Langsung ke konten utama

Surat untuk Mas Amay

Mas Amay, tak terasa 17 Juli ini, kau t'lah resmi mengenakan seragam putih merah. Tidak Mama sangka kau tumbuh secepat ini. Rasanya baru kemarin Mama menangis di ruang operasi, saat akan melahirkanmu.

Anakku, makin besar engkau, makin besar pula tanggung jawab berada di pundakmu. Mama berterima kasih, karena di bulan Ramadhan yang lalu, kau telah mampu berpuasa hingga maghrib tiba. Ini sesuatu yang sangat membahagiakan Mama, karena di umurmu yang baru enam tahun ini, kau telah terlatih menahan lapar dan dahaga.

Meski begitu, jangan pernah berpuas diri, Nak. Ada banyak PR yang mesti kita lakukan. Mama, kamu juga, harus memperbaiki kualitas ibadah kita sejak sekarang, agar bisa jadi contoh yang baik untuk Adik Aga. Jika latihan puasa telah mampu kau taklukkan selama sebulan (27 hari tepatnya), masih ada PR harian, yaitu memperbaiki kualitas shalat dan mengaji kita.

Mas Amay, jika Mama mengajakmu untuk membaca Al-Qur'an, membimbingmu untuk menghafalnya pelan-pelan, itu tak lain tak bukan hanya untuk kebahagiaanmu.

Mama tau, kau tentu sedih, mungkin juga kesal, ketika Mama menyuruhmu menghentikan aktivitas bermainmu. Tapi percayalah, pengorbananmu ini tak akan sia-sia. Insya Allah, kau akan menikmati waktu luang yang indah kelak, disana.

Anakku, tahukah kamu? Menjadi seorang Ahli Qur'an akan mempermudah perjalananmu. Al-Qur'an bisa menjadi penyelamatmu. Tak hanya itu, Al-Qur'an akan meninggikan derajatmu.

Anakku, tak perlu kamu khawatir. Memang kelihatannya tak mudah. Tapi yakinlah, Allah akan membantumu, memudahkanmu. Bukankah Allah SWT juga sudah berjanji dalam firman-Nya? 
Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran (adz-Dzikr), maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qamar:17)” 
Anakku, maaf jika Mama terlalu menuntutmu. Mama hanya ingin hidupmu bahagia, bebas dari rasa cemas menghadapi dunia yang fana. Mama ingin kelak kau menjadi pemimpin yang berjiwa mulia dan bersinar terang dengan Al-Qur'an yang kau genggam. 

Anakku, memang Nabi Muhammad pernah bersabda,
“Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.” (HR Abu Daud). 
Ya, orang tua mana yang tak ingin hadiah dari Allah sebuah jubah kemuliaan? Tapi demi kamu anakku, bukan...bukan itu yang Mama kejar. Kesholihanmu lah yang Mama inginkan, supaya kehidupanmu, juga kehidupan Mama menjadi mudah. Mudah di dunia, mudah juga jika kelak kembali ke sana.

Jikalau memang ada jubah kehormatan untuk Mama, Mama akan mempersembahkannya untuk Akung, Uti dan Eyang Buyutmu. Mereka bertiga adalah orang yang paling berjasa dalam mengajari Mama membaca Al-Qur'an dengan benar. Ya, mereka bertiga lah yang paling berhak mendapat jubah kemuliaan, jika kau berhasil menjadi Ahli Qur'an.



Ah..iya... Ini semua memang mimpi Mama. Seperti yang pernah Mama katakan, Mama bukan ingin menang sendiri, menggunakan kamu sebagai alat pemenuh ambisi. Lihatlah, Mama juga berjuang, untuk membuktikan seberapa besar kasih sayang Mama pada kedua orang tua Mama. Dan Mama berharap, kamu juga memiliki mimpi yang sama. :)

Semoga... Semoga kau bisa mewujudkannya. Jangan mudah menyerah yaaa... :)


------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Curhat bareng #bloggerKAH, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional. Baca tulisan Mbak Rani tentang Abang Han yang akan segera menjadi kakak, dan Mbak Widut tentang K, yang memiliki ibu dengan hard of hearing.

Komentar

  1. Aaamiiin...
    Semoga, jika kita tidak bisa jadi hafidzh qur'an, ada anak atau cucu kita yang hafidz qur'an. :)

    BalasHapus
  2. Bener ya mbak, kalau ingin anaknya sholeh ibunya jg hrs memperbaiki diri dulu, soalnya anak2 tuh sukanya mengikuti, kalau disuruh blm terlalu aware. Kalau pas aku lg mens gitu, Ken tak suruh2 sholat jg jarang bgt berangkat. Kalau aku jg sholat dia jg mau berangkat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Nana.. Bener2 kalo ngga ingat anak-anak, aku mah mungkin hidup semuanya aja. Hihi.. Dan jujur, anak-anak yg jadi rem-nya.

      Hapus
  3. Catatan juga nih buat aku :( Semoga Mas Amay bisa menjadi hafidz ya Nak dan menurun juga ke Aga. Aamiin.

    BalasHapus
  4. Mas Amay udah bisa puasa sebulan penuh? Wow hebat banget kamu Nak! *jempol*

    sehat selalu dan jadi anak yang sholeh yaa Nak :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Ira, alhamdulillah.. aamiin YRA, makasih doanya Mbaa.. :*

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...

Postingan populer dari blog ini

Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Tulisan ini bisa menyebabkan darah tinggi dan emosi yang tak terkendali. Ini murni pendapat saya pribadi. Silakan pergi sebelum kalian sakit hati. :D

Sengaja saya nulis tentang Rina Nose setelah berita tentangnya agak mereda. Karena kalau pas lagi panas-panasnya, takutnya dikira saya mendompleng ketenaran, atau sengaja nyari pageview aja. Haha.. Padahal alasan sebenarnya adalah karena saya baru sempat nulis aja. Harapan saya sih, kalau situasinya sudah agak kondusif, tulisan saya ini bisa diterima dan ditelaah dengan kepala dingin. Nggak pakai emosi lagi.
Emang mau nulis apa sih? Kayak penting aja..haha..
Bukannya mau ngaku-ngaku atau apa, tapi saya dan Rina Nose memiliki beberapa persamaan. Apa sajakah itu?
1. Hidung Pesek
Kata ibu, waktu kecil hidung saya pesek parah. Tapi terus tiap hari ditarik-tarik biar mancung, dan katanya sekarang agak mendingan. Padahal semendingan-mendingannya saya sekarang, ya tetep hidungnya tak bertulang. Dan itu nurun ke Amay.

Jadi, misalnya hidung saya a…

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …