Langsung ke konten utama

Antara Sabar dan Syukur

Sabar dan Syukur, dua kata yang selalu beriringan. Tidak mudah memang, seperti di tulisan saya yang ini, Belajarlah di Atas Kekuranganmu, Maka Kamu Akan Unggul Disitu, Kakak Fina juga bersabar menjalani prosesnya. Hasilnya, sebuah nilai yang luar biasa ia dapatkan.

Sabar akan membuahkan hasil yang membuat kita tak henti bersyukur, dan rasa syukur terhadap ni'mat yang kita anggap kecil sekalipun akan membuat Allah percaya untuk mengamanahi ni'mat yang lebih besar. Dari sini mungkin bisa kita jadikan pengingat diri, adakah keinginan kita yang belum tercapai? Sudah berusaha sekian lama namun hasil yang diharap tak juga muncul nyata. Nah, mungkin kita mesti mengingat-ingat lagi, ni'mat dari Allah yang mana yang telah kita dustakan dan lupa kita syukuri. 

Kita analogikan begini. Ada seorang pengemis yang datang meminta, lalu kita beri sebuah logam lima ratus rupiahan. Kalau pengemis itu tidak berterima kasih, apalagi sampai menghujat kita yang telah memberinya, bagaimana perasaan kita? "Huh, udah untung aku kasih uang. Besok-besok kalau kamu datang, jangan harap aku mau ngasih uang lagi!" mungkin kita akan menggerutu seperti itu. Lain halnya jika pengemis tadi mengucap terima kasih sambil mendo'akan agar kita diberi rezeki yang melimpah, sehat wal 'afiat, dan sukses dalam usaha, reaksi minimal dari kita pasti tersenyum. Reaksi berikutnya mungkin kita merasa bersalah karena hanya memberi uang lima ratus, dan membuat kita kembali merogoh kantong untuk memberinya uang lebih untuk do'a yang begitu banyak tadi.

Itu kalau kita sebagai manusia. Tapi Allah tidak begitu. Meskipun kita sering lupa bersyukur, tapi ni'mat dari-Nya tak pernah putus. Dari rizki bisa melihat, bisa mendengar, bisa berjalan, bisa makan 3x sehari, dan lain-lain. Hanya jika rizki yang begitu besar saja lupa kita syukuri, bagaimana Allah mau mengamanahi kita rizki yang lain?

Saya sudah membuktikannya. Ketika beberapa hari lalu saya menemukan tujuh buah cabe rawit yang ranum-ranum, saya tak henti bersyukur. Bahkan saya memanggil-manggil suami yang saat itu sedang khusyu' bekerja. Itu cabe yang saya sebar bijinya beberapa bulan lau, bahkan saya hampir lupa telah menanamnya. Rasa syukur itu bertambah-tambah karena saya ingat harga cabe rawit saat ini masih sangat mahal. Belum juga hilang syukur di siang itu, sorenya saya dihubungi seseorang yang memesan gamis dalam jumlah yang tidak pernah saya duga. 

Pelajaran tadi selain menambah rasa syukur pada setiap detik yang diberi-Nya, juga membuat saya berkesimpulan, "Tebar kebaikan, lupakan. Tebar kebaikan, lupakan. Dan pada saatnya nanti, kita akan menuai hasil yang tidak pernah kita duga sebelumnya." Seperti semboyan penulis bukan? Tulis, Kirim, Lupakan! :D

Jadi, sudahkah kita bersyukur hari ini? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Born To Be Genius; Webinar Parenting Bersama Tigaraksa

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya mengikuti sebuah Webinar yang diadakan oleh PT. Tigaraksa Satria. For your information, PT. Tigaraksa Satria adalah sebuah perusahaan perdagangan yang memiliki divisi untuk mengembangkan cara menstimulasi otak balita agar tumbuh optimal.
Saya mengetahui adanya Webinar ini dari seorang teman semasa SMP, Endah Ediyati namanya. Kebetulan beliau bekerja di perusahaan ini. Hhmmm, pantas saja ya, Mbak Adhwa putrinya kelihatan cerdas. Pasti stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya juga optimal.
Stimulasi. Kata ini menjadi salah satu faktor penentu, agar anak-anak kita bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jangan lupa, cerdas itu tidak hanya pandai Matematika saja ya... Masih ingat dengan 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang terkenal dengan sebutan Multiple Intelligence?
Nah, mendukung pernyataan tadi, Dr. Thomas Armstrong mengatakan bahwa, "Every child is genius." Sayangnya, lingkungannya lah yang terkadang melumpuhkan kejeniusan ini. …

Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, Untuk Indonesia yang lebih Sehat

"Kita bisa hidup tanpa emas dan minyak, namun tidak tanpa air bersih."
Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Berdasarkan laporan WHO, ada sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. "Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih," kata WHO dan UNICEF dalam laporannya, seperti diberitakan oleh Mashable, Mei 2014. (1)
Juga berdasarkan perkiraan WHO dan UNICEF, sekitar 60 persen penduduk di kawasan pedesaan di Indonesia kekurangan akses terhadap sarana sanitasi yang pantas. Kegiatan mandi dan mencuci pakaian di sungai serta buang air besar di tempat terbuka membuat orang mudah terpapar penyakit, mengontaminasi air tanah dan permukaan, dan menurunkan kualitas tanah dan tempat tinggal. Sedangkan berdasarkan peringkatnya,Indonesia merupakan negara dengan sistem sanitasi ( pengelolaan air limbah domestic ) terburuk ketiga di Asia …

Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri

Pertama kali membaca novel ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Karena apa lagi jika bukan oleh tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia? Sebelumnya, saya hanya mendengar kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang harus menderita karena kisah cintanya terhalang oleh Datuk Meringgih yang tak punya hati. Dan dulunya, saya pikir, orang tua Sitti Nurbaya lah yang tega menukar kebahagiaan sang putri hanya demi pundi-pundi duniawi. Apalagi, ini didukung dengan syair lagu yang dibawakan suara melengking milik Ari Lasso, yang saat itu masih menjadi vocalis grup band Dewa 19, berjudul "Cukup Siti Nurbaya". "Oh... Memang dunia, buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini

Hanya ternilai s'batas rupiah Cukup Siti Nurbaya yang mengalami
Pahitnya dunia

Hidupku, kamu, dan mereka semua
Takkan ada yang bisa memaksakan jalan
Hidup yang 'kan tertempuh Dengarkan manusia yang terasah falsafah
Sesaat katanya

Itu bukan dogma"
Tapi ternyata, setelah membaca keseluruhan isi novelnya, …