Selasa, 10 Juni 2014

Bagaimana Menghentikan Ketergantungan Pada Popok Sekali Pakai (Diaper)?

Zaman sekarang hidup makin dipermudah. Salah satu hasil dari kecanggihan otak manusia yang sangat membantu para ibu adalah diciptakannya diaper atau popok sekali pakai. Produk ini mungkin diciptakan sebagai solusi bagi para ibu yang mempunyai bayi dan sering kehabisan popok kain. Mungkin juga, ide membuat diaper ini berawal dari kesulitan ibu-ibu untuk membawa bayinya bepergian karena khawatir kerepotan saat mereka buang air.
Saya termasuk bagian dari ibu yang diuntungkan dengan adanya produk ini. Sebagai stay at home mom yang mengerjakan semua sendiri tanpa Asisten Rumah Tangga (ART), tentu repot sekali apabila menghadapi cucian yang menumpuk. Bahkan ketika musim hujan, bayi lebih sering buang air karena cuaca yang dingin. Saya pun memilih memakaikan diaper pada bayi saya baik siang maupun malam supaya saya bisa istirahat dengan cukup, karena mengurus bayi memang membutuhkan energi yang besar.
Nah, biasanya, saking sudah merasa nyaman dengan kondisi tidak terlalu repot ini, para ibu jadi ketergantungan. Saya pun begitu. Sampai suatu hari di usia Amay (putra sulung saya) yang ke dua, saya tersadar untuk mulai menerapkan toilet training.
Berawal dari keinginan Amay sendiri untuk lepas dari diaper, mungkin karena dia sudah merasa risih dengan celana tebalnya, saya pun mulai mengajarinya untuk buang air di tempatnya. Di usia ini, karena ia sudah bisa bicara, prosesnya menjadi lebih mudah. Pertama, saya memintanya untuk melapor pada saya jika ingin buang air. Setelah dia mulai terbiasa melapor, saya memberi satu perintah lebih sulit, yaitu melepas celana sendiri jika ingin buang air. Saya biasakan dia untuk buang air sebelum tidur supaya tidak mengompol. Karena sudah terbiasa melapor juga, tengah malam pun dia akan membangunkan saya jika ingin buang air.
Hari-hari pertama menerapkan toilet training memang terasa sulit. Pernah terjadi, Amay buang air besar di kamar karena perintah yang saya berikan kurang jelas. Saya hanya memintanya melepas celana, tanpa ada embel-embel langsung ke kamar mandi atau lapor pada saya. Tapi saya belajar dari kesalahan itu. Berarti, selanjutnya perintah yang saya berikan harus jelas.
Sering terjadi, kita para ibu lah yang belum siap mengajarkan mereka. Padahal, dari pengalaman saya sendiri, justru Amay yang mengajarkan saya untuk siap. Pernah suatu hari ketika akan bepergian saya kembali memakaikannya diaper. Saya sendiri yang merasa khawatir dan kurang percaya diri, takut kalau-kalau di jalan Amay mengompol. Namun ternyata kekhawatiran saya sirna. Amay yang sudah terbiasa melapor pun bicara pada kami ketika ingin buang air. 





5 komentar :

  1. Amay pintar... 2 tahun bisa bangun kalau ingin pipis. Ingat saya dulu kls 2 masih ngompol hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin Mba Nunu.. hehe, iya emaknya juga kalah.. Kelas TK masih ngompol.. :D

      Hapus
  2. mb Arin mulai usia berapa yah udah bisa dibilangin? Zahra udah berulang2 diingatkan kalau pipis di kamar mandi gitu sih, tapi dia selalu pipis sembarangan dan bilang setelah basah,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lupa Mba, tapi Amay memang sering tak suruh-suruh, hehe.. Termasuk merapikan mainannya sendiri. Itu sebelum usia 2 tahun. Kalau tentang pipis ini, usia 2 tahun persis. Ya memang harus berulang-ulang Mba Mae..hehe.. (ini arinnya yg gak mau repot kayaknya yaa...hehe)

      Hapus
  3. saya malah belum ngasih toilet training mbak..
    takut pipis dimana mana..hehe pdhl sdh hampir 2 tahun
    jdi qutaibah smpe skg masih pakai popok

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan tinggalkan komentar yang baik dan sopan. Komentar yang menyertakan link hidup, mohon maaf harus saya hapus. Semoga silaturrahminya membawa manfaat ya...