Langsung ke konten utama

Anak UAS? Please, Jangan Cemas!

Eh, UAS sudah selesai 'kan ya? Sekarang tinggal liburan aja.

Tapi boleh lah kalau saya tulis tentang UAS. Mak Rizki pernah menulis tentang bagaimana agar anak semangat menyambut UAS. Nah, saya jadi keidean nih, untuk menulis hal yang sama, hehe...

test from pixabay

Saya pribadi, sebenarnya bukanlah tipe orang tua yang menuntut anak agar sukses secara akademis. Apalagi Amay masih TK B, jadi biarlah dia happy-happy dulu di sekolah. Tapiii, waktu Amay UAS beberapa minggu lalu, saya ikutan belajar juga sih. Tentang membaca dan berhitung, saya ngga secara khusus mengajari Amay. Saya hanya fokus pada hafalan surah, hadits dan do'a saja. Saya pun ikut menghafal Surah Al-Ghosyiyah bareng Amay, hehe...

Alasannya sih simply karena, masak anaknya disuruh ngafalin qur'an tapi emaknya enak-enakan? Ngga bisa begitu...saya pikir saya harus ikut merasakan susah payahnya menghafal qur'an. Yaa..baru juz 'amma sih, tapi kan ngga gampang juga kan?

Saya sih setuju dengan Mak Rizki yaa... Saat UAS, kita sebagai orang tua mesti banyak berdo'a agar anak kita sukses dalam ujiannya. Saya yakin, berdo'a untuk anak sebenarnya sudah tiap hari kita lakukan. Tapi dengan do'a, usaha kita sudah final, kita titipkan segalanya pada Allah Ta'ala.

Selain itu, saya juga setuju sekali untuk mendukung anak belajar tanpa menuntutnya harus menjadi juara. Toh, berdasarkan Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang saya kutip dari tulisan Mak Rizki, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lagipula, menuntut anak untuk selalu mendapatkan nilai yang terbaik (menjadi juara), terkadang bisa menjerumuskan mereka loh. Iya, banyak anak yang kemudian menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang baik, misalnya dengan berlaku curang seperti mencontek. Tak hanya itu, malahan saat Ujian Nasional tiba, ada yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli bocoran jawaban. Tak bisa dipungkiri, ini adalah salah satu sisi buruk dari sistem pendidikan yang mengandalkan nilai sebagai alat ukur kecerdasan.

So, sebelum semua terlanjur terjadi, mari kita bisikkan pada anak-anak, bukan nilai tinggi yang membuat kita bangga pada mereka, tapi akhlaq mulia lah yang paling utama. ☺

Komentar

  1. Betul banget mba :) dulu klo pas ujian sekolah justru aku yang cemasnya tapi almh. ibu bilang ga usah dipaksain yang penting jujur ngerjain dan sekemampuanmu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih iya ya Mba..yang penting jujur. aku yakin ibu-ibu kita selalu do'ain kita. :)

      Hapus
  2. Artinya emak nyontohin secara nyata ya mb rin, sekalian ngaji juga..,saluttttt aku mah ama yang telaten gitu ikut antusias ngajarin anak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tante Mbul.. aku agak kurang telaten sekarang. kalo dulu suka belajar apa aja sama Amay, skrg waktunya kebagi-bagi. mesti belajar manajemen waktu lagi nih. biar ngga kebanyakan molor. #eh #ngakudosa

      Hapus
  3. Jangankan anakku, aku dulu gak pernah gentar pas UAS. Dibawa santai, biar nggak stres. ^_^ Tapi entah ya kalau yang mengalami anak. :D Kadang dag dig dug kalau Asma lagi ujian di TK

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, baru TK padahal yaaa.. besok-besok kalo udah SD, SMP, SMA, makin berat kan pelajarannya..

      Hapus
  4. UAS bukan hal menakutkan kok, walau kaang bikin keder juga. :p Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, iya ya Mba.. toh, belajar kan seharusnya setiap hari, biar ngga keteteran pas ujian. :)

      Hapus
  5. Rasa cemas pasti ada. Ynag penting supportnya dong. ^_^

    BalasHapus
  6. Noted mbak.... Buat bekal nanti kalau udah punya anak hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha..nyari calon ibunya dulu gih! :p

      Hapus
  7. mbak arinta, sama nih ama aku. Aku juga gak nuntut anak harus nilai bagus, rangking satu dll dll. Average aja, yang penting berakhlak dan budi pekerti yang baik. Mendingan anak dapat nilai ulangan 5 tapi dia paham harus selalu bilang kata "tolong" dan "terima kasih" ke semua orang yg dia mintain tolong, daripada sebaliknya. Itu salah satu perumpamaan ektrimku aja sih hehe. TFS ya mbak

    BalasHapus
  8. Anak saya belum sekolah mak jd belom ngerasain, tapi kalau lihat temen curhat jelang UAS ada yg lebih deg2an dr pada anaknya hehehhebe

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi, ntar mah kita nyantai aja ya Mba.. :)

      Hapus
  9. anak TK B juga ada UASnya yaa Mba Arin? Anak saya juga TK B tapi sudah hampir 3 minggu gak masuk sekolah karena jatuh di sekolah, huhuhu :(

    kalo ada UASnya berarti anak saya gak ikut UAS dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung sekolahnya Mba.. sekolah tempat saya ngajar dulu, observasi atau penilaiannya tiap hari, jadi tau-tau anak dinilai tanpa merasa dia sedang dites. :)

      Hapus
  10. Setuju mba, akhlak mulia yang paling utama ya mba. Anak saya juga gitu santai-santai kalau belajar, tapi pas di tes bisa. Jadi biarkan belajar membuat anak happy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, yang penting happy Mba.. kalau happy, insya Allah malah lebih mudah dimasuki ilmu. :)

      Hapus
  11. Setujuuu banget.. yang penting akhlak dan budi pekerti yaaa

    BalasHapus
  12. UAS bukanlah suatu hal yg ditakuti, yg penting berikan motivasi terhadap anak dan tingkatkan pola belajarnya

    BalasHapus
  13. saya suka sekali dengan cara berfikirnya mba:
    masa kalau anak disuruh ngafal qur'an, orang tuanya enggak nyontohin duluan.
    pelajaran juga bagi saya sebagai orang tua baru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, kan katanya anak belajar dari keteladanan, ya kan? :)

      Hapus
  14. Yipi! Yang penting jujur ya, hasil segimana, yang penting usaha plus jujur, jadi insya Allah puas :)

    Salam,
    Rasya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Menikmati Olahan Jamur dan Tumpengan di La Taverna Solo

Rabu 16 Agustus yang lalu, saya dan beberapa teman Blogger Solo, makan siang di sebuah tempat bernama La Taverna. Kami sempat bertanya-tanya, La Taverna artinya apa sih? Dan setelah tanya Mbah Google, ketemu deh jawabannya. La Taverna berasal dari bahasa Italia, yang memiliki arti Kedai.
Tapi jangan bayangkan La Taverna ini seperti kedai-kedai biasanya yaa.. Tidak sama sekali!
Lalu menu apa yang kita santap dan nikmati? Lihatlah foto paling atas. Ada sate jamur, nasi goreng jamur, tongseng jamur, dan masih banyak lagi. Olahan jamur memang jadi menu andalan di sini. Meski begitu, La Taverna menyediakan aneka olahan pasta dan steak juga, yang tak kalah istimewanya.
Jujur, menyantap menu serba jamur, saya jadi teringat masa-masa masih berdua saja dengan suami. Waktu itu, kami masih pengantin baru dan masih tinggal di Jogja. Belum ada Amay, apalagi Aga. Suatu hari suami mengajak saya mencicipi menu serba jamur di salah satu resto di Jogja, dan saya ketagihan. Sejak pindah ke Solo, saya b…