul "Jangan Baca Ayat Kursi". Waktu itu saya memang tidak merasa apa-apa, karena memang pada dasarnya saya kurang peka dengan keberadaan makhluq astral. Akan tetapi, Amay, yang kala itu belum genap dua tahun, terlihat agak sensitif…

Surat untuk Mas Amay

Mas Amay, tak terasa 17 Juli ini, kau t'lah resmi mengenakan seragam putih merah. Tidak Mama sangka kau tumbuh secepat ini. Rasanya baru kemarin Mama menangis di ruang operasi, saat akan melahirkanmu.

Anakku, makin besar engkau, makin besar pula tanggung jawab berada di pundakmu. Mama berterima kasih, karena di bulan Ramadhan yang lalu, kau telah mampu berpuasa hingga maghrib tiba. Ini sesuatu yang sangat membahagiakan Mama, karena di umurmu yang baru enam tahun ini, kau telah terlatih menahan lapar dan dahaga.

Meski begitu, jangan pernah berpuas diri, Nak. Ada banyak PR yang mesti kita lakukan. Mama, kamu juga, harus memperbaiki kualitas ibadah kita sejak sekarang, agar bisa jadi contoh yang baik untuk Adik Aga. Jika latihan puasa telah mampu kau taklukkan selama sebulan (27 hari tepatnya), masih ada PR harian, yaitu memperbaiki kualitas shalat dan mengaji kita.

Mas Amay, jika Mama mengajakmu untuk membaca Al-Qur'an, membimbingmu untuk menghafalnya pelan-pelan, itu tak lain …