Sabtu, 20 Februari 2016

Do'a yang Dinantikan

Pagi itu saya terburu-buru menyiapkan si sulung yang akan berangkat sekolah di TKIT dekat rumah. Jam dinding sudah menunjuk angka tujuh lewat dua puluh menit, padahal pelajaran akan dimulai sepuluh menit kemudian.
Si bungsu yang baru berusia satu tahun saya serahkan pada suami, dan biasanya setelah itu kami akan beralih posisi. Suami mengantarkan si sulung ke sekolah, dan saya akan kembali memegang si bungsu.
Hari itu, karena suami ada tugas tambahan di kantor, saya menjadi tergesa-gesa menyiapkan semuanya. Setelah menyuapi dan memandikan si sulung, saya pun segera memakaikannya seragam. Karena terburu-buru, saya pun melupakan sebuah "ritual". Saya baru mengingatnya setelah si sulung mengingatkan, "Mas Amay kok nggak dido'akan?"
"Ah iya, Mama lupa," jawab saya, dan sejurus kemudian saya pun melakukan hal yang saya sebut ritual itu. Bibir saya kemudian mengucap do'a-do'a untuk kebaikannya dan kebaikan adiknya.
Saya kemudian iseng bertanya, "Memangnya Mas Amay suka kalau Mama do'akan?" Dan jawabannya membuat saya termenung cukup lama. Ternyata, kebiasaan saya berdo'a setiap kali memakaikan mereka baju selalu diingat, dan hari itu saya menjadi tahu bahwa do'a-do'a saya dirindukan.
Dalam sehari, setidaknya empat kali saya mengucap do'a ini diluar waktu shalat. Empat waktu itu adalah saat memakaikan baju si sulung dan si bungsu, pagi dan sore. Karena seringnya, si sulung sampai hapal kata-kata dalam do'a saya yang saya lantunkan dalam Bahasa Indonesia.
Entah sejak kapan saya memulai ritual ini. Jika saya tak salah mengingat, saya memulainya ketika saya menyadari bahwa apa yang keluar dari bibir saya sebagai seorang ibu, akan berpengaruh pada kehidupan anak-anak kelak. Sejak itu saya mulai berhati-hati dalam berucap, karena saya meyakini bahwa setiap ucapan adalah do'a, sehingga saya berusaha untuk selalu mengatakan hal-hal yang baik tentang mereka.
Terlebih ketika saya membaca kisah Syaikh Abdurrahman as Sudais. Imam besar itu ketika kecil "dikutuk" oleh sang ibu hingga dapat menjadi seperti saat ini. Konon saat itu sang ibu sedang menjamu tamu-tamunya, namun Sudais kecil mengacaukannya setelah menaburkan debu pasir ke atas hidangan yang sudah disiapkan oleh ibunya untuk para tamu. Sang ibu marah sambil berkata, "Pergi kamu! Biar kamu jadi imam di Haramain!" Dari kisah itu saya kemudian belajar bahwa saat marah pun kita harus mengucapkan hal-hal yang baik.
Saat di dunia, anak membutuhkan do'a dari orang tuanya, terutama do'a seorang ibu. Dan saat di akhirat, orang tua lah yang membutuhkan do'a anak-anaknya.

~-~

Tulisan ini dimuat di Majalah Hadila edisi bulan Januari 2016



26 komentar :

  1. Pinteeer Amay...emang Mamamu baca doa apa, May? :D

    BalasHapus
  2. Wah keren tulisannya dimuat di majalah Hadila. Selamat Mbak :)

    Saya juga meyakini kalau ucapan adalah do'a Mbak. Tapi saya belum serajin itu sich mendoakan Alfi diluar waktu sholat. Harus lebih rajin lagi nich :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih mba.. Baru pecah telor ini. Tahun lalu sm sekali ga ada tulisan di media cetak..hehe

      Hapus
  3. Ternyata anak2 itu peka ya Mba dan selalu mengingat apa yang diucapkan sang ibu.. Contohnya si Amay yang memperhatikan ritual doa setipa pagi yang diucapkan ibunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba.. Saya kalau pas mau berdoa ya berdoa saja..ternyata Amay suka didoakan..hehe

      Hapus
  4. Apalagi ucapan seorang ibu ya, Mbak... Banyak makbulnya. Terima kasih sudah diingatkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba.. Karena banyak makbulnya maka harus hati2 bgt dalam berucap.

      Hapus
  5. Inspiratif Mbak, perlu ditiru oleh ortu2 lainnya. Jempool ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih mba.. Ini saya juga meniru nasehat2 ustadz di tv. :D

      Hapus
  6. Manisnyaaa ... terharu membacanya, Mbak.

    Selamat ya, dimuat di majalah Hadila. Baru tahu ada majalah ini. Kayaknya tidak beredar di kota saya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ini majalah terbitan Solo Peduli Mba..:)

      Hapus
  7. mengingatkan kembali, padahal belum dimulai hihihi

    BalasHapus
  8. Sebentar lagi anak saya insyaalloh masuk TK, semoga saya gak pernh lupa mendoakannya TFS mbak :)

    keluargahamsa(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mba..semoga bermanfaat yaa.. :)

      Hapus
  9. Waah.. Sampai kangen klo nggak didoain ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba..saya juga ngga menduga.. :)

      Hapus
  10. Aaaa, saya juga sering mendoakan saat anak2 tidur mbak Arin. Melihat mereka terpejam sepertinya damai sekali. Tidak ada yg lebih indah selain itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbaaa..rasanya damaaiiii banget...

      Hapus
  11. semua yg diciptakanNya saling berkaitan dan saling membutuhkan ya mb

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah baca ini...aku jadi malu, kurang banget berdoa untuk anak, makasih diingatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga untuk mengingatkan diri sendiri Mba.. :)

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...