Langsung ke konten utama

Rahasia Pelangi: Buktikan Jika Kau Cinta

taken from my instagram @rien_arin

Novel ini lahir dari tangan dua orang yang peduli terhadap lingkungan. Di dalamnya, kita dapat menemukan penyebab terjadinya konflik antara gajah dan manusia, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Ah iya, salah satu yang mendorong lahirnya novel ini memang karena kekhawatiran akan ancaman kepunahan gajah.

Benar kata orang, novel ini sangat informatif, karena secara detail Mbak Riawani dan Mbak Shabrina bercerita secara gamblang bagaimana kondisi Tesso Nilo dan Way Kambas. Mm, lebih tepatnya, bagaimana kondisi hewan-hewan yang dilindungi saat ini, gajah khususnya, juga kondisi hutan yang semakin berkurang. 

Diawali dengan kisah yang menghentak, ketika seorang Anjani kecil diajak ayahnya menyaksikan sebuah pertunjukan sirkus. Diceritakan, seekor ibu gajah; "Belalainya terulur, meraih belalai anaknya, melilit dengan cepat, lalu membanting tubuh gajah kecil itu ke tanah." Disitu bulu kuduk saya merinding. Apa yang terjadi kemudian dengan gajah kecil itu? Hhh... Dan masih ada hentakan lainnya, seperti saat Anjani dewasa yang telah menjadi seorang mahout, menolong kelahiran seekor bayi gajah yang akhirnya dinamai Akasia, bersama seorang mahout lainnya tanpa bantuan dokter hewan. Saya seperti merasakan jantung saya terpacu lebih cepat. 

Membaca novel ini, saya seakan diajak menaiki Beno, si gajah, sambil mengelilingi rimbunnya hutan. Saya bahkan seolah ikut merasa tubuh saya bergerak naik turun sambil menciumi bau hutan yang segar, aroma wangi durian hutan bercampur dengan aroma lumut dan dedaunan busuk. Hmmmhh... Namun, jangan mengharap cerita cinta di dalamnya naik turun bagaikan roller coaster, yang naik dan turun dengan drastis. Rasa cemburu Anjani akan kedekatan Rachel dengan Chay masih wajar, meskipun marahnya itu kemudian dianggap sebagai kelalaiannya hingga menyebabkan Rachel celaka. Keputusasaan yang dialami Rachel juga masih manusiawi, apalagi jika karakter Rachel memang digambarkan sebagai gadis tomboy yang tidak takut dengan apapun.

Secara keseluruhan, saya menilai, Mbak Shabrina dan Mbak Riawani adalah penulis yang cerdas. Salah satunya karena terpikir untuk menghadirkan tokoh Chay yang berasal dari Negeri Gajah Putih, Thailand. Seperti yang tertulis di halaman 123; "Negeri kelahirannya memuja gajah sebagai hewan suci." Tentu hal ini sangat cocok dengan bahasan utama dalam novel ini yaitu tentang gajah. Bagaimana keduanya mengolah data menjadi sedemikian mengalir pun patut diacungi jempol. Namun mungkin akan lebih komplit lagi jika dikisahkan bagaimana jatuh bangunnya Anjani menyembuhkan traumanya akan gajah, hingga memutuskan untuk bekerja menjadi mahout. Kalimat "Kau terlihat gugup. Yakin mau menjadi mahout?" yang dilontarkan Chay pada Anjani di halaman 41, bagi saya masih terlalu cepat membuat Anjani berubah jika mengingat rasa trauma pada gajah yang dialami Anjani sewaktu kecil termasuk berat.

Tapi tunggu, entah mengapa tiba-tiba mata saya melirik angka di pojok halaman. Hei, sudah halaman 286, tapi mengapa akhir cerita cinta antara Chay-Anjani dan Ebi-Rachel belum juga dibahas sih? Saya belum mendapatkan sedikitpun petunjuk untuk bisa mengambil kesimpulan apakah kedua pasangan itu akan bersatu? Apalagi, di halaman 289, Rachel justru mengatakan bahwa orang tuanya akan membawanya kembali ke Jakarta. Artinya, kemungkinan Ebi bersatu dengan Rachel menjadi semakin kecil.

Dan di halaman 302, saya mulai senyum-senyum sendiri. Untunglah kedua anak saya sudah terlelap dipeluk mimpi, hihi, jadi nggak ketahuan emaknya lagi ngapain. Hehe, habisnya saya seperti teringat ketika suami saya menyatakan cintanya dahulu. *ups

Yup, novel ini memang bukan novel romantis yang bisa mengaduk-aduk perasaanmu atau membuatmu menangis hingga menghabiskan satu pak tissue, tapi percayalah, jika kamu mencintai alam ini, hatimu akan tersentuh untuk memulai berbuat sesuatu. Dan Cinta bukan seberapa banyak kau mengatakan, melainkan sejauh mana kau membuktikan. Semoga novel ini bisa sekaligus menjadi ajang kampanye untuk lebih mencintai alam dan seisinya. :)

Komentar

  1. Penulis nya suka mengangkat tema hewan ya, sebelum novel ini juga pernah mengangkat hewan. Salah satu penulis yang dalam risetnya. Semoga bisa punya novel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Ety... saya salut pada mereka. mungkin ini yang disebut; berjuang dengan pena. :)

      Hapus
  2. Thank you ya arinta reviewnya :)

    BalasHapus
  3. Penasaran pengen baca novelnya. Pinjeeeem.... :D

    BalasHapus
  4. Eh, kenapa setiap aku jalan-jalan ke blogmu, aku selalu gagal fokus. Picmu sama Amay. Keknya syahdu banget :D :D

    BalasHapus
  5. Aaakkkk~ coba terinspirasi dari Gajah dalam negeri sendiri ya mba, Lampung gitu. Yang aku tahu kotoran gajah nya juga bisa jadi kopi (dari tv) hihihii.. Btw aku sudah jawab pertanyaannya ya mba ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, tesso nilo kan negeri sendiri mak, hihihi...

      Hapus
  6. baca reviewannya menarik
    jadi penasaran pengen baca

    BalasHapus
  7. Baca ini jadi inget gajah di taman safari yg bisa dinaiki dan berjalan2 di sungai dan hutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya..sama, hihi.. mungkin sambil baca novelnya sambil ke taman safari, naik gajahnya..hehe.. karena kejauhan kalo sampe tesso nilo, wkwk..

      Hapus
  8. Mau donk beli..inbox ya, infonya. Thank u.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanti saya mention dengan penulisnya ya bunda.. :)

      Hapus
  9. Waah ada juga novel dg tema hewan ya karya mb Riawani...

    BalasHapus
  10. mbak novel nya ada dirmh kn? pinjem boleh ya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Menikmati Olahan Jamur dan Tumpengan di La Taverna Solo

Rabu 16 Agustus yang lalu, saya dan beberapa teman Blogger Solo, makan siang di sebuah tempat bernama La Taverna. Kami sempat bertanya-tanya, La Taverna artinya apa sih? Dan setelah tanya Mbah Google, ketemu deh jawabannya. La Taverna berasal dari bahasa Italia, yang memiliki arti Kedai.
Tapi jangan bayangkan La Taverna ini seperti kedai-kedai biasanya yaa.. Tidak sama sekali!
Lalu menu apa yang kita santap dan nikmati? Lihatlah foto paling atas. Ada sate jamur, nasi goreng jamur, tongseng jamur, dan masih banyak lagi. Olahan jamur memang jadi menu andalan di sini. Meski begitu, La Taverna menyediakan aneka olahan pasta dan steak juga, yang tak kalah istimewanya.
Jujur, menyantap menu serba jamur, saya jadi teringat masa-masa masih berdua saja dengan suami. Waktu itu, kami masih pengantin baru dan masih tinggal di Jogja. Belum ada Amay, apalagi Aga. Suatu hari suami mengajak saya mencicipi menu serba jamur di salah satu resto di Jogja, dan saya ketagihan. Sejak pindah ke Solo, saya b…