Langsung ke konten utama

Postingan

Pro Kontra Reward and Punishment dalam Mendidik Anak, Mama Pilih Mana?

Waktu mengajar dulu, sekolah tempat saya mengajar menerapkan prinsip "konsekuensi" pada anak didik. Sekolah kami tidak memberikan reward atau hadiah untuk anak yang berprestasi, juga tidak menggunakan punishment atau hukuman untuk anak yang melakukan pelanggaran. Sekolah kami menerapkan prinsip "konsekuensi" untuk mengganti dua kata itu. 
Jadi, misalnya pada saat snack time siswa A tidak mau menghabiskan makanannya, maka kami -guru, pen- akan berkata, "Sebelum makananmu habis, kamu belum boleh pergi ke working area atau area bermain. Kalau kamu mau bermain dengan teman-teman, habiskan dulu makananmu. Semakin lama waktu yang kamu perlukan untuk menghabiskan makanan, maka konsekuensinya waktu bermainmu akan semakin berkurang." Sebaliknya, jika anak bisa melakukan segala kewajibannya tepat waktu, maka haknya pun akan segera ia dapatkan.
Kedengarannya lebih adil dan lebih ramah anak ya? Iya. Meskipun sebenarnya, konsekuensi ini mirip juga dengan ganjaran, ba…

Rumah Impian

Tulisan ini adalah postingan kolaborasi dengan #BloggerKAH, setelah beberapa bulan kami absen karena adaaaaa aja kesibukan di antara kami bertiga. Mbak Ran yang baru punya baby Alisha, saya yang masih saja disibukkan oleh cucian dan setrikaan, dan Mbak Widut yang tiap pengen nulis ngga ada temennya. Xixixixi, iyaaa, diantara kami bertiga, Mbak Widut memang yang paling rajin nulis dan paling sering menang lomba. Huhuhu jadi envy sama semangatnya.
Nah, berawal dari curhatan Mbak Widut yang pengen punya dapur outdoor, saya akhirnya mengusulkan bagaimana jika tema bulan ini adalah tentang Rumah Impian?

Padahal Mama udah siapin baju koko. Tapi seperti kemarin, bocah ini keburu ngantuk. Ditanya kenapa tadi siang ngga mau bobo, jadinya kan jam segini udah ngantuk. Eee..dengan tanpa dosa dia bilang, "Mas Amay kan manusia beneran, Ma... Tidurnya kalau malam, bukan pagi atau siang." Jiah.. Jawab aja! Lha emang manusia yang tidur siang itu berubah jadi kelelawar? 😥😥 A post shared by

Mencicipi Makanan Kang Mo Yeon di Kimchi Resto, Solo

Saya termasuk fans yang terlambat menyukai serial Descendants of The Sun. Di saat fans drakor lainnya sudah mulai move on dan merambah ke drakor yang lain, saya baru saja menonton serial ini. Pesona Captain Yoo Si Jin, Big Boss yang ganteng, cerdas, sangat cepat dalam berpikir dan mengambil keputusan, setia pada negara dan Dokter Kang yang dicintainya, membuat saya jadi tergila-gila pada drama korea ini.
Kenapa malah jadi ngomongin drakor ya? Hihihi... Soalnya, karena serial inilah, saya akhirnya penasaran bagaimana rasanya makanan Korea itu.
Eh, tapi jauh sebelum ada Descendants of The Sun ini, saya juga pernah ingin sekali makan makanan korea, yaitu saat hamil Amay, dan saya sedang menonton ulang tayangan Jewel in The Palace. Jang Geum terlihat piawai dalam memasak, dan itu bikin bayi di perut saya ini jadi ngiler, hihi... Dan karena saat itu belum tau tempat makan makanan Korea di Solo, akhirnya saya menyerah. “Ya udah, pokoknya pengen makan makanan yang dimakan pakai sumpit,” ka…

#KarenaIbu Seperti Kepiting; Keras di Luar, Gurih dan Lembut di Dalam

Beberapa malam yang lalu aku memimpikan ibu. Aku bangun dengan mata yang basah. Kuambil ponsel, kulihat jam, masih jam setengah 3 pagi. Sayangnya aku sedang berhalangan, sehingga urung mengerjakan shalat malam. 
Kenangan saat masih kanak-kanak kemudian membayang. Aku bersyukur, aku memiliki ibu seperti ibu. Seperti manusia lainnya, beliau memang banyak kurangnya. Tapi, di mataku beliau adalah orang yang sempurna. 
Karakterku setelah menjadi seorang ibu, hampir sama dengan beliau. Aku sering mengibaratkan diri sendiri bahwa aku seperti kepiting; keras di luar, namun gurih dan lembut di dalam. Ibu pun begitu.
Bukti lembutnya ibu pernah kutuliskan di sini.
Ya, meski aku dan ibu terkenal galak, tapi sesungguhnya kami punya banyak cinta. Galaknya ibu selalu ada tujuannya.
Jika ibu tak galak, mungkin aku tak bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. 
Waktu kecil dulu, Mbah -ibunya bapak- mengajar anak-anak kecil mengaji di Pondok. Biasanya aku pun mengaji di sana setiap maghrib. Tapi entah kap…

Family Trip II; Floating Market, Lembang

Perjalanan ke Purworejo

Alhamdulillah, akhir tahun 2017 kemarin, saya dan keluarga bisa piknik bersama seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu, seluruh keluarga ke Solo dan Jogja, tahun ini kami ke Bandung dan Jakarta.

Baca: Family Trip I, Keraton Mangkunegaran, Surakarta
Sedikit ada drama saat mengawali liburan ini sebenarnya. Pada tanggal 23 Desember, kami masih kebingungan bagaimana kami bisa pulang ke Purworejo. Tiket Joglokerto sudah habis. Seharusnya sih pesan tiketnya jauh-jauh hari yaa.. Tapi saat itu kami bingung, mau ke Semarang dulu atau langsung Purworejo.

Akhirnya Opik pergi pagi-pagi untuk mengantri tiket prameks dengan keberangkatan pukul 12:15. Dapat, alhamdulillah. Kami pun segera bersiap. 
Persiapan beres, kami segera menelepon taxi. Tapi, lama ditunggu, taxi baru datang setengah jam kemudian, dengan kabar bahwa: SOLO MACET.
Okay tak apa, masih ada waktu 45 menit. Kami melewati jalan tikus, dan alhamdulillah, lancar, sampai di timur terminal tirtonadi. Daaan, kami berhe…

5 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghemat Listrik

Sudah setahun ini saya menggunakan listrik prabayar. Sempat kesal waktu tahu bahwa rumah yang kami beli ini menggunakan listrik prabayar, karena terbayang bagaimana rumitnya nanti. Ada kekhawatiran, kalau-kalau listrik habis di tengah malam buta, lalu saya harus bagaimana. Ditambah testimoni beberapa orang, yang mengatakan bahwa listrik prabayar itu ribet dan boros.
Ternyata, dugaan saya salah. Memang, jika penggunaan listrik pascabayar dibayarkan sebulan sekali, untuk listrik prabayar tidak bisa kita tentukan. Seperti ketika membeli pulsa handphone saja, ketika pulsa habis, kita isi ulang. Jika tidak diisi, ya kita tidak bisa menikmati.
Nah, seperti pulsa handphone juga, kita bisa tahu sisa pulsa listrik kita ada berapa. Jadi, sebelum bunyi tat-tit-tat-tit-nya mengganggu telinga kita dan telinga para tetangga, kita bisa segera mengisi ulang kembali. Kalau pulsa handphone atau pulsa listrik kita habis, kita bisa membeli Pulsa Murah Online atau Token PLN Online di Tokopedia.
Tentang …

Antara Rina Nose dan Rinta Noisy

Tulisan ini bisa menyebabkan darah tinggi dan emosi yang tak terkendali. Ini murni pendapat saya pribadi. Silakan pergi sebelum kalian sakit hati. :D

Sengaja saya nulis tentang Rina Nose setelah berita tentangnya agak mereda. Karena kalau pas lagi panas-panasnya, takutnya dikira saya mendompleng ketenaran, atau sengaja nyari pageview aja. Haha.. Padahal alasan sebenarnya adalah karena saya baru sempat nulis aja. Harapan saya sih, kalau situasinya sudah agak kondusif, tulisan saya ini bisa diterima dan ditelaah dengan kepala dingin. Nggak pakai emosi lagi.
Emang mau nulis apa sih? Kayak penting aja..haha..
Bukannya mau ngaku-ngaku atau apa, tapi saya dan Rina Nose memiliki beberapa persamaan. Apa sajakah itu?
1. Hidung Pesek
Kata ibu, waktu kecil hidung saya pesek parah. Tapi terus tiap hari ditarik-tarik biar mancung, dan katanya sekarang agak mendingan. Padahal semendingan-mendingannya saya sekarang, ya tetep hidungnya tak bertulang. Dan itu nurun ke Amay.

Jadi, misalnya hidung saya a…